
Malamku penuh filosofi lalu pagiku penuh ilustrasi
Apa kabar dengan hari yang penuh diksi?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku berusaha tidak mengharapkanmu, tapi jika hatiku sedikit terbuka makan bisa saja kamu mengisi kekosongannya," ucap Sherly lirih.
Antara malu, ragu, dan sembilu. Kenyataan apa yang akan diterima Sherly jika dia dengan bodohnya berani mengakui. Tidak untuk saat ini, tapi entah untuk nanti. Tidak ada yang tau perihal hati. Dia bisa saja mencintai tanpa ada yang mengerti. Lalu kemudian rasa itu pergi tanpa permisi seperti kehadirannya.
Dave dengan sangat sadar mendengar pengakuan Sherly. Dia pun juga sama, tapi tidak ada yang bisa Dave lakukan selain memberitahu Sherly untuk jangan mengharapkannya. Dave bukan laki-laki baik, tidak seperti Sherly yabg cantik dan menarik.
Bukan karena Dave ingin pergi, tapi laki-laki itu takut suatu saat dirinya akan tersakiti. Dia telah berjuang sendiri, bahkan kisah percintaannya berkahir dengan penghinaan.
Bersyukur karena wanita yang dulu dicintai belum menjadi seorang istri. Dan saat ini, setelah Dave hampir mendapatkan wanita yang sangat sempurna, laki-laki itu justru tidak ingin terburu-buru. Dengan kata lain, Dave belum ingin terluka untuk sekarang.
Wajah cantik Sherly terlihat sayu. Seperti saat kedatangan mantan kekasihnya di kantor tadi. Senyum mengembangnya mendadak hilang berganti rona kemarahan dan kilat kebencian. Tidak lupa rasa kecewa terlihat meski wanita itu tidak mengungkapkannya.
Sebenarnya Dave tidak bermaksud menggores luka di salam sana. Namun nyatanya baru sepatah kata saja sudah lebih dulu membuat Sherly kehilangan jiwanya.
Tatapan Dave lurus ke arah dada Sherly. Bukan buahnya, tapi di tengah-tengahnya. Hembusan nafasnya terlihat berat. Irama naik turunnya membuat jiwa lelaki miliknya tidak bisa leluasa. Dave ingin memangsanya, tapi masih memiliki naluri sebagai penjaga.
"Di dalam sana, tepat di ruang hatinya, apakah aku telah membuat pemiliknya kecewa?," pikir Dave.
Laki-laki itu sibuk berasumsi tanpa bertanya terlebih dulu apa yang sebenarnya terjadi. Berbagai hipotesis telah Dave ciptakan melalui pengamatan yang telah dilakukan.
Namun tidak untuk seorang Sherly. Wanita itu diam karena meresapi. Merasa terpikat oleh ucapan Dave. Merutuki kebodohan dalam dirinya, tapi kenapa baru sekarang bertahta di pikirannya.
Hening. Tentu saja karena kedua manusia sedang hanyut dalam dunianya. Menyelam indah menelisik dengan lemah. Hingga pada akhirnya mereka ingin memulai, tapi tidak tahu harus darimana mengawali.
__ADS_1
"Dave."
"Sher."
Ucap Dave dan Sherly bersamaan. Keduanya saling terpesona oleh tatapan lawan bicaranya. Sherly benci kecanggungan, apalagi bertatapan. Wanita itu sangat membenci adegan sinetron bucin yang berkelanjutan.
Sementara Dave, laki-laki itu sama muaknya. Membenci adegan yang menurut orang lain manis, tapi menurutnya jauh dari kata romantis. Sialnya, diantara kebencian justru timbul rasa penasaran.
"Shit!," umpat Dave dalam hati.
"Anda dulu nona," ucap Dave pada akhirnya karena tidak ingin terhipnotis oleh cantiknya seorang Sherly Angel, wanita yang mungkin menjadi kandidat calon kekasih nantinya.
"Em, maafkan aku Dave," ucap Sherly masih dengan manik mata yang tidak pernah lelah mengamati objek di hadapannya.
"Untuk apa?," Dave merasa nonanya tidak bersalah, lalu untuk apa meminta maaf.
"Tidak seharusnya aku membawamu ke sini setelah mantan kekasih ku yang terakhir kali," jawab Sherly apa adanya.
"Justru aku berterima kasih karena kamu telah membawaku ke sini. Di tempat ini aku bisa lebih mengerti seperti apa dirimu sendiri. Awalnya aku mengira hidupmu sangat bahagia, ternyata menyimpan berbagai luka. Maafkan aku Sherly, maaf jika aku membuatmu kembali terluka," Dave hanya bisa bicara dengan nada parau, sebelum nada serak itu akan berubah menjadi desahan yang sesak.
"Apa Dave paranormal? Kenapa hanya dengan melihat raut muka bisa tau segalanya? Sial! Ternyata aku salah mengartikannya," batin Sherly.
"Nona, bolehkah aku membuatmu bahagia? Aku tidak berjanji bisa, tapi biarkan aku berusaha," pinta Dave pada akhirnya.
Benci situasi yang menurutnya akan menjadikan setan sangat diuntungkan. Sekali lagi Dave katakan jika dia adalah laki-laki normal. Bisa menerkam saat ada mangsa di hadapannya. Meski selama ini miliknya belum tersentuh barang se inchi saja.
"Apa itu?," tanya Sherly penasaran.
Sebagian wanita suka kejutan, tapi
__ADS_1
tidak untuk Sherly. Kejutan bukanlah hal yang harus diharapkan karena ternyata rebutan aset dengan para pemegang saham lebih menyenangkan.
"Biarkan aku mencintaimu," bisik Dave.
"Aku tidak yakin dengan hati yang baru saja patah, tapi biarlah aku mengalah. Karena ternyata berada di jarak sedekat ini membuat jantungku berdebar tiada henti," sambungnya.
"Jika saat ini kamu sedang membahas tentang pengajuan gaji, tentu saja aku dengan senang hati menyanggupi. Tapi ini masalah hati Dave. Kamu tau sendiri jika aku baru saja terluka," jawab Sherly sembari mengingat memori yang masih sempurna di benaknya.
Di sofa yang kini menjadi saksi kedekatan Dave dan Sherly. Masih dengan ilusi yang hampir seperti ini. Brian selalu datang menawarkan kebahagiaan.! Namun selalu pergi ketika Sherly menolak ditiduri.
"Are you bastard boy? (Apa kamu laki-laki brengs*k)," tukas Sherly tanpa permisi.
Dave telah lama bersama Sherly, jadi pasti sedikit banyak laki-laki itu menyadari jika Sherly adalah wanita yang tidak pernah takut dengan pria. Namun Brian mematahkannya. Dia laki-laki yang akhirnya membuat Sherly membenci.
"Aku tidak tau orang lain menganggapku seperti apa, tapi dari diriku sendiri aku menyangkal adanya anggapan seperti itu. Aku tidak pernah menyakiti wanita, seingatku mereka yang selalu menyakitiku," Dave berbicara datar seolah menarik lagi ke masa dimana hidupnya selalu hambar.
"Aku dulu sangat memuja wanita, menganggap mereka bak berlian yang harus dipertahankan. Namun satu hal membuatku melontarkan keputusan yang tidak mungkin kubenarkan. Hingga akhirnya aku melihatmu. Takdir membawaku untuk selalu di sampingmu. Perusahaan menyuruhku menjadi sekretaris pribadimu. Dan kamu sendiri menyuruhku menjadi asisten pribadimu. Hal yang dulunya tidak berani kubayangkan, sekarang benar ada di kenyataan."
"Bagaimana dengan pertanyaanku? Apa semua ucapanmu menjelaskan detail tentang keingintahuanku? Ya, meskipun tidak ada penjilat yang dengan rendah, diri mengakui diri mereka sendiri," ucap Sherly lirih namun terdengar perih di telinga Dave.
Kebodohan akan suatu perasaan ternyata membawa Dave dalam kegelapan.
"Sial!," umpat Dave dalam hati.
Otaknya berpikir cepat bagaimana menjelaskan kepada Sherly tentang dialah wanita yang membuat persepsinya hilang seketika. Sherly wanita yang tidak mudah luluh dengan ucapan kata. Apalagi rayuan belaka. Wanita itu butuh bukti bukan janji.
"Setelah wanita yang pernah kucintai mengkhianati, aku membenci wanita. Namun bersamamu membuatku mengerti, jika di dunia ini masih tersisa satu wanita yang tidak seperti itu yaitu kamu," ucap Dave pelan karena sibuk merangkai kata agar terdengar sempurna, tapi ternyata hanya membuatnya merasa hina karena aturan bahasa yang jauh dari tata krama.
"Oh," Sherly hanya ber oh ria tanpa ingin menanggapi lebih jauh ucapan Dave yang menurutnya hanya seperti gombalan.
__ADS_1
"Hanya oh? Oh Lord, wanita apa yang ada di hadapanmu sekarang," gerutu Dave dalam hati.