Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Kesepian


__ADS_3

Selemah apapun langkahmu, yakinlah jika apa yang menjadi tujuan adalah hal yang kamu perjuangkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sherly memasuki lobby lalu berjalan menuju lift. Menaiki benda itu sebenarnya hanya beberapa menit, tapi Sherly merasa beberapa jam. Apa mungkin Sherly merasa kesepian? Pasalnya selama ini Dave selalu menemaninya.


"Ting" lift terbuka.


Segera wanita itu keluar dari benda berbentuk kotak kemudian melanjutkan jalan menuju apartemennya. Memasukkan kode akses lalu mendorong pintu agar terbuka sempurna.


Tempat ternyaman kedua setelah yang pertama kekasihnya. Sherly tersenyum mengingat perlakuan manis Dave. Dia lebih romantis daripada Brian.


"Eh, kenapa aku bahas Brian sih," sesal Sherly.


Wanita itu melangkah ke arah kamar kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang.


"Wuushhhh"


Sherly tidur terlentang. Dia mengamati langit-langit kamarnya. Di sana tidak ada siapa-siapa. Namun Sherly merasa ada Dave di atasnya.


Laki-laki yang dicintai tersenyum ke arahnya. Melambaikan tangan lalu mengucapkan selamat malam.


"Selamat malam juga Dave."


Biarkan orang lain menganggap seorang CEO Angel gila. Wanita itu tidak peduli dengan apa yang orang lain kira. Dia hanya ingin bermain dengan fantasinya. Dave telah membuat hidupnya kembali berwarna setelah Brian membiarkan Sherly bersandar, tapi berakhir dengan mengubah hidupnya menjadi hambar.


Bagaimana waktu bicara jika hidup tanpa dia saja sedetik terasa lama. Sherly menggenggam cincin yang dipakainya. Bahan keramik hitam yang sama dengan milik Dave memaksa Sherly ingat dengan laki-lakinya.


Sejak kapan cinta tumbuh di hati nonanya? Sang empu saja tidak menduga kalau dia bisa kembali jatuh cinta. Awalnya tidak percaya. Namunlambat laun hatinya merasa berbeda. Sherly semakin sadar jika dadanya selalu berdebar.


Seulas senyum terbit saat wanita itu ingat. Dave memeluknya dari belakang. Cincin dan jam tangan menjadi saksi kepemilikan. Tanpa sadar Sherly meraba pinggangnya. Berharap di sana masih ada aroma Dave yang tertinggal.


Tanpa sadar lagi, Sherly mengusap ruang kosong di sampingnya. Di sana Dave pernah tidur di sampingnya. Astaga, apa Sherly begitu bodoh membiarkan pria terbaring di sisinya?


Sherly merenung, pikirannya melayang jauh bagaimana perjalanan hidup sebelum akhirnya seperti saat ini. Wanita itu berusaha melupakan, tapi selalu gagal. Dia berusaha mengenang, namun hatinya merasa tidak tenang.


"Huuufttt" Sherly menghembuskan nafas kasar.


Dia bangkit dan melangkah menuju lemari. Tumpukan pakaian laki-laki tersusun rapi. Sherly terkekeh sendiri. Wanita itu mencomot satu kaos.


Tidak diduga, apa yang dia bawa justru membuatnya semakin tertawa. Aroma itu masih sama, meski sudah ditinggal pemiliknya sekian lama.


Lama atau baru sebentar? Sherly mencoba mengingat kapan terakhir dia berada di kamarnya. Jujur saja Sherly rindu memeluknya. Rindu aroma parfum miliknya, juga rindu dekapannya.


"Rindu itu berat, biar aku saja yang terpikat," gumam Sherly.

__ADS_1


"Cup" Sherly mencium setiap inchi kain yang dipegangnya.


Pikirannya melalang buana. Hasratnya semakin hebat. Aroma maskulin yang mempu membuatnya tenang terus terngiang. Sherly merindukan kecupannya. Ternyata dia yang datang tidak sama dengan dia yang pulang.


"Kamu lagi apa? Aku ingat saat kita bersama."


Sherly menyangkal adanya perasaan untuk laki-laki itu. Dia mencintai Sherly, tapi Sherly mencintai sosok lain.


"Ddrrrttt ddrrtt ddrrtt" getaran ponsel memenuhi indra pendengaran, tapi Sherly enggan.


"Drrtt ddrrtt dddrrtt" benda itu bergetar lagi.


Sherly diam, dia berusaha mengabaikan. Wanita itu masih menikmati kenangan yang tidak akan terulang.


"Drrrtt dddrrtt ddrrtt" untuk ketuga kalinya benda pipih itu mengeluarkan suara.


Saat itu juga Sherly bangkit menghampiri dengan malas. Masih menggenggam pakaian pria, Sherly mengamati layar di depannya.


Dua panggilan tak terjawab dan satu panggilan masuk. Semua adalah Dave pelakunya. Sherly menggeser layar hijau lalu meloudspeaker suaranya.


"Hallo Dave," ucap Sherly.


"Sher, perusahaan kita ada masalah. Beberapa investor memutuskan kontrak kerja sama," ucap Dave.


Wanita yang berstatus CEO Coorporation itu panik, tapi sebisa mungkin menetralkan suaranya.


"Aku nggak tau sher, tapi barusan aku dapat email dari divisi marketing kalau ada kecurangan di sana."


"Dave, jangan bilang kalau Brian bisa ikut metting intern karena orang itu? Kamu tau tugas kamu apa kan?"


"Iya nona. Saya akan mencari tau secepatnya. Besok pagi berkasnya sudah ada di meja kerja anda."


"Bagus. Lakukan dengan baik."


"Tutt tutt tutt" panggilan terputus secara sepihak.


Sherly mengerutkan dahi. Tidak biasanya Dave memutuskan panggilan. Dan apa katanya tadi? Dave bahkan memanggilnya dengan sebutan nona.


"Dave? Dia berbeda. Ada yang janggal di sini."


Di dalam apartement Sherly merasakan kepanikan. Ini memang hasil kerja kerasnya, tapi tidak dipungkiri ada rasa takut luar biasa. Sherly tidak bisa membayangkan jika perusahaan yang dipegang mengalami kerugian.


Selama menjadi CEO, Sherly tidak pernah berpikir sepanik ini. Apa yang dilakukan selalu membuahkan hasil. Kontrak kerjasama, pemegang tender, dan semua pemilik perusahaan lain selalu bisa Sherly tangani.


Semua berjalan mulus. Bahkan hampir dikatakan Sherly bisa menembus seratus persen angka keberhasilan. Dan sekarang?

__ADS_1


"Big no! Ini nggak boleh terjadi."


Wanita itu mencari nomor Dave lalu mendial panggilannya. Berdering, tersambung lalu terputus. Sherly mencoba lagi. Sekal, dua kali, hingga belasan kali. Nomor Dave tetap tidak bisa dihubungi.


Sherly semakin menjadi. Dia tidak tau apa yang akan dilakukan. Wanita itu memang telah menyuruh asistennya, tapi dia tidak bisa berdiam diri di apartementnya.


"Dave angkat," gumam Sherly.


Hening.


Sherly mencoba lagi.


"Tutt tutt tutt" belum sempat berdering, panggilan itu sudah terputus.


Keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Make up yang tadi dipakai hampir luntur karena peluhnya. Ini untuk pertama kali Sherly berpikir bagaimana nasip ribuan karyawannya. Mereka memiliki keluarga. Nasipnya menentukan kehidupan anak istri. Tidak seperti Sherly yang masih sendiri.


Sherly terus mencoba menghubungi Dave, tapi masih tetap nihil. Laki-laki itu tidak biasanya seperti ini.


"Apa Dave turut andil dalam semua ini? Bagaimana dengan cinta? Apa dia hanya pura-pura?"


"Kalau Dave cuma bercanda, dia pasti sedang tertawa."


Sherly tulus mencintai, tapi kenapa semua menjadi seperti ini?


Dave berubah. Dia tidak ada saat Sherly membutuhkannya. Sherly ingin meronta atas kebodohannya, tapi mungkin saja semua akan sia-sia.


Jika tadi hanya peluh yang membasuh wajahnya, kini air mata mikiknya juga ikut luruh. Dalam diam Sherly mengeluarkan tangisnya. Wanita itu terisak. Dia tidak punya siapa-siapa.


Dulu ia pernah mencinta, tapi Brian menyakitinya. Sekarang saat Sherly menganggapnDave adalah hidupnya, laki-laki itu oergi entah kemana.


Pikiran buruk mulai bertengger di kepalanya. Dia tidak bisa menghubungi, apakah dia juga akan dibohongi? Sherly hanya sendiri. Anak yatim piatu yang hidup dalam kelamnya masa lalu.


"Tuhaaannnnnn!!!" teriak Sherly.


"Higkkss higkss highkss" Sherly kembali terisak.


Wanita itu merasa dadanya semakin sesak. Dia mencoba mengingat, sepertinya dia bukan wanita jahat. Tapi kenapa takdir memoermainkannya?


Sherly melempas ponselnya begitu saja. Dia membuarkan seluruh air mata tumpah dengan sendirinya. Sherly tidak peduli dengan wajahnya esok hari. Saat ini dia hanya ingin sendiri.


Langit kamar menjadi saksi. Apa yang tadi dibanggakan sekarang berubah menyakitkan. Sherly mencoba memejamkan mata. Namun kelopaknya seakan tidak bisa. Matanya mulai berat. Sherly selalu mencoba terlelap.


Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Sherlymenghitung deretan bilangan caca. Tujuan utama adalah mempercepat menuju alam khayalnya.


Sementara di tempar yang berbeda, Dave tertawa. Dia bahagia. Sungguh, hal itu tidak pernah ia duga.

__ADS_1


Tidak ada yang tau bagaimana akhir hidupmu. Bisa saja dia yang kamu cinta adalah dia yang selalu membuatmu kecewa.


__ADS_2