Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Berjalan Gontai


__ADS_3

Kamu yang memberiku kebahagiaan kamu juga yang akhirnya meninggalkan.


Tolong jangan saling menyiksa, aku tidak mau kamu terluka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mentari mulai menampakkan diri seiring kelopak mata yang mulai melihat dunia. Sherly mengerjap, ekor matanya melirik ke arah sofa yang semalam dijadikan tempat tidur oleh Dave.


Kosong, Sherly bangkit dan membuka kedua matanya lebar-lebar. Kenapa mendadak hatinya terasa kosong? Apakah Sherly berharap kehadiran Dave di setiap paginya?


"Dave, kamu kemana sih? Lungamu ninggal kenangan, tekamu nggowo undangan (pergimu ninggal kenangan, hadirmu bawa undangan) Hikksss."


Masih pagi, tapi jiwa bucin Sherly sudah menjadi. Wanita itu semakin tidak mengerti dengan hatinya. Dia menginginkan hal yang tidak mungkin didapatkan.


Dengan berat hati wanita itu turun dari ranjang dan berjalan ke luar ruangan. Dia menuju ruang tamu berharap semoga Dave-nya ada di sana. Namun nihil, ruangan yang sempat menjadi kenangan itu kosong. Tidak ada Dave di sana, yang ada hanya cicak yang saling bercengkrama.


Dia menguatkan diri. Mungkin laki-laki itu hanya sekedar pengisi bukan untuk penghuni. Sherly kembali berjalan ke arah kamar. Menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi.


Membersihkan diri dengan air dingin agar tulangnya juga tau bahwa sang empu tengah menunggu. Inilah alasan Sherly kenapa sulit mencintai. Dia tidak ingin kecewa untuk ke dua kalinya. Tapi saat ini apa? Wanita itu tengah memikirkan hal yang menyakitkan.


"Dave, apa kamu pergi? Lalu kemana cinta yang kamu ucapkan setiap hari?"


Keluar hanya dengan mengenakan handuk sebatas dada dan atas paha. Tepat saat wanita itu baru membuka pintu, sosok Dave berdiri di tempat yang tidak dapat dijangkau.


Dave menelan ludahnya susah payah. Dia mengutuk kebodohannya kenapa harus kembali ke kamar atasannya.


"Sher, bisakah kamu sedikit menutup tubuhmu? Aku sudah dewasa, mana mungkin sanggup melihat semuanya?"


Peluh mulai bercucuran, Dave mencoba bertahan. Ingin pergi, tapi sayang panorama indah tidak dinikmati. Sherly berjalan menuju lemari. Wanita itu berjinjit karena mengambil baju yang berada di deretan paling atas.


Handuknya sedikit terangkat hingga Dave mampu melihat paha mulus yang semakin memikat. Kedua bola matanya membulat saat Sherly kembali bejingkat.


"Huuufttt" Dave menghembuskan nafas berat.


Kembali ke dapur untuk meneruskan kegiatan yang ditinggalkan kabur. Dave kembali ke kamar karena ingin membangunkan Sherly, tapi sayang wanita itu justru menggoda imannya.

__ADS_1


"Shit!" umpat Dave.


Di dapur, Dave menyiapkan sarapan lalu menyusun di meja. Sementara Sherly di kamar terus saja melakukan persiapan sebelum kerja dengan batin yang terus bersuara.


"Tolong jangan mendekati jika akhirnya menyakiti."


Entah mengapa pagi ini Sherly menyapukan make up yang lebih dari biasanya. Dia menempelkan bedak tipis lalu mengoleskan pewarna pipi. Tidak lupa membuat bulu matanya sedikit lentik dan menyisir alis yang bertengger di atas kelopak matanya.


Mematut diri di cermin, Sherly mengagumi kecantikan alaminya. Wanita itu tersenyum manis, lalu tersenyum sinis.


"Brian nggak salah ninggalin wanita secantik dan sebaik aku? Lalu setelah itu dia ingin kembali kepadaku? Maaf mantan, kamu terlalu sayang untuk dimaafkan. Sekarang hatiku sudah terpaut pada seseorang," gumam Sherly.


"Kemanapun kamu pergi, aku tidak akan mencari. Karena jika kamu menyayangi, maka kamu yang akan kembali sendiri," imbuhnya.


Masih mengenakan sandal santai, Sherly berjalan gontai ke arah dapur. Garis lengkung ke bawah yang sedari tadi menghiasi bibir mungil Sherly berubah menjadi garis lengkung ke atas. Wanita itu tersenyum sumringah.


Mendung di wajahnya mendadak punah. Melihat sosok Dave yang tengah menyusun makanan membuat Sherly segera berhambur ke pelukan.


"Bruk" Sherly menubruk tangan kanannya.


"Dave, kenapa nggak bilang kalau kamu ke dapur. Kirain tadi udah pergi nemuin mantan," rengek Sherly.


"Kamu manja banget sih," gumam Dave.


Sherly memanyunkan bibir. Dia kesal, tapi Dave membuatnya semakin kesal. Tidak dengan Dave. Laki-laki itu suka mengganggu wanitanya. Menurut Dave, membuat Sherly mengerucutkan bibir adalah hal yang kecil yang mampu menciptakan senyumnya.


"Cup" Dave mendaratkan bibirnya tepat di bibir Sherly.


"Ini masih pagi sayang


Jangan membuat Dave junior terbangun lagi. Dia baru saja tidur," gumamnya.


Sherly mendelik mendengar ucapan Dave. Sungguh pagi ini kekasihnya membuat mode Sherly berantakan.


Sebersit ide muncul di benak Sherly. Gejolak manja mulai tercipta. Sherly tidak bisa diam saja. Dia harus balas dendam dengan apa yang telah Dave lakukan.

__ADS_1


Menarik tubuh Dave lalu menghimpitnya. Sherly sengaja menggerakkan paha kanannya di depan benda yang mulai mengeras. Dave melotot, tapi Sherly tidak peduli. Wanita itu tetap acuh seraya mengedikkan bahu.


Sherly bertahan dengan apa yang dilakukan. Sedangkan Dave berusaha menjaga apa yang harus dia jaga. Saat ini harta bendanya sedang di ujung usia, tapi melampiaskan kepada Sherly bisa jadi ujung tombak untuk segala kehancurannya.


"Damn," umpat Dave lirih.


"Cup" Sherly mencium leher Dave yang mengeluarkan sedikit keringat.


Sedikit keringat sama menggodanya dengan aliran air. Sherly menyukai bagian manapun yang mengeluarkan keringat.


"Cup cup cup" Sherly kembali mengecup leher Dave di beberapa tempat.


"Sherly! No!" pekik Dave.


Namun bodo*, karena apa yang Dave katakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Laki-laki itu menahan kepala Sherly agar tetap berada di lehernya. Sementara Dave memberikan kecupan lembut di puncak kepala Sherly.


"Cup cup cup" ciuman singkat yang sengaja diperlambat mendarat di rambut Sherly.


Tangan kanan Dave menarik pinggang Sherly agar lebih mendekat. Sherly tersentak saat sebuah tangan merengkuhnya.


"Sial."


Kecupan lembut berubah menjadi sasapan menuntut. Sherly membubuhkan tanda kepemilikan tepat di bawah jakun Dave. Dave tidak menyadari karena laki-laki itu sibuk sendiri.


Saat Sherly ingin melepaskan diri, Dave justru menarik dagunya hingga dia mendongak. Tatapan keduanya bertemu. Dave selalu hanyut saat menatap keteduhan yang diciptakan oleh Sherly.


Begitupun Sherly, dia selalu hanyut saat menatap mata elang Dave. Semakin dalam menatap, semakin lekat keduanya menepis jarak. Sherly memejamkan mata berharap Dave akan melakukan apa yang Sherly inginkan.


"Cup" bibir Sherly terasa hangat.


Hanya menempel, tidak ada kecupan lagi ataupun luma*** seksi. Sherly membuka mata. Jiwa bar-bar miliknya sudah membara. Dengan kesal, wanita itu mencium Dave lalu menyes**nya pelan.


"Aarghh" Dave ingin berlari, tapi sesuatu menahannya di sini.


Saat ini laki-laki itu hanya berusaha menguasai diri. Semoga hal buruk tidak menimpa atasannya di pagi ini. Karena tidak merasakan penolakan, Sherly terus melakukan dengan lancang. Dave justru menyambut cium** Sherly.

__ADS_1


Siapapun tidak akan menolak saat seseorang yang kita sayang mulai menyerang. Dave sesekali mengerang, mengeluarkan suara terlarang.


Jangan memulai, jika kamu tidak sanggup untuk gemulai. Tidak semua permainan butuh kecepatan. Kadang dia butuh kelembutan sebagai penunjang kenikm**an.


__ADS_2