
Dia yang tulus menyayangimu tidak akan meninggalkan dengan alasan bosan atau apapun yang mampu membuat kamu merasa kesepian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ternyata benar, rasa ingin tahu membuat hatiku pilu," batin Dave.
Menemukan kontak Brian dengan nama yang sesuai nama aslinya membuat Dave merasa lega. Setidaknya benar jika keduanya tidak memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman. Terlebih isi pesan hampir semuanya berasal dari Brian. Sherly hanya sesekali menanggapi.
Hanya melihat chat terakhir saja rasanya Dave sudah tersiksa. Apalagi untuk menscroll semuanya. Laki-laki itu memutuskan berhenti mencari tau. Takut jika nanti hatinya semakin kacau.
Papan ketik muncul, Dave menuliskan secarik kata di sana. Bukan membahas tentang cinta, tapi kesanggupan untuk membeli saham sepenuhnya.
To : Brian Pradana
"Aku akan membeli saham sepenuhnya. Jangan biarkan orang lain memilikinya."
Tanpa menunggu balasan, Dave segera memberikan benda pilih ke pemiliknya. Sherly tak kunjung menerima, oleh karena itu Dave meletakkan kembali di meja. Wanita di hadapannya tampak terluka. Dave benci melihat nonanya yang tiada henti seperti seseorang yang sedang menyesali.
"Sher, please. Sampai kapan kamu seperti ini? Aku benci melihatmu yang terus menyendiri," ucap Brian memecah keheningan.
Pertama kali mencintai, pertama kali juga merasa tersakiti. Sherly nyeri setiap membahas perihal hati. Apa semua sulit dimengerti?.
Wanita yang baru saja membiarkan benaknya melayang segera sadar jika ada seseorang yang sedang memandang.
"Dave," gumam Sherly lirih.
Laki-laki tampan nan menawan segera menunjukkan senyum andalan. Beserta wajah yang cukup menenangkan, Dave membawa Sherly ke dalam dekapan.
"Aku pernah seperti ini. Sulit mengerti apalagi untuk memahami. Aku terluka, sama kecewanya. Namun cukup sadar diri dengan apa yang terjadi. Aku percaya takdir lebih sempurna daripada jalan pikir manusia," ucap Dave.
"Kamu menahan tangis agar tidak menunjukkan sisi lemahmu, tapi kamu membiarkan sunyi menemani membuat hidup yang nyaris sempurna terasa sepi. Sher, bersamaku kamu bebas menjadi dirimu. Kamu leluasa meluapkan segala amarahmu. Jangan menjaga sesuatu yang tidak tau bagaimana akhir semestinya. Ingat, seorang Sherly Angel tidak akan selemah ini hanya karena cinta," imbuhnya.
Sudut hati yang sedari tadi merasa sendiri kini mulai menampakkan diri. Terbuka sedikit demi membiarkan angin menyusup ke relung nadi. Sherly mengerti, betapa bodohnya dia terluka hanya karena cinta. Sementara saat ini siapa yang bersamanya? Ah iya, dia bersama seseorang yang akan dianggapnya sandaran.
"Aku bertahan bukan karena cinta, tapi karena ingin melihat senyum tulus terbit di sana. Di dalam dada, juga di sini. Di sudut bibir yang selalu membuatku tidak bisa berpikir. Setiap hembusan nafasmu adalah candu untukku. Aku tidak bisa membiarkannya berlalu, tanpa aku yang selalu menggenggammu."
Dave Anggara menangkup wajah Sherly dengan kedua jemarinya. Mengusap lembut kulit yang berada di bawah kelopak mata. Seakan menghapus sisa air di tempatnya, walaupun Dave yakin tangis tidak di sana melainkan di relung hatinya.
Sorot mata mereka bertemu seolah saling melempar rindu. Sisi liarnya ingin mencumbu, tapi akal sehatnya tidak menginginkan hal itu.
Ibu jari Dave bergerak mengusap bibir yang berwarna merah. Menghapus bekas ciuman seseorang yang tadi dilakukan dengan lancang.
"Biarkan aku menghapus ciumannya. Lalu yakinkah jika aku selalu ingin menjadi yang pertama."
Perlahan setiap jarak mulai tertepiskan menciptakan ruang yang menyesakkan. Sherly merasa dadanya berdebar. Udara di sekitarnya semakin sesak. Sungguh tidak tau diri, kenapa di situasi seperti ini harus merasakan sensasi. Apa Sherly jatuh cinta? Tidak, dia belum mengakuinya.
__ADS_1
"Cup" Dave memberikan kecupan lembut membuat Sherly hanyut.
Sebagai respon, wanita itu memejamkan mata mengakui adanya nyaman yang tidak bisa diungkapkan. Luma*** lembut memaksa Sherly tanpa sadar mengacak rambut. Tentu saja milik Dave. Laki-laki itu juga sama khilafnya. Jemari kekar miliknya menyusup di balik rambut Sherly. Kembali melepas ikatan rambut di sana.
Mengacak pelan, atau sekedar mengusap penuh penekanan. Pejaman mata mengisyaratkan adanya hasr** tak tdrsalurkan. Ya, Dave berusaha menahan diri agar tidak melakukan yang lebih dari ini. Siapapun tidak bisa berkutik kala dua insan saling menggelitik.
Tanpa sadar, tangan kanan Sherly meraba kerah kemeja Dave. Menarik manja, lalu mengusap kancingnya. Entah mengapa, Dave tiba-tiba sadar akan kesalahannya. Menggenggam jemari Sherly agar wanita itu berhenti.
Membuka mata untuk melihat sorot indah di depannya. Sherlpun sama, dia membuka mata merutuki kelancangannya. Dengan penuh cinta Dave terpaksa menghentikan aksinya.
"Cup" sekali lagi ciuman singkat mendarat sebelum adegan itu benar-benar tamat.
Dave membawa genggaman Sherly ke arah dadanya. Membiarkan wanita itu merasakan irama yang tidak semestinya. Dave gugup, tapi berusaha untuk menutup. Sementara Sherly turut merasakan apa yang Dave rasakan.
Menatap lurus ke arah dada, Sherly mendapati kemeja Dave bergetar sendiri. Apa sehebat ini kegugupan yang Dave miliki?
Sosok laki-laki yang tengah berdiri menundukkan kepala mengamati rambut sang wanita. Sedikit membungkukkan tubuhnya, Dave berhasil mengecup kening di depannya. Sherly tersenyum, beruntung wanita itu lebih pendek dari Dave sehingga Dave atau siapapun itu tidak bisa melihat semburat merah yang merona.
"Bee, aku tau kalau aku ganteng. Udah jangan liatin aku gini terus. Jujur aku grogi," ucap Dave sengaja menggoda Sherly.
"Sial! Ganteng apa sih, jelek kaya gini juga. Katarak mungkin yang bilang kamu gitu," dengus Sherly kesal.
Genggaman Dave benar-benar membuat Sherly gila. Wanita itu meronta, ingin melepaskan diri dari sana. Namun sayang, Dave lebih paham apa yang harus dilakukan.
"Bagaimanapun kamu menghindar, sorot matamu tidak pernah pudar. Ada cinta yang tersirat di sana. Apakah itu untuk seorang Dave Anggara?," bisik Dave.
"No! Big no Dave! Lepas!," Sherly terpaksa membohongi karena detik ini hatinya belum mengakui.
"Wushhh" Sherly mendorong tubuh Dave hingga menciptakan suara angin yang bertabrakan.
Untuk apa Dave marah? Dia justru semakin menggoda Sherly. Bertaruh pada benaknya sampai kapan wanita itu sanggup menghindar.
"Tappp tapp tapp" Sherly berjalan menuju ruangan Dave tanpa memperdulikan laki-laki yang berada di ruangannya saat ini.
Tujuan Sherly hanya satu. Dia ingin melihat jadwalnya kemudian pergi menemui Brian. Laki-laki yang menjadi mantan kekasihnya itu pasti membutuhkan sesuatu. Dia tidak hanya ingin dicinta, tapi juga butuh diajarkan bagaimana cara menghargai wanita.
Setelah sosok Sherly menghilang di depan pintu, Dave kembali tersenyum. Memikirkan bagaimana dekatnya dia dan nonanya. Ini bukan yang pertama, tapi Dave selalu mengaguminya.
"Cinta, apa kamu akan kembali ada jika aku menemukan yang lebih setia? Aku masih takut jika rasamu menghancurkan hidupku," gumam Dave.
Sherly mencari tablet milik Dave dimana sang sekretaris selalu mencatat semua point penting di sana. Namun tidak menemukan. Hanya berkas penting yang menumpuk di meja kerja Dave.
"Daaavvveeee!!!!," teriak Sherly bahkan dia tidak peduli dengan nama yang disebutnya.
Dave menepuk dahinya kesal. Ingin memakipun tidak mungkin. Saat ini Sherly telah menjelma menjadi atasannya. Ini bukan lagi bicara tentang cinta, tapi sepenggal kisah Dave yang penuh drama.
__ADS_1
Sabar adalah kunci utama dalam menghadapi CEO Silver Coorporation. Dave setengah berlari menghampiri atasannya yang telah meneriaki namanya. Laki-laki itu tidak ingin suara lantang memanggik namanya.
"Iya nona, ada apa?," tanya Dave to the point.
Sherly menatap Dave yang sedang menghirup udara panjang laku menghembuskan kasar seolah menghadapi Sherly butuh keberanian extra.
"Apa aku semenakutkan ini? Kenapa Dave gitu banget setelah lihat aku? Tarik nafas, buang nafas. Tarik nafas, buang nafas. Gitu aja terus sampai kehabisan nafas. Udara masih banyak woey! Ngapain ngos-ngosan kaya kehabisan pasokan aja," omel Sherly dalam hati.
"Apa jadwal ku hari ini?."
Hembusan nafas lega menguasai sekitarnya. Akhirnya pembahasan tentang cinta berakhir juga. Seberat apapun bicara tentang pekerjaan tidak ada apa-apanya untuk Dave dibanding bicara soal perasaan.
*Hari ini nona memiliki janji temu dengan Gold Coorporation pukul 09.00 di kantor mereka. Rapat diprediksi berlangsung selama satu jam. Kemudian disusul dengan acara makan siang sekaligus membahas kerja sama dengan Deka Coorporation di Restoran Lily."
"Jam berapa makan siang?."
"Dua belas nona."
"Yakin? Nggak ada acara molor tuh kantor? Aku nggak mau ya Dave kita udah sampai jam 12.00 tapi mereka belum ada di sana. Oh ya, kita makan siang bareng mereka atau bisa dipercepat Dave?."
Untuk kedua kali Dave menepuk jidatnya. Kenapa atasannya sekarang menjadi sebod** ini? Diamana dia yang selalu bisa mencerna apa saja.
Ingin rasanya Dave menghembuskan nafas kasar. Laki-laki itu bersiap menghiruo udara dalam, tapi belum sempat mengeluarkan Sherly lebih dulu angkat bicara.
"Nggak usah tarik nafas dalam lalu menghembuskan kasar. Pasokan udara di sini masih banyak Dave. Kecuali kalau saat ini kamu lagi sekara*."
"Aaarrgghhhh! Sial! Atasan macam apa ini?," umpat
Dave dalam hati.
Jika bukan karena di atasan, mungkin Dave sudah mencekiknya. Apakah kekuasaan seorang Sherly mengalahkan semuanya hingga wanita itu bisa seenak jidat bicara tanpa filter di dalamnya. Dave menatap lurus.
Melirik tajam bersama senyum tipis yang bersemayam.
"Eh, em nona jangan melihatku seperti itu. Sungguh, aku tidak pernah diperhatikan di jarak sedekat ini."
Sherly mengusap wajahnya kasar. Wanita itu menarik nafas dalam lalu menghembuskan panjang. Mengingkari kata yang diucapkan kepada satu orang saja.
"Sabar sher, sabar! Dia udah aneh dari orok kak?," ucap Sherly di mode on baik hati.
Hening, bukan karena Sherly ingin meninggalkan, tapi sebuah kenyataan memaksaku untuk tetap bertahan.
"Aku butuh uang biar bisa buat kamu nyaman," gumam Sherly.
"Oh Lord! Dia baru berada di fase sedikit gila," batin Dave.
__ADS_1