Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Psikiater


__ADS_3

Bodohnya, kamu baru akan merasakan ketulusan cinta ketika kamu sudah berkali-kali terluka.


Namun sempurnanya sebuah cinta, kamu baru akan merasakan ketika seseorang dengan rendah hati rela menerima semua kekurangan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Senyum khasnya terbit di bibir Dave setelah mendengar pujian Sherly. Laki-laki itu berlari mendekati atasannya dan menghadiahkan pelukan erat.


"Dave," jerit Sherly saat sadar ada tubuh lain yang menghimpitnya.


"Ini kantor Dave!," imbuhnya.


Refleks Dave melepaskan dekapannya lalu menundukkan wajah menyembunyikan wajah tampan yang telah memerah.


"Maaf nona," lirih Dave.


"Huuft" bukan menanggapi, Sherly malas menghembuskan nafas kasar.


"Setelah tadi pagi menyentuh wanita lain, sekarang kamu berharap bisa merapatkan tubuhmu ke dalam dekapanku? Percaya diri sekali Dave," sindir Sherly.


Entah itu sebuah sindiran atau ungkapan kecemburuan. Yang Sherly tau, wanita itu hanya ingin meluapkan kekesalannya. Tidak hanya Brian yang menyebalkan, ternyata Dave juga.


"Wanita lain? Aku tidak sedang dekat dengan siapapun nona," bela Dave.


Memang benar yang dikatakan Dave, tapi salah paham lebih dulu menyerang. Sherly juga merutuki kebodohannya karena hampir saja menyimpan rasa untuk laki-laki di hadapannya.


"Tok tok tok" suara ketikan memaksa Dave untuk mengurungkan niatnya.


Lebih tepatnya laki-laki itu mendengar gedoran dari pintu khusus milik sekretaris Sherly Angel. Dave melangkahkan kaki lebarnya menuju ke arah suara.


"Sial! Hanya untuk menjelaskan kepada Anda ternyata tidak semudah yang kukira," sungut Dave sesaat setelah meninggalkan ruangan atasannya.


"Bawahan tidak tau diri. Dia pergi juga tanpa permisi. Astaga Dave, lancang sekali," ucap Sherly lemas.

__ADS_1


Tanpa sadar wanita itu turut mengusap dadanya seakan membantu dadanya agar lebih sabar. Di kantor ini, hanya ada satu orang yang berani membantah dan melakukan segala apapun tanpa sesuai perintah. Yakni Dave Anggara, sekretaris sekaligus asisten pribadi Sherly Angel CEO Silver Coorporation.


"Kamu? Sudah dua kali lancang mengusik ketenanganku. Apa maumu hah?," Dave semakin menaikkan suaranya saat melihat siapa yang berani mengganggu momentnya bersama sang atasan.


"Tuan Dave yang terhormat, rapat antar Silver Coorporation dan Pradana Coorporation akan dimulai lima menit lagi. Apakah anda lupa? Di ruang rapat sudah hadir seluruh pemegang saham. Hanya kurang anda dan atasan anda," jelas Renata.


Oh tidak, bukan penjelasan. Lebih tepat dibilang sebagai kalimat memojokkan.


Dahi Dave berkerut, laki-laki itu tidak merasa ada metting bersama Pradana Coorporation. Bagaimana bisa sekarang ada orang luar yang dengan lancang memberi perintah kepada orang penting nomor dua di perusahaan ini.


"Ehem, jika tidak ingin atasan anda kecewa dengan kinerja anda silahkan beritahukan beliau sekarang juga," ucap Renata lalu pergi meninggalkan Dave yang masih termangu.


Perasaan kesal hampir saja meluap. Namun Dave ingat, saat ini atasannya yang lebih berhak marah.


"Nona, apakah anda ada metting dengan Pradana Coorporation? Kenapa pihak sana tidak ada yang memberitahu saya sama sekali? Bahkan belum masuk ke dalam jadwal anda," ucap Dave dengan sedikit kerutan dahi.


"Biarkan saja Dave, mungkin ini adalah trik Brian," ucap Sherly malas.


"Tapi Pradana Coorporation membawa para pemegang saham untuk menunjukkan siapa dirinya."


Darah Sherly sudah mendidih. Wanita itu sekarang yakin jika Brian benar ingin memainkan egonya. Dia bukan lagi Sherly Angel yang dulu lemah, tapi sekarang wanita itu menjelma menjadi pemimpin yang tidak akan lengah.


"Persiapkan dirimu Dave. Aku juga tidak tau apa maksud mereka. Yakinlah jika kamu bisa mengatasinya," ucap Sherly memberi semangat pada bawahannya.


Tangan kanannya terulur memegang pundak Dave seolah memberi kekuatan untuk sekretarisnya. Berbeda dengan Dave, laki-laki itu justru memegang jemari Sherly yang melekat di bahunya.


Menggiring anggota tubuh Sherly agar berada tepat di depan dadanya. Tentu saja Sherly merasakan debaran Dave yang tidak beraturan.


"Bee," gumam Dave.


Melihat Dave berada di titik lemah, terbesit ide licik di benak Sherly. Wanita itu mendekat. Membiarkan nafasnya menyapu leher Dave karena saat ini Sherly berjinjit.


"Bukan saatnya bermain dengan fantasi liarmu Dave," bisik Sherly yang sontak menyadarkan Dave.

__ADS_1


"Shit!," umpat Dave.


Sherly melenggang pergi meninggalkan manusia yang baru saja mengumpat karenanya. Segitu gilakah Dave hanya karena sentuhan Sherly.


"Oh Lord," ucap Dave lemas.


Tidak mau hanya Dave yang merasakan kesialan, laki-laki itu ingin Sherly juga turut andil dalam hanyutnya keadaan. Dave mengejar ketertinggalannya. Beruntung sang atasan baru sampai di ruangan Dave.


"Happp" laki-laki itu berhasil menggapai tangan kanan Sherly lalu menariknya hingga mendarat tepat di dadanya.


"Cup" Dave mencium bibir Sherly lalu melum*tnya sebentar.


"Mood booster bee," ucap Dave seraya menmenjulurkan lidah.


Tidak lupa bawahan yang tidak tahu diri itu mengacak rambut atasannya pelan. Lalu dengan sengaja menyambar tali rambut miliknya agar terlepas dari sana.


"Dave," pekik Sherly saat wanita itu menyadari sesuatu.


Sherly berusaha menggapai rambut yang tadi pagi sudah disanggul asal. Namun terlambat, kuciran rambutnya telah berada di tangan Dave. Sementara rambut pirangnya sudah tergerai begitu saja.


"Kamu itu CEO Angel, jangan biarkan orang lain mengagumi betapa mempesonanya seorang Sherly jika rambutnya disanggul berantakan. Apalagi melihat keringat mengalir di sana," ucap Dave seraya menyentuh leher Sherly dengan ibu jarinya.


"Ah sial! Hampir saja tergoda dengan laki-laki tengil tidak tau diri itu," batin Dave.


"Aku bisa mengatur rambutku sendiri. Cepat berikan kunciran itu. Sebentar lagi rapat akan dimulai," ucap Sherly pura-pura galak padahal dia baru berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"Ayo cepat."


Sherly berjalan meninggalkan ruangan Dave lebih dulu tanpa berniat melirik bawahannya sama sekali. Namun tanpa diduga Sherly, bawahan yang menyebalkan itu malah berlari mendekati Sherly membisikkan sesuatu tepat di telinganya.


"Nona, jangan lupa anda harus membuat rambut anda hitam kembali. Saya selaku sekretaris anda malu melihat atasannya terlalu menggoda. Apalagi jika menyangkut rebutan saham, anda selalu menang nona," ucap Dave panjang lebar seolah menasehati adiknya.


Padahal Dave baru saja mengucapkan kekhawatiran karena selama ini banyak yang tertarik dengan atasannya. Tidak sedikit setelah rapat usai Dave selalu dihadang petinggi jabatan hanya untuk menanyakan status pemilik Silver Coorporation.

__ADS_1


"Berhenti bicara atau aku akan memakanmu di sini Dave! Kamu benar-benar laki-laki tengil tidak tahu diri. Sudah tau keadaan kita genting masih saja mengoceh kesana kemari," dengus Sherly kesal.


Sementara si pembuat onar hanya tertawa cengengesan tanpa adanya kejelasan. Sungguh, mungkin kali ini Sherly akan mengajak Dave mendatangi psikiater agar tau siapa diantara mereka yang sebenarnya gila.


__ADS_2