
Fay PoV
" tapi..." baru saja aku bicara dan Jade sudah meletakkan jari telunjuknya dibibirku. dia menatapku lembut dan menempelkan keningnya pada dahiku, diusapnya wajahku dan ditatapnya iris mataku dengan lembut.
" semua akan baik-baik saja, aku akan kembali!" ucapnya berusaha menenangkanku. aku mengukir senyum kemudian mencium bibirnya pelan, Jade hanya diam dan mengukir senyumnya kemudian mengusap lembut rambut panjangku dan melangkahkan kakinya pergi
aku masih menatapnya dengan penuh kekhawatiran hingga punggung lebarnya menghilang dari balik pintu. aku menjatuhkan diriku ke kursi dan langsung dihampiri oleh Sara. dia mengelus pundakku dengan lembut dan seketika air mata lolos dari pelupuk mataku.
" hiks..sara..." tangisku dan Sara langsung memelukku. kak Nana menghampiriku dan mengusap lembut kepalaku. entah kenapa aku merasakan firasat buruk, sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi.
" tenanglah, Jade bukan orang yang lemah!" ucap Robin yang berjalan pergi menjauh dari ruang tamu. Sarah masih mengusap pungggungku dan mencoba menghilangkan isak tangisku, kak Nana juga semakin mengelus kepalaku dengan lembut dan menghilangkan tangisku.
aku menatap Robin yang berjalan menjauh seakan menyiratkan kalau dia bersedih. punggung lebarnya terlihat hancur dan dari caranya berjalan dia tampak lelah. aku menghapus air mataku dan mengakhiri isak tangisku. Sara tersenyum padaku dan menangkup wajahku, kak Nana mengusap lembut punggunguku agar aku tidak menangis lagi.
" tenanglah, kamu harus percaya pada Jade!" ucap kak Nana dan membuatku harus mengukir senyum dan menghilangkan kesedihanku.
aku percaya kalau Jade adalah orang yang kuat. aku harus percaya padanya dan aku harus menunggunya degan sabar, aku tidak boleh menangis. aku sudah berjanji padanya bukan? aku harus kuat!
Robin PoV
aku melangkahkan kakiku keluar menuju ke taman belakang. aku mendudukkan tubuhku dikursi dan mendongakkan kepalaku menatap langit mendung. aku melihat beberapa bodyguard yang merupakan anak buah dari kak Leo tengah memasang ranjau, senjata, dan kamera CCTV dibeberapa tempat. selain itu mereka juga mulai berjaga dan meningkatkan keamanan.
aku sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi, tapi aku tidak habis pikir kalau ini adalah harinya. padahal ini adalah weakend yang sangat menyenangkan. Jade pulang ke rumah, Kedatangan Fay, Sara yang menemani, kak Zen dan Kak Nana yang sibuk betengkar dan mengundang gelak tawa, dan kak Leo yang menjadi sangat lembut dan pengertian.
aku harap ini hanya mimpi~ batinku
__ADS_1
PLAKK
" ouch!!"
aku benar-benar bodoh. aku pikir kalau aku menampar wajahku,ini semua akan berubah. akan tetapi dengan apa yang terjadi semuanya sangat berbeda. ini sangat sakit dan menyakitkan, bukan wajahku. akan tetapi dadaku, rasanya hatiku sangat sakit.
disaat Jade tengah berjuang akan tetapi aku hanya bisa diam dan duduk disini. aku benar-benar bodoh, payah, tidak berguna. disaat orang-orang yang ada disekitar Jade tengah berjuang dan membantunya aku hanya bisa diam dan menjadi beban. seharusnya kak Nana juga membantu Jade dikantor dan kini? dia harus menjaga kami dan meninggalkan kesempatan untuk membantunya.
" PAYAH!!!" teriakku.
" bodoh!" sebuah suara datang kearahku, aku menoleh dan mendapati seorang gadis cantik yang berjalan ke arahku.
Sara, itulah dia. dia berhenti didepanku kemudian berjongkok agar bisa menatap wajahku yang tertunduk ini. dia meletakkan tangannya di punggung tanganku dan mengusapnya lembut menyalurkan ketenangan.
" semua akan baik-baik saja!"
seminggu telah berlalu akan tetapi jade belum kunjung kembali ke mansion. Fay semakin cemas dengan keadaan Jade, sedangkan Jade masih sibuk dengan urusan perusahaan. Zen dan Nana masih sibuk dengan masalah perusahaan membantu Jade yang sudah kewalahan.
selama seminggu mereka bertiga tengah berjuang untuk menaikkan dan mempertahankan kondisi perusahaan mereka agar lebih stabil. selama seminggu ini ketiganya tidak mengenal makan ataupun tidur. Jade selalu pergi ke berbagai negara tiap harinya untuk menyelesaikan masalah perusahaan sedangkan Nana? dia mengatur kondisi perusahaan pusat bersama zen.
hari ini adalah hari selasa, sedangkan Jade? Jade masih sibuk dengan ribuan berkas yang menanti dirinya didepan meja kantor. Jade sejak tadi tengah menghela nafas kesal, sudah semingu dia tidak makan ataupun tidur dengan benar, jadi lingkaran hitam dan pipi tirus tengah menghiasi wajahnya.
" apa kamu sudah menyelesaikannya Jade?" tanya Nana yang baru saja masuk kedalam ruangan pribadi milik Jade.
Jade menoleh sebentar kemudian mengukir senyum dan menganguk, Nana mengukir senyum dan berjalan mendekat ke arah Jade. diusapnya lembut pucuk kepalanya dan diciumnya pipi kanan Jade, Jade tersenyum dan merasa senang. setidaknya rasa lelahnya menghilang.
__ADS_1
" apa semua sudah selesai, kak?" tanya Jade yang menatap Nana dengan penuh harap.
Nana hanya bisa mengukir senyumnya sembari mengacak lembut surai milik Jade. Nana mengangguk dan mengambil berkas-berkas yang sudah diselesaikan oleh Jade sejak tadi, Jade melonjak girang sembari memeluk Nana erat.
" kalau begitu dimana kak Zen?" tanya Jade yang mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. disana hanya ada dirinya dan Nana sedangkan Zen? entah dimana keberadaannya.
Nana hanya menggeleng sembari merapikan berkas-berkan yang ada didepann Jade, dijepitnya berkas itu kemudian dia urutkan sesuai dengan kepentingan. setelahnya Nana mengangkat berkas itu dan dibawanya ke luar. saat akan membuka pintu Jade membukakan pintu untuk Nana kemudian menutupnya, mengambil sebagian berkas dan membantu Nana membawanya menuju ke ruangannya.
" thanks, Jade!" ucap Nana lembut.
Jade hanya mengangguk kemudian melangkahkan kakinya mengikuti langkah Nana. baru saja mereka akan membuka pintu ruangan Nana , dan sebuah suara mengalihkan atensi mereka.
" Nana! Jade?"
" kak Zen!!" pekik Jade girang.
Ya orang itu adalah Zen, dia melangkahkan kakinya mendekati Nana dan Jade, membukakan pintu ruangan Nana dan kemudian berjala masuk. Jade dan Nana meletakkan berkas-berkas ke atas meja sedangkan Zen mendudukkan tubuhnya ke sofa.
" ayo kita pulang!!" pinta Jade pada Zen.
Jade memamerkan puppy eyesnya, kemudian Zen mengusap lembut rambut Jade dan mengukir senyum lembut. Jade hanya mengukir cengiran jahil dan memeluk Zen dengan erat.
" baiklah, akan tetapi kamu harus berjanji!"
pinta Zen dan membuat Jade mendengus kesal, hanya pulang apakan harus dengan syarat? Jade meruncingkan bibirnya dan mempoutkan pipinya. Nana hanya terkekeh geli melihat tingkah Jade yang kekanakan. Zen terkekeh dan mengusap lembut pucuk kepala Jade.
__ADS_1
Jade masih mendengus kesal sedangkan Zen hanya bisa mengukir senyum 1000 Watt. Jade akhirnya menghela nafas dan mengangguk, dia terlalu malas dan lelah untuk berdebat dengan Zen. yang di inginkan Jade sekarang hanya kembali kerumah dan bercinta dengan bantal dan guling, rasanya matanya sudah tidak bisa dibuka. ingin segera kembali dan tidur. Jade membuka mulutnya dan mulai angkat bicara.
" apa?"