
Sedikit banyak aku menyesal, kenapa harus mengenalmu di saat semua sudah terjal. Jalanku tak lagi lurus, tapi hidupku berbasis modus. Ya, aku benci strata. Karenanya cintaku pupus begitu saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Katakan jika kamu mulai menyimpan rasa. Aku percaya nantinya takdir menyatukan kita."
"Percuma saja percaya kepada penebar dosa."
Lampu kembali terang pertanda durasi sudah habis. Film selesai diputar, sekarang saatnya semua keluar. Sherly berjalan lebih dulu. Mengabaikan Dave yang terus menggerutu. Dave tidak terima Sherly meninggalkannya, tapi sudahlah laki-laki itu mencoba paham dengan mood wanita.
Sherly berjalan ke arah gerai minuman yang berasal dari luar negeri. Dengan logo bulat berwarna hijau yang menempel di setiap gelas cupnya.
"Coklat full whip cream," ucap Sherly kepada Dave.
"Kenapa nona tidak memesan sendiri? Sia-sia berdiri di depan pelayan jika begitu saja nona tidak mau memesan."
"Apa kamu tidak punya uang?."
"Tentu saja punya. Nona memberiku gaji yang tinggi. Apalagi jika hanya membeli minuman seperti ini," Dave kali ini membanggakan uang miliknya yang tidak seberapa dibanding milik Sherly sepertiganya.
"Fine, aku tunggu di sana," Sherly berjalan menuju kursi yang jauh dari kerumunan.
"Aku seperti terlahir lagi. Kembali memulai, tapi tidak ingin terabai. Aku pernah bahagia, namun ternyata hanya sandiwara. Untuk saat ini aku tidak tau bagaimana kabar hatiku. Yang kutau, sepertinya ada harapan baru untukku."
"Apa kamu tau, untuk saat ini aku terluka karenamu. Semakin aku berusaha melupakanmu, semakin bayangmu hadir dalam anganku. Aku membencimu, tapi sulit melupakanmu. Aku benci, tapi aku mencintai. Brian, kenapa kamu harus melakukan semua ini?," Sherly merasa kalut saat mengingat Brian.
Terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan. Namun setiap wanita itu mencoba memaafkan, selalu ada alasan untuk bisa merelakan.
Sorot mata Sherly tampak redup. Tidak seperti biasa yang penuh dengan kilatan penguasa. Selalu memancarkan kewibawaan, kesempurnaan, juga seolah menyimpan guratan ketegaran.
Ternyata tepat di depan mata Dave melihat lukanya. Mungkin dalam, sedalam apa yang pernah Dave rasakan.
"Please to drink bee (Tolong minum bee)," ucap Dave seraya memberikan cup berisi pesanan Sherly.
wanita itu mendongak. Menatap siapa yang telah berani bersikap kurang ajar padanya.
"Eh, Dave? Kenapa kamu yang bawa? Biasanya kan dianter waiters."
"Aku sengaja menunggu, aku ingin belajar membahagiakanmu."
__ADS_1
Sherly mengerutkan dahi. Baru sehari bersama Dave, wanita itu bisa menyimpulkan sendiri. Ternyata selama ini dia berada sangat dekat dengan laki-laki bucin nanti baper.
"Hentikan kekonyolanmu Dave."
"Apa aku tidak boleh mencintaimu? Em, maaf nona. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sadar siapa aku."
Dave mendongakkan kepala menatap langit-langit yang ada di atasnya. Kali ini dia tidak yakin bisa bertahan. Ternyata mencintai tidak semudah dicintai.
Bangkit dari duduknya, lalu berdiri tepat di hadapan Dave. Menundukkan kepala untuk mengamati kedua mata Dave. Laki-laki itu terlonjak saat melihat wajah cantik berada di atasnya.
"Dave, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku tidak mempermasalahkan jika kamu nantinya mencintaiku. Hanya saja aku tidak ingin buru-buru menjalin hubungan dengan pria. Aku takut kembali terluka Dave," Sherly bicara dengan nada lembutnya, membuat hati Dave bangkit seketika.
Sorot mata Dave kembali berbinar. Ternyata apa yang dipikirkan salah sasaran. Nonanya tidak sejahat apa yang dia pikirkan.
"Cup! Jaga hatimu untukku nona," tanpa permisi Dave mencium bibir Sherly lalu bangkit dan mengajak wanita itu pergi.
Keduanya sudah menjadi perhatian saat Sherly menghampiri Dave yang duduk mendongakkan wajahnya. Malah dengan sengaja Sherly memasang wajah tak berdosa.
"Mungkin tidak selamanya aku merindukanmu, tapi selamanya aku akan mencintaimu."
Langit yang tadinya berwarna biru telah berubah menjadi abu-abu. Lampu juga sudah menyala memberikan penerangan kepada penikmatnya. Sebentar lagi, langit benar akan berubah menjadi pekat. Gelap, dan mungkin membuat jiwa bisa saja tercekat.
Saat tiba-tiba tali sepatu Sherly lepas, Dave refleks berjongkok dan membenarkannya. Laki-laki itu melakukannya bukan karena dia bawahannya, tapi karena rasa cinta yang mulai ada.
Selesai memperbaiki, Dave kembali berdiri. Menatap ke arah Sherly lalu mengacak rambut yang membuat sang empu semakin imut.
"Lain kali jangan pakai sepatu kets nona. Bukankah anda terbiasa menggunakan high heels?," sindir Dave saat dia tidak mendapatkan imbalan apa-apa.
Jelas saja Sherly cemberut. Wajahnya semakin imut setelah apa yang tadi membuatnya imut adalah rambut.
"Cup" Sherly mencium bibir Dave.
"Bilang aja mau minta imbalan. Dasar modus."
"Hehehe" Dave terkekeh serata mengacak rambut Sherly untuk kedua kali.
"Daavee," rengek Sherly manja.
Keduanya kembali berjalan. Kali ini tidak bergandengan, tapi Sherly sengaja menggamit lengan Dave. Seolah menunjukkan kepada wanita yang sedari tadi memandang ke arahnya. Dave adalah miliknya dan hanya dia yang berhak menyentuhnya.
__ADS_1
Tidak jauh dari keduanya, mungkin mereka juga tidak menyadarinya. Seseorang mengamati dan mengambil potret mesra saat Dave dan Sherly bergantian saling memanjakan.
"Cih, tempat umum nggak punya malu. Ternyata seorang CEO terhormat bisa melakukan hal serendah ini," cibir orang yang telah mengabadikan kebersamaan Dave dan Sherly.
Tepat saat jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, mereka tiba di apartement Sherly. Ya, meskipun masih berada di parkiran. Dave merogoh kantong celananya. Hanya ada ponsel dan dompet di sana. Lalu dimana id card untuk masuk ke aaprtementnya. Sherly menangkap kepanikan Dave.
"Ada apa Dave?."
"Aku lupa dimana id apartement ku sher."
"Coba cari lagi."
"Seingatku mungkin ketinggal di kantor, tapi ini udah larut. Kantor juga pasti udah tutup."
Sherly melirik jam di pergelangan tangan. Benar, ini sudah hampir larut.
"Terus gimana Dave? Makanya lain kali jangan suka perhatiin barang orang lain, jadinya barang kamu sendiri lupa kan," Sherly mencoba menasehati Dave, tapi siapa sangka ucapan itu membuat Dave seakan terbang ke angkasa.
"Ya iyalah suka perhatiin barang orang lain. Kamu kan prioritasku, bukan formalitasku. Jadi makin cinta deh."
"Dave."
"Eh, em nggak tau juga sher. Yaudahlah nanti aku pulang naik taksi aja, biar masuk ke apartement pake password."
"Nginep sini aja Dave. Aku nggak papa kok kalau kamu mau."
"Aku sih mau, cuma..," Dave sengaja menggantung ucapannya tentu agar Sherly mendesaknya.
"Cuma apa?."
"Cuma aku takut nanti kamu muter film dewasa kaya tadi siang wekk," Dave menjulurkan lidah tepat di hadapan Sherly.
Wanita itu kesal. Bagaimana tidak jika dia serius menawarkan atapnya untuk orang yang menurutnya berjasa, tapi malah dibalas oleh kekonyolan oleh si tersangka.
"Nyebelin banget sih. Kalau kamu nginep sini nggak cuma filmnya aja, tapi adegannya juga biar kamu puas. Biar terus aja sekalian pindahan barang kamu ke apartement ku. Sekalian tuh penuhin lemari ku dengan bajumu juga," Sherly tiada henti menggerutu karena tingkah Dave yang menurutnya lucu, tapi juga mengacau.
"Apa sih, nona marah ya? Bikin makin cantik aja."
Sherly mengedikkan bahu acuh lalu pergi meninggalkan Dave yang masih setia duduk di belakang kemudi.
__ADS_1