Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Berantakan


__ADS_3

Lebih baik kamu pergi, daripada hadirmu hanya untuk menyakiti. Karena hati yang sering menyendiri sulit untuk dimengerti.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Brian masih berdiri tegak menatap kepergian Sherly beserta sekretarisnya. Apalagi setelah laki-laki yang menemani mantan kekasihnya kemanapun pergi itu mengancamnya. Seakan dunia Brian runtuh. Laki-laki bodoh yang telah menukar cinta demi nafs* dunia.


"Aargghkkk" jerit Brian putus asa.


Dia bahkan lupa dimana saat ini berada. Renata yang tidak tega melihat atasannya sangat kecewa bermaksud menghampiri. Namun satu notifikasi di tablet miliknya memaksanya untuk segera dibuka.


Pasalnya, itu bukan benda miliknya melainkan milik Brian. Lebih tepatnya milik Pradana Coorporation. Lima email masuk dari pengirim yang berbeda, tapi dengan isi yang sama persisnya.


"Tuan Brian! Hal buruk terjadi pada Pradana Coorporation," pekik Renata.


Lirikan tajam beserta wajah dingin mewakili aura kekejaman Brian. Laki-laki itu menatap sekretarisnya tanpa berkedip seolah menyiratkan kalimat "siapa kamu beraninya berteriak di hadapan Brian."


"Maaf tuan, tapi ini hal penting. Para pemegang saham yang tadi berada di sini memutus hubungan kerja. Mereka mencabut saham yang ditanam di perusahaan kita," ucap Renata takut.


"Aku tidak peduli."


Brian tidak peduli dengan perusahaannya yang hampir gulung tikar akibat ulahnya sendiri. Hatinya sudah hancur, apakah sekarang hidupnya juga akan lebur. Brian tidak peduli dimana dia berada. Saat ini tujuannya hanya bertemu dengan Sherly.


Penyesalan tetaplah datang sebagai akhiran. Menjadi penutup semua cerita yang telah dialurkan. Sekalipun Brian meminta kesempatan, jawaban Sherly tetap sama yaitu tidak akan pernah membiarkan Brian untuk kembali menetap di tempat yang sama.


Bukankah hal terburuk dari mencintai seseorang adalah membiarkan orang itu pergi walau kita tersakiti? Namun Brian Pradana tidak mampu melakukannya. Laki-laki itu hanya bisa terus merutuki kebodohannya.


"Kamu pulang sendiri. Aku masih ada urusan," ucap Brian kepada sekretarisnya lalu pergi meninggalkan bawahan yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja atasannya ucapkan.


Sekretaris Sherly adalah tujuannya. Sedangkan menemui Sherly adalah alasannya. Penampilan Brian terlihat lebih buruk daripada saat Sherly melihatnya terakhir kali.


"Tok tok tok" suara ketukan pintu memenuhi indra pendengaran Dave.


Laki-laki itu berjalan ke arah pintu lalu membukanya.


"Tuan Brian?," tanya Dave kaget.

__ADS_1


"Apa Nona Sherly ada?," tanya Brian tanpa basa-basi.


"Maaf tuan, Nona sedang tidak bisa diganggu. Beliau sedang kurang sehat," jawab Dave.


"Biarkan aku bertemu dengannya. Aku tidak akan membuat ulah. Percayalah padaku Dave. Aku ingin bicara sesama lelaki, bukan lagi atasan dan bawahan. Aku masih mencintainya, bisakah kamu memberiku waktu sebentar saja? Aku tau kamu sangat dekat dengannya," reputasi Brian hancur seketika saat memohon kepada Dave.


Sesulit itukah bertemu dengan seorang Sherly? Orang yang dulu dicampakkan sekarang menjelma jadi orang penting yang sangat dibutuhkan.


Dave mengamati penampilan Brian. Terlihat sangat berantakan dengan wajah putus asa yang terlihat. Tidak dipungkiri, penampilan nonanya hampir sama dengan laki-laki di hadapannya.


Rasa cemas menghantui, bagaimana jika Sherly kembali dimiliki. Namun Dave tidak bisa mengkhianati jika dia juga seorang laki-laki. Dave pernah kecewa. Rasanya sangat terluka. Sekedar menghirup udara saja terasa hampa.


"Dave, please," Brian memohon sekali lagi dengan suara rendah seperti menahan isak.


"Baiklah Tuan Brian, saya akan bicara kepada Nona Sherly dulu."


Apakah rasa cemburu ada saat lawan jenis mencari orang yang kita suka?. Dave berjalan menuju ruangan Sherly. Mengetuk pintu terlebih dulu, baru menyembulkan seluruh tubuhnya di hadapan atasannya.


"Ada apa Dave?," tanya Sherly pelan.


"Tuan Brian ingin bertemu anda. Penampilannya sangat berantakan. Bahkan dia memohon kepada saya agar membiarkan dia bertemu nona," jelas Dave seperlunya.


"Suruh dia kesini Dave."


"Baik nona."


Dave berjalan keluar ruangan Sherly, menghampiri Brian yang berada di ruang tunggu miliknya. Kemudian mempersilahkan laki-laki itu masuk ke ruangan atasannya.


Kedua bola mata Brian membulat sempurna. Dia tidak mengira jika Sherly masih mau menemuinya. Senyum lepas tersirat jelas di bibirnya. Brian melangkah cepat ke ruangan Sherly. Seolah tidak ingin satu detik terlewat begitu saja.


"Sherly," panggil Brian saat tiba di ruangan Sherly.


Wanita yang namanya dipanggil mendongakkan kepalanya mengamati suara familiar yang dulu sering ia dengar.


"Ada apa Brian?," tanya Sherly pelan.

__ADS_1


Kembali Brian tidak menyangka. Betapa bodohnya dia meninggalkan wanita yang tidak pernah marah kepadanya hanya untuk hal bodoh yang belum tentu menjamin kebahagiaannya.


"Boleh aku duduk?."


"Duduk di sofa aja bee, eh bri," Sherly keceplosan menyebut panggilan sayang mereka.


Seulas senyum terbit di bibir Brian.


"Apa masih ada celah untukku?," batin Brian.


Sherly duduk di sofa, sedangkan Brian mendaratkan pantat di sampingnya. Sepersekian detik keduanya saling bersitatap. Sorot mata yang sama terlukanya, tapi tidak tau bagaimana akhir dari cerita selanjutnya.


Dave menjadi pengamat dari ujung pintu yang sedikit terbuka. Melihat dengan jelas jika masih ada cinta antara nonanya dan mantan kekasihnya.


"Apakah aku sanggup bersaing dengan Brian? Bahkan aku sadar jika aku berada di bawah kalian," batin Dave.


"Aku belum merelakanmu, tapi aku akan berusaha mengikhlaskanmu. Jujur aku tidak ingin mencari penggantimu karena untukku kamu tetaplah pemenang di hatiku," Brian mulai merangkai kata meski hasilnya tidak sempurna.


Dengan berat Sherly menarik sudut bibirnya hingga membentuk garis lengkung yang samar. Jauh di lubuk hati dia masih mencintai, tapi mengingat saat orang yang kita sayangi pergi tentu membuat nyeri.


"Brian, jauh di lubuk hati namamu masih terpatri. Hingga detik ini aku belum berniat mencari pengganti. Enam bulan bukan waktu yang mudah untuk melupakan mengingat ribuan kenangan tentu akan selalu bersemayam. Kamu masih mencintaiku? Aku pun sama masih mencintaimu, tapi tidak semua rasa harus berakhir bahagia. Ada kalanya kita merelakan demi mendapat kebahagiaan."


"Sher, beri aku kesempatan. Aku akan membuktikan."


"Aku tidak berhak atas apa yang kamu lakukan bri. Kamu boleh mencintaiku, kamu boleh menyayangiku. Itu semua hak telak milikmu. Hanya saja untuk kembali bersama, aku tidak ingin kembali terluka. Sayatan itu masih jelas terasa. Goresan dulu masih sangat menganga. Tolong jangan membuatku ragu di saat ada seseorang yang mulai menemaniku."


"Menemanimu? Kamu sudah punya penggantiku sher?."


"Belum bri, di dekatnya aku merasa bahagia. Di sampingnya aku mampu tertawa, tapi aku belum memastikan bagaimana ke depannya. Aku tidak mudah mencintai Brian Pradana. Kamu harusnya lebih bisa mencerna tanpa aku mengatakannya."


"Benar, Sherly tidak mudah mencintai. Bisa saja suatu saat nanti hatinya kembali menanti," batin Brian.


Masih di sudut pintu, laki-laki yang sedari tadi mengamati merasa dadanya mendadak sesak. Nafasnya seakan tercekat. "Apakah aku tidak berhak bahagia?," batin laki-laki itu.


"Aku baru saja merasa hidup kembali saat dengan sengaja kamu memulai. Perhatian, kasih sayang juga belaian yang kamu berikan membuatku hampir saja merasakan yang seharusnya tidak kurasakan. Namun ternyata aku baru menyadari jika kamu benar wanita yang sulit dimengerti. Pernah disakiti, nyatanya tidak membuatmu membenci," gumam Dave.

__ADS_1


__ADS_2