
Pernah berjanji sehidup semati, tapi seseorang datang menggeser posisi. Hati, kenapa kamu semudah ini dibodohi?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Alam berpihak kepada dua insan yang sedang merajut cinta. Mereka tertawa karena dunianya hampir sempurna. Tanpa tawa maka semua terlihat beda. Sedangkan tanpa cinta, mungkin hidup akan hampa.
Dave tersenyum simpul. Laki-laki itu menunjukkan ketampanannya. Sherly terpana. Tentu saja, apapun yang dimiliki Dave adalah miliknya. Biar kata dunia milik berdua, tapi Sherly merasa itu belum sepenuhnya.
"Aku yang mencintaimu akan terus bersamamu. Meski pada akhirnya semua takdir belum tentu tertuju padaku," ucap Dave.
"Bagaimana dengan kita jika akhirnya ada orang ketiga? Aku memilihmu, maka semua tentangku hanya akan berkaitan denganmu. Aku benci pengkhianatan, maka jangan pernah kamu lakukan kesalahan."
Sherly melangkah menuju ruang kerjanya. Dia jengah di sana karena terus mendapati laki-laki yang harusnya tidak di sini. Sherly mendaratkan pantat di ujung sofa. Dia duduk seorang diri lalu setelahnya disusul Dave yang langsung menghampiri. Dave menggenggam jemari Sherly.
Adegan pelan yang sangat membosankan. Namun tidak untuk mereka yang sedang dalam fase pendekatan. Bernad dan Brian memutar bola mata jengah. Dia sedang mencuri hati Sherly maka berusaha untuk tetap percaya diri.
Akan ada saat dimana seseorang memilih pergi. Bukan karena tidak menyayangi lagi, tapi karena sadar seseorang yang dia perjuangkan tidak menginginkan. Sherly mendongak. Wanita itu membiarkan tetes embun kembali ke ubun-ubun.
Dia ingin menangis, tapi tidak ingin Dave akan disalahkan oleh Bernad. Bernad, nama itu terlintas di benaknya. Sherly ingat semuanya. Dia melirik lewat celah yang Dave miliki. Bola matanya bertabrakan dengan tatapan Bernad.
"Mampus," gumam Sherly.
Dave mengerutkan dahi. Dia mengikuti kemana arah Sherly mengamati. Kini giliran dia yang mendapat tatapan dihakimi.
"Ehem!" dehem Brian.
Bernad melirik malas ke arah rivalnya. Laki-laki tengil yang pernah ia pergoki.
"Apakah dia belum menyadarinya?" pikir Bernad.
"Kenapa?" tanya Dave.
"Sudah kalian selesaikan adegan membosankan tadi? Pembicaraan kita belum selesai," ucap Bernad.
Sherly berdiri. Dia bertukar posisi dengan Dave. Kini Sherly berada di antara mereka.
__ADS_1
"Baiklah, sesi tanya jawab dimulai. Silahkan untuk pertanyaan pertama," perintah Sherly.
Terdengar konyol. Dia sebagai moderator atau narator. Yang bersangkutan tidak mempermasalahkan. Seharusnya dia menikmati waktu bersama Dave sebelum jam kantor dimulai. Tapi sudahlah, sinar matahari hampir meninggi.
"Jawab pertanyaanku," ucap Bernad.
"Aku dan Brian mengakhiri hubungan karena perempuan. Aku tidak mau memberikan keperawanan, lalu dia kembali seperti dulu. Dia bermain wanita di belakangku. Ada seseorang yang mengirimiku video saat itu. Dan setelahnya, aku memilih mengakhiri saja. Toh dia yang menyusun jalan hidupnya," jelas Sherly.
Bernad mengangguk. Dia membenarkan apa yang Sherly ucapkan karena si pengirim video adalah Bernad. Dia membenci laki-laki yang berani menyakiti Sherly.
"Sher, aku minta maaf. Aku janji nggak bakal ngulangin lagi. Aku sayang kamu sher," ucap Brian.
Sherly tersenyum samar. Laki-laki itu adalah bayangan masa kelam. Dimana dia wanita yang dilumpuhkan oleh cinta. Hidupnya pernah menderita, tapi Brian tega menambah lukanya.
"Dia pernah membuatmu bahagia?"
"Iya."
"Kamu melupakan kebaikannya hanya karena satu kesalahan yang diperbuatnya?"
"Sher, jawab! Ini tentang hati bukan halusinasi. Semua yang terjadi di kehidupan adalah kenyataan. Kamu tau seberapa dalam seseorang menyesal setelah melakukan kesalahan?"
Sherly masih diam. Dia mencerna setiap kalimat yang Bernad sampaikan. Sempat terbesit kenapa dulu dia memilih Brian daripada Bernad. Mungkin jika dulu dia bersama seseorang yabg tepat, hidupnya tidak akan tersesat.
"Seberapa kamu terluka, jangan lupakan jika kamu pernah dibahagiakan. Tanamkan, kamu kecewa karena kamu mencintainya."
"Justru aku memilih mengakhiri karena aku takut tersakiti lagi. Aku tidak tau dengan kedua atau ketiga kali. Aku hanya ingin terluka untuk yang pertama dan tidak pernah lagi merasakannya."
Sherly membela diri. Saat itu, sekalipun itu dulu dia sudah memikirkan semuanya. Brian berasal dari kaum **** boy. Sherly hadir dan mengubah kehidupannya. Lalu saat Sherly tidak bisa menuruti keinginannya, terjadilah hal yang jauh dari bayangan.
Bukan tentang siapa yang harus disalahkan. Brian benar karena itu kebutuhan biologianya. Harusnya laki-laki itu bisa mengatasi bukan malah seenaknya mrnyakiti.
Dave bersyukur karena Sherly memilih menjaga daripada menuruti keinginan kekasihnya. Sebenarnya siapa yang patut dijaga?Wanita yang terlihat bahagia, tapi dia menjaga pergaulannya atau wanita yang terlihat istimewa namun tidak bisa menjaga kehormatannya.
Dave memeluk Sherly. Dia yakin wanitanya butuh tempat untuk bersandar. Maka sebelum ada bahu lain yang menawarkan kenyamanan, Dave dengan sigap memberikan perhatian.
__ADS_1
Brian meringis. Dia yakin rivalnya satu ini tidak mudah. Berbeda dengan laki-laki lain. Dave terlihat tulus menyayangi Sherly daripada dia yang melakukan hal keji demi menuntaskan penetrasi.
"Sher," panggil Bernad.
"Hm?"
"Jika dia yang pernah menyakiti kembali, apa masih ada ruang untuknya bersembunyi? Aku tau hatimu tidak sepenuhnya menepis kenanganmu. Lalu bagaimana dengan rasa yang dulu sangat sempurna."
Sherly membisu. Pertanyaan Bernad sungguh menyudutkan dia. Sherly tidak bisa membohongi. Wanita itu bukan tidak bisa kembali lagi, tapi dia takut tersakiti kesekian kali.
"Jika luka membuatmu kecewa, apakah tertawa jaminan bahagia? Hidup bukan hanya kebahagiaan, tapi juga perihal kesedihan. Bercinta bisa saja terlaksana sekalipun kamu tidak menikmatinya. Namun mendesah sulit dilakukan saat kamu tidak menguasai permainan."
"Kok mbahas ndesah sih?" sungut Sherly.
Bernad terkekeh. Mereka berempat sama-sama dewasa. Mungkin saja pernah mendesah juga. Tapi kenapa dengan wanita yang selalu merona?
"Hei nona, bukankah anda pernah melakukannya?" sindir Bernad.
"Berhenti atau aku tidak melanjutkan apa yang ingin kamu tanyakan," ancam Sherly.
Bernad mengabaikan kalimat Sherly. Semua tentang wanita itu telah khatam dikuasai. Dia hanya menginginkan hati yang siap mencintai, bukan kedekatan yang harus dipaksakan. Bernad menggeser posisinya. Dia menatap ke arah Brian.
"Wanita berhak bahagia. Biarkan dia bersama pilihannya," ucap Bernad.
Brian tidak terima. Mana mungkin dia merelakan jika yang dia perjuangkan adalah masa depan. Brian mengepalkan tangan.
"Jangan salahkan jika aku bertahan dengan pilihan karena cinta yang pernah tumbuh akan lebih mudah untuk luluh," ucap Brian percaya diri.
"Jangan lupakan, tanaman yang telah layu memiliki prosentase mati yang lebih tinggi."
"Apa maksudmu?"
"Layu adalah proses dimana dia akan berhenti tumbuh di satu waktu. Lihat, tumbuhan yang pernah layu memiliki kemungkinan untuk mati di kemudian hari. Maka kamu jangan terlalu meyakini jika yang kamu hadapi adalah kemungkinan untukmu kembali," ucap Bernad.
Brian tertegun. Dia telah menyesal, dan kini penyesalan itu semakin dalam.
__ADS_1
Apa yang tumbuh sempurna belum tentu utuh untuk selamanya. Maka jangan pernah kamu sia-sia jika pada akhirnya kamu menyesalinya.