Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Apartement


__ADS_3

​Apa kamu akan percaya jika ada yang lancang menyimpan cinta?


Haha, kenapa bertanya seperti itu Dave? Apa diam-diam kamu mengagumiku? Ah ternyata aku punya secret admirer," ucap Sherly diikuti dengan gelak tawanya.


Dave hanya bisa menunduk malu. Laki-laki itu merasa wajahnya memanas, mungkin semburat merah terlihat jelas di kedua pipinya. Dia saja tidak tau mendapat keberanian darimana hingga bisa menggoda atasannya. 


"Sial! Kenapa sekarang bibirku bisa nyolot banget sih? Padahal dulu penuh tata krama," gerutu Dave dalam hati.


"Kalau sampai apartement, jangan lupa bangunkan aku Dave. Aku mau melanjutkan tidurku yang sempat tertutunda," tukas Sherly memecah kecanggungan antar keduanya.


Bukan apa-apa, Sherly tidak pernah merasa bangga dengan pujian ataupun gombalan kaum adam. Wanita itu tahu dengan pasti jika mereka hanya menginginkan tubuhnya bukan kehadirannya. Menurut kamus di kehidupan Sherly, dia sekalu mencintai. Awalnya tulus apa adanya, tapi akhirnya menderita juga. Dan mulai saat itu Sherly memutuskan untuk beradu dengan sosok yang tidak tau malu. 


"Baik nona, have a nice dream," ucap Dave seraya mengangguk.


Perlahan Sherly mulai memejamkan mata. Tidak lupa menyuruh sopir pribadinya untuk memutar lagu mellow untuknya. Biar saja Sherly menikmati lelahnya. Wanita itu telah lama menyimpan dalam kegelapan. 


"When your gone ~ Avril Lavigne," gumam Sherly dengan mata yang sudah terasa berat.


"Baik nona. Wait a second," balas Dave.


Kemudian lagu yang diinginkan Sherly mulai terdengar di telinganya. Memenuhi lubang kepala yang membawa aliran ketenangan ke dalam otak.


"Good," puji Sherly.


Senyum tipis terbit di bibir laki-laki yang sedang mengemudi. Menjadi bagian apapun dalam hidup Sherly dengan basis pribadi.


"Supir pribadi, kapan nona mengangkatku jadi suami pribadi. Hei nona, asal nona Sherly tau hanya enam bulan bersamamu saja hatiku sudah selalu bergetar," gumam Dave.


"Eh, sial! Bibir nggak pernah peka sekarang," umpat Dave seraya menutup menempelkan jari telunjuknya di sana.


Macet menjadi hal utama saat waktu perjalanan menjadi ganda. Ditambah mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan nonanya. Menghabiskan waktu satu jam lamanya hingga Dave berhasil memarkirkan mobil di bassemant apartement.


Laki-laki itu membuka pintu di balik kemudi, lalu berjalan ke arah belakang membuka pintu untuk nona nnya.


"Nona bangun, kita sudah sampai," ucap Dave lembut.

__ADS_1


Hening, Sherly masih memejamkan mata. Mungkin saja wanita itu enggan mengakhiri mimpinya.


"Nona," ucap Dave lagi.


Sekali lagi Dave mencoba membangunkan Sherly, namun hasilnya sama. Tidak ada tanda netra wanita itu terbuka.


"Masa di gendong lagi sih? Sebenernya aku tu apanya? Mau juga gendong wanita cantik ini, tapi nggak


bisa bayangin kalau bangun terus marah-marah. Kalau disentuh dosa nggak ya?," gumam Dave menyadari antara kenyataan dan harapan yang bertolak belakang.


Dave memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Hanya Dave yang tau apa motif sebenarnya. Salah satu tangan Dave terulur menyentuh bahu Sherly. Sebenarnya dia ingin menyentuh bagian lain, tapi melakukan dengan seseorang yang sedang tidur bukanlah hal yang baik.


"Cium aja kali ya? Cium aja Dave, jarang-karang kan bisa kaya ini. Apalagi semua miliknya terlihat menggoda," bisik Dave di sisi jahat.


"Nggak boleh Dave, dimana harga dirimu sebagai laki-laki? Masa ngelakuin pas doi lagi tidur? Pelan-pelan juga pasti dapet kok," bisik sisi baik Dave.


"Hei, laki-laki mah normal kalau lihat yang bening gini. Ayo lakuin aja Dave," bisik sisi jahat lagi.


Dave menghembuskan nafas. Menahan hidungnya agar tidak mencium aroma vanila yang membuat miliknya di bawah sana terluka.


"Hanya aroma tubuhnya. Tahan Dave! Ini juga kenapa ikutan absen pake nongol-nongol segala. Bobo lagi sana woey! Nggak usah bangun di saat yang nggak tepat," gerutu Dave karena adik kecilnya juga ingin melihat Sherly dengan jelas.


Dengan sangat menyesal, Dave mengguncang bahu Sherly keras. Bukan dengan kekerasan, tapi tujuan Dave adalah agar wanita itu terbangun dengan sendirinya. Dave tidak ingin dianggap lancang oleh atasannya jika menggendong dari mobil hingga ke kamarnya.


"Nonaaa bangunn kita sudah sampai," teriak Dave tepat di telinga Sherly.


Benar saja, wanita itu tersentak refleks membelalakkan mata. Bukan hanya itu, tangan kanan Sherly juga refleks mendorong kepala Dave yang berada di dekatnya.


"Hei nona! Apa-apaan ini? Kenapa mendorong kepalaku huh?," dengus Dave kesal.


"Eh, maaf Dave," sesal Sherly setelah menyadari jika dunia nyata benar di depan mata.


"Aku bermimpi ada menggangguku saat tidur. Aku teringat masa lalu saat banyak orang berteriak di depanku," imbuh Sherly.


"Aih, malah curhat dia," batin Dave.

__ADS_1


"Hm, tapi jangan diulang lagi. Awas aku bisa saja menerkammu," ancam Dave tanpa sadar.


"Loh, ini Dave asisten ku kan? Kenapa dia mengancamku?," batin Sherly bingung.


Kendati antara sadar dan tidak, Sherly tetap mengangguk patuh kepada ucapan Dave. Seolah laki-laki itu benar ingin menerkamnya. Padahal kan disini Sherly adalah atasannya.


Sherly keluar setelah Dave membawa barang belanjaan atasannya. Sementara wanita itu membawa berkas dan dokument yang akan dikerjakan di apartemennya.


Berjalan berdampingan dengan masing-masing tangan saling membawa beban. Bukan beban hidup, tapi beban kewajiban.


Sesekali Sherly melirik ke arah Dave yang berada di sampingnya. Laki-laki itu tidak keberatan sama sekali. Bahkan selalu memasang senyum di wajah tampannya.


"Kamu tidak pernah mengeluh Dave?," tanya Sherly.


"Pernah nona, saya kan bukan laki-laki berhati baja," jawab Dave santai.


"Aku tidak pernah melihatnya," ucap Sherly lagi.


"Apa saya harus mengadu kepada anda? Saya takut dianggap banyak mengeluh karena sebenarnya saya bukan laki-laki tegar," balas Dave.


"Ting" pintu lift terbuka mengiringi obrolan keduanya.


Terdengar santai, tapi penuh misteri. Wanita yang kini membuka pintu apartementnya penasaran dengan kehidupan Dave. Terlebih karena Dave mengucapkan dia bukanlah laki-laki tegar. Padahal selama ini Sherly tidak pernah melihat raut sedih di wajah Dave.


Hanya ketampanan dan kesempurnaan yang selalu Dave perlihatkan. Namun ternyata dugaan Sherly salah.


"Apa mungkin dia punya masa lalu yang sama menyakitkannya denganku? Masa lalu? Ah aku benci. Ingin rasanya aku hanya berdiri di titik ini agar tidak perlu mengalami pahitnya kehidupan," batin Sherly.


"Kenapa nona harus mengingatkanku dengan luka itu? Aku sudah berjanji untuk tidak menceritakan kisah pilu kepada siapa saja, tapi aku tidak bisa berhenti mengenangnya jika ada seseorang yang membahas sedikit saja. Nona, please jangan tanya yang lain ya? Saya tau anda kalau kepo keterlaluan," batin Dave.


Dave, letakkan belanjaan di dapur ya. Aku mau ganti baju dulu," ucap Sherly memecah lamunan Dave.


"Eh, kita udah sampai ya? Baik nona," ucap Dave gugup.


Sherly menggeleng melihat tingkah Dave. Baru kali ini dia melihat bawahannya linglung.

__ADS_1


"Apa dia memikirkan ucapanku? Ah harusnya kamu mengabaikannya Dave," gumam Sherly.


Dua manusia dalam satu tempat yang sama. Mereka sebenarnya sama, tapi tidak ada satupun yang menyadarinya. Mungkin nanti, saat waktu sudah membuat mereka semakin dekat.


__ADS_2