School Lifes

School Lifes
Episode 27


__ADS_3

Zen membawa langkahnya menuju ke ruang kepala sekolah, setibanya didepan ruang kepala sekolah tatapan Sara semakin menjadi, dia semakin bingung. untuk apa Zen membawanya ke ruang kepala sekolah STAR. Zen mengetuk pintu ruang kepala sekolah, setelah mendapat izin dia melangkahkan kakinya memasuki kantor yang...uhm...mewah itu.


" hei, bro!" Zen masuk diikuti dengan Sara yang mengekor dibelakangnya. saat didalam Zen sudah disambut dengan sebuah pelukan  dan salam dari seorang laki-laki a.k.a kepala sekolah.


" hei, Alan!!" Zen memeluk pria itu kemudian memberikan salam padanya, Alan membalas pelukan dari teman lamanya itu. setelahnya Alan mendapati keberadaan gadis manis dibelakang Zen.


" hei kawan, siapa nona manis ini?" tanya Alan sambil menatap ke arah Sara. Sara tidak mempedulikan tatapan dari Alan, dia malah membuang muka dan mengalihkan pandangannya.


" hei jangan menatapnya seperti itu. dia kakak angkat JD kecil!" seketika Alan mengalihkan pandangannya, dia tidak berani menatap gadis itu lagi. Zen melebarkan senyumnya, sebuah senyum kepuasan terukir diwajah Zen.


" jadi dia yang akan menjadi murid barunya?" Alan menatap ke arah Zen, ya dia tidak mau mencari masalah dengan Jade. terlalu mengerikan untuk dibayangkan.


" hm" Zen menoleh ke arah Sara, mengukir sebuah senyum dan dijawab acuh oleh Sara. dia masih kesal dengan Zen dan Jade yang melakukan banyak hal dengan seenak mereka. dia juga bagian dari rumah itu, seharusnya dia juga tahu apa yang terjadi.


" kalau begitu bagiamana kalau ke studio?" tanya Alan pada Sara yang terlihat masih kesal. Sara hanya mengangguk dan mengikuti kemana kedua laki-laki itu membawanya. setibanya di ruang musik Sara terkejut melihat ruangan yang penuh dengan alat musik, bahkan Studio milik Jade tidak sesempurna ini. semua alat dengan berbagai jenis dan merk terjajar rapi disana.


Sara mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, melemparkan pandangannya ke segala penjuru ruangan dan menatap ke setiap alat musik. Zen dan Alex hanya tersenyum melihat Sara yang asik melemparkan pandangannya ke segala sudut ruangan.


Sara masih sangat asik mengamati seluruh ruangan hingga akhirnya pandanganya terkunci pada sebuah piano yang terletak disalah satu sudut ruangan. Sara mulai mendudukkan tubuhnya dikuri dan mulai menarikan jarinya diatas tuts-tuts piano itu, tiap tuats hitam dan putih ditekan bergantian menciptakan harmonisasi yang indah.

__ADS_1


Alan sangat terkejut mendengar alunan nada dari piano yang dimainkan oleh Sara. jari jemarinya kini tengah menari-nari dengan indahnya diatas tuts piano itu, Alan hanya bisa menganga melihat permainan indah dari Sara. bagia malaikat yang tengah memainkan piano dari surga, begitu indah dan menawan. Zen hanya menggeleng melihat tingkah Alan yang..uhm..menggelikan.


" apa dia benar-benar manusia?" tanya Alan pada Zen yang membuatnya mendapat sebuah jitakan di kepalanya. Alan menggerang kesakitan karena tingkah Zen. Sara tidak mempedulikan tingkah kedua laki-laki itu, dia hanya ingin menikmati alunan nada yang indah ini.


" hm, jadi bagaimana?" Zen menatap Alan yang masih dalam lamunannya, Sara mulai menghentikan tarian itu, jari-jarinya mulai melambat, sebuah senyum terukir diwajah manis itu.


" tentu saja, aku akan menerimanya!" jawab Alan dengan sangat yakin, dia tidak akan pernah membuang bakat yang begitu hebat. Zen hanya bisa tersenyum mendapati jawaban Alan.


sedangkan itu\, disisi lain Jade kini tengah menghadapi badai besar\, ayahnya datang dengan tiba-tiba diperusahaan miliknya dan memaksa dirinya untuk kembali ke keluarga **Criss. **ya\, Jade adalah pewaris pertama dari keluarga criss\, keluarga terkaya no 2 di dunia\, dan jika Jade menjabat sebagai Presdir dan menerima takdirnya sebagai penerus. Keluarga Criss pasti akan menjadi keluarga terkaya no 1 di dunia.


" hahh, lama tidak bertemu pak tua!" Jade membuka pintu dengan pelan, dia langsung memberikan tekanan yang luar biasa, semua yang ada didalam ruangan sangat meresa tertekan. aura dingin keluar begitu saja, tatapan yang setajam elang membuat suasana semakin mengerikan, sedangkan Nana hanya bisa begidik ngeri melihat Jade yang begitu dingin.


" bukankan aku sudah bilang Pak tua, aku tidak akan pernah mengambil alih Criss grup. "


Jade mendudukkan dirinya ke kursi, dimeja terdapat sebuah papan nama bertuliskan Presdir. jade menaikkan kakinya ke atas meja, dan menyandarkan tubuhnya. Steven hanya menggeleng melihat tingkah putranya itu, kalau bukan karena dia adalah kunci yang bisa membawa Criss grup ke puncak dunia, Steven tidak akan mau datang dan memohon ke tempat seperti ini.


" hahh, aku tidak datang untuk itu. Mamamu sedang sakit, dia ingin melihatmu!" Steven memberanikan dirinya untuk mendekat ke meja, dia mendudukkan dirinya ke kursi yang ada disana. dia mengikat tangannya dan menjalin anyaman, kemudian menggunakannya untuk menopang dagunya.


BRAKKK

__ADS_1


tiba-tiba Jade mengangkat kakinya, dia mengayunkannya dan...meja terbelah dua. Steven segera mundur dan mengambil jarak, sedangkan ruangan itu? kini dipenuhi dengan aura membunuh dari Jade. Jade mengangkat tubuhnya dan mengambil posisi berdiri, dia mulai berjalan mendekat ke arah papanya itu.


" Ja..de..?" Steven mulai begidik ngeri, dia tahu kalau Jade menguasai berbagai macam ilmu beladiri dan dia tahu kalau anak itu bisa membunuhnya kapan saja. Jade terus mendekat ke arah Steven, setelah dirasa cukup dia menarik kerah baju Steven.


" urgh.."


" hei Pak tua, bukankah aku sudah bilang? ibuku hanya satu, dan dia adalah Lily Georgea!" Jade menarik kerah Steven, kini dia mencoba untuk mencekik ayahnya itu. merasa Jade sudah lepas kendali, Nana segera memanggil pertugas security.


tidak lama kemudian pertugas security datang dan menghentikan Jade, Steven segera pergi meninggalkan kantor Jade, dia masih belum ingin mati sekarang. petugas sedikit kewalahan saat menahan Jade dari amukannya, mereka bahkan mendapat beberapa pukulan yang mendarat diwajah dan perut mereka.


" Jade!" Nana memukul syaraf tidur Jade, sehingga Jade tertidur. petugas security segera meletakkan Jade yang terlelap ke sofa. setelahnya para petugas meminta izin untuk undur diri, Nana segera menelfon Zen dan memberitahu keadaan Jade.


Zen sangat terkejut mendengar Jade mengamuk hingga tidak terkendali, Zen segera membawa Sara dan pergi menuju ke kantor. sebenarnya membawa Sara ke kantor adalah hal yang buruk, tapi dia sudah tidak punya banyak waktu. akan jadi masalah besar jika Jade mengamuk.


setibanya di kantor Zen langsung memarkirkan mobilnya di parkiran basement kemudian membawa Sara menuju ke kantor presdir. Zen dan Sara disambut oleh Nana yang tengah menunggu mereka di depan pintu masuk. Zen menitipkan Sara ke Nana kemudian bergegas masuk dan memeriksa keadaan Jade.


" JADE!!!" Zen membuka pintu kemudian melayangkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. setelah menemukan keberadaan Jade yang tengah terlelap Zen menjadi tenang, dia mulai berjalan mendekat ke arah Jade dan mendapati Jade yang tengah tertidur.


" hahh, syukurlah!" Zen mengusap lembut surai cokelat milik Jade kemudian melangkahkan kakinya menuju ke luar.

__ADS_1


__ADS_2