Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Kotak Coklat


__ADS_3

Kepada malam yang telah memberikan penghujungnya


Sudikah engkau berbagi kehangatan di singgah sana


Aku merindukan dia,


Tapi waktu tidak mengizinkan kita untuk bersama


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kamar selalu menjadi tempat sakral, maka Dave memilih untuk meninggalkan. Laki-laki itu membawa kekasihnya menuju ruang tamu. Dia menepuk sofa kemudian mempersilahkan Sherly untuk menempati.


"Duduk bee," perintah Dave.


Sherly mengangguk. Dia melakukan apa yang Dave perintahkan.


"Dave," panggil Sherly saat Dave hendak beranjak pergi.


"Mau kemana?" imbuhnya.


Dave tersenyum seraya mengusap puncak kepala Sherly. Tidak menjawab, Dave justru melenggang pergi. Seolah laki-laki itu lupa siapa pemilik apartemen yang sesungguhnya.


Selepas kepergian Dave, Sherly hanya menggelengkan kepala. Benar dugaannya, dia tidak salah menempatkan predikat kepada Dave-nya. Laki-laki itu akan menciptakan tawa saat melihat sang kekasih berduka.


Rumput tidak selalu bergoyang, tapi mengapa manusia sering belajar menjadi pecundang. Bukankah setiap langkah adalah anugrah, tapi mengapa Sherly merasa ada yang salah.


Wanita dengan piyama bermotif kartun mulai menjelajahi setiap benaknya. Dia beruntung memiliki Dave yang selalu menyimpan sejuta kejutan.


"Bee."


"Ha?"


Sherly terlonjak kaget. Dia baru akan bertemu dengan dunia halu, tapi suara bariton membuatnya urung melakukannya.


"Kenapa Dave?" ucap Sherly pelan.


Wanita itu masih berusaha menetralkan debaran jantungnya. Bukan berdebar karena jatuh cinta, tapi karena kedatangan Dave yang tiba-tiba. Sherly mengusap hidung peseknya membuat Dave mengerutkan dahi tanpa sadar.


"Kamu kenapa sayang? Do you fine (apa kamu baik-baik saja)?" tanya Dave.


"Kamu nggak lihat aku panik gini Dave? Aku tuh kaget tau. Kamu nggak tau kan gimana rasanya lagi mau halu tapi diganggu. Baru aja aku mau ketemu rangkaian cerita yang ada di dalam sana, eh tiba-tiba ada suara tanpa."


"Bee, kamu nyalahin aku? Lagian kenapa kamu jam segini malah halu? Kurang pelepasan? Atau kurang belaian?"


Menggoda Sherly menjadi hobi tersendiri. Entah sejak kapan Dave bisa seberani ini. Dia saja lupa kapan pertama kali melakukannya.


"Kurang pelepasan? Hei, aku ini masih perawan ngapain butuh pelampiasan. Hidup masih panjang Dave, dan **** ***** di bawah sana belum pernah tersentuh sedikitpun."


"Yakin belum pernah? Kamu lupa kalau sering berada di bawahku? Oh ya, bee misal nih kita nggak bisa bersatu aku nggak bakal maksa apapun sama kamu."


"Loh kok gitu? Berarti kamu nggak ada usaha buat ngeyakinin aku dong? Gimana sih katanya cinta kok sekarang jadi gini. Dave, kamu kok sekarang jadi bar-bar gini sih," omel Sherly.


Semakin wanita itu mengeluarkan ocehan, semakin suka Dave memberikan godaan. Dave diam, dia menyusun rencana apa yang akan dilakukan. Sherly menatap tajam ke arah kekasihnya.


"Daaveeee!!!!!"


"Apa sih bee? Kamu kenapa suka banget teriak di telinga aku? Sengaja biar pendengaranku terganggu ya?"


"Bodo amat," ucap Sherly acuh seraya menarik Dave agar duduk di ruang kosong sebelahnya.


Tujuan Sherly benar membawa Dave ke sisi kanan, tapi sang target salah sasaran.


"Brukk" Dave sengaja menjatuhkan diri tepat di atas Sherly.


Refleks wanita itu memeluk erat kekasihnya. Dave mengerutkan dahi. Respon Sherly jauh dari ekspektasi.


"Kok dipeluk sih? Harusnya kan kamu teriak terus marah-marah," gumam Dave.


Mendengar ucapan Dave, Sherly langsung mendorong sosok perkasa yang berani mendaratkan tubuh di atasnya. Dave terjungkal, laki-laki itu menyentuh lantai. Tidak lupa pantat adalah anggota tubuh yang pertama merasakan nikmatnya keramik putih.


Dave tidak suka drama dengan adegan slow motion. Laki-laki itu bangkit dan duduk dengan benar di dekat Sherly. Tangannya menggapai Sherly, lalu membalikkan tubuhnya. Sesering apapun mereka bersama, nyatanya Dave tidak juga memiliki nyali yang sempurna.


Gugup selalu menjadi alasan utama. Entah karena apa, Dave tetap saja merasa takut saat menghadapi Sherly. Situasi canggung memaksa Dave terus mengutuk hasrat yang sulit dibendung.


Sesak kian menerpa kala dingin berkabut lara. Udara mendadak hampa seolah dua insan itu hanya mendapat sisa. Dave merasa kegiatan bernafasnya tidak teratur. Seperti halnya dengan kerasnya batu yang hampir lebur.

__ADS_1


"Tik tik tik" suara kedipan mata menjadi iringan untuk mereka.


Mungkin semua akan bahagia jika keduanya berada di situasi yang semestinya. Bukan keadaan canggung yang tidak diminati mereka. Dave penciptanya, maka Dave pula yang harus menyelesaikannya.


Jemari Dave menggapai sebuah kotak yang tadi dibawanya. Benda itu sempat berpindah tangan karena tragedi salah paham. Kini saatnya Dave memulai sesuatu yang telah ia rangkai.


"Do you love me?" ucap Dave seraya mengulurkan sekotak coklat.


Itu bukan pertanyaan, tapi sebuah pernyataan. Sherly mengangguk kemudian menerima pemberian Dave.


"Do you marry me?" (Maukah menikah denganku)?"


Sherly tersenyum. Dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan konyol dari kekasihnya. Awalnya dia tidak berani membayangkan kalimat terlarang setelah mantan sialan yang berani menukar kehormatan Sherly dengan pengkhianatan yang katanya disesali.


"Why? You're smile? (Kenapa? Senyummu)?" Dave menggantung kalimatnya.


"Aku tidak tau ada makna apa di sana, tapi sepertinya semua hanya tentang luka. Aku boleh saja tidak hadir di masa lalumu, tapi bukan berarti aku tidak memiliki kesempatan untuk membahagiakanmu. Cinta ada karena terbiasa. Benih itu tumbuh karena pupuknya. Lalu puncaknya, saat kita sama sama mencintai maka kita akan berusaha untuk saling melengkapi."


"Aku belum bisa lupa sepenuhnya. Semua terlalu sulit. Dia bullshit. Aku membencinya."


"Jika dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu. Dia bodo* memilih wanita yang tidak mencintainya. Lalu saat ini dia berambisi untuk memilikimu seutuhnya? Never sayang. Aku tidak pernah membiarkan hal itu terjadi."


Dave melihat gumpalan mendung yang terus bergabung. Awan itu hampir meneteskan rintiknya. Dengan sigap Dave mengecup kedua netra yang tengah bercerita.


"Cup! Aku berada di bola mata sebelah kanan, maka ingatlah jika aku tidak akan pernah melakukan pengkhianatan. Tujuan hidupku adalah kamu. Yakni membawamu hidup ke dalam kebahagiaan."


"Cup! Aku juga berada di bola mata sebelah kiri. Maka jangan pernah kamu berniat untuk pergi. Kita akan terus seperti ini hingga tutup usia nanti," imbuhnya.


Sherly merasa hatinya bahagia. Entah rasa apa yang kini tercipta. Wanita itu susah payah menahan isak. Dia ingin menunjukkan bahwa Dave layak untuk diperjuangkan.


"Cup" Dave mencium bibir Sherly untuk mengakhiri.


Kedua tangannya menyapu kantung mata. Cinta telah ada di hati keduanya. Mereka harus mempertahankannya. Dave membuka telapak tangan Sherly lalu meletakkan coklat itu di atas garis kehidupannya.


Sherly menyadari satu hal. Dia hampir lupa apa yang Dave berikan. Wanita itu tersenyum untuk menutupi kebodohannya. Raut menyesal terpancar jelas di sana.


"Terima kasih Dave," gumam Sherly lirih.


Dave tersenyum simpul. Tanpa menjawab, Sherly sudah tau apa maksud kekasihnya.


Putaran waktu masih sama seperti dulu. Detik itu tetap saja bergulir tanpa ditunggu. Namun tidak untuk seseorang yang tengah menunggu.


Tidak dipungkiri Sherly mampu tertawa hanya karena hal biasa. Wanita itu bisa membeli sendiri, bahkan sepuluh kali lipat dari yang ini.


Sudut bibirnya tertarik menandakan sang empu tengah tersenyum. Dia bingung mengutarakan perasaannya. Kenapa harus hal kecil yang bisa membuatnya tertawa.


Hembusan nafas yang tidak biasa memaksa Dave terang-terangan melirik sosok di sampingnya. Pandangan mereka bertemu. Empat bola mata itu saling mengadu.


Sepersekian detik. Dave masih ingin mengamati, tapi Sherly lebih dulu berhenti.


"Dave."


"Hm."


"Jangan menatapku seperti itu."


Dave menaikkan salah satu alisnya. Dia tidak tau ada apa dengan kekasihnya. Laki-laki itu merasa ada yang berbeda. Tidak ada dalam sejarah agar Dave berhenti bekerja keras. Maka dia kembali untuk mengamati.


Sorot tajam itu memberi peringatan kepada wanita yang ada di dekatnya. Dave seolah menelanjangi, padahal dia sama sekali tidak menyentuh Sherly.


Dadanya berdebar. Jantungnya memompa aliran darah lebih cepat. Sherly merasa ujung kaki terasa panas sendiri. Wanita itu memejamkan mata karena tidak mampu menahan kegugupannya.


Tanpa mempedulikan Sherly, Dave membuka kotak pemberiannya. Dave kehabisan topik, sedangkan Sherly tidak bisa berkutik.


"Plak" Sherly menampol tangan kanan Dave.


Refleks laki-laki itu menarik tangannya kembali.


"Kenapa?"


"Katanya udah dikasih aku, kok mau diambil lagi," sungut Sherly.


"No baby, aku cuma mau bukain buat kamu. Habisnya dari tadi nggak diapa-apain cuma dibawa aja."


Baru saja Sherly membuka sedikit bibirnya, Dave telah lebih dulu menyela. Laki-laki menyumpal bibir Sherly dengan bibirnya.

__ADS_1


"Cup" kecupan yang singkat, padat, dan jelas.


"Oh shit!" umpat Sherly dalam hati.


Karton kotak dibentuk sedemikian rupa. Disulap menjadi bungkus kado dengan hiasan pita di atasnya. Dave membuka pita itu perlahan disusul dengan membuka karton kotak yang telah disulapnya. Sherly terus mengamati meskipun wanita itu masih mengumpat dalam hati.


Lembaran kertas dengan potret mereka menyambut kehadiran keduanya. Dave sekilas melirik ke arah Sherly. Wanita itu menampilkan semburat merah di kedua pipinya.


"Semoga kamu suka," gumam Dave.


"Aku suka sayang, ini tuh keren banget," puji Sherly.


Respon yang cepat. Sherly terlihat antusias maka Dave terus melanjutkan aksinya. Laki-laki itu mengambil gambar mereka lalu memberikan kepada kekasihnya.


Dua manusia yang tengah tertawa. Pantai sebagai background utama sedang Sherly dan Dave menjadi titik fokusnya. Dave duduk di atas batu karang. Kakinya sedikit terbuka seolah menyiapkan ruang untuk seseorang. Sherly duduk di salah satu paha milik Dave. Wanita itu memegang tengkuk kekasihnya. Sementara Dave menarik pinggang Sherly agar lebih dekat.


"Dave, ini foto kapan?"tanya Sherly.


Jiwa ingin tahu tidak bisa untuk ditunggu. Saat itu juga Sherly lupa siapa yang tengah dihadapi.


" Do you forget?" (Apa kamu lupa)?"


Dave menekuk wajahnya. Moment terindahnya dilupakan begitu saja. Ada sebersit rasa menyesal saat melihat respon Sherly yang terkesan natural dan berperasaan.


"Andai kamu tau, aku hanya ingin satu hal yakni membuatmu bahagia tanpa kamu menyadarinya. Bee, aku sengaja nyuruh orang, buat ngambil foto kita pas kaya gini. Eh nggak taunya malah kamu udah buat aku ngrasa nggak berguna," batin Dave.


Coklat dengan potongan kecil memenuhi indra penglihatan. Di sana tersusun rapi untaian kata. Dave tidak tahu motif apa di balik perlakuan manisnya, mungkin saja laki-laki itu hanya ingin memberi kejutan kepada Sherly-nya.


"Y o u a r e m y w o r l d," Sherly mengeja setiap kata yang ada.


Dave tersenyun sinis. Bayangan Sherly yang lupa akan kenangan manis muncul begitu saja.


"Aarrrghhh" Dave mengacak rambutnya putus asa.


"Cup" Sherly mendaratkan kecupan kecil di leher Dave membuat Dave berhenti dari kegiatannya saat itu juga.


Dave membulatkan mata. Dia hampir saja kecewa untuk yang kedua, tapi Sherly berhasil menggagalkannya. Tanpa menunggu lama, Dave mengulurkan tangan kanannya. Dia tidak bisa diam saat melihat sang kekasih menggemaskan.


Membuat rambut rapi menjadi berantakan adalah hobi Dave saat berada di dekat kekasihnya. Jemari itu fasih membuat pola di atas kepala. Sherly merengut, tapi Dave tertawa. Entah bagaimana dengan selanjutnya, tapi tiga puluh detik setelahnya mereka sama-sama tertawa untuk hal yang sama sekali tidak tercantum di dalam listnya.


"Big thanks honey." (Terima kasih banyak sayang)"


Tidak terasa, detik berlalu dengan cepat menurut mereka. Keduanya berbagi cerita, bercanda, juga berbagi bukti cinta. Hingga larut, barulah Dave berakhir meninggalkan Sherly yang merengut.


"Bee, aku pulang dulu. Ini udah larut," pamit Dave.


"Dave," rengek Sherly.


"Apa sayang? Iya aku tau kamu masih rindu, tapi biarlah rindumu menjadi alasan aku hadir dalam mimpimu."


"Kukira rindu menjadi alasan agar kita tetap bersama."


"Kita tetap bersama, saat ini dan untuk selamanya. Tapi malam ini biarkan jarak menjadi alasan agar kita berusaha untuk semakin takut kehilangan."


"Rindu itu berat sayang."


"Huuftt" Dave menghembuskan nafas kasar.


Dia tidak bisa melepas Sherly sendiri di sini. Namun untuk bermalam lagi, Dave tidak yakin jika masih bisa menahan apa yang diinginkan.


Di sudut lain. Di tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh Sherly, sosok laki-laki menatap ruang hampa di depannya. Dia dihadapkan oleh kenyataan yang jauh dari harapan.


Sherly Angel, nama yang cantik secantik pemiliknya. Wanita itu sederhana, tapi dia istimewa. Bukan perihal tentang kecantikan yang bisa diperjual belikan, tapi tentang hati yang tidak boleh tersakiti.


Kadang yang membuatmu menyesal bukan karena hadir di waktu yang salah, tapi ketidakmampuanmu untuk membuang gelisah. Selama apapun kamu bersama, jika tidak ditakdirkan untuk berdua, maka alam punya cara untuk memisahkannya. Sebaliknya, jika dia tulang rusukmu, sejauh apapun jarak yang menggebu pasti akan luruh bersama rindu.


"Aku merindukanmu. Bisakah waktu berhenti di masa lalu? Semua terlalu rumit, kenapa harus aku yang dipersulit?" gumamnya.


Mencintai, apakah rasanya sesakit ini. Saat seseorang yang hadir membuat sedihmu berakhir, apakah yakin jika dia adalah sosok yang terakhir? Dunia pandai menyimpan cerita. Alam telah menyiapkan skenarionya.


"Jika yang saling mencintai saja bisa saling tersakiti, lalu bagaimana dengan cinta yang hanya untukku saja? Aku menyayanginya, tapi kenapa dia tega? Aku pernah berkata bahwa aku mencintainya, namun hal lain terpaksa membuatku terluka."


Bukankah saat kamu memulai pertemuan sama saja kamu membuka gerbang perpisahan? So nikmatilah waktu yang hanya sebentar saja. Jangan menyalahkan, kamu yang terlalu bodoh dengan permainan.


"Aaarrgghkk" desahnya putus asa.

__ADS_1


__ADS_2