
Apa saat aku merindukanmu harus menyebut namamu?
Kamu nyata sayang,
Bukan hanya sebuah bayang
Lalu untuk apa aku harus memanggilmu jika hanya dengan melirik saja kamu tau
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Dia Cellin Nata," ucap Dave.
"Aku tau."
Dave bukan tidak ingin menceritakan siapa wanita itu. Hanya saja laki-laki it umerasa tidak tertarik dengan jalan hidupnya. Menceritakan Cellin saja saja membuka luka lama Dave.
Tanpa disadari, hal itu juga akan membuat luka baru untuk Sherly. Bagaimana mungkin Dave akan bercerita jika nantinya membuat wanita yang dicinta akan terluka?
Hening, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Sherly berhenti dari kegiatan pura-puranya. Semua berkas yang ada di ruangan Dave adalah tanggung jawab Dave. Dan Sherly tadi juga hanya mencari alibi untuk mendengar pembicaraan tangan kanannya sendiri.
Astaga jiwa ingin tahu Sherly telah mendarah daging. Dave menggerakkan bola matanya kesana-kemari seolah meminta agar benda itu segera berlari.
"Maukah menua bersamaku?" ucap Dave tiba-tiba.
Sherly melirik ke sumber suara. Wajah Dave tetap masih tampan seperti tadi pagi. Senyumnya masih sama, tatapan matanya juga sama. Tapi apakah hatinya masih utuh untuknya? Sherly menyelami pupil untuk mencari jawaban barang secuil.
"Tatapan teduh itu, apakah masih untukku?" batin Sherly.
"Sekalipun kalimat biarkan aku sendiri terucap, aku tetap akan di sampingmu. Aku tidak akan pernah, membiarkanmu sendiri karena saat aku pergi bisa saja seseorang datang menghampiri."
"Lalu bagaimana dengan kelemahanku?"
Diam bukan berarti menyimpan dendam. Dave yakin dengan prinsipnya kali ini. Sherly tidak akan membenci, dia hanya butuh dimengerti. Dave menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mengambil cermin yang tergeletak di sudut mejanya. Mengarahkan ke bagian depan lehernya. Dave tersenyum saat tanda merah masih terpampang jelas.
Diam-diam Sherly mengikuti kemana arah Dave memandangi. Senyum tipis terbit di bibir Sherly. Tepat saat garis lengkung itu tercipta, saat itu juga Dave memergokinya.
Refleks Sherly memasang wajah garangnya. Dia berusaha menetralkan ekspresi yang yang dimiliki. Ingin rasanya Dave tertawa, tapi dia takut Sherly membencinya. Wanita tidak mau terlihat lemah walaupun dia sudah kalah.
"Ketawa boleh kan? Ngaku kalah aja kenapa be?"
"Ehem" Dave berdehem untuk mengurangi kecanggungan.
__ADS_1
Tujuan Dave tercapai. Sherly menatap tajam kebarahnya. Wanita itu diam tanpa kata-kata, tapi memiliki sorot mata tajam. Dave yakin wanita itu tengah cemburu. Namun laki-laki, itu berusaha semampu mungkin untuk tidak bertanya secara gamblang.
Wanita rumit dan sulit dimengerti. Dave paham, oleh karena itu dia bungkam. Otaknya berpikir keras berharap jawaban segera terhempas.
Pelan, Dave berjalan ke arah Sherly. Mengamati bibir wanita itu tanpa berkedip. Morning kiss belum terjadi pagi ini. Tadi pagi bukan morning kiss, tapi cuma short kissing.
Kenapa laki-laki punya seribu akal bulus untuk alasan modus? Dave mendadak menjadi fuc*boy saat berhadapan dengan Sherly. Dia buaya jinak, tapi berusaha menjadi buaya darat.
Menghadapi Sherly tidak semudah mencintai. Dia wanita yang sulit dimengerti. Bukan wanita manja yang haus dengan pujian. Dave pura-pura mengambil, sesuatu di belakang kursi. Padahal dia hanya mencari cara bagaimana sampai di sana.
Sosok Sherly masih berdiri, begitu juga Dave saat ini. Laki-laki itu memeluk Sherly dari belakang kemudian menempelkan dagu ke pundak Sherly. Membiarkan indra penciuman nya menghirup aroma shampo miliknya.
"Huuffttt" Dave menghembuskan nafas tepat di tengkuk Sherly.
Wanita itu menahan tubuhnya agar tidak merinding. Pelukan Dave membuat organ lain dalam tubuhnya menegang.
"Sekuat apapun mengingkari, akhirnya akan mengakui jika kamu rindu seperti ini," bisik Dave.
"Aku nggak, nolak Dave, tapi nunggu saat yang tepat," batin Sherly.
Pejaman mata mengisyaratkan bahwa yang empu merasa nyaman. Itulah yang Sherly lakukan. Dia tidak bisa berbicara. Bahkan wanita itu lupa sampai dimana berperan drama.
"Apa yang kugenggam tak mudah untuk aku lepaskan."
"Dia ninggalin aku bee," ucap Dave tanpa sadar.
"Terus cari pelampiasannya ke aku?" tukas Sherly.
Wanita itu melepas tangan Dave yang melingkar di perutnya, tapi tetap saja Dave memeluknya. Sherly membalikkan tubuh dan menatap tajam ke arah laki-laki yang berstatus kekasihnya.
"Kamu cemburu?" goda Dave.
"Makin cantik, menarik dan simpatik. Makin cinta deh," imbuhnya.
Tangan kanan Dave teurlur mencubit hidung Sherly hingga wanita itu meronta.
"Daveee" teriak Sherly.
"Hm."
"Lepasin," ucap Sherly meronta.
"Drrrttt ddrrtt ddrrttt" Dave tidak ingin melepas pelukan Sherly, tapi getaran di ponsel memaksanya untuk melakukan apa yang tidak diinginkan.
__ADS_1
"Nomor asing?" gumam Dave.
Pelukan terlepas, Sherly ingin pergi namun sepertinya ada hal yang harus diketahui.
"Hallo?" ucap Dave.
"Sayang kok kamu tega ngusir aku sih? Aku tu masih kangen. Atau gara-gara ada wanita tadi tlya? Makanya kamu bersikap dingin ke aku."
"Dari mana loe dapet nomer gue?"
"Kamu kenapa sih Dave ma-"
"Tutt tutt tutt" ppanggilan terputus tentu saja Dave yang mengakhirinya.
"Berani merendagkan atasan hanya karena wanita berstatus pacar? Sayang jabatan apa sayang mantan?" ucap Sherly ketus seraya pergi meninggalkan Dave.
Dave sudah berusaha mencekal, tapi Sherly justru menghembuskan. Alhasil tangan kanan Dave menyentuh kursi yang tidak salah sama sekali.
"Sakit bee," rengek Dave.
"Nggak peduli," ucap Sherly acuh.
Jika kamu penasaran dengan suatu hal, cari tahulah. Jangan sampai kamu melihat lalu menyimpulkan. Ingat kadang apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang diperbuat.
Angka di pergelangan tangan menunjukkan pukul 09.00 WIB. Sebentar lagi metting dengan client akan dimulai. Sherly harus bersiap-siap sebelum tangan kanannya menghampiri.
Eits, bukankah harusnya Dave yang lebih dulu melakukan persiapan? Kenapa saat ini harus Sherly yang diingatkan?
Dave menyusul Sherly ke ruangannya. Wanita itu baru saja mendudukkan pantatnya. Dave tersenyum cengengesan, jiwa bocahnya muncul saat berhadapan dengan atasannya.
"Ada apa Dave?"
"Nona, pagi ini ada metting dengan client pukul 10.00 WIB. Berkas yang dibutuhkan sudah saya susun di meja komputer saya. Apakah anda sudah melihatnya?"
"Melihat? Apa katamu, Dave? Dasar nggak tau diri.
" Apakah anda melihatnya?"
"Nggak."
"Cih, atasan barbar. Kenapa juga aku bisa jatuh cinta kepadanya? Apakah dia sungguh menggoda?" ucap Dave bermonolog.
Dave gila. Laki-laki itu lupa jika ada Sherly di sampingnya. Kini wanita itu menatap tajam ke arah Dave seolah ingin menelan Dave hidup-hidup. Gugup, itulah yang dirasakan Dave. Saat sherly menjelma menjadi binatang dalam zodiak Leo, Dave akan sadar diri dengan posisinya. Laki-laki itu tidak berkuasa di atas CEO Angelnya.
__ADS_1
"Mampu* Dave!" batin Dave.