Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
From B


__ADS_3

Saat tersulit bukan tentang sesuatu yang menghimpit, tapi datangnya suatu penyakit yang membuat kita sakit. Tak lain adalah dia yang pernah kamu cinta hadir dan membuat hatimu goyah seketika.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mas udah dong ngelamunnya," ucap Sherly seraya mengerucutkan bibir.


"Sial! Lama-lama beneran bisa jatuh cinta nih."


Sherly mengulurkan tangan lalu menyerahkan kunci mobil kepada laki-laki muda di hadapannya.


"Tolong parkirin mobilku ya mas, ini udah siang aku malah baru nyampe kantor," ucap Sherly.


"Baik nona."


"Andai saja anda menitipkan cinta, aku pasti menjaganya," imbuhnya lirih.


Meski lirih Sherly masih bisa mendengar. Namun wanita itu pura-pura tidak tau. Dia tidak ingin bawahannya malu. Biarlah semua disimpan rapi dalam hati.


"Tapp tapp tapp"


Sherly melangkah lebar menuju lobby. Semua mata tertuju padanya. Tidak terkecuali wanita yang bertugas di bagian receptionist.


"Selamat siang Nona Sherly, ada seseorang yang telah menunggu anda sejak pagi. "


"Siapa? Dimana dia?"


"Tadi pagi duduk di sofa sini, tapi sepertinya tidak sabar lalu naik ke ruangan nona dan kejadian selanjutnya saya tidak tau apa-apa. Maafkan saya nona."


Sherly memincingkan mata mengamati wajah karyawannya. Di sana tidak ada kebohongan. Sherly mengangguk.


"Kamu tau namanya?"


"Namanya b, b, Brian atau siapa ya? Maaf nona saya lupa. Maafkan untuk kesalahan kedua saya."


"Baiklah. Lain kali jangan ulangi lagi."


Sherly segera bergegas menuju lift. Ini sudah sangat terlambat. Dia sama sekali tidak berniat untuk berdebat.


"Siapa tadi? Brian katanya? Ada apa sih dia ke sini? Apa aku punya janji dengannya? Kenapa Dave tidak mengingatkanku."


"Ting" lift terbuka.


Sherly masuk ke dalamnya. Beberapa menit benda itu kembali mengeluarkan suara. Sherly keluar. Dia sampai di lantai ruangannya.


Berjalan agak tergesa karena ada hal yang harus segera diselesaikan. Rencananya Sherly akan menemui divisi keuangan lalu mengadakan rapat dadakan dengan seluruh team yang ada.


Pintu ruangan Dave terbuka. Sherly masuk ke dalamnya. Di sana tidak ada siapa-siapa. Bahkan kursi Dave masih sama seperti semula. Sherly mendekat saat menyadari ada benda yang bersinar.


Wanita itu menatap ke arah monitor yang menyala, tapi tidak dalam posisi bekerja. Dia hanya hidup di bagian walpaper saja. Sherly berasumsi Dave-lah yang mengurusi.


Wanita itu melihat pintu ruangannya. Di sana juga terbuka. Selama ini Dave tidak berani membuka kalau tidak ada Sherly di dalamnya. Sherly melangkah cepat menuju ruangannya.

__ADS_1


Nihil, tidak ada siapa-siapa. Sherly membulatkan mata saat melihat privat roomnya terbuka.


"Dave mana mungkin berani buka ruangan itu? Yang berani cuma dia. Apa dia ada di dalam sana?"


Sherly cemas. Dia belum siap menemuinya. Keadaannya belum baik sepenuhnya. Sherly tidak mengerti kenapa di saat seperti ini dia justru kembali.


Wanita itu berlari menuju pintu pribadi. Tidak ada siapa-siapa, tapi ada sepucuk surat di atas ranjangnya. Sherly menggenggam jemarinya. Dia berharap semoga bukan teror semata.


Pikirannya melayang jauh. Dia bukan wanita yang gampang disentuh, lalu siapa yang kali ini ingin membuatnya berpeluh.


"No! Tidak! Bukan dia!" ucap Sherly bermonolog.


Tubuhnya mendadak kaku. Jalannya tidak lagi menggebu. Sherly memantapkan hati. Dia hanya ingin semua baik-baik saja.


Selembar kertas dilipat rapi. Bersama sebucket bunga yang telah disusun rapi. Sherly menghampiri. Dia memberanikan diri.


Lipatan kertas itu hanya menunjukkan huruf inisial. Dia saja tidak bisa mengenal goresan tinta itu milik siapa. Sherly mengambil lipatan itu lalu membukanya pelan.


"For you,


Jika aku tidak bisa di sampingmu,


Setidaknya aku masih bisa menjagamu.


Aku tau kamu tidak mencintaiku,


Tapi percayalah,


From B"


"B? Apa mungkin dia?" gumam Sherly.


"Bipp bipp bipp" bunyi interkom di ruangan Dave berbunyi.


Sherly segera menghampiri. Dia melupakan satu hal. Sekretaris pribadinya tidak ada di tempat, tapi sang CEO tidak menyadari hal itu.


"Hallo, dengan divisi keuangan. Bisa bicara dengan Tuan Dave?" sapa suara di seberang.


"Saya Sherly. Apa ada masalah di sana?"


"Maaf nona, saya tidak tau kalau itu anda. Saya akan segera ke ruangan anda sekarang."


"Baiklah."


Sherly segera menutup panggilan lalu duduk di kursi Dave. Dia meneliti semua folder yang ada di dalamnya. Tidak terkecuali tentang laporan pengeluaran dan pemasukan yang telah Dave selesaikan beberapa waktu lalu.


Tanpa Sherly sadari, Dave semalam telah melakukan pengecekan bersama Andra dan hari ini Sherly juga melakukan hal yang sama.


Mendapati beberapa berkas yang dibuka dalam keadaan baik, Sherly semakin gencar untuk membuka file lain.


"Kok semuanya dalam keadaan baik. Kenapa bisa ada guncangan?' gumam Sherly.

__ADS_1


"Tok tok tok"


"Masuk," ucap Sherly.


Sosok laki-laki muncul dengan membawa beberapa berkas di tangan. Sherly menatapnya keran. Dia seperti pernah melihat laki-laki itu.


"Nona, ini adalah laporan keuangan satu minggu terakhir. Silahkan diteliti lagi, menurut saya ini sudah benar. Namun abila ada kejanggalan akan saya perbaiki secepatnya."


"Kamu Andra temannya Dave kan?" tanya Sherly.


Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia yakin sebentar lagi akan masuk sesi introgasi.


"Kok diem? Iya kan ndra?"


"Eh, iya nona," jawab Andra gugup.


Dia sama sekali tidak salah, tapi di hadapan Sherly justru merasa gugup. Atasan itu mampu menangkap kegugupan bawahannya.


"Please ndra. Kamu tuh cuma berhadapan sama aku. Kenapa grogi gitu sih? Lagian kamu juga lebih tua dari aku," gerutu Sherly.


Terkadang hal yang membuat enggan adalah jabatan. Mereka bisa saja menjauh karena perbedaan derajat. Meski sebenarnya Sherly tidak mempermasalahkan itu semua.


Sherly mengamati wajah Andra. Laki-laki itu meringis entah karena apa, Sherly bahkan tidak mengetahui penyebabnya.


"Klutik" Sherly sengaja menjatuhkan pulpen agar Andra sadar daru lamunan.


"Aku nggak mungkin ngagetin kamu kan ndra? Kalau kamu Dave mungkin aku udah teriak," batin Sherly.


"Nona, maaf. Biar saya yang ambil."


Andra dengan cekatan langsung berjongkok saat melihat Sherly hampir menekuk lututnya. Andra mengambil pulpen, lalu menyerahkan kepada Sherly kemudian menatap atasannya dengan kagum.


"Dia cantik sekali."


"Huuftt" Sherly menghembuskan nafas kasar.


"Maaf nona," ucap Andra saat tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan Sherly.


"Udah berapa kali minta maaf ndra? Oh ya, kalau lagi berdua panggil Sherly aja."


"Tapi anda atasan saya."


"Tapi kamu temen pacar saya. Masa dia panggil aku nama, kamu panggil aku nona."


"Kita berbeda nona. Anda atasan saya, saya cuma bawahan."


Sherly tersenyum. Bukankah dia dulu juga bawahan? Ini yang membuat Sherly sungkan. Dia masih berusia 23 tahun, tapi orang yang lebih tua justru menyebutnya nona.


"Terserah ndra," ucap Sherly putus asa.


CEO Angel duduk ke kursi Dave. Mengamati laporan lembar demi lembar. Deretan angka matematika yang sebenarnya hanya bilangan caca. Namun disusun sedemikian rupa hingga membuat jungkir balik deretannya.

__ADS_1


Aku mengharapkanmu, tapi orang lain datang menghampiriku. Dia tidak lebih segalanya, tapi dia pemilik kodrat setia.


__ADS_2