School Lifes

School Lifes
Episode 31


__ADS_3

" tuan muda Zen meminta saya mengantar anda!" jawab pria itu. Robin segera memanggil Sara kemudian mereka berangkat bersama pria itu.


" uhm..kak?" Robin memecah keheningan yang melanda sedari tadi, jarak mansion dengan STAR cukup jauh sedangkan pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


" Leo, panggil saja Leo tanpa embel-embel kak!" serunya sembari menoleh dan menorehkan senyum pada Robin.


"hm, jadi kak Leo kemana kak Zen pergi?" tanya robin dan membuat Leo mendengus kesal.


//


Leo adalah tangan kiri Jade sekaligus anak buah kepercayaannya yang ditugaskan untuk menangani segala masalah yang berhubungan demgan.dunia mafia.


apa Author pernah menyingung kalau jade adalah mafia sebelumnya? ini memang dari awal sudah diplan seperti itu namun kalau belum ditulis harap maklum author lupa 🙏


Leo adalah pria tinggi dengan rambut yang dicat perak dan mata cokelat yang indah. terdapat sebuah lesung pipi diwajahnya, tatapan matanya sangat tajam namun begitu lembut.


Leo seorang yang hangat, lembut, dan humoris. akan tetapi jangan pernah membangunkan singa yang tengah tidur, pepatah ini sungguh mencerminkan sosok Leo. ya, Leo akan sangat mengerikan saat marah, dia bisa menjadi iblis dalam sedetik jika ada yang memancing kemarahannya.


//


" ah, Zen ada urusan dikantor!" Jawab Leo dengan senyum yang mengembang diwajahnya.


" oh" Robin mengangguk kemudian mendudukkan dirinya dengan benar kemudian membuka ponselnya.


" dan ya, jangan panggil aku kak!" Leo menatap tajam Robin, dengan sebuah senyum iblis terukir diwajahnya.


tanpa terasa mereka telah tiba di halaman sekolah, Leo memasukkan mobilnya 0,1 detik tepat sebelum gerbang sekolah ditutup.


" hahh..." Leo menghela nafas dengan sebuah senyum kepuasan terukir diwajahnya, Robin dan Sara kini tengah mencoba menetralkan ekspresi mereka yang masih terkejut dengan cara mengemudi Leo yang mengerikan.


" sampai jumpa sepulang sekolah!" Leo memberikan lambaian pada Robin dan Sara sedangkan kedua anak itu berlari menjauhi Leo sembari mengucap berbagai jenis sumpah serapah.

__ADS_1


Sara dan Robin segera masuk ke kelas sebelum mereka mendapat ceramah dari guru BK.


sedangkan itu, dikantor. Zen langsung masuk dengan tergesa-gesa dan mencari sosok Nana yang tengah kebingungan mencari Jade. setelah menemukan sang sekertaris, Zen langsung memeluk tubuh ramping Nana dan menyalurkan kehangatan padanya.


" semua akan baik-baik saja!" Zen mengusap lembut pucuk kepala Nana dan menenangkan sang gadis.


" Jade, dia tidak ada dimanapun! ponselnya juga tidak dia bawa, semua mobilnya masih ada dikantor!" ucap Nana, Zen semakin mengeratkan pelukannya kemudian menenggelamkan kepala gadis manis itu ke dadanya.


" tenanglah, kita akan mencarinya!" ucap Zen lembut kemudian mengecup ujung rambut Nana.


" sudah tenang?" Zen menatap manik mata Nana dengan lembut, dia tidak ingin gadis ini semakin khawatir.


kalau boleh jujur, Zen jauh lebih khawatir dengan kondisi Jade dibanding Nana. Zen mendudukkan Nana kemudian mengenggam bahunya dengan lembut.


" kamu tunggu disini aku akan mencarinya keluar!" seru Zen sembari menatap lembut manik mata Nana kemudian mengelus kepalanya lembut.


" hm" Nana tersenyum. Zen melangkahkan kakinya pergi dan mencari sosok Jade yang tengah menghilang.


" ada masalah apa?" tanya Zen yang baru saja membuka pintu dan mendapati laki-laki berusia 35 tahun disana.


" ah, ini surat izin kami semua. presdir sudah memberi izin bagi kami untuk berlibur!" kata Pria itu dan membuat Zen tercengang. dia langsung mencengkram bahu laki-laki itu dan menatapnya.


" apa yang terjadi, dimana Jade?"tanya Zen yang langsung membuat pria itu terdiam.


" katakan dimana jade?" bentak Zen membuat sang bawahan terkejut bukan main, pria itu langsung menatap Zen dan membuka mulutnya.


" semalam ada yang mengusik perusahaan, Presdir bergegas kemari dan menanganinya. mungkin sekarang presdir masih berada diruang rapat" jawab pria itu dengan tenang. dia tidak mau atasannya yang sudah terlihat panik dan khawatir menjadi semakin panik.


Zen langsung bergegas menuju ke ruangan yang dimaksud. Zen membuka pintu dengan kasar, matanya kini tengah dilayangkan. Zen mencari sosok Jade disana, setelah cukup lama dia mengamati dan mendapati sosok Jade yang terlelap dalam tidurnya diatas kursi.


" JADE!" Zen langsung menghampiri Jade dan memeriksa keadaannya. Jade masih terlelap dalam tidurnya, ya dia sudah tidak tidur sejak 2 hari yang lalu.

__ADS_1


" ahhh, kamu benar-benar membuatku khawatir?" Zen menggendong Jade kemudian membawanya ke kantor. Nana terkejut mendapati Zen yang menggendong Jade. Nana segera menghampiri kedua laki-laki itu dan memeriksa kondisi Jade


" tak apa, dia hanya tidur!" jawab Zen lembut. Nana menghela nafas lega kemudian menuju ke ruang istirahat Jade dan merapikan ranjangnya.


Zen meletakkan Jade keatas ranjang kemudian meninggalkannya. Zen berjalan menuju ke mejanya diikuti dengan Nana yang mengekor dibelakangnya.


" hahh. apa kamu bisa menjaganya?, aku harus ke markas" Nana mengangguk kemudian melukiskan sebuah senyum manis diwajahnya. Zen tersipu kemudian merentangkan tangannya ingin dipeluk. Nana berjalan masuk ke pelukan Zen dan kembali mengisi tenaga Zen dengan aroma Strowberry dari tubuh Nana.


" aku pergi!"


Zen kini pergi menuju ke markas BLACK BLOOD. ya, itu adalah nama mafia yang didirikan oleh Jade. Jade memberikan nama itu karena beberapa bulan sebelumnya Jade diserang oleh beberapa agen pembunuh yang diminta membunuhnya.


saat itu Jade bertahan dijurang dengan tubuh penuh luka dan darah yang sudah mengering dan berubah warna menjadi hitam dikemeja putihnya.


saat itu usia Jade baru 9 tahun dan dia sudah memimpin JD Grup, dan posisi JD Grup saat itu ada pada peringkat 1 dunia. Ayahnya yang menyewa pembunuh itu dan memberi mereka perintah untuk membunuh Jade.


hm, Steven sangat tamak akan harta. dia bahkan rela membunuh anaknya demi mengambil alih perusahaan sang anak.


Jade bertahan dijurang selama seminggu hingga tubuh dan lukanya sedikit membaik. Jade berjalan menelusuri Jurang berharap menemukan jalan keluar dan dia mendapatkannya.


ok, come back to story...


kini Nana tengah memeriksa semua berkas yang harusnya dia dan Jade kerjakan hari ini. namun Nana malah dikejutkan dengan berkas-berkas yang sudah selesai dikerjakan.


Nana menghela nafas dan tersenyum sembari menatap berkas yang sudah selesai dikerjakan oleh Jade. sebelumnya Zen sudah mengingatkan Nana supaya Jade tidak bekerja terlalu keras, karena sekali Jade menjadi rajin maka, dia tidak akan berhenti kecuali tubuhnya meminta makan.


sudah sebulan berlalu dan Jade masih saja belum kembali ke mansion. kini posisi JD Grup sudah berada di Posisi 5 dunia, semua keluarga besar sangat terkejut mengetahui hal ini. ya, mengingat selama 5 tahun ini posisi jD Grup selalu ada posisi 100 besar.


mereka mulai menyebar berita bahwa sosok anak jenius yang sudah lama menghilang kini kembali, dan ya. Jade kini hanya sibuk dengan pekerjaan kantornya, dia tidak mempedulikan hal lain selain pekerjaan dan pekerjaan. Nana sangat terkejut mengingat kalau sang presdir bisa membawa perubahan besar bagi perusahaannya, kalau Jade bisa melakukan hal ini, kenapa dia tidak melakukan hal ini sejak dulu?


ya, Jade hanya bisa mempercayakan perusahaannya pada Zen. dia berada dalam konflik dengan keluarga terutama dengan sang ayah, karenanya dia pergi dan melepaskan jabatan presdirnya untuk sementara.

__ADS_1


kini Jade tengah duduk dengan santai didepan meja kerjanya. semua berkas yang harusnya dia selesaikan dalam 2 bulan sudah dia selesaikan dalam satu minggu, selain itu semua masalah yang terjadi pada anak perusahaannya juga sudah dia tangani jadi, apa yang harus dia lakukan?


__ADS_2