
Dia yang kamu tinggalkan adalah dia yang orang lain harapkan. Ketahuilah jika banyak yang menunggu kalian untuk saling melepaskan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Permisi tuan dan nona, ini adalah pesanan nona," ucap pelayan yang memberikan salad buah serta jus alpukat.
Sherly menatap heran ke arah pelayan.
"Terima kasih," ucap Dave cepat.
Pelayan pergi, saatnya Sherly meminta Dave untuk mrncari arti. Sherly menatap Dave tajam, sedangkan Dave terus tersenyum menawan.
"Dave aku belum pesen, tapi kenapa pelayan udah bawa makanan?" tanya Sherly.
"Aku sengaja pilihin ini buat kamu sayang. Aku tau kamu lapar."
"Tapi kok cuma satu porsi? Kamu makan apa?"
"Aku lihat kamu aja udah kenyang bee."
Brian muak dengan gombalan yang Dave lontarkan. Lalu laki-laki itu mengingat saat dimana dia dan Sherly menjalin hubungan.
"Apa aku se-alay Dave? Oh no!" batin Brian.
"Brukk" kotak tisu jatuh.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Brian. Dave melirik malas ke arah Brian.
"Bilang kalau mau cari perhatian. Udah tua masih aja belingsatan," cibir Dave.
Brian melotot tajam ke arah Dave. Tentu saja Dave tidak peduli. Hanya laki-laki bodo* yang memilih meladeni Brian daripada kekasihnya.
"Bee, baju aku masih ada di apartement kan?" tanya Brian.
Dave melongo. Dia saja lupa. Namun Brian berhasil mengingatnya. Sherly menulikan pendengaran. Malam ini ia tidak akan peduli dengan ocehan dua laki-laki.
Awalnya bahagia bersama Dave. Tapi sayang, Sherly dihadapkan dengan laki-laki yang mempunyai porsi tersendiri. Jika Brian adalah masa lalu, maka Dave adalah masa depan. Sherly berdoa, sementara Tuhan yang mengabulkan.
Lima menit Sherly melahap habis salad miliknya. Wanita itu tidak peduli dengam Dave ataupun Brian. Mereka sudah dewasa, tidak seharusnya Sherly mengajarinya.
Jul alpukat juga tandas dalam lima kali sedotan. Tidak ada yang tau kenapa Sherly buru-buru. Mungkin saja wanita itu lelah dengan mereka.
"Aku udah selesai, sekarang mau pulang. Aku udah capek, ngantuk, besok juga pasti ada metting pagi," ucap Sherly.
Brian menatap tidak terima ke arah Sherly. Bagaimana mungkin dia belum lebih dari tiga puluh menit bersama tapi Sherly sudah berniat meninggalkannya.
"Kok cepet bee?" tanya Dave.
Sherly memutar bola mata malas. Dia adalah asistennya, tapi kenapa tidak bisa mengingat jadwal rutin mingguannya.
"Dave, besok ada weekly metting. Jangan bilang kamu lupa," jawab Sherly.
Dave mengangguk paham. Bukan itu maksudnya, tapi sudahlah Sherly baru tidak bisa diajak kerja sama.
Sherly berdiri, begitu juga Dave. Laki-laki itu menggenggam jemari Sherly. Dia melangkah pergi. Namun baru selangkah ada satu tangan yang menahannya.
__ADS_1
"Brian! Aku masih normal!" pekik Dave yang sontak membuat semua melirik ke sumber suara.
"Damn! Aku juga masih normal Dave," teriak Brian.
"Terus ngapain pegang tanganku?"
"Salah sentuh. Maksudku aku mau tangan Sherly."
Sherly tidak peduli. Wanita itu melenggang pergi. Dia menuju kasir untuk membayar pesanannya. Setelah itu keluar dan menunggu Dave di dekat motornya. Ralat, lebih tepatnya motor pinjaman.
Brian menyadari ketidakadaan Sherly. Laki-laki itu berlari sebelum Dave lebih dulu memulai.
"Briaannn!" teriak Dave.
Dave menyusul Brian yang lebih dulu berjalan. Pikiran buruknya berkecambuk. Dia takut Brian memeluk Sherly dari belakang.
"Aaaa tidakk," pekik Dave.
Melihat Brian sudah berjalan pelan di dekat Sherly, Dave segera meneriaki.
"Sherlyy! Awas jangan mendekat! Itu si monyet sialan bukan aku," teriak Dave.
Langsung saja Sherly menengok sedangkan Brian terus mengutuk Dave dalam benaknya.
"Monyet kok ngatain monyet sih," batin Brian.
"Hooshh hosshh hosshh" Dave menghembuskan nafas kasar.
Laki-laki itu mengaku kalah dari Brian yang berlari tanpa lelah. Dave menatap lurus ke arah Sherly, kemudian menatap datar ke arah Brian.
Bagaimanapun Dave telah merebut hati Sherly. Jadi tidak ada alasan untuk Sherly kembali bersama Brian. Dave yakin wanitanya masih takut untuk mengulang dengan sang mantan. Brian berjalan menjauh, Sherly mengikuti kemana laki-laki di depannya mengajak pergi.
Mereka sampai di taman. Di samping pohon yang rindang. Dari kejauhan hanya terlihat bayangannya saja. Dave berusaha berpikir jernih. Dia percaya Sherly tidak akan mengkhianatinya.
"Sher, aku minta waktu buat bicara sama kamu," ucap Brian seraya menggenggam jemari Sherly.
Sherly mengangguk lalu menoleh ke arah Dave.
"Dave, sini," panggil Sherly.
Brian menggerutu. Dia lupa Sherly adalah wanita setia. Sementara Dave langsung merubah wajahnya menjadi cerak seketika.
Dave berjalan pelan seakan tidak ingin melupakan kejadian yang nantinya menjadi kenangan. Senyum bahagia terlihat jelas di bibirnya.
"Kenapa bee? Kamu udah bicaranya sama Brian?" tanya Dave lembut, tapi ekor matanya tidak lepas dari tangan berada di genggaman seseorang.
"Brian mau bicara, tapi dia megangin tanganku. Boleh kamu aja yang gantiin posisiku bee? Aku tau kamu pasti cemburu," jawab Sherly.
Bagai menadapat berlian di malam hari, Dave dengan lancang mengecup pipi Sherly kemudian mengamati penampilan Brian dari atas ke bawah.
"Ehem" Dave berdehem.
Brian melepas tangan Sherly dengan terpaksa.
"Nih pegang aja punyaku, sampai pagi juga boleh kok bri," ucap Dave dengan senyum menawannya.
__ADS_1
Brian melengos. Dia masih waras. Lebih baik tidak daripada harus sama Dave.
"Nggak usah," ucap Brian ketus.
Dave tertawa. Dugaannya benar. Brian tidak akan mau menyentuhnya. Sherly berusaha menengahi. Dia menggenggam jemari dua laki-laki.
"Kalian punya masa depan. Jangan hanya karena aku kalian jadi musuhan. Perbaiki hubungan kalian. Aku tidak ingin ada permusuhan," ucap Sherly seraya menatap Dave dan Brian bergantian.
Wanita itu tersenyum melihat raut terkejut dari Brian dan Dave. Sherly hanya berusaha untuk menjaga perasaan Dave. Hatinya telah bertuan, dia berkewajiban untuk menjaga jarak dari kaum adam.
Sherly melepas tangan Dave membuat laki-laki itu melotot seketika.
"Bee," panggil Dave.
Sherly tidak peduli dengan ucapan Dave. Dia harus membasmi bibit benci. Sherly menggenggam kedua jemari Brian. Tentu saja laki-laki itu merona.
"Menang banyak woeeyy!" sorak Brian dalam hati.
"Bri, kamu boleh saja memiliki cinta. Tapi jangan sampai salah kepada siapa kamu memberinya. Kamu adalah masa lalu. Semua tentang aku dan kamu yang dulu menjadi kita telah berakhir beberapa waktu lamanya," Sherly menjeda ucapannya.
Wanita itu mengamati manik mata Brian. Disana ada isyarat kecewa, tapi bukankah yang Sherly rasakan lebih dari ini?
"Kamu adalah masa lalu. Biarkan kenangan abadi dalam hati. Aku tidak mungkin melupakan hal yang pernah membuatku menyesal. Jujur aku kecewa karena akhir kisah kita tidak seperti yang kuduga," imbuhnya.
Sherly melepas genggaman, tapi Brian berusaha menahan. Laki-laki itu menatap tajam ke arah wanita yang membuatnya bangkit dari keterpurukan.
"Sher, aku minta maaf."
"Aku sudah memafkanmu jauh sebelum kita bertemu. Kamu yang membuatku kecewa, tapi bukankah membencimu juga tidak akan merubah segalanya?"
"Sher, please."
"Ada seseorang yang harus kupertahankan."
"Kamu bisa mertahanin aku sher. Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu."
"Bri, kita tidak lebih dari seorang pecundang. Kita sama-sama dewasa, tapi kenapa saling berbuat dosa? Aku tau kalau aku cuma bisa buat kamu sedih terus. Aku percaya kamu nggak bahagia sama aku bri."
"Aku bahagia sama kamu sher. Bahkan sampai detik ini aku masih mencintaimu."
"Cintamu bukan untukku."
"Tapi rasa itu masih sama seperti terakhir kita bersama."
"Huuftt" Sherly menghela nafas.
"Cintamu bukan untukku, rasamu bukan untukku, dan ragamu bukan lagi milikku. Kamu hanya bagian masa lalu bukan serpihan masa depanku. Aku benci membahas hal yang tidak pernah menemukan jawaban. Maka mulai malam ini aku meminta dengan sangat..."
"Lepaskan seseorang yang pernah kamu kecewakan. Dia punya hidup yang harus ditata setelah badai yang dilaluinya."
Sherly memejamkan mata. Dia tidak melihat wajah Brian yang terluka. Kelemahan Sherly adalah mudah iba saat melihat orang lain kecewa. Maka dari itu Sherly segera melepas jemari Brian yang sedikit longgar dan berjalan ke arah Dave.
"Bruk" Sherly menghambur ke pelukan Dave.
Kemanapun kamu pergi, dia punya cara untuk kembali.
__ADS_1