
" kak, ada apa?" tanya Sara khawatir, dia takut kalau Zen mendapat masalah. selain itu dia masih belum menemukan keberadaan Jade. Zen hanya tersenyum kemudian mengusap lembut surai panjang milik Sara, menandakan dirinya untuk tidak perlu khawatir.
" biarkan presdir tetap disini. jika dia bangun segera berikan beberapa makanan manis dan susu!" Zen menatap ke arah Nana yang terlihat begitu khawatir. Zen percaya kalau Nana baru saja melihat monster yang sangat mengerikan.
Nana hanya membalas perintah tuannya itu dengan anggukan. setelahnya Zen dan Sara pergi meninggalkan kantor. Nana kembali masuk ke ruangan Jade kemudian membereskan kekacauan itu, dia langsung memesan meja dan beberapa peralatan kantor yang baru. Jade kini masih terlelap dalam tidurnya, ya ini adalah salah Nana dan akibatnya harus dia tanggung sendiri. dengan pingsannya Jade, Nana harus mengerjakan semua pekerjaan milik Jade dan Zen.
5 jam telah berlalu, Jade kini terbangun dari tidurnya. bersyukurlah Nana mengerjakan tugasnya di ruangan milik Jade, jika Jade bangun dan tidak mendapati seorangpun, dia pasti akan mengamuk. hm, dan benar saja. Jade yang baru bangun hampir saja mengamuk, dia masih kesal dengan tingkah ayahnya tadi.
" Jade?" Nana terkejut mendapati Jade yang baru terbangun, dia langsung mengambil sekotak susu strowberry kemudian memberikannya pada Jade. Jade yang menerima susu itu langsung meminumnya dan melupakan amarahnya. setelah merasa Jade cukup tenang, Nana mengambil beberapa dessert yang sudah dia simpan di lemari kemudian memberikannya pada Jade.
" Jade, apa kamu lapar?" tanya Nana sambil mengangkat senampan penuh dengan makanan manis, Jade langsung lupa akan daratan. dia menghampiri Nana dan menyantap semua hidangan manis itu. Nana hanya terkekeh melihat tingkah manis presdirnya itu.
Jade menghabiskan semua makanannya hingga tidak sadar kalau ada setumpuk berkas yang ada disekitarnya. Nana kembali fokus dengan tumpukan berkas itu. setelah selesai makan Jade sangat terkejut mendapati ribuan berkas yang ada didepannya. Jade yang telah penuh dengan semangat kembali lesu.
__ADS_1
" haha, Jade kamu harus menyelesaikan ini semua !" Nana menjauhkan dirinya dari tumpukan berkas itu kemudian meletakkan pena dan stempel didepan Jade. Jade sungguh tidak percaya dengan kelakuan sekertarisnya ini, dia baru bangun dan ribuan berkas sudah menunggunya? oh my, ini mimpi!
" no, this reality!!" pekik Nana membuat Jade tersadar dari lamunannya, Jade menghela nafas kemudian tangannya mulai mengambil satu per satu dari semua berkas menyebalkan itu.
Jade kembali di sibukkan dengan pekerjaannya, selain itu karena Zen meninggalkannnya di kantor itu artinya dia akan menginap di kantor untuk beberapa hari atau beberapa bulan kedepan. ya, jika Jade sudah berada di kantor maka, dirinya akan menolak untuk pulang sebelum dirinya benar-benar malas mengerjakan semua pekerjaan itu.
tidak lama kemudian malam tiba, Jade masih sibuk dengan pekerjaannya dan Nana sudah menahan dirinya untuk tidak membalik meja sang presdir. ya mau bagaimana lagi, ini sudah pukul 11:30 malam, dan presdirnya masih belum mengizinkannya untuk pulang. Nana masih kesal sambil memainkan ponsel miliknya, dia sesekali melirik ke arah Jam yang bertengger dengan indahnya di dinding, bibirnya tidak berhenti bergerak, dia terus merapal berbagai macam sumpah serapah untuk presdirnya itu.
keesokan harinya Jade masih setia duduk didepan meja kerjanya, semalaman dia tidak tidur dan membiarkan otaknya fokus dengan pekerjaan. kalau kalian tanya bagaimana dengan Nana? ya, dia tetap tidak bisa pulang. Jade mengizinkan Nana untuk menggunakan ranjang miliknya, dan membiarkan sekertarisnya itu beristirahat.
" pagi, Kak!" sapa Robin yang baru saja turun dari kamarnya, dia segera melempar tasnya ke kursi kemudian mendudukkan dirinya ke kursi yang lain. Zen hanya membalas sapaan Robin dengan anggukan sembari kembali fokus dengan makanan yang tengah ia masak.
" oh ya kak, dimana Jade?" tanya Robin sembari mengoleskan selai ke roti. ya, dia sudah terlalu lapar untuk menunggu Zen selesai dengan acara memasaknya. baru saja Zen menoleh dan berniat menjawab pertanyaan dari Robin,Sara datang dengan seragam khas siswi STAR.
__ADS_1
" pagi semua!" Robin terkejut mendapati Sara memakai seragam sekolah yang sama dengan miliknya. dia kembali memandang Sara dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan benar. Sara kini tengah memakai seragam SMA STAR. Sara mendudukkan dirinya di sebelah kanan Robin disusul dengan Zen yang meletakkan menu untuk sarapan.
" pagi, Sara!" setelah meletakkan makanan di meja dan mendudukkan dirinya di kursi. Zen mengusap lembut surai panjang milik Sara kemudian membalas sapaanya. sedangkan Robin? dia masih melongo tidak percaya.
" ehem" deheman dari Zen membuat Robin tersadar dari lamunannya, Robin melempar senyum kecil pada Sara kemudian mengoleskan kembali selai ke rotinya.
" oh ya kak, dimana Jade?" tanya Robin sekali lagi, sembari memasukkan roti ke mulutnya. Zen hanya diam dan memasukkan beberapa lembar roti lagi ke dalam mulut Robin. ya, sudah menjadi tradisi bagi Jade dan Zen, ketika makan tidak boleh ada satu pun suara kecuali dentingan dari sendok dan piring.
Robin segera mengeluarkan roti yang dimasukkan oleh Zen kemudian mengunyahnya dengan perlahan. setelah selesai makan Zen segera mencuci piring dan memerintahkan Sara dan Robin untuk segera menuju ke ruang tengah dan menunggunya.
Sara dan Robin hanya meng-iyakan titah Zen kemudian bergegas menuju ke ruang tamu. di ruang tamu, Robin tengah asik dengan ponselnya sedangkan Sara tengah asik dengan acara Relity Show yang tengah ia tonton di Tv. tidak lama kemudian Zen datang dengan membawa sebuah kunci, kemudian menarik kedua anak itu dan membawanya menuju ke garasi
setibanya di garasi, Zen segera mengeluarkan salah satu koleksi mobil sport miliknya. ya, hari ini pilihan Zen jatuh pada sebuah mobil berwarna hitam milik Ferrari dengan type, FXX-K EVO. ya, sebuah mobil dengan harga yang cukup fantastis, sekitar $2.67 M USD.
__ADS_1
" wow" Robin terkejut begitu Zen membawa mobil itu keluar dari garasi. ya Ferrari FXX-K EVO adalah salah satu koleksi kesayangan Jade, dia tidak pernah mengizinkan Zen membawanya kecuali dalam keadaan yang darurat, dan hari ini Zen membawanya keluar! ah, ini adalah sebuah keajaiban.
" apa kalian ingin terlambat?" tanya Zen yang membuka kaca jendela sambil memandang kedua insan yang masih terpana dengan mobil itu. Sara segera membuka pintu dan masuk disusul dengan Robin yang mengikuti Sara dibelakang. setelah keduanya masuk, Zen segera melajukan mobilnya menuju ke STAR.