Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Pekerjaan Baru


__ADS_3

Selamat pagi yang pernah bertahta di hati


Pernah membuatku terpikat


Pernah membuat pagiku cepat


 Juga pernah membuat malamku nikmat


Tapi sayang menjadikanku pengkhianat


 Jujur saja aku Rindu kamu yang dulu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tugas seorang Dave sebagai paman di apartement Sherly pun akhirnya selesai. Laki-laki itu menggulung lengan kemejanya hingga ke siku lalu membuka kancing teratas karena gerah.


"Sial! Cuaca panas banget. Apa di sini nggak ada AC huh?," keluh Dave pada dirinya sendiri karena tentu saja laki-laki itu tidak berani mengeluh kepada Sherly.


"Dave, kamu dimana? Betah banget di dapur," teriak Sherly dari ruang tamu.


"Iya nona sebentar," teriak Dave dari arah dapur.


Laki-laki itu berjalan penuh percaya diri menghampiri atasannya yang saat ini berada di ruang tamu. Baru saja Dave menyembulkan wajah tampannya, mendadak laki-laki itu diam terpaku tepat di depan pintu.


Kedua bola matanya membulat menangkap pemandangan wanita cantik dengan celana hot pants dan kaos santai sedang duduk di kursi sofa sembari memainkan ponselnya.


"Shit! Woey aku masih normal non, jaga penampilan kali," umpat Dave kesal.


Wanita bernama Sherly itu masih saja santuy dengan kenyataan yang ada. Dia sudah menganggap Dave seperti kakaknya sendiri. Jadi wanita itu percaya jika Dave tidak akan melakukan hal buruk kepadanya.


"Daveee, lama banget sih. Mau kerja nggak nih," teriak Sherly karena kesal menunggu Dave yang tak kunjung datang.


"Eh iya non, otewe ya," ucap Dave santai.


Sherly menggeser kepalanya untuk mengamati ke arah belakang. Sosok Dave sudah stay cool di sana.


"Haha, i'm sorry Dave. Aku nggak tau kalau kamu di situ," ucap Sherly diiringi tawa kecilnya.


Gugup, tentu saja Dave gugup. Dia laki-laki normal. Bahkan masih dengan pakaian kerja lengkap. Bagaimana mungkin saat ini dia sudah berada di satu ruangan dengan wanita cantik nan menggoda.

__ADS_1


Susah payah Dave menahan rasa sakit di kedua pahanya. Celana yang dikenakan mulai terasa sesak. Tiada henti laki-laki itu mengutuk adik kecilnya.


Pemilik apartement duduk di sofa sebelah kiri, sementara di depannya terdapat meja kotak. Dave kikuk, ingin rasanya duduk di samping Sherly, tapi rasanya tidak mungkin. Jika saja saat ini wanita yang bersamanya bukanlah Sherly Sang atasan bisa jadi iman Dave runtuh seketika. Nyatanya wanita yang dihadapannya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Dave beradu dengan argumennya. Antara harapan dan kenyataan tentu saja tidak berjalan berdampingan. Seringkali mereka jalan berhaluan.


Terpaksa Dave duduk di depan Sherly dengan meja sebagai pembatas mereka. Pantat seksi mendarat di sofa empuk bersama dengan anggukan kepala hormat kepada Sherly.


Menyadari jika sosok yang ditunggu sedari tadi sudah berada di jarak dekat dengannya, Sherly segera meletakkan ponsel dan menatap lawan bicaranya tajam.


"Dave, kamu bawa baju ganti nggak?," tanya Sherly polos.


Bukan apa-apa, hanya saja Sherly tidak mungkin memaksa Dave memakai pakaian kerja sementara dirinya telah menggunakan pakaian bebas.


"Tidak nona," jawab Dave setelah beberapa waktu yang lalu mengerutkan dahi karena bingung dengan pertanyaan Sherly.


"Mau ganti pakai bajuku? Kayaknya ukuran tubuh kita nggak beda jauh deh," tawar Sherly.


Dave belum mengerti kemana arah pembicaraan Sherly, tapi laki-laki itu sudah membayangkan berada di angkasa melayang-layang bebas tanpa beban.


"Untuk apa nona? Apakah pakaian saya kurang sopan?," tanya Dave dengan nada rendah.


"Tidak Dave, aku udah pakai baju santai kaya gini masa kamu masih pakai baju kerja. Aku nggak mau dianggap kurang menghargai kamu ya. Oh ya, jangan memanggilku nona. Ingat kamu lebih tua dariku Dave," jelas Sherly.


"Tapi nona adalah atasan saya, bagaimana mungkin saya berlaku tidak sopan dengan anda?," tanya Dave dengan percaya diri.


"Em, sepertinya kamu melupakan satu hal Dave," ucap Sherly sengaja mengingatkan Dave.


Laki-laki itu mengerutkan dahi. Apa hal yang dia lupa. Apa mungkin berkas yang tadi dibawanya sudah dicek oleh Sherly.


Setumpuk berkas sudah berada di hadapannya. Dave segera membuka satu per satu. Membaca semuanya serta meneliti dalam diam.


"Tidak ada yang ketinggalan, lalu apa yang ku lupakan?," gumam Dave lirih, tapi Sherly masih mendengarnya.


"Dave, kamu bukan melupakan berkas, tapi kamu melupakan kewajibanmu sebagai seorang sekretaris pribadi dan juga asisten pribadi," ucap Sherly menjelaskan.


"Kewajiban apa nona?," tanya Dave spontan karena pekerjaan adalah yang utama.


"Kamu benar melupakannya?," pancing Sherly.

__ADS_1


"Apa ada pekerjaan baru yang belum aku mengerti?," tanya Dave mulai panik.


Otaknya berpikir cepat sementara sorot matanya masih menatap Sherly lekat. Sherlypun membalas tatapan Dave dengan tajam. Seolah lupa jika mereka adalah atasan dan bawahan.


Benar kata pepatah, jika setan mungkin akan muncul saat diua insan berlawanan jenis hanya berduaan.


Suasana yang tadinya canggung menjadi semakin canggung. Sherly dengan berani membalas tatapan Dave. Meski bagaimanapun pesona Dave selalu bisa meruntuhkan jiwa wanita yang ada di sekitarnya.


Senyum tipis terbit di bibir Sherly. Bahkan bibir itu perlahan mulai terbuka. Begitu juga dengan Dave. Tanpa sadar mendekatkan tubuhnya ke arah Sherly.


Meja yang tadi sempat menjadi penghalang kini menjadi saksi dua manusia di atasnya. Dua manusia berdiri dengan tubuh yang saling condong ke depan.


Tatapan tajam masih berlangsung. Sherly sibuk dengan bayangan adegan panas. Sementara Dave sibuk dengan kenangan manisnya.


"Cup" Sherly lebih dulu mencium bibir Dave, namun bodohnya wanita itu baru menyadari jika yang ada di hadapannya adalah asisten pribadinya.


"Shit!," umpat Sherly kesal kemudian berlalu meninggalkan Dave yang masih terpaku.


Kecupan singkat itu mampu membuat junior Dave semakin meronta. Rasanya ingin segera meloncat dan pergi menemui pasangannya.


"Aargghhh! Diam makhluk laknat. Dari tadi berulah terus," gerutu Dave seraya menunjuk malaikat kecilnya.


Sementara di kamar, Sherly merutuki kebodohannya.


"Kenapa bibir ini nyolot banget sih? Sebegitu kuatkah pesona Dave hingga mampu membuat jiwaku meronta? Astaga," dengus Sherly putus asa.


Niat awal Sherly masuk ke kamar untuk mengambil kaos miliknya agar digunakan Dave. Namun niat itu urung ketika sekelebat ciuman singkat yang baru saja terjadi terngiang lagi.


"Dave, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mendiankanmu di sana? Tapi ini semua bukan salahmu. Maafkan aku Dave, aku tidak sengaja melakukannya. Bagaimana jika kamu punya pasangan? Sungguh aku tidak bermaksud Dave. Maafkan aku," sesal Sherly di depan cermin.


Kenapa di depan cermin, karena Sherly tidak cukup berani untuk mengucapkannya di depan Dave, tapi laki-laki itu akan menganggap Sherly sebagai wanita murahan jika Sherly tidak menjelaskan yang sebenarnya.


Sherly mencoba berpikir dengan jernih. Apa yang harus dilakukan saat nanti bertemu Dave.


"Ah sial! Kenapa dia nggak pergi aja sih. Dia pasti nungguin aku di ruang tamu," gerutu Sherly.


Cinta tidak butuh alasan mengapa kita merasakannya. Dia hanya butuh dibuktikan apa yang nantinya akan kita lakukan.


​Saat kamu merasa hatimu gelisah, ketahuilah bahwa pada saat itu jiwamu dengan resah.

__ADS_1


__ADS_2