
Tidak semua yang kamu miliki bisa dengan bebas kamu cicipi. Jadi jangan pernah melakukan apa yang belum resmi kamu dapatkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dave bisa melihat dengan jelas wajah Sherly yang telah merona. Wanita itu semakin menggemaskan saat pipinya menciptakan warna alaminya.
"Dave turun," lirih Sherly.
Smirk smile terbit di bibir Dave. Seringai licik menyempurnakan kemisteriusan Dave.
"Dave! Your smile! Please go from here," pekik Sherly.
wanita itu mulai menyadari adanya kelicikan di sana. Sebisa mungkin Sherly mendorong tubuh Dave, tapi sayang tenaganya tidak sekuat yang Dave punya.
"No baby, i need you so much," bisik Dave menggoda.
Sherly merasa wajahnya semakin memanas seiring godaan Dave yang terus dilontarkan.
"Mampu*! Senjata makan tuan. Please help me God," sesal Sherly dalam hati.
Pura-pura mengalah tidak mungkin bisa membuat Dave lengah. Laki-laki itu sangat mengerti dengan perubahan raut Sherly. Bahkan sekalipun wanita itu tidak menyadarinya.
Kegugupan yang dimiliki Sherly membuat Dave ingin terkekeh geli, tapi sebisa mungkin laki-laki itu menahannya. Pelan, Dave sengaja menggesekkan miliknya tepat di hadapan Sherly.
"Big no," ucap Sherly lemah.
Dave mendekat ke arah Sherly. Membuat laki-laki itu semakin berkuasa di posisi menindihnya. Menghembuskan nafas tepat di telinga Sherly, lalu membisikkan sesuatu tepat setelah hembusan terakhirnya.
"Apa kamu memberiku obat perangsan* hm? Aku begitu tergoda hanya dengan melihatmu," bisik Dave manja.
Sherly memejamkan mata. Wanita itu tidak memberinya apa-apa. Dan apa katanya? Dave tergoda?
"Hei Dave aku lebih terang**** woey! Cepet turun atau aku bisa aja membalikkan posisimu. Bukankah laki-laki kebanyakan suka posisi woman on top?"
Dave tidak yakin dirinya bisa tahan lebih dari lima menit. Andai Sherly membalas gerakannya atau hanya sekedar menyentuh kulitnya, Dave pasti akan khilaf.
Laki-laki itu juga melihat ada kegugupan yang berusaha dinetralkan. Sherly beberapa kali menghembuskan nafas berat. Dave merasa sapuan angin itu begitu nikm*t.
"Ffiiyyuuu" Dave memberikan tiupan di leher Sherly lalu bangkit berdiri.
Mengacak rambut Sherly pelan lalu menciumnya.
"Cup! Jangan sering menggodaku atau aku akan membobol sebelum kamu resmi jadi milikku."
"Daaaveee," pekik Sherly dengan dua mata yang telah membulat sempurna.
"Hahaha" Dave tertawa lalu pergi menuju ke arah sofa.
Ketika Sherly sudah meneriaki namanya, berarti wanita itu sudah berada di mode on sebenarnya. Dave lega karena akhirnya bisa menahan rasa sesak di celana. Meskipun itu membuatnya ngilu.
"Mau kemana Dave? Tidur di sini aja."
"Nona, aku tidak mungkin tidur seranjang denganmu. Tadi saja aku sudah menahan sekuat hatiku, tapi tubuhku sedikit tidak mampu. Lain kali jangan pernah melakukan itu lagi kepadaku atau aku akan memaksamu agar mau menerimaku."
__ADS_1
Sherly mengerutkan dahi. Wanita itu hanya bertanya satu kata, tapi Dave memberikan jawaban dua puluh dua kata.
"Ish, dasar pedifil," cibir Sherly.
Dave yang hendak mendaratkan pantatnya kembali berdiri. Laki-laki itu sudah menekuk kedua lututnya hanya tinggal menghempaskan saja. Namun Sherly mengganggunya.
Kembali berjalan ke arah Sherly. Memberikan tatapan tajam kepada wanita yang masih berada di atas ranjang. Raut ketakutan kembali bermunculan.
"Itulah akibatnya jika kamu selalu menggoda. Jangan bilang kamu selalu seperti ini sama dia. Pantas saja dia mendua," ucap Dave tanpa sadar.
"Gue nggak serendah itu Dave," ketus Sherly.
"Eh, Sherly udah bicara pakai kata gue? Damn jangan harap bisa merebut hatinya Dave. Wanita itu benar-benar marah."
Beruntung Dave tau kalimat wanita selalu benar. Apapun kesalahan seorang wanita, maka tetap saja wanita benar dan itu kesalahan seorang pria. Baiklah, Dave tidak ingin Sherly salah paham di sini.
"Sher, sorry."
"Hm."
"I'm so sorry baby."
Dave berusaha menggapai tangan Sherly, tapi wanita itu menepisnya. Dave bodoh telah membuat Sherly nya kembali terluka, tapi bukankah tidak sepenuhnya kesalahan Dave. Sherly saja yang sedari tadi menggoda.
Karena Sherly justru memunggungi, maka Dave ikut merebahkan tubuhnya. Memeluk Sherly dari belakang lalu menyingkap selimut yang dipakainya.
"Maaf bee. Aku tidak bermaksud menngingatkanmu. Aku hanya kesal saat kamu terus bersifat menyebalkan."
"Huuffttt" Sherly menghembuskan nafas berat.
Memejamkan mata, Lalu Dave bangun dan mengintip Sherly dari atas kepalanya.
"Daaaveee."
"Sher, ini udah dua kali kamu teriak. Sadar nggak sih kalau tiap hari kamu udah kaya gini. Aku kurang sabar apalagi sama kamu hm."
Sherly duduk lalu membalikkan tubuhnya. Menatap tajam ke arah tangan kanannya.
"Kamu ngapain balik ke sini? Tidur sana di sofa."
"Nggak enak di sana. Enakan di sini ternyata."
"Daaveee pergi!"
"Oh Lord! Big no for ugly women," desah Dave.
"What do you mean?"
"Not have."
Keduanya bersitatap dengan tangan saling menggenggam. Dua manusia itu selalu punya cara untuk menutupi kelemahannya. Ingin meninggalkan, tapi takut jika tidak ada yang menggagalkan. Ingin terus bersama, tapi hanya sering menyiram bensin di atas bara.
Sudut mata Sherly melirik ke arah dua jemari yang saling mengitari. Dave mengikuti kemana Sherly mencari. Ternyata mengamati jemari yang terus menari.
__ADS_1
"Cup" Dave mencium punggung telapak tangan Sherly.
"Kali ini tolong dengarkan aku bee. Aku cuma nggak mau nanti khilaf. Aku tulus mencintaimu. Ingin menjagamu di setiap hembus nafasku bukan mengusik milikmu."
Sorot mata Dave menyiratkan keseriusan. Sherly bisa dengan jelas melihatnya. Di sana tidak ada nafsu yang membara seperti apa yang pernah Sherly lihat di dalam mata Brian.
"Shit! Laki-laki itu. Kenapa aku masih saja mengingat namanya."
"Cup" Dave mencium puncak kepala Sherly.
"Aku suka aroma shampomu."
"Cup" Dave mencium kening Sherly.
"Jidatmu lebar kaya kapal terbang."
"Dave," rengek Sherly.
Wanita itu melayangkan cubitan di perut rata Dave, tapi tidak bisa. Sherly justru merasa jarinya terpeleset roti sobek yang ada.
"Sakit bee."
Sherly menatap tajam ke arah Dave. Menunggu bagian mana lagi yang akan Dave katakan. Biar sekalian jarinya tidak berhenti menguliti Dave.
"Cup" Dave mencium hidung Sherly lalu menyatukan hidung mereka hingga saling berebut udara.
"Aku mencintai kekuranganmu."
"Cup" Dave mencium bibir Sherly lalu melum*tnya sekilas.
"Jika aku menciummu lebih dari itu, maka ingatkan aku. Bisa jadi itulah awal nafsu lelakiku."
Dave berkata jujur. Memang benar itu yang ditakutkan. Dia hanya tidak ingin membuat Sherly kembali berpikir tentang cinta atau sebuah hawa.
"Kemudian, em..." Dave tampak berpikir.
Ingin melanjutkan ucapannya, tapi ragu untuk melakukannya.
"Cup" Dave mencium leher Sherly kemudian menyesapnya pelan membuat tanda kepemilikan di sana.
Sekaligus membuat sang empu meringis karena ulah Dave-nya.
"Hanya sebatas itu yang kulakukan. Kumohon, ingatkan aku jika apa yang kuperbuat terlalu maksiat."
"Cuma itu?"
"Heem."
"Kirain lebih."
"Apa maksudmu?"
"Eh, nggak papa kok Dave."
__ADS_1
Sherly memejamkan mata mengutuk kebodohannya. Kenapa dia selalu lupa diri jika berhadapan dengan tangan kanannya? Dan kenapa kenapa yang lain juga muncul begitu saja.
"Padahal aku pengen yang lain Dave. Sama Brian dulu aja aku belum pernah kaya gini."