Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Profesional


__ADS_3

Yang sangat membuatku kecewa adalah mencintai seseorang yang menyimpan nama lain di hatinya. Bukan hanya ilusi semata, tapi nyata adanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa tidak menyalahkan aku sebagai penyebabnya saja," gerutu Sherly.


Walau bagaimanapun, Sherly adalah alasan mengapa mereka saling melirik penuh kebencian.


"Tidak nona, anda tidak salah. Saya yang salah, maafkan saya," ucap Dave dengan menundukkan kepala.


Asisten pribadi Sherly merasa tidak pantas jika bersanding dengan nonanya. Dia terlalu rendah dimana atasannya. Mungkin merelakan Sherly untuk yang lain lebih pantas daripada membiarkan Sherly hidup bersamanya. Apa jadinya jika Dave terus berjuang sementara Sherly tidak sedikitpun merasa tenang.


"Aku akan memperjuangkan, tapi setelah aku mendapatkan keberhasilan. Untuk saat ini mungkin hanya sebuah janji, tapi suatu saat aku akan memberi bukti," batin Dave.


"Tidak sher, bukan kamu yang salah. Maafkan aku," ucap Brian seraya memegang jemari Sherly.


Wanita itu perlahan menepis sentuhan yang Brian berikan. Bagaimana bisa melupakan jika dia terus memberi harapan. Tidak mungkin ada tamu yang tiba-tiba bermunculan jika kamu tidak membuka pintu. Sekalipun itu secara perlahan.


"Teruskan saja perbincangan kalian. Aku bahkan lupa apa yang ingin kukatakan," ucap Sherly dengan nada dingin, tapi membuat Dave dan juga Brian merinding.


"Tidak nona, saya akan pergi dari sini. Permisi," pamit Dave segera membuka pintu ruangan Brian.


"Bagus sadar diri. Husshh pergi sana jauh-jauh jangan deket-deiet Sherlyku," usir Brian dalam hati.


Belum sempat Dave menggapai pintu, Sherly lebih dulu mengucapkan sesuatu.


"Pergi saja jika ingin bekerja denganku sampai detik ini," ucap Sherly.


"Eh."


"Daaveee, berhenti punya kebiasaan buruk."


"Kebiasaan apa nona?."


"Ah eh ah eh, mending kalau ah ah ah ah di ranjang Dave."


"Plaakkk" Brian ingin tertawa, tapi tidak ingin melihat wanita di hadapannya murka.

__ADS_1


"Astaga Sherly, kenapa kamu bisa jadi CEO sih. Lihat, cara bicaramu masih lucu. Ah baby, i miss you," batin Brian.


"Hei nona, apa katamu? Dasar CEO mesum. Pantas saja Brian suka banget mepet kamu, ternyata kamu suka memberi umpan tanpa memberi kepastian. Cih, dasar nona gil*," cibir Dave dalam hati.


"Hei makhluk bernama laki-laki, berhenti ngayal dong. Ini kantor woey," teriak Sherly tanpa sadar diri.


Dua laki-laki di sana hanya menghembuskan nafas kasar. Bagaimanapun wanita memang makhluk paling benar.


"Ehem" Brian berdehem mengurangi ketegangan yang mereka ciptakan.


Entah ketegangan atau kecemasan. Bisa jadi mungkin sebuah kekacauan.


"Jadi apa maksud kedatanganmu kesini sher? Nggak mungkinkan seorang CEO perusahaan papan atas rela berkunjung ke perusahaan receh kaya gini," tanya Brian to the point.


Sherly tersenyum, wanita itu saja tidak mengerti kenapa hati kecilnya menyuruh untuk bertemu Brian kembali. Padahal kehancuran Pradana Coorporation adalah ulah dari pemiliknya sendiri.


"Aku ingin membeli seluruh sahammu," jawab Sherly santai.


Brian membulatkan matanya. Laki-laki itu selalu dibuat kagum oleh wanita di hadapannya. Kenapa setelah Brian selalu melakukan hal buruk padanya, wanita itu masih saja rela berbaik hati untuk membantunya.


"Apakah masih ada kesempatan untuk kembali kepadamu lagi?."


"Sukurin, Sherly marah kan? Siapa suruh bahas hati pas nona cantik lagi serius seperti ini. Andai saja nona membolehkan, aku pasti sudah menendang perutmu yang sispex itu," batin Dave.


"Baiklah," ucap Brian pasrah.


Sudut matanya mengamati seluruh ruangan Brian. Masih sama dengan yang dulu selalu dikunjungi Sherly. Wanita itu masih mengingat jerih payahnya dalam membantu Brian hingga dia bisa mendirikan sebuah perusahaan.


Tidak ada satu jengkal pemandangan yang luput dari pengamatan Sherly. Termasuk saat fotonya bersama Brian masih berada di samping name tag bertuliskan kata "Presdir".


Lirikan Sherly seolah mengintrogasi benda yang diamati. Brian menyadari, selanjutnya tersenyum tipis karena besar kemungkinan Sherly masih ingin kembali menjalin hubungan.


" Sher," panggil Brian.


"Hm."


"Sengaja foto kita ada di sana karena aku tidak mau melupakannya. Apalagi melupakan kenangan kita. Aku masih mencintaimu sher."

__ADS_1


"Aish, bucin dimulai," batin Dave kesal.


Tatapan teduh yang dulu selalu membuat Brian luluh kini kembali didapatkan. Sherly membiarkan pupil nya menangkap dua pupil Brian di waktu yang bersamaan. Bukan hanyut karena kenangan, tapi Sherly ingin memberikan Brian pengertian.


Tanpa menggenggam jemari Brian seperti saat mereka masih pacaran, Sherly tetap menunjukkan rasa kepedulian.


"Brian, kamu boleh melakukan apapun. Tidak perlu memajang fotoku di sudut sini. Aku yakin cepat atau lambat kamu pasti menemukan pengganti."


"Tidak sher, aku tidak berniat melakukannya lagi. Hanya kamu yang kuinginkan."


"Sekarang bilang hanya aku yang kau inginkan, dulu kemana aja pas ada wanita cantik dan menawan? Bukankah kamu dengan santai pergi lalu meninggalkan?."


"Good nona, kalimat anda selalu tajam dan menghujam," puji Dave dalam hati.


Brian tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Laki-laki itu membalas ucapan Sherly. Tentunya dengan sebuah oembelaan untuk menaikkan harga dirinya.


"Aku khilaf sher. Jujur, aku tidak membiarkan itu terjadi untuk kedua kali, ketiga kali, ataupun kesekian kali. Aku bisa menjamin cukup itu yang pertama dan terakhir kali."


Bukan Sherly jika dengan bodoh mempercayai. Wanita itu pernah percaya, tapi kebohongan menjadi balasannya. Lalu apakah salah jika saat ini Sherly sudah tidak bisa mudah diperdaya?


"Bri, apa lagi yang harus kukatakan jika aku tidak ingin kembali mengulang. Mungkin kamu bisa berharap kembali, tapi aku dengan sadar diri tidak ingin mengulangi. Bukankah sebuah arah yang tidak akan pernah bertemu? Penjuru mata angin saja tidak mungkin, apalagi harapan yang menurutku mustahil."


"Ayolah sher, biarkan aku memperbaiki," rengek Brian manja.


Jika dulu Sherly selalu iba dengan sifat manja Brian, kini hanya ada rasa keaal tertahan saat laki-laki itu masih saja melakukan hal yang memalukan.


"Tidakkah kamu malu jika dengan sengaja mengharap seseorang yang pernah dijadikan sebuah pelampiasan?."


"Apa maksudmu sher?."


"Brian, aku tidak sesempurna yang kamu kira. Aku juga yakin jika tahta dan harta bukan, tujuan utamanya."


"Tapi menikmati setiap inchi, menghirup aroma yang tercipta, serta berbagi ranjang dalam keadaan telan****** tidak akan pernah kamu dapatkan," imbuhnya.


Brian terpaku mendengar ucapan Sherly yang tampak terdengar santai, tapi dengan nada dingin yang menjadi saksi. Laki-laki itu semakin yakin jika Sherly-nya yang dulu lemah telah menjelma menjadi wanita yang tidak akan mengalah.


"Sher."

__ADS_1


"Bri, please. Jika kamu membuat moodku rusak, maka aku juga akan merusak apa yang seharusnya dirusak. Aku bisa menjadi siapapun jika ada seseorang yang dengan sengaja ingin menyentuh kehidupanku."


__ADS_2