
Jade segera menyantap habis es krimnya kemudian mengambil ponsel Leo yang sedari tadi dimainkan olehnya
" Leo ingat, aku tuanmu dan kamu berhutang sesuatu denganku!" seru Jade yang menatap Leo dengan dingin, Leo hanya terkekeh melihat tingkah Jade yang begitu dingin namun begitu menggemaskan.
Leo mengacak lembut pucuk kepala Jade kemudian mencium lembut pucuk kepala Jade, Jade hanya mendengus kesal.
" hm, yes my lord!" Leo mengangkat tubuh Jade kemudian meletakkannya dikursi, Leo mengambil ponselnya kemudian menyimpannya. kini Leo mengambil piring dan meletakkan beberapa macam makanan dipiringnya. setelahnya dia meletakkan piring itu didepan Jade.
" apa ada hal lain yang kamu inginkan, my lord?" tanya Leo sembari memasang senyum lembut, Jade menggeleng kemudian menyantap makanan yang ada didepannya.
Jade menikmati semua hidangan yang diambilkan oleh Leo, bahkan ketika piringnya hampir kosong Leo meletakkan kembali hidangan dipiringnya.
ya, Jade menghabiskan semuanya. dia sudah memakan 5 porsi hidangan utama dan banyak makanan manis.
kini Jade sudah sangat kenyang dan sangat lelah, Leo mengangkat tubuh Jade kemudian membawanya kegendongannya. disandarkan tubuh Jade yang ringan didepan tubuhnya dan diletakkan kepalanya dibahunya.
" good night my lord!" Leo membawa Jade menuju ke kamarnya dan meletakkan Jade ke atas ranjang king size nya.
Sara dan Robin terkejut mendapati sikap Leo yang berubah 180 derajat. Zen hanya menggeleng melihat Sara dan Robin yang kini ternganga, muncul sebuah ide licik dipikirannya.
Zen mengambil beberapa lembar tisu kemudian memasukkannya ke dalam mulut keduanya. Sara dan Robin tanpa sadar mengunyah tisu itu hingga merasa aneh didalam mulutnya.
HUEKK
Sara dan Robin memutahkan tisu itu kemudian mencuci mulut mereka dengan air sedangkan Zen hanya tertawa terbahak bahak melihat keduanya.
" hahaha...kalian sangat lucu!" pekik Zen berlari menjauhi dapur.
" KAK ZEN!!!" teriak Sara dan Robin menggema ke seluruh penjuru rumah. mereka merapikan ruang makan dan mencuci piring kotor kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.
" kak, apa itu benar kak Leo?" tanya Robin yang menjatuhkan dirinya ke sofa kemudian menyalakan TV.
Sara duduk disofa seberang Robin dan memakan keripik kentang yang dia ambil dari dapur. Zen hanya mengangguk dan kembali fokus dengan ponselnya.
ya, Zen sedang chatingan dengan Nana. Robin dan Sara hanya menghela nafas melihat tingkah kakaknya yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1
tidak lama kemudian Leo turun dengan pakaian santainya kemudian duduk disamping Sara.
" apa yang kalian lihat?" tanya Leo yang tidak mendapat jawaban apapun dari Robin dan Sara, ya karena mereka masih sangat fokus melihat Fast and Fourius 7 .
" hahh.. " Leo mendudukkan dirinya kemudian sesekali berebut dengan Sara. susana diruang tamu begitu ramai dan hangat.
" kak!" Sara memanggil Leo yang duduk disampingnya.
" apa hutangmu dengan Jade?" tanya Sara sangat penasaran sedangkan matanya masih sibuk menatap layar televisi. Leo menghela nafas pelan kemudian meneguk soda yang ada dimeja.
" sebuah nyawa!" jawab Leo yang membuat sara dan Robin menatap tajam pada dirinya. Leo hanya menampilkan senyum lembut kemudian menatap lembut kedua anak itu.
" hn, Robin berhutang sebuah keluarga! Sara berhutang sebuah kebahagiaan! Zen berhutang sebuah tembakan! dan aku? aku berhutang sebuah nyawa pada Jade!" seketika semuanya terdiam, kehangatan yang tadi muncul kini berubah menjadi kedinginam dan keheningan.
Leo mengangkat tubuhnya kemudian mengusap lembut kepala Sara kemudian berjalan menjauh.
Sara, Zen, dan Robin menatap sendu pada Leo yang beranjak pergi. ada sebuah rasa sakit dan hutang budi yang muncul dalam hati mereka.
kini Leo berada dikamarnya, Leo melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamarnya. Leo mendudukkan dirinya dipagar balkon kemudian menghisap rokok yang dia ambil dari laci kamarnya.
" maafkan aku, JD kecil" Leo menghembuskan asap rokok ke udara dan menyesap habis tembakau itu.
sedangkan Leo hanya bisa menangis dan melampiaskan rasa bersalahnya pada tembakau yang tengah dia hisap.
walau ini menentang aturan Jade tapi, dia hanya menginginkan ketenangan. Leo memandangi langit gelap dimana bintang menghiasi dan sang rembulan yang bersembunyi dibalik awan.
" katrin, apa kamu baik-baik saja disana?" guman Leo sembari menatap langit, air mata tanpa sadar mengalir ke wajah tampannya.
Leo segera menghapus air matanya dan mengukir sebuah senyuman diwajahnya. bukan senyum bahagia bukan senyum kesedihan, hanya sebuah senyum tanpa makna yang memilukan.
beberapa minggu telah berlalu, Jade menikmati waktunya dengan melakukan hibernasi dan melupakan semua beban pekerjaannya.
Leo sangat puas karena Jade melupakan pekerjaannya dan bermanja-manja dengan dirinya, sedangkan Zen sudah menggila karena bertambahnya pekerjaan dan bebannya sebagai wakil presdir.
Sara dan Robin tidak terlalu berdampak dengan kembalinya Jade, ya mereka sudah berada di dunia mereka masing-masing. selain itu Robin dan Sara sudah resmi menyatakan hubungan mereka sebagai seorang kekasih.
__ADS_1
hari ini Jade terbangun pukul 10 pagi dan melanjutkan kegiatan mandi pagi kemudian turun menuju ke bawah.
" pagi kak Leo!!" sapa Jade sembari melompat dan memeluk Leo yang tengah duduk disofa sembari menonton film di hometheather milik Jade.
" pagi juga JD kecil!" Leo mengusap lembut surai milik Jade dan membalasnya dengan sebuah senyuman lembut.
" kak, ke markas!" ajak Jade sembari mendudukkan dirinya dipangkuan Leo. ya, selama berada dirumah Jade benar-benar bersantai dan melupakan kantornya yang kini berada diposisi 5 dunia.
Leo hanya mengangguk dan mengiyakan ajakan Jade. Jade bersorak riang kemudian mengambil kunci mobilnya dan menari tangan Leo dan membawanya menuju ke garasi.
Jade melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, ya sebuah buggati Divo yang sudah dia rombak dan modifikasi dengan sangat cantik.
" apa yang membuatmu ingin ke markas?" tanya Leo yang menatap Jade yang sedang bersenandung riang.
alunan lagu menghiasi keheningan mobil. Jade tidak terlalu memperdulikan Leo dia hanya fokus dengan acara mengemudinya. Leo hanya fokus dengan ponselnya setelah Jade tidak menghiraukannya.
setelah cukup lama mereka tiba disebuah bangunan yang ada diluar kota, Jade menghentikan mobilnya didepan gerbang kemudian menggores ujung jarinya dan meletakkan darahnya agar pintu terbuka.
Jade melajukan mobilnya masuk ke dalam dan disambut oleh anak buahnya yang sudah sangat lama tidak dilihatnya.
ya The Blood of Devil. adalah mafia no 1 dunia, dibawah pimpinan Leo yang berada dibawah kendali Jade, Jade mendirikan kelompok mafia ini saat usianya 8 tahun.
Jade mendirikan geng ini untuk melawan sang ayah selain itu juga sebagai tempat perlindungan dan tempat pulang bagi Jade.
didunia mafia Jade dikenal dengan The Little Wolf. ya, hal ini karena Jade sangat licik, kuat, dan hebat. setiap musuhnya selalu dikalahkan dengan sangat cepat, otaknya selalu bisa memberikan ide-ide yang jenius dan mengerikan.
walau masih sangat kecil bahkan diusianya yang baru menginjak 10 tahun dia sudah menjadi pemimpin dari mafia no 1 didunia. setelahnya dia berhenti dari aktifitasnya sebagai ketua Blood Devil, dan menyembunyikan dirinya dan menjalani hidup secara normal.
" kumpulkan semuanya!" titah Jade yang langsung dijalankan oleh Leo.
tidak butuh waktu lama bagi Leo untuk mengumpulkan semua anak buahnya, hanya dalam 5 menit semua orang sudah berkumpul diruang pertemuan.
Jade langsung melangkahkan kakinya menaiki panggung dan mendudukkan dirinya ke sebuah kursi yang layaknya sebuah singgasana. semua orang langsung menunduk dan memberikan penghormatan bagi anak kecil yang sangat mengerikan itu.
Jade mulai mengukir sebuah senyum lembut kemudian menatap bawahannya dengan tajam, Jade mengangkat tubuhnya kemudian mengambil sebuah pistol berwarna emas yang ada dibalik jaketnya.
__ADS_1
" Selamat siang semuanya! kali ini aku sengaja datang kemari karena aku memiliki misi penting untung kalian!"
" dan misi itu adalah, kalian harus membuat sebuah pesta yang meriah untuk menyambut kepulanganku!!!"