Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Mangsa yang Subur


__ADS_3

Dari sekian ribu yang hadir hanya kamu yang tidak ingin kuusir


Karena terlanjur nyaman tentu saja sulit untuk melupakan


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Laki-laki itu terus saja berteriak marah kepada wanita di sampingnya. Dia melupakan kehadiran kekasihnya demi menutupi rasa malunya.


"Nona Sherly maafkan kekasih saya."


"Dari mana anda tau nama saya tuan?," tanya Sherly bingung.


"Anda adalah CEO sekaligus pemilik Silver Coorporation bukan?."


"Dari mana anda tau jika saya CEO di sana?."


"Nona saya sungguh minta maaf atas kecerobohan kekasih saya. Tolong jangan campur adukkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan. Saya harap anda bersikap profesional nona. Tolong beri saya kesempatan sekali lagi."


Wanita yang merupakan kekasih dari laki-laki di hadapannya membuka bibirnya lebar-lebar. Antara percaya atau syok saat itu juga. Silver Coorporation adalah perusahaan yang sangat terkenal di negaranya.


"Kalau dia adalah pemilik Silver Coorporation berarti dia lebih tingginya kekuasaannya daripada pacar gue dong? Mampu*!," batinnya.


Jawaban yang dari tadi dicari kini muncul sendiri. Sherly ingat sekarang jika laki-laki di hadapannya adalah salah satu pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya.


Lantas Sherly tersenyum ramah. Bukankah sejak tadi dia selalu tersenyum? Wanita di hadapannya saja yang selalu mencibir.


"Kenapa anda tersenyum nona? Tolong jangan batalkan kontrak kerja sama kita."


"Tuan, bagaimanapun ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Mana mungkin saya membatalkan kerja sama hanya karena masalah seperti ini."


"Anda tidak marah nona? Tapi harga diri anda sudah jatuh. Bahkan kekasih saya dengan lancang menyebut anda gelandangan."


"Untuk apa marah jika kenyataannya memang tampilan saya seperti ini. Celana pendek, kaos biasa, serta lihatlah kaki saya bahkan kotor terkena lumpur."


"Anda baik hati sekali nona."


"Silahkan akui kesalahanmu dan minta maaf sekarang juga! Kamu sudah mempermalukan diri kamu sendiri. Sementara aku hampir saja kehilangan investor terbesar."


"Ta-."


"Tidak ada tapi-tapian. Sadarlah kepada siapa kamu berhadapan. Dia Nona Sherly pemilik perusahaan terkenal di negara ini."


"Sudah tuan, saya tidak papa. Saya permisi dulu ada keperluan yang harus saya cari," pamit Sherly.


Tidak suka jika menjadi pusat perhatian disaat situasinya buruk seperti ini. Meski nyatanya Sherly adalah pemenang. Wanita itu selalu menutupi jati dirinya agar bisa menilai sejauh mana lingkungan tempat tinggalnya kejam.


"Nona, tapi."


"Tidak papa tuan. Saya permisi," pamit Sherly lagi seraya menatap tajam ke arah laki-laki di hadapannya.


Jiwa keras kepala muncul seketika. Sherly tidak suka ada yang menindasnya. Jika pada akhirnya lawan telah paham dengan siapa bicara, tentu Sherly akan menunjukkan sifat aslinya.


Sepulang dari agenda dadakannya, Sherly kembali menghampiri Dave. Sekretarisnya sudah terlelap dalam tidurnya. Tampak wajah tampannya terlihat kelelahan.


"Apa aku harus mencari sekretaris saja? Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Kamu tau Dave? Kamu itu nyebelin, tapi kadang ngangenin."


Sherly segera menuju dapur untuk memasak air hangat. Walaupun di kamar mandi miliknya sudah ada air hangat, tapi Sherly ingin menyiapkan semuanya untuk Dave.


Senyum mengembang tidak lupa Sherly sematkan. Bibir seksinya semakin menggoda kala wanita itu terus menerus meluapkan kebahagiaan.


Baru beberapa detik yang lalu Dave berdiri di ujung pintu. Tubuhnya mendadak semakin kedinginan membuat laki-laki itu membuka mata seketika.


"Dia cantik, baik hati. Sayang, sulit dimengerti," gumam Dave.


Karena tidak sadar akan sosok Dave, Sherly terus melantunkan lagi-lagu pelipur lara. Selalu saja dia bicara akan melupakan Brian, nyatanya hingga saat ini Sherly belum bisa sepenuhnya melupakan.


Tapi mendadak Dave hadir. Kedatangannya tidak pernah diduga sebelumnya. Namun Sherly berusaha menikmatinya. Kebersamaan semakin tercipta kala beberapa waktu mereka sering bersama.


"Apa aku mencintai Dave? Ah lupakan. Aku benci hal ini. Selalu saja membuatku menjadi wanita bodoh dan labil. Terkesan bukan seorang CEO Angel Silver Coorporation," ucap Sherly bermonolog.


"Kamu mulai cinta, tapi masih malu mengakuinya. Sama sepertiku yang terus mencari tahu," ucap Dave santai membuat Sherly sontak melirik ke arah suara.


"Dave?," pekiknya.


"Hm."


"Sejak kapan di situ?."

__ADS_1


Dave melirik arloji yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.


"Baru dua menit."


"Terus ngapain diem nggak nyapa aku?."


Bukan menjawab, Dave justru berjalan mendekat. Sherly berjalan mundur padahal mereka terpisah beberapa meter. Entah kenapa berada di depan Dave tidak bisa menjadi Sherly yang penuh dengan kharisma.


"Da-Dave, mau apa?," ucap Sherly terbata.


Seringai licik tersungging di bibir Dave. Laki-laki itu bahagia jika melihat Sherly berada di mode on kegugupannya.


"Jangan mundur bee. Aku cuma suntuk di ruang tamu sendiri. Mending kalau tidurnya sama kamu. Lah udah di luar hujan, di dalem kedinginan. Masa aku masih tidur sendirian tanpa pelukan."


"Daaaveee!," teriak Sherly kesal.


Sekretaris yang menurut Sherly tidak pernah tau diri. Laki-laki penebar senyum kepada semua orang itu memanglah kaum bucin, tapi Sherly masih saja kesal karenanya.


"Sayang izinkan aku bicara jika cerita kita terlalu sempurna untuk dilupa," gumam Dave.


"Astaga! Berhenti pakai rayuan kaya gitu ke aku. Sadar Dave, kamu tuh masih sakit. Atau jangan-jangan kamu naksir aku ya?."


"Nona, harusnya anda tau rasa seperti apa yang saya punya," batin Dave.


Tanpa sadar Dave telah berada di hadapan Sherly. Mengikuti kemana wanita itu bergerak. Dave terus tersenyum menangkap kegugupan yang Sherly rasakan. Sementara Sherly terus menutupi debaran dadanya yang mendadak tidak lagi berirama seperti biasa.


Sorot mata Dave yang teduh beradu dengan milik Sherly yang terkadang tidak berpendirian teguh. Seperti saat ini misalnya. Dave yakin Sherly masih menyimpan cinta untuk sang mantan.


"Dave please," ucap Sherly lirih.


"Aku tidak pernah mundur dari langkah yang sudah terulur. Lalu saat ini aku sedang mencoba mencari mangsa yang subur."


"Apa katamu? Yang subur?," jerit Sherly.


Senyum licik kembali terbit di bibir Dave.


"Sepertinya begitu karena aku belum mencobanya sampai ke situ. Jangankan untuk mencoba, sekedar menyentuh saja aku tidak bisa."


"Oh Lord."


"Jika hadirku tidak mampu membuatmu menerimaku, jangan lupakan jika aku selalu ada kapanpun kamu menginginkan. Aku tetap berdiri di belakangmu menunggu waktu memanggilku untuk berdiri di hadapanmu. Dan kamu, seseorang yang selalu kusebut dalam ibadahku semoga Tuhan segera memberi petunjuk untukku."


"Aaaaa Dave, imut banget sih kalau bikin kata-kata. Belajar dimana? Mau dong aku sekolah ke sana."


Respon Sherly diluar dugaan Dave. Wanita itu kini tertular virus bucin miliknya. Dave membulatkan mata. Sungguh tidak mengira atasannya bisa menjadi sedikit gila.


"Semenjak kehadiranmu, aku tau bagaimana rasanya diistimewakan. Tau bagaimana rasanya dicinta, juga tau rasanya dibahagiakan. Meski semua tidak seperti yang pernah kuharapkan, tapi aku percaya jika mungkin kamu adalah jawaban. Teruslah berjuang untuk seseorang yang disayang. Walaupun pada akhirnya takdir tetap membawamu ke dalam kehancuran. Aku mencintaimu, tapi tidak dengan cintamu. Kamu menyelipkan nama lain sebagai selingan, lalu apalah daya aku yang hanya sebuah angan? Harapku punah seiring suaramu yang mende***," ucap Sherly lirih.


"Sssstttt" Dave menempelkan telunjuknya tepat di bibir Sherly.


Semua yang diucapkan Sherly adalah kebenaran. Wanita di hadapan Dave pelan-pelan mulai berbagi peran. Berbagi cerita pilu tentang sang mantan.


"Langit saja tidak selalu bersama bulan. Lalu untuk apa kamu menuntut bintang disetiap kegelapan?."


"Aku selalu rapuh di hadapanmu seolah kamulah kelemahanku. Berdua, tapi tidak untuk bersama. Bersama, tapi tidak untuk selamanya."


Sherly menatap wajah Dave. Laki-laki tengil yang kerap kali usil.


"Menangislah. Lupakan seluruh amarah. Bukan tidak bisa untuk bersama. Hanya saja waktu belum sampai di titiknya. Sementara kita masih terpaku pada cerita lampau," ucap Dave.


Dave membiarkan kedua jemarinya menangkup pipi Sherly. Wajahnya teramat hangat, sayang jika hanya untuk sesaat. Bola matanya terlalu indah, sayang jika selalu digunakan untuk menengadah. Ada kalanya wanita itu harus membiarkan orang lain yang menatapnya dengan menengadah.


"Ingat, banyak orang lain yang selalu mengangguk hormat di hadapanmu. Sedangkan kamu selalu berusaha merendah untuk seseorang yang belum tentu bisa berubah. Sadarlah sherly, ada dan tidaknya dia di hidupmu tidak lagi sepenting dulu. Biarkan hatimu mengikhlaskan, tapi dengan syarat tulus dan berjanji kamu akan melupakan," imbuhnya.


Setiap kata yang terlontar selalu mampu membuat Sherly terpaku. Tidak tahu bagaimana Dave berusaha mengaku, tapi Sherly masih berusaha untuk tidak menunggu. Dia belum mengerti dengan pasti siapa laki-laki di hadapannya saat ini.


"Aku tidak melihat dari ketampanan mulai. Apalagi tentang kasta dan siapa jati dirimu sebenarnya. Cinta telah membuatku buta akan segalanya. Juga tentang percaya yang kemudian membuatku semakin terluka."


Suara Sherly melemah. Seperti seseorang yang sedang menahan isakan. Matanya mulai memerah. Embun bening mulai terlihat. Mereka seakan berlomba melompat dari asalnya.


"Cup" Dave mencium kelopak mata Sherly yang saat itu terpejam.


Seulas senyum terukir di bibir Sherly. Samar, tapi Dave berhasil mengamati.


"Jika memejamkan mata membuatmu lega, lalu bagaimana dengan kehadiranku di setiap waktu yang kau punya? Berhenti sembunyi dari kenyataan ini. Dunia punya cerita, akupun sama. Namun detik ini aku ingin mendengar ceritamu seutuhnya."


"Aku belum bisa cerita Dave. Eh, bentar aku siapin air hangat dulu ya. Kamu mandi sana udah bau asem," ucap Sherly seraya berlalu meninggalkan Dave.

__ADS_1


Meski kecewa, Dave tetap berusaha tertawa.


"Kamu gugup? Santuy, akui masih sanggup," gumam Dave.


Saat ini Dave tengah membersihkan diri. Sementara Sherly berada di kamarnya. Tepat di depan lemari pakaian.


"Huuufttttt" Sherly menghembuskan nafas berat.


"Apa Dave harus memakai pakaian itu lagi? Tapi kalau aku ganti yang lain nanti Dave mikir aku punya simpenan. Wait! Simpenan? Hm, pacar aja nggak punya," ucap Sherly bermonolog.


Membuka lemari layaknya membuka lembaran baru kembali. Mengingat dari siapa benda di hadapannya itu berasal. Sherly tersenyum karena ternyata dia belum pikun.


Deretan baju tersusun rapi di sana. Semua pakaian tidak ada yang terlupa. Tanpa terkecuali pembungkus bagaian rahasia juga tertata. Sudut matanya mengamati seluruh susunan hingga akhirnya tetap saja pilihannya jatuh pada pakaian yang sama.


Tumpukan baju laki-laki lengkap beserta benda yang juga memalukan. Sherly menggeser dengan pelan lalu mengamati benda yang ada di belakang. Banyak polaroid photo terpajang di sana. Di tempat tersembunyi yang hanya diketahui oleh Sherly sendiri.


Diam bukan berarti ingin didiamkan. Sherly memilih tempat persembunyian yang cocok dengan kenangan. Potret dirinya bersama laki-laki berjejer rapi. Tersenyum, tertawa, juga berpelukan saling melepas kerinduan.


"Aku merindukanmu," gumam Sherly.


Wanita itu kembali menggeser tumpukan untuk menutupi kenangan. Biarlah kerinduan hanya mampu disimpan karena Sherly cukup sulit untuk menghubungi.


"Adanya jarak mengajarkanku untuk selalu menunggu. Cepatlah kembali, aku ingin berbagi," imbuhnya.


Belum waktunya Dave tau lebih dalam tentang pribadi Sherly. Oleh karena itu pilihannya jatuh pada kaos pendek dan celana yang juga sama pendeknya. Benar-benar pengulangan yang sakral untuk Dave nantinya.


Mungkin setelah ini Dave harus membawa sedikit barang pribadi ke apartement Sherly agar wanita itu bisa membuat Dave sedikit berbeda. Tidak terpaku pada setelan yang pernah dipakainya.


"Sher, aku udah selesai," teriak Dave dari dalam kamar mandi.


"Iya Dave bentar," balas Sherly.


Sherly berjalan pelan lalu menunggu Dave mengulurkan tangan. Selebihnya Sherly menyodorkan bentuk lain dari sebuah kain, lalu Dave menerimanya.


Modus masih saja berjalan mulus saat Dave pura-pura tidak tau jika yang dipegangnya jemari Sherly. Bukan baju yang harusnya digapai.


"Daave," pekik Sherly.


"I'm so sorry baby."


"Cepet dipakai. Semoga suka."


Tanpa disadari, Dave telah berani mengomentari Sherly. Tentu saja di belakang wanita itu karena jika di depan, belum tentu Dave bisa kembali numpang mandi di sini.


"Kenapa ini lagi? Tapi yaudahlah daripada nggak pakai apa-apa," dengus Dave kesal.


Teh hangat dan roti bakar telah Sherly siapkan. Saatnya wanita itu menunggu Dave di sofa depan. Sherly mana mungkin tau apa yang Dave suka. Laki-laki itu tidak pernah berkata. Terlebih juga Sherly yang tidak pernah bertanya.


"Wush" seperti ada angin yang bersarang di udara.


Sherly melirik ke arah sampingnya. Dave telah duduk dan tersenyum manis ke arah Sherly.


"Kenapa? Nggak usah gitu juga liatin aku," ucap Dave.


"Baru sadar kalau asisten pribadi kamu ganteng hm?," imbuhnya.


"Daave," pekik Sherly.


"Apakah nona tidak bisa berhenti teriak? Kotoran saya mulai meloncat dari tempatnya."


"Dasar bude*."


Dengan kesal wanita itu melempar bantal sofa ke arah Dave. Membiarkan laki-laki itu juga merasa kesal sama seperti apa yang Sherly rasakan.


"Sherly," pekik Dave.


"Apat? Biasa aja kali liat akunya. Baru sadar kalau aku cantik."


"Sherrrr," teriak Dave.


"Tuan, apakah anda tidak bisa berhenti teriak? Pendengaran saya masih waras."


"Huuufttttt" Dave menghembuskan nafas kesal.


Selalu saja Sherly membuatnya gemas. Wanita itu tidak pernah berpikir bagaimana berhadapan dengan masalah percintaan.


"Kamu lupa dengan siapa saat ini berdampingan? Aku di sampingmu sher. Sadarlah jika aku bisa saja terbuai dengan kekonyolanmu," batin Dave.

__ADS_1


__ADS_2