Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Hak Yang Sama


__ADS_3

Sesederhana kalimatnya, tapi tidak seluas maknanya. Aku mencintaimu, entah bagaimana awan meminta kepada bulan. Namun yang pasti, setiap inchi ulas senyummu telah kusimpan dengan rapi dalam hatiku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lampu yang sedari tadi menyorot ke arah Dave kini juga mengikuti kemana laki-laki itu pergi. Duai insan menjadi pusat perhatian. Dave menghampiri Sherly yang terus tersenyum ke arah kekasihnya.


Sorot teduh itu, Dave ingin sekali bernaung di sana. Namun bagaimana caranya? Dia selaku lelaki dewasa tidak bisa berkuasa. Senyum tulus itu, Dave tidak pernah menganggap senyuman Sherly sebuah modus. Dia telah terpikat sejak pertama kali melihat.


Kini pandangannya lurus. Lebih tepatnya menatap tajam ke arah laki-laki di belakang Sherly. Brian Parada di sana bersama pria seumurannya. Dave saja tidak percaya jika seorang Brian berada di tempat yang tidak semewah biasanya.


Bisakah waktu berhenti di detik ini? Dave ingin semua mengerti bahwa Sherly hanya tercipta untuknya seorang diri. Dave tidak suka berbagi, apalagi urusan hati. Dia akan menyimpan rapat nama yang berhasil mengetuk pintu ilusi.


Tidak mudah menembus kokohnya pertahanan Dave. Sekedar untuk dilirik saja Dave punya kurasi tersendiri. Pria punya hak untuk memilih, sedangkan wanita punya hak untuk menolak. Dave memegang teguh prinsip untuk masa depannya kelak.


"You're lose Brian," batin Dave.


"Breng**k," umpat Brian.


"Big thanks hubby," gumam Sherly.


Senyum lepas Dave tunjukkan kepada wanita yang pantas. Di depannya ada wanita yang harus diperjuangkan. Dave tidak akan membuatnya kecewa.


Laki-laki itu mendekat hingga jarak mereka rapat. Dave memeluk Sherly yang duduk di kursinya. Membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


"Cup" Dave mencium kening Sherly.


Sherly mendongak. Dia terlalu nyaman berada di dekapan hingga rasanya wanita itu bisa saja lupa daratan. Dave menatap wajah cantik Sherly.


Kedua jemarinya terulur menggapai jemari Sherly yabg masih memegang benda tadi. Wanita itu belum membuka. Bahkan dia lupa jika Dave memberinya sesuatu.


Senyum bahagia terbit di bibir keduanya. Dave menggenggam jemari Sherly. Bibirnya maju mendekat lalu mengecup singkat.


"Boleh aku membukanya?" tanya Dave.


"Tentu saja," jawab Sherly.

__ADS_1


Dengan bangga, Dave yakin wanitanya akan bahagia. Dia menyiapkan semuanya dengan biasa, tapi Sherly memberi respon yang luar biasa.


Tangan kanan Dave mengambil kota dari genggaman Sherly. Dia merendahkan posisinya. Laki-laki itu berlutut di hadapan kekasihnya.


Membuka kotak perlahan kemudian mengarahkan tepat di depan kedua tangannya. Lingkaran hitam mengeluarkan sinarnya. Mungkin karena lampu hanya menyorot ke arah mereka.


Sherly terpana. Dave benar, dia bisa membeli yang lebih mahal. Namun pemberian Dave lebih mahal dari apa yang mampu dia jual. Sekalipun Sherly merelakan harta bendanya untuk menukar dengan milik Dave, tetap saja lingkaran itu yang membuatnya merasa dicinta.


Cincin keramik mirip seperti yang Dave kenakan. Mungkin saja itu adalah couple ring. Tapi Sherly tidak peduli. Dia terlalu bahagia untuk menerima.


"Aku tidak mengatakan will you marry me karena aku belum bisa memantaskan diriku untuk wanita seistimewa kamu. Entah dengan rasa apa aku mengucapkan syukurku. Tuhan memberikan anugrah, pertanda aku tidak boleh lengah," Dave menjeda ucapannya.


"Huuuftt" hembusan nafas kasar terdengar.


Dave gugup. Dia mengucapkan di depan semua orang. Berbeda suasana saat mereka cuma berdua.


"Jika seseorang bertanya kenapa aku tidak membeli yang langka, aku akan senang hati menjawab karena wanita yang kupuja adalah pemilik segalanya. Semahal apapun aku memberi, dia lebih dari sanggup untuk membeli. Namun kenapa pada akhirnya aku memberinya yang biasa? Itu karena aku yakin dia wanita yang tulus menerima."


Dave mengambil cincin dari kotakckecil itu lalu menyematkan di jari Sherly. Dia tersenyum menyadari kimi mlik keduanya sama.


"Jangan merendah, kamu yang akhirnya memumpinku dalam setiap ibadah. Bangun Dave, kamu tidak perlu seperti ini," ucap Sherly lembut.


Wanita itu bangkit dari duduknya lalu membantu laki-laki yang berada sebatas lututnya. Dave berdiri dengan bantuan Sherly. Dia tidak pernah menyangka masih ada wanita yang bisa membantunya menghapus luka.


Dave memeluk Sherly. Membawa wanita itu ke dalam dadanya. Kepala Sherly terbenam. Wanita itu sangat betah berada di depan tulang iga kekasihnya.


"Cup" Sherly mengecup dada bidang yang terbungkus kaos tipis.


Dave menyeringai. Laki-laki itu mengecup puncak kepala Sherly beberapa kali. Baru setelah puas ia mengacak rambut sebagai akhir sesi.


Tepuk tangan pengunjung cafe membuat Sherly semakin merasa beruntung. Dialah wanita yang paling bahagia. Tidak peduli bagaimana akhir nantinya. Namun untuk saat ini Sherly meyakini adanya laki-laki yang tulus mencintai.


Alunan lagu dengan judul "Surat Cinta Untum Starla" telah seselai. Setiap kata dalam liriknya menjadi saksi Dave yang telah berjanji. Lampu kembali menyala seperti semula saat Dave mendudukan Sherly ke tempat yang telah disiapkan.


Hanya beberapa pasang mata saja yang masih mengamati Dave dan Sherly. Mereka tentu saja kaum bucin yang baru patah hati. Melihat Dave dan Sherly membuat kaum itu terlihat iri.

__ADS_1


"Bee, jangan menghindar. Tetaplah menjadi kamu yang sabar. Aku emang masih bar-bar, tapi tolong beradalah di sekitar."


"Dave, nggak usah berlebihan. Kamu yang selama ini udah sabar ngadepin aku. Makasih ya bee atas apa yang kamu lakuin malam ini."


Sherly mengangguk. Wanita itu menarik tangan Dave yang ada di atas meja. Dia membawa jemari Dave-nya untuk menempel ke pipi miliknya.


"Kamu prioritasku, bukan lagi formalitasku," ucap Sherly.


Alih-alih bahagia, Dave justru merasa ada yang berbeda. Sejak kapan Sherly-nya pandai menggoda.


"Bee, ada yang berbeda?" gumam Dave.


"Iya, dan semua itu karena kamu penyebabnya. Aku juga mencintaimu Dave, tetaplah di sisiku."


Brian tidak tahan menyaksikan wanita diperlakukan manis oleh laki-laki lain. Laki-lakii tu berjalan mendekat ke meja dua sejoli.


"Ehem" dehem Brian.


Dave mengangkat kepala. Dia menatap tajam ke arah Brian.


"Apa yang dia inginkan?" batin Dave.


Melihat Sherly diam, Brian terpaksa mengulang deheman.


"Ehem"


Sherly mengangkat kepala kemudian menatap ke sumber suara. Di depan mata ada mantan kekasihnya.


"Brian," gumam Sherly.


"Aku di sini sayang," ucap Brian.


Dave menatap tajam ke arah Brian, tapi laki-laki itu tidak memperdulikan. Jika Dave sibuk mencari perhatian dengan kejutan, makan Brian sibuk membuat Sherly kesal demi sebuah kata menyesal.


Pergi sulit bertahan sakit. Brian sadar akan posisinya. Tapi bukankah dia dan Dave punya hak yang sama?

__ADS_1


Sejujurnya kamu telah menentukan pilihan jauh sebelum penantian berakhir dengan kekecewaan.


__ADS_2