
Karena batas antara cinta dan nafsu belaka adalah hawa. Kita pemiliknya, kita juga sebagai pengaturnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Perang antar nyali dan harga diri. Sherly mencoba menepis, tapi tidak bisa berjalan manis. Jiwa wanita dewasanya muncul seketika. Saat itu juga, Sherly ingin memangsa Dave hingga Dave menerima torehan luka.
Leher adalah tujuan utama untuk Sherly. Entah apa yang membuat wanita itu menyukai. Namun di sana dia dapat merasakan sensasi tersendiri.
"Ffiiyyyuuhhhh" Sherly menghembuskan nafas panjangnya.
Pelan, tapi penuh penekanan membuat bulu kuduk Dave merinding spontan. Refleks tangan kanan Dave menjambak rambut Sherly. Bukan kasar, tapi lebih pantas disebut tidak sabar.
Dave merasakan desiran darahnya semakin tak beraturan. Berpacu lebih dari sekedar candu. Ingin rasanya laki-laki itu menghujani Sherly dengan apapun yang dia mampu.
"Turun Sherly, aku belum ingin menyentuhmu," ucap Dave lirih.
Hampir mirip sebuah rengekan putus asa. Atau lebih tepat rengekan manja minta dipuja.
Sherly tidak bisa menahannya. Wanita itu juga merasakan apa yang Dave rasakan. Sembilan puluh persen menunjukkan saat ini adalah waktu yang tepat untuk saling meluapkan. Namun sepuluh persen lagi memungkiri jika keduanya bisa saling menyusuri.
Keringat mulai mengalir turun menuju tempat yang ingin Sherly ukir. Objek pandangannya mendadak terkilir karena sebuah bulir.
Di dalam sana, di sebuah rongga yang tidak terlalu sempurna. Air liur Sherly mulai tergenang dengan sendirinya. Seolah berlomba siapa yang lebih dulu menerima.
Pelan tapi pasti, Dave merasakan ada yang semakin tegak tapi bukan keadilan. Ada yang semakin keras, tapi bukan bebatuan. Ada yang semakin ke puncak, tapi bukan perjalanan.
"Sherly, don't touch me please (Sherly, tolong jangan menyentuhku)", rancau Dave saat Sherly mulai memainkan jari telunjuknya di bibir Dave.
Wanita yang namanya baru saja disebut tidak menjawab, tapi malah memejamkan mata. Memikirkan apa yang harus dilakukan. Melanjutkan, atau menganggap adegan saat ini sebagai akhiran.
Dave tidak bisa fokus karena tubuh Sherly berada di pangkuannya. Bibir wanita itu membuat Dave sesekali menelan ludahnya. Kini jemari lembutnya terulur mengusap lembut anak rambut Sherly. Menangkap sorot mata yang gundah gulana.
__ADS_1
Mungkin apa yang mereka berdua rasakan sama. Namun masih terbatas pada akal sehatnya. Tidak sebelum semua jelas adanya.
"Please, jangan lakukan sekarang. Aku tidak mau suatu saat nanti akan mengulang. Meski sejujurnya aku tau kamu juga sedang berjuang. Tunggulah saat dimana kita sama-sama menikmatinya. Tanpa kecewa yang akan menjadi alasan utamanya."
Sherly diam, bukan memahami ucapan yang baru saja dilontarkan, tapi menahan sesuatu yang ingin segera dilakukan.
Sorot mata Dave kembali menangkap kegelisahan Sherly. Dave paham dengan pasti. Wanita di hadapannya bukan wanita liar. Nyatanya di saat seperti ini dia masih berusaha menahan diri.
Sherly terus memejamkan mata, berharap mendapatkan kekuatan dari sana. Entahlah, wanita itu tidak bisa terus menyangkalnya. Semakin lama fantasi liarnya bertambah gila.
"Cup" bibir Dave menyentuh bibir Sherly.
Memberikan kecupan kecil sebagai bentuk keadilan. Tidak mungkin meneruskan, tapi tidak bisa terus diabaikan. Akal sehat Dave masih terus mengingatkan. Memberi ribuan notif sangat rawan.
Kecupan disambut dengan *******. Mungkin Dave akan khilaf untuk saat ini, tapi tidak yakin jika nanti tidak mengulangi. Suara cecapan mulai menguasai pendengaran hingga akhirnya berhenti dengan suara serak tertahan.
"Jangan saling menyiksa. Aku tidak ingin hatimu terluka nona."
Setelah mendapatkan kesadarannya penuh, Sherly kembali membuka mata. Mengamati sekelilingnya. Dave masih di sana. Di depannya dengan kepala diapit kedua lengannya.
"Ssttt, jangan memberikan apa yang kamu punya untuk seseorang yang belum tentu menjadi milikmu selamanya," Dave memberi nasehat kepada Sherly seraya menempelkan jari telunjuknya.
"Apa aku terkesan menggoda? Padahal hanya menguji keberanianmu saja. Aku menghargai keputusanmu. Walaupun aku sendiri tidak bisa meyakini, jika bukan kamu yang berada di dekatku, mungkin ego sudah menguasai duniaku," ucap Sherly seraya menundukkan kepala.
Merutuki kebodohannya kenapa bisa hanyut kepada sosok di hadapannya. Sialnya wanita itu jatuh cinta kepada laki-laki sederhana. Dave Anggara, asisten pribadi sekaligus sekretaris pribadinya. Merangkap dua posisi dengan embel-embel pribadi dan kini mulai merambat satu posisi lagi yakni personal affair atau hubungan pribadi.
"Ah entahlah, apalagi yang akan dia rangkap sebagai pribadiku?," ucap Sherly putus asa.
"Dia? Apakah kamu baru saja mengakui rasa tertarikmu padanya?," Dave sengaja menggoda Sherly agar wanita itu turun dari pangkuannya.
Bukan berat, tapi ada sesuatu yang tidak kuat.
__ADS_1
"Sial! Ma mungkin aku mengagumimu," umpat Sherly kesal.
Lantas wanita itu melompat turun dari paha Dave yang sebagian bawahnya terlihat. Melihat reaksi Sherly tentu saja Dave terkekeh geli. Dave merasa hatinya meghangat seketika.
Dari wanita yang pernah dicintai, kenapa baru Sherly yang pernah berada di jarak sedekat ini. Ada sesuatu yang hangat, tapi bukan karena keringat. Hati yang bentuknya hampir bulat, kini mulai merasa lekat dengan sosok yang selama ini dianggapnya keramat.
Apakah aku mencintaimu? Tidak, aku belum berani berbicara se frontal itu. Aku masih ingin melihatmu menjaga hati di depanku. Namun dengan status yang belum menyatu atas diriku. ~Dave Anggara.
Setelah adegan yang hampir memanas tadi, Sherly memutuskan untuk pergi. Bukan menghindari, hanya saja butuh waktu untuk memahami. Kenapa rasa yang sudah lama memendam luka kembali bicara tentang cinta.
Dave terkekeh geli melihat perubahan raut wajah Sherly. Paras cantiknya sudah terpatri, tapi untuk saat ini bertambah rona merah yang menguasai. Masih saja Dave menyangkal perasaannya. Dia belum tau apa itu cinta.
Selama ini laki-laki itu hanya tau perihal kecewa. Belum mengerti dengan sebuah cinta yang berakhir bahagia.
Di sisi lain, di dapur pribadinya Sherly menghampiri benda berbentuk kotak. Panas di luar, namun hangat di dalam. Membuka pintunya, mencari apa yang pantas disuguhkan untuk tamunya. Ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya, tapi malu karena sang tersangka ada di sana.
Tunggu dulu, sepertinya Sherlylah yang berperan sebagai tersangka. Sementara Dave hanyalah korbannya. Tangan kanan Sherly terulur mengambil cemilan dari dalam sana.
Satu pack french fries dengan cocolan saos mungkin akan membuat keduanya semakin menikmati kedekatan yang ada. Dipadukan dengan sekotak brownies bertabur keju di atasnya. Mengambil potatto chip dengan rasa pedas manis.
"Hei Sherly, makanan macam apa itu? Kenapa tidak sedap di mataku?," bisik Sherly di sisi jahatnya.
"Tidak papa Sherly, itu makanan berkelas untukmu," bela sisi dengan sisi baiknya.
"Nggak banget deh, cantik-cantik kok makannya nggak beraturan."
"Biarin yang penting sehat."
"Hei, Dave itu laki-laki sempurna. Masa kamu mau memberi makanan sederhana untuknya?."
"Nggak papa Sherly, makanan itu lebih dari cukup untuknya."
__ADS_1
Dua pribadi saling membela diri membuat Sherly akhirnya memutuskan untuk melupakannya. Entah, suka atau tidak wanita itu tetap akan memberikan Dave makanan yang masih terasa dingin di tangan.
~Gelap membuatku sadar, jika terang tidak selamanya jadi pemenang~