
Jika akhirnya harus berpisah, kenapa dulu serakah? Pernah meminta agar tetap bersama. Namun sayang, takdir tetap pada pendiriannya. Bersua untuk melupa, bersama untuk memupuk luka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kursi masih sisa satu. Bolehkah aku duduk di situ?" tanya Brian dengan bangga.
Dia yakin dua manusia di depannya tidak punya alasan untuk menolak permintaannya. Dave tersenyum, ide licik muncul begitu saja.
"Boleh kok bri, duduk aja nggak papa," ucap Dave santai.
Senyum licik terbit di bibir Brian. Namun Dave tidak memperdulikan. Dia punya banyak kelicikan yang tidak mungkin Brian bayangkan.
Sementara Sherly mengernyitkan dahi. Dia tidak tau apa yang Dave pikirkan. Namun ingatannya melayang jauh saat kejadian di depan privat roomnya.
Sorot mata Sherly berubah. Wanita itu memincingkan mata menatap kekasihnya seolah bertanya "kenapa dia ada di sana?Lalu bagaimana dengan kita?"
"Ikuti saja, nanti kamu pasti bisa tertawa," ucap Dave melalui sorot mata.
Tiga manusia berada dalam keadaan yang berbeda. Mereka sibuk dengan dunianya. Dave menyadari satu hal. Dia celingukan mencari Andra.
Laki-laki itu tidak menampakkan diri. Terpaksa Dave bangkit dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
"Shit!" umpat Dave.
Dia merogoh ponsel yang ada di sakunya lalu kembali mendudukan pantat. Davemembuka aplikasi chat berwarna hijau. Disana banyak pesan dari Andra yang membuat Dave semakin kesal.
From : Andra
"Sorry bro, mending aku kencan aja daripada harus jadi pengabdi triangle love kalian. Sebenernya sih kalau boleh aku juga bakal ikut ngrebutin Nona Sherly biar jadi square love"
Refleks Dave membalas pesan Andra dengan geram.
From : Dave
"Berani nyentuh seinchi aja, lusa kamu nggak bakal bisa lihat senja"
Di tempat yang berbeda Andra tertawa. Dia yakin Dave tengah mengumpati dirinya.
"Kenapa bee? Kok mukanya ditekuk?" tanya Sherly.
Dave lupa di sana ada Sherly. Jangan lupakan ada mantan yang menuntun keadilan. Dia siap merebut Sherly dari sang pacar.
"Andra pergi bee. Dia ninggalin kita," jawab Dave.
"Yah sayang, jadi nggak ada yang ngabadiin moment kita dong," gumam Brian.
Dave melirik ke arah Brian. Aura permusuhan tergambar jelas di sana. Dengan wajah tampan yang dia punya , Dave berusaha menetralisir egonya.
Percuma tampan kalau kelakuan kaya preman. Dave bukan pria arogan. Tentu saja dia bisa bertahan. Sementara Brian, jangan lupakan meskipun pernah menyakiti, dia tetap saja lebih lama singgah di hati Sherly.
"Eh iya, aku lupa. Gimana kalau kita photo aja? Lumayankan buat bikin feed story di instag**m," usul Sherly.
__ADS_1
"Ide bagus sayang," jawab Brian cepat.
"Nggak mau bee, kasihan kamera kamu entar bisa pecah," ucap Dave.
Sherly tersenyum, Dave pasti cemburu karena ada Brian di antara mereka. Sherly menggenggam jemari Dave yang ada di atas meja. Dave luluh seketika.
"Yeeaayyy! Menang banyak boy. Weeekkkk," batin Dave seraya menjulurkan lidah kepada Brian.
Dave membalas genggaman Sherly. Dia mengusap punggung tangan itu dengan lembut. Namun apa yang dia lakukan telah mengguncang kesabaran laki-laki yang duduk di dekat mereka.
Laki-laki itu mendelik. Meskipun tidak ada yang Dave ucapkan, tapi dia bisa membaca aura permusuhan. Brian menahan amarahnya. Dia cemburu melihat Sherly menggenggam tangan Dave.
Persetan dengan mantan. Intinya Brian tidak terima dengan kelakuan dua manusia yang tidak menganggap kehadirannya.
"Ehem" Brian berdehem.
Sherly melirik ke arah Brian. Mata itu masih sama, tapi menatap dengan cara yang berbeda. Dulu sorot mata Sherly begitu membuat damai. Sekarang pun masih membuat Brian damai.
Namun saat ini, tidak ada sorot cinta di sana. Sherly mengedipkan mata. Bukan untuk menggoda, tapi memang sudah kodrat dari sang pencipta.
"Sayang, kenapa kedip-kedip gitu? Kamu kangen sama aku hm?" tanya Brian.
Sherly mengerutkan dahi. Dave menatap tajam ke arah Brian.
"Lakn*t," batin Dave.
"Tuh lihat, bodyguard kamu udah kirim tatapan tajam ke aku," ucap Brian.
Dia sesekali mengedipkan mata manja. Dave tau Sherly menyukai hal itu.
"Dave hentikan," rengek Sherly.
"Nggak mau bee. Salah siapa liatin dia."
Dave memasang tatapan puppy eyesnya. Sherly hampir saja tertawa, tapi berusaha ditahannya. Wanita itu mendekat ke arah Dave. Menatap tajam dengan jarak dekat.
"Cup" Sherly mencium kelopak mata Dave yang terpejam.
"Jangan manja bee. Malu diliatin orang," bisik Sherly.
Dave merona. Laki-laki itu tidak menyangka Sherly melakukan hal gila.
"Apa dia tidak peduli pada mantan kekasihnya?" batin Dave.
Karena Dave diam, Sherly kembali menatap Brian. Tapi ada kepala yang menahannya.
"Cup" Dave mencium singkat bibir Sherly.
Sontak wanita itu membulatkan mata.
"Apa Dave nggak mikirin perasaan Brian?" batin Sherly.
__ADS_1
"Klutik" Brian sengaja menjatuhkan kunci mobil untuk menarik perhatian sepasang kekasih di hadapannya.
"Bang*** Dave! Malah main nyosor. Tunggu pembalasanku. Sherly akan kembali ke pelukanku. Kamu tu cuma pelarian, jadi jangan bangga untuk bisa ngajak Sherly ke pelaminan," batin Brian.
"Kenapa Brian?" tanya Sherly.
"Aku duduk di sini tapi kalian malah sibuk sendiri," jawab Brian.
"Loh, bukannya ini resiko duduk sama orang yang punya pasangan ya? Berani ada diantara kita, berarti siap menjadi penonton saja," ejek Dave.
Brian menggeram. Entah mengapa ucapan Dave selalu membuat darahnya mendidih.
"Baru ciuman aja kan? Aku udah pernah lebih dari itu kali," ucap Brian percaya diri.
"Oh ya? Apa buktinya?"
"Nah kamu mau buktinya apa?"
"Buktiin sekarang kalau kamu sama Sherly pernah yang lebih dari ini," tantang Dave.
Brian menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia meringis menatap Sherly. Wanita itu selalu membuat Brian terpana.
"Apa lihat-lihat?" tanya Sherly.
"Em, bee...." Brian menggantung kalimatnya.
"Hei, nggak usah panggil bee. Emang sherly baby? Dia punya nama. Atau kamu nggak tau lengkapnya? Dia namanya Sherly Angel kekasih dari Dave Anggara," tukas Dave.
Brian melotot. Mana mungkin dia lupa dengan mantan kekasihnya. Wanita yang selalu menjadi hantu dalam benaknya.
"Apa melotot?" ketus Dave.
"Kamu itu cuma serpihan kertas nggak berkelas," ucap Brian.
"Dari pada sepenggal masa lalu yang tabu?" ucap Dave.
"Kamu baru mengenalnya kan? Mana mungkin tau keburukan dia."
"Aku menerima apapun kekurangannya."
"Kamu nggak tau kalau dia masih nyimpen semua pakaianku di lemari? Dia nggak mungkin bisa lupain aku secepat ini Dave. Sadar diri dong," ucap Brian.
Brian benar. Di dalam lemari Sherly ada pakaian laki-laki. Dia pernah memakainya. Bahkan selalu menggunakan itu saat berada di sana.
"Bee, apa benar pakaian yang ada di apartementmu itu milik laki-laki tengil ini? Kamu tega bee," ucap Dave dengan nada manja.
"Tentu saja milikku. Kamu pikir siapa yang dulu selalu menghangatkan ranjangnya?"
Sherly belum menjawab, tapi Brian dan Dave sudah terlanjur berdebat.
Berhenti menabur, jangan lupakan benih mampu tumbuh dengan subur. Lalu ingatlah, hal yang paling menyakitkan adalah saat kamu merawat namun tidak bisa berkutat.
__ADS_1