
Bersua bukan untuk bercinta karena kita rindu hanya sewajarnya
Bukankah hasrat dari pertemuan tidak hanya tentang urusan ranjang?
Aku mencintaimu,
Maka aku akan berjerih menepis letih
Berpautlah hingga ke ujung laut
Lalu biarkan sudut menjadi pengikut
Nyaliku terlalu ciut
Tapi hatiku terlalu takut
Sirnalah saja urusan dusta
Hadirlah sudah perihal rasa
Karena apa yang telah bersama pasti sulit untuk dilupa
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherly meletakkan beras di dalam wadah mejikom. Membawa sepaket alat pernasian ke wastafel. Sherly membilas beras dengan air agar tidak ada sisa kulit padi yang tercampur. Setelahnya dia menuangkan air panas lalu menancapkan kabel yang terhubung dengan aliran listrik.
Proses penanakan nasi baru saja dimulai. Sherly menuju ke kamar mandi. Di sana tidak ada pakaian kotor milik Dave. Maka dia kembali ke kamar. Di sudut ruang ada keranjang khusus pakaian kotor. Sherly menjinjing keranjang khusus lalu menuju ke tempat pencucian.
Bukan tidak ada mesin cuci, tapi Sherly rindu mencuci dengan tangannya. Wanita itu ingat kehidupan yang dulu memprihatinkan. Sesekali wanita itu mengingat tentang hidup pahitnya. Tidak melulu perihal hidup bahagia.
Satu per satu kain diletakkan ke ember. Sherly memungut tanpa rasa benci. Dia justru melakukan sepenuh hati. Wanita itu menyikat dengan sikat coklat kecil hingga kain terakhir. Kemudian membilas dan direndam ke air yang telah diberi pewangi konsentrat.
__ADS_1
Sekali dayung dua pulau terlampaui. Sherly berjalan menuju alat dapur. Dia mengambil wajan dan minyak goreng. Kemudian mengambil nugget dari frezzer.
Sherly memutar knop kompor hingga keluar api berwarna biru. Tanda bahwa alat itu telah siap digunakan. Sherly menuangkan cairan penggoreng ke dalam wajan. Menunggu hingga mengeluarkan gelembung gelembung kecil. Setelahnya, Sherly mencelupkan lauk yang masih mentah hingga matang. Begitu seterusnya hinga kantong plastiknya kosong.
Kemudian Sherly mengambil telur lalu menggorengnya hingga matang. Setengah jam berlalu. Lauk pauk telah Sherly sajikan di meja makan. Wanita itu menghampiri cuciannya. Sherly memeras lalu menjemur di jemuran yang berada di dekat kamar kekasihnya.
Hembusan semilir pagi menyapu seluruh tubuh Sherly. Rambutnya tergerai indah, matanya terpejam, sementara hidungnya kembang-kempis menghirup udara segar.
"Selamat pagi dunia, selamat pagi panggung sandiwara. Semoga kelak hariku semakin bermakna. Semoga saja alam segera menyatukan karena berdekatan tapi tidak saling berhubungan membuatku takut kelolosan," ucap Sherly bermonolog.
Lima belas menit berlalu. Sherly telah selesai dari aktivitasnya. Dia kembali ke dapur. Berjalan lamban menuju mesin penanak nasi. Kepulan asap terlihat jelas. Bahasa isyarat itu menandakan bahwa nasi telah matang. Sherly membuka tutupnya.
Benar saja, beras telah berubah menjadi padi. Sherly mengambil piring dan centong. Memindahkan beberapa porsi ke dalam piring untuk digoreng. Wanita itu mencari bumbu di toples kecil. Tidak lupa menyiapkan cobek dan alat tumbuk terlebih dahulu.
Garam secukupnya, tiga buah cabai rawit, lima siuang bawang merah, dan satu siung bawang putih siap ditumbuk. Sherly menggunakan bumbu alami karena dia tidak suka racikan instant. Menurutnya, terkadang rasanya tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Sherly menggunakan wajan dengan sedikit minyak untuk menumis bumbu. Setelah layu setengah matang, nasi segera dicampurkan. Terus diaduk dan diberi sedikit kecap hingga warna agak kecoklatan. Sherly menjumput nasi dengan sendok lalu mencicipi.
"Rasanya, ah mantap."
Semburat senja berubah warna. Seperti halnya cinta yang tidak akan ternoda meski bersaing dengan massa. Benar kata pepatah. Cinta tidak mengenal bagaimanapun posisinya.
Bagaimana tidak. Sherly adalah seorang CEO Angel dari Perusahaan yang tengah mengepakkan sayapnya. Dia adalag wanita cantik, menarik, dan energik. Bahkan siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya. Namun dia bukan wanita manja seperti kebanyakan kaum hawa. Sherly adalah wanita mandiri. Dia akan melakukan apapun sendiri.
Dave mndekat. Dia berjalan lamban agar Sherly tidak menyadari kehadirannya. Sherly membelakangi Dave. Tidak bisa dibayangkan seberapa besar kebahagiaan yang Dave rasakan. Sherly pemilik semuanya, dan beruntungnya Dave memilikinya.
Kedua tangannya melingkar di pinggang Sherly. Wanita itu terlonjak. Dia kaget, tapi Dave segera mengusap perutnya. Sherly merengut, bibirnya mengerucut. Wanita itu bersiap akan protes. Bibirnya sedikit terbuka. Dia siap mengucapkan umpatan mautnya.
"Jika kamu menyukai kopi dan senja, maka izinkan aku mencintaimu tanpa henti dan jeda," bisik Dave tepat di telinga Sherly.
Tidak lupa suara seksi itu diiringi dengan hembusan angin sepoi. Tangan kanannya mengusap perut penuh cinta, sedang otak ya bertraveling ria.
__ADS_1
Dave mendekap Sherly dari belakang. Dia meletakkan kepala di atas pundak Sherly. Laki-laki itu suka saat kulitnya bersentuhan langsung dengan Sherly.
"Bisakah kamu ada di setiap aku membuka mata? Aku menginginkan kehadiranmu di waktu yang selanjutnya," ucap Dave .
Sherly merasa bunga dalam hatinya sedang merekah. Wanita itu bahagia. Dia selalu terbuai dengan kalimat Dave. Sherly tau kekasihnya adalah kaum bucin. Bodohnya, Sherly tetap saja masuk ke dalam perangkapnya.
"Sorot mentari adalah saksi bahwa aku akan terus mencintai. Kamu ada bukan untuk terluka. Aku akan menjaga agar hatimu selalu baik-baik saja," imbuhnya.
Sherly memutar tubuhnya. Wanita itu menatap Dave Anggara. Sherly akan merindukan Dave jika suatu hari nanti mereka berpisah. Tapi tidak! Hal menyakitkan itu tidak boleh terjadi lagi. Sherly yakin Dave tidak seperti mantan kekasihnya.
Sherly menatap penuh harap. Sorot matanya menerawang jauh ke dalam bola mata Dave. Sherly mencari ketulusan di sana. Bukan dia tidak percaya. Namun terkadang ada hal yang ia takutkan.
"Saat nanti detik membuatmu tidak berkutik, bagaimana dengan takdir yang membuatmu terus tergelitik. Ribuan cinta datang bersama pesonanya, sedangkan aku hadir hanya dengan sebuah tawa. Aku tidak tau seperti apa makna cinta untukmu. Namun bisakah kamu bersungguh akan terus menjadi pembimbingku?"
Dave mengacak puncak kepala Sherly. Bagian manapun yang Sherly miliki pasti akan Dave sayangi. Dia ingin menjaga Sherly hingga hembus nafas yang akan berhenti.
"Jangan pura-pura mencintai jika akhirnya memilih pergi. Jangan pura-pura menyayangi jika akhirnya menyakiti. "
Sherly membulatkan mata. Wanita itu merasa dihina. Dia kesal saat Dave berkata seenaknya.
"Aku mencintaimu, mana mungkin aku akan meninggalkanmu. Hei! Hanya orang bodoh saja yang rela terluka demi cinta. Mainkan logika, jika kamu menyayanginya sudah pasti akan menjaganya. Kalau dia yang kamu cinta meninggalkanmu berarti dia tidak mencintaimu," sungut Sherly.
Dave terkekeh. Smirk smile muncul begitu saja. Sontak Sherly membulatkan mata. Dia menyadari satu hal.
"Uuppsss!" sindir Dave.
"Udah sayang, makan dulu yuk biar nggak ngambek. Kamu udah siapin apa aja hm?"
"Nasi goreng, telur mata sapi, dan nugget," ketus Sherly.
Dave semakin terbahak karena wanita pujaannya.
__ADS_1
"Sial!" umpat Sherly.
~Dia yang mencintaimu dengan tulus adalah dia yang melakukan apapun tanpa modus. Maka jangan pernah kamu menyakiti selagi ada yang mencintai.