
Kamu tau, aku berteman resah di penghujung gelisah. Malamku kelam, tapi pekat membuatnya semakin terlihat. Aku berusaha melupa, tapi yang kudapat justru aku semakin ingat. Aku benci, terlebih dengan diri sendiri. Terlalu sering menyakiti, atau terlalu mudah disakiti. Aku berusaha tidak menyapa, tapi angin malam melambaikan semilirnya. Dan pada akhirnya aku kembali lemah hanya karena lengah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Lupakan," ucap Sherly seraya turun dari pangkuan Dave.
"Wanita selalu benar! Ingat prinsip itu baik-baik Dave. Dia yang kamu cinta, tentu saja dia yang paling sempurna. Kamu memilihnya, berarti siap menerima kekurangannya," rapal Dave dalam diam.
"Aku mengutuk semua rasa yang berani bertahta. Aku hanya memiliki satu cinta dan itu hanya untuk Dave Anggara bukan Brian Pradana ataupun Bernard Pradipta," ucap Sherly bermonolog.
Dave membulatkan mata. Indra pendengarannya terpancing dengan ocehan kekasihnya.
"Apa maksudmu? Kamu menyebut nama si sialan juga?" tanya Dave tidak percaya.
Sherly mengedikkan bahu acuh.
"Bukankah semua laki-laki sialan di matamu?" tantang Sherly.
Dave menggaruk tengkuk yang baru saja merinding.
"Itu karena aku tidak ingin mereka berkeliaran di sekitarmu."
"Lalu bagaimana dengan wanita? Mereka semua? Dengan terang mendekatimu lalu dengan lancang kamu mendekatinya.
" Tidak bukan seperti itu."
Sherly tidak peduli. Dia terlalu naif dengan percintaannya sendiri. Dalam sejarah peradaban, wanita itu hanya berusaha tentang bertahan hidup di dunia, tapi sekarang masalah cinta menjadi rumit dan sumber kebimbangan dalam benaknya.
Waktu bergulir sangat lambat membuat dua manusia yang berada di tempat selalu beda pendapat. Dave sesekali melirik ke arah Sherly. Dia benci situasi setegang ini. Namun bagaimanapun, bukankah laki-laki yang harus memahami? Dave memberanikan diri membuang lapisan tebal yang membentang tinggi.
"Bee," panggil Dave.
Sherly mengamati Dave. Tanpa membuka suara, wanita itu justru menyatukan kedua alisnya. Keduanya menggunakan bahasa isyarat sebagai komunikasi.
Bahasa verbal mendadak jadi trending di lingkup mereka. Dave turut menyatukan alis, tapi sedetik kemudian sadar jika apa yang dilakukan wanita tidak boleh dilakukan oleh pria.
"Baiklah, Nona Sherly menang segalanya," batin Dave.
Jika diam menjadi secanggung ini, kenapa Dave masih juga menunggu Sherly. Wanita tidak pernah mengerti jika ada yang menanti. Bukan tidak, terkadang kaum hawa paham dengan nyata jika ada yang menunggunya, namun banyak diantara mereka yang pura-pura tidak mengetahuinya.
Dave mengedipkan mata. Menyatukan kelopak atas dan bawah dalam beberapa saat. Membiarkan dua anggota tubuh yang saling berdekatan untuk saling menguatkan.
Sebagai respon, Sherly hanya mengerucutkan bibir. Seolah dengan tindakannya Dave akan paham apa maksudnya.
"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir Sherly membuat sang empu harus menyembunyikan semburat merahnya.
Dave ingin tertawa karena ulah Sherly, tapi melihat mata bulat seolah ingin menguliti membuat Dave urung. Laki-laki itu menunduk lalu mendesah samar sebagai bentuk ekspresi sabar.
"Nafasnya biasa aja. Nggak usah gitu juga," sindir Sherly.
"Oh my!" pekik Dave.
Tangan kanan refleks mengusap dada bidangnya. Dave kembali menguatkan diri. Bukankah dia sudah terbiasa dengan Sherly yang seperti ini?
Diam dan semakin canggung. Itulah yang Dave rasakan. Suasana mencekam seolah mendung telah berwarna kelam. Sherly berdiri lalu menciptakan suara antara sandal yang di pakai dan lantai yang dipijaki.
Bumi bergetar, seperti halnya hati Dave yang tengah gusar. Setelah nama laki-laki asing disebut, lalu tentang kemunculan hal aneh pada perusahaan Sherly dan kejadian misterius yang terjadi saat dirinya mengambil cuti.
"Dyarr"
Dave kaget saat suara bantingan pintu memenuhi indra pendengarannya. Laki-laki itu segera berlari menuju kamar Sherly. Dave menggapai gagang pintu lalu menariknya pelan. Tidak dikunci, maka dia segera masuk.
Bola matanya menyapu seluruh ruangan. Kamar yang pernah menjadi saksi bisu antara dia dan sang empu. Dave menapaki keramik putih dengan pelan. Laki-laki itu menghitung berapa detik yang dibutuhkan untuk menyimpan setiap jengkal kenangan.
Satu, dua, tiga, begitu seterusnya Dave merapal dalam dada. Ini bukan pertama kalinya, tapi entahlah. Apa yang Dave rasakan selalu bisa memancing kegugupan. Sherly bukan wanita pertama yang dicinta, tapi wanita itu bisa membuat Dave merasakan apa yang belum pernah dia rasakan.
Benaknya melayang jauh mengingat saat dimana dia dan Cellin masih bersama. Dave bahkan tidak sudi lagi menyebut namanya, tapi apa yang pernah terjadi tentu saja tersimpan dalam hati.
Bohong jika Dave mengatakan lupa semuanya. Laki-laki itu hanya tidak ingin teringat luka masa lalunya. Lalu bagaimana dia mengatakan kepada Sherly tentang mantan satu-satunya.
Wanita dewasa berbalut pakaian sederhana menjadi pemandangan utama. Dave lega, akhirnya bayangan mantan tersisih oleh kenyataan. Betapa Dave merasa sangat bahagia saat sadar siapa Sherly sebenarnya.
Hanya laki-laki terkutu* yang rela meninggalkan wanita pemilik masa depan demi gua di tengah selangka*gan. Dave mendekat. Dia duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Sherly merasa ada yang bergerak, tapi wanita itu mencoba biasa saja. Untuk saat ini dia berusaha agar buta. Melihat Dave sama saja menyiapkan sebuah bara. Bara yang siap dinyalakan kapan saja.
Dave mengusap rambut Sherly membuat pemiliknya menoleh ke sumber keajaiban. Bola matanya membulat. Wanita itu menatap lawan bicara dengan lekat. Dekat dan hangat. Itulah yang ada di pikiran Sherly.
"Kenapa diem hm?" gumam Dave pelan.
Pandangan Dave terkunci di bola mata Sherly. Begitu juga dengan wanita di depannya. Sesering apapun mereka mengamati obyek yang sama, tapi tetap saja tidak mengenal kata bosan.
"Meski hanya sepersekian detik. Meski hanya sebuah lirik. Aku merasa sebuah tawa hadir di sana. Menyelinap dalam dada. Bersama semburat merah, lekukan rikma membuatku ingin mendes*h," batin Sherly.
Melihat kekasihnya tengah melamun, dengan jahil Dave mengacak rambut Sherly. Bukan lagi moment indah yang tercipta, tapi suasana kecewa yang dirasa. Sherly merengut. Wanita itu cemberut. Dave tidak pernah tau apa yang diinginkan. Namun hal lain tetap saja membuat laki-laki itu jadi pemenang. Dave selalu bisa menciptakan tawa setelah duka.
"Dipertemukan tanpa sengaja. Disatukan karena cinta. Semoga selalu bersama hingga tutup usia," gumam Dave.
"Jika kamu memberikan kenyamanan lewat sebuah pelukan,
maka aku aman memberikan ketenangan lewat sebuah kecupan," ucap Sherly.
Bukankah menepis jarak adalah kebiasan orang dewasa? Sherly mendekat setelah Dave lebih dulu menghembuskan nafas tepat di depan wajahnya. Sherly memejamkan mata. Dia tidak sanggup melanjutkan keinginannya.
"Cup" Dave mengecup bibir Sherly.
Sherly membulatkan matanya. Wanita itu menganga bersama ekspresi polosnya.
"Cium doang? What?" batin Sherly.
"Banyak yang ingin kuceritakan, tapi malam semakin berteman kegelapan. Banyak yang ingin kusampaikan, tapi waktu membuatku sadar bahwa tidak semua harapan terkabulkan. Banyak yang sebenarnya kuinginkan, tapi kenyataan membuatku paham bahwa apa yang telah ditakdirkan tidak bisa diputarbalikkan."
Sherly merengut. Padahal sebelumny, wanita itu hampir tersenyum bahagia. Dave terlalu pinter membuat dada Sherly bergetar.
"Sial!" umpatnya.
Dave tersenyum lalu menghampiri bibir kekasihnya.
"Cup"
Sekali lagi Dave mengecup singkat. Hal itu membuat Sherly ingin terus mengumpat.
"Bisakah kamu mengontrol libidomu?"
"Ssttt" bukan menjawab, Dave justru menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Kamu terlalu manis nona, tapi terlalu dini untuk kucicipi."
Sherly mencebikkan bibir. Ingin rasanya dia menggigit Dave saat itu juga, tapi biarlah. Untuk hari ini Sherly akan melepas harinya dengan tuntas. Dia berusaha lupa akan drama yang tercipta.
"Huuftt" Sherly menghembuskan nafas kesal.
"Apakah kita tercipta untuk bersama? Lalu bagaimana dengan cerita yang belum kita ketahui akhirnya?"
"Jika aku tau, aku pasti memilih untuk mengenalmu lebih dulu."
"Jika saja aku bisa, aku memilih untuk tidak pernah terluka."
"Kecewa itu biasa, tapi tertawa karena terpaksa sungguh menyiksa."
Ucapan Dave benar. Entah bagaimana, Sherly selalu berakhir dengan memejamkan mata mengingat semua. Mantan sialan itu selalu datang meski hanya sebuah bayang.
"Kamu berada di bawahnya, tapi perlahan menggeser posisinya," ucap Sherly lemah.
"Tidak harus menggeser karena suatu saat dia pasti lengser."
"Kamu punya porsi tersendiri di dalam hati. Dia memberi luka, sedangkan kamu berusaha membuatku tertawa."
"Bahagiamu sederhana. Kamu cukup dimengerti, tidak dengan disakiti."
"Dave, aku rindu," ucap Sherly.
Laki-laki itu mengangguk. Dia paham apa yang dimaksud Sherly. Maka Dave segera berdiri. Turun dari ranjang diikuti wanita yang tidak menyadari jika ada hati yang hampir tersakiti.
Pasangan bisa saja menjadi cerminan. Maka jangan pernah mengecewakan jika kamu belum siap dikecewakan suatu hari nanti. Tanpa ada kalimat yang terucap, Dave mengulurkan tangan untuk membawa Sherly ke dalam pelukan.
Hembusan nafas bisa dirasakan. Sherly merasa hatinya lebih tenang. Tidak ada yang bisa membuat nyaman selain dekapan yang Dave berikan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu kemarin, saat ini, dan nanti," ucap Dave seraya mengusap puncak kepala kekasihnya.
Sherly menempelkan telinga tepat di daerah dada. Ada suara merdu yang menarik perhatiannya. Sherly meyakini, mungkin jantung Dave sedang berdiskusi.
"Bee," panggil Dave.
"Cup" Sherly memajukan bibir untuk menyentuh ruang yang membuatnya luluh.
Bertepatan dengan kecupan singkat yang dirasakan, Dave merasa dadanya berdebar semakin kencang. Matanya membulat, sedang tubuhnya tidak bisa berkutat. Dave membeku saat itu juga. Dia tidak tau dengan kata apa menerjemahkan perasaannya.
"Dug dug dug" dentuman yang tercipta karena kegugupan membuat Sherly merasa harus terus bertahan.
Wanita itu tidak mau mengubah posisinya. Dia nyaman bersandar di dada bidang milik kekasihnya.
"Pernahkah kamu berpikir, bagaimana jika kita harus berakhir?" ucap Sherly tiba-tiba.
Dave tersenyum. Laki-laki itu tentu saja tidak menginginkan sebuah perpisahan kecuali jika mengenai pelepasan. Mengarungi gelora yang membara dengan cinta yang terus berkuasa. Otak Dave mendadak berubah liar. Dia rindu Sherly yang terus bergetar saat laki-laki itu menindihnya.
"Banyak kenyataan yang dipatahkan oleh harapan, lalu bagaimana dengan kita yang masih terus disatukan? Aku takut suatu saat kita akan dipisahkan."
"Kita pasti dipisahkan, tapi bukan karena paksaan. Kita ditakdirkan bersama, maka percayalah jika kita akan terus berdua."
"Seberapa penuh keyakinanmu?"
"Sepenuh namaku yang memenuhi rongga hatimu. Selagi bayangku terus abadi, maka aku tetap akan ada di sini."
Dave menggunakan jari telunjuknya untuk menyentuh dada Sherly. Ingat, Dave menyentuh tepat di tengah-tengah dua gundukan bukan di benda kenyal itu.
Sherly merasa harus ada yang dibiasakan. Jari itu suka seenaknya menyentuh bagian mana saja. Termasuk saat ini. Sang empu justru meletakkan di daerah rawan godaan.
"Dave, jangan," desah Sherly.
Bukan maksud wanita itu untuk mengeluarkan suara seksinya, tapi dia terlalu nyaman hingga tidak bisa untuk disuarakan. Sherly tidak bisa bicara keras seperti sebelumnya. Wanita itu takut akan merusak moment romantisnya.
"Ssttt" Dave menempelkan jari telunjuk di bibir Sherly.
"Bisakah kamu menaikkan satu oktaf untuk suaramu? Aku berusaha tuli untuk suara seperti tadi."
Sherly menetralkan suaranya. Dia berdehem sebelum akhirnya mengucapkan susunan kata.
"Dave, jangan menggoda jika kamu tau bagaimana akhirnya."
Bodohnya, kali ini Sherly justru mengeluarkan suara khas bangun tidurnya. Dave mengumpat dalam hati. Dia bersumpah akan membuat kekasihnya menyesal suatu hari nanti.
Dave melonggarkan pelukannya, kemudian mengamati keadaan Sherly. Kekasihnya masih sama. Dia adalah pemilik tubuh yang sempurna, tapi bagaimana dengan otaknya? Entah, Dave tidak paham masalah luka dalam.
"Apa kamu tidak bisa bicara normal seperti biasa? Aku laki-laki normal yang akan terus terangsan* jika kamu bicara dengan nada rendah," ketus Dave.
Sherly mengerucutkan bibir. Wanita itu mendongak melihat bola mata yang selalu membuatnya ingat.
"Bulu halus mulai tumbuh di bawah hidungmu sayang. Kenapa kamu tidak mencukurnya? Atau kamu bisa saja menyuruhku untuk mencabutnya," ucap Sherly.
Dave melepas tangan Sherly yang masih memeluknya lalu menggenggam tepat di depan dada. Dave menempelkan jemari Sherly agar wanita itu mengerti.
"Apa yang kamu rasakan hm?" tanya Dave gusar.
"Nadiku berdetak."
Dave membulatkan mata. Respon macam apa yang wanita itu berikan.
"Kamu tau apa tentang cinta?"
"Aku pernah terluka. Aku tidak bisa mendeskripsikan sebuah rasa. Semua terlalu sulit untuk kucerna. Aku pernah berharap kepada seseorang, tapi orang itu membuatku kecewa. Aku berusaha mengabadikan sisa waktuku berteman dengan sedihku hingga akhirnya aku menemukanmu."
"Sedalam lautan atau seluas alam? Seberapa tingkat kecewamu? Aku tidak menyuruhmu membahas luka baby, but i just ask about love (tapi aku hanya bertanya tentang cinta). Apa yang kamu tau tentang cinta sayang?" tegas Dave.
Sherly diam. Wanita itu nampak berpikir. Dia menyelam ke dalam lembah pancaran. Bola mata Dave selalu bisa membuatnya nyaman. Sherly bertahan karena seseorang memberikan dukungan.
"Aku merasa tenang saat jemariku digenggam. Aku merasa bahagia saat seseorang memberikan pelukan sebagai simbol tidak ingin kehilangan. Aku merasa dicintai saat seseorang dengan sabar sanggup menghadapi. Aku, em, entah, aku tidak bisa mengartikannya Dave," ucap Sherly putus asa.
"Sayang, bukan Dave. Panggil aku sayang!" sungut Dave.
Bukankah seseorang belum tentu paham dengan isyarat yang orang lain berikan? Lalu siapa yang akan disalahkan saat mereka tidak menemukan titik bernama kesepakatan. Dave saja tidak tau seberapa paham dirinya dengan cinta, tapi bodohnya laki-laki itu justru bertanya dengan wanita yang sama sekali sulit mencerna perihal rasa.
__ADS_1
Entah apa yang Tuhan rencanakan,
Aku seperti memiliki dua makna dalam kehidupan