
Dinginnya es yang beku masih kalah dengan dinginnya sosokmu. Kamu angkuh, tapi selalu membuatku luluh karena kemanapun aku pergi, tetap saja kamu adalah tempat untukku berteduh.
Hari yang seharusnya melelahkan berubah menjadi hari paling berkesan. Dave mendapat keberuntungan atas buah dari kesabaran. Setelah Sherly mengeluarkan makanan untuk tamunya, mendadak tamu tidak tau diri itu menawarkan sebuah kesepakatan.
Meskipun lebih mirip dibilang seperti keinginan karena semua yang diutarakan Dave adalah harapan. Saat ini mereka berada di salah satu bioskop ternama. Tentu saja menebus kesalahan Sherly kepada Dave.
Menonton film genre romance dengan suasana remang adalah permintaan Dave sebelum laki-laki itu menyuarakan apa kesepakatannya.
"Mau tittle apa sher?," Dave berteriak karena Sherly sibuk dengan ponselnya.
"Terserah Dave. Ngikut jadwal yang ada aja," jawab Sherly pelan.
Wanita itu tidak peduli lawan bicaranya mendengar atau tidak. Meskipun saat ini berada di keramaian, Sherly masih enggan menunjukkan kedekatannya dengan Dave. Dia tidak ingin Brian atau siapapun melihatnya lalu berbuat buruk kepada Davenya.
Menunggu adalah hal yang sangat membosankan, tapi tidak bagi Dave. Dari jarak beberapa meter laki-laki itu bisa leluasa memandang wajah cantik calon wanitanya. Ah Dave, rasanya terlalu percaya diri hingga berani merubah status atasannya menjadi seperti ini.
Lima belas menit berdiri, akhirnya Dave mendapatkan dua lembar tiket untuk bisa menyaksikan apa yang akan ditampilkan di ruangan lebar dengan gelap menjadi saksi.
"London Love Story," gumam Dave.
Laki-laki itu ingin melihat reaksi Sherly. Wanita itu melirik sekilas ke arah Dave, lalu tersenyum.
"Shit! Senyummu mengalihkan duniaku," batin Dave.
Dave balas tersenyum. Keduanya dipersilahkan masuk setelah tiket diperiksa oleh penjaga. Duduk di kursi paling pojok dengan penerangan yang temaram.
Sherly tiada henti tersenyum seolah menyiratkan betapa bahagianya dia. Wanita yang hampir menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja.
"Sher."
"Hm."
"Kenapa diam?."
"Aku lagi jalan Dave, perasaan kamu juga masih megangin tangan ku," Sherly mulai menggerutu karena wanita itu tak kunjung sampai di seat yang menjadi tempatnya.
"Jauh banget ya? Kenapa juga dapet kursi di pojok."
"Bukankah ini keinginanmu hm? Mana ada asisten berani mengajak atasannya kencan."
__ADS_1
"Uppss keceplosan," Sherly lalu tertawa atas sindiran yang dilintarkan untuk Dave.
Sementara sang korban sudah menatap tajam ke arah Sherly. Siap memangsa siapapun yang ada di hadapannya. Termasuk seorang Sherly Angel wanita yang berstatus atasannya.
"Ingatlah pepatah mulutmu harimaumu nona?," Dave balas menyindir Sherly.
Tanpa dosa wanita itu memalingkan kepala untuk menatap Dave. Tiba-tiba "brukkk". Sherly menubruk kursi yang ada di sebelah kanan kakinya.
" Oh damn!," pekik Sherly kesal saat menyadari ternyata menatap Dave bisa membuatnya apes.
"Aku harus menghindari pembawa sial ini," pikir Sherly.
Namun Dave dengan sabar menarik Sherly ke dalam pelukannya. Menjadi tontonan gratis bagi menikmat bioskop sore itu. Lalu berjalan mendahului Sherly masih dengan jemari yang saling bertautan.
"Sher, harusnya kamu perhatiin jalan. Bukan malah perhatiin aku. Apa aku memiliki pesona yang mampu meruntuhkan duniamu? Hm, lagi pula kamu kan tau kalau jarak antara seat belakang dan depannya sempit. Percuma punya badan langsing kalau jalan aja kesandung."
Dave mengoceh panjang lebar, tapi Sherly hanya menganggapnya nada hambar. Sebelum akhirnya mereka sampai di kursi yang dituju, Sherly kembali melakukan kesalahan.
Saat Dave berhenti tepat di depan kursi, lalu mencocokan dengan tiket bioskopnya, Sherly justru dengan anggun duduk di sana.
"Nyet" Dave merasa pantatnya menyentuh sesuatu yang empuk.
"Oh Lord! I'm so sorry Sherly. (Oh Tuhan, maaf aku tidak sengaja Sherly),' Dave meringis lalu bangkit.
" Siapa yang bodoh? Kenapa wanita itu diam saat aku mendudukinya? Eh, sejak kapan dia melepaskan jemarinya dari genggamanku? Sial! Baru saat ini aku sadar jika anggapan ku kamu mampu membuat fokus hilang ternyata benar," batin Dave.
Hanya senyum tipis serta wajah merona yang bisa Sherly lakukan sebagai respon. Seperti tadi saat di apartementnya. Layar mati kemudian hidup menampilkan judul film yang akan diputar.
Lampu remang-remang menjadi saksi atas tubuh Dave yang hampir tumbang. Berada di dekat Sherly selalu mampu membuat raganya tertantang. Terlebih saat adegan demi adegan berputar membuat baper dua sejoli yang beberapa jam lalu baru memulai kedekatannya.
"Shit!," umpat Sherly kala melihat tokoh laki-laki mendekatkan tubuh ke pasangannya.
Dave hampir saja tertawa melihat Sherly kesal. Namun urung saat laki-laki itu memiliki ide yang mungkin saja bisa membuat wanita di sampingnya merona.
Melakukan hal yang sama seperti pemeran utama, tapi Dave sedikit berbeda. Laki-laki itu tak lagi mengikuti apa yang si tokoh perankan.
Menarik jemari Sherly ke dekapannya. Membiarkan jemari cantik itu menyentuh kaos hitam miliknya. Sementara Dave memejamkan mata.
Mendadak rasa nyaman singgah walau masih tertahan. Tidak ingin mengakui, tapi semua sudah sedekat nadi. Apa mungkin semua hanya ilusi kala Dave dengan sengaja menyambut jemari Sherly.
__ADS_1
Menempelkan jemari kekarnya di punggung jemari Sherly. Memaksa wanita itu menikmati getaran yang tercipta di dalam hati. Sesekali Dave melirik ke arah Sherly. Mengamati wanita yang bersikap santai. Namun Dave meyakini, hatinya pasti tidak seperti yang dilihatnya kini.
Romantisme kedekatan pasangan yang dipertontonkan membuat jiwa semua jomblo segera meronta. Sherly mengumpat dalam hati karena wanita itu tidak ingin Dave memahami. Bisa saja Dave melakukan yang lebih dari tadi. Oleh karena itu Sherly memilih memendamnya dalam hati.
"Bee," Dave memanggil Sherly yang pura-pura serius menikmati.
"Hm."
"Bagaimana jika aku melakukan apa yang tokoh laki-laki itu perankan?."
"Nggak Dave, kasian jiwa jomblo ku merana.".
"Kenapa merana?."
"Mereka minta disentuh seutuhnya."
"Eh," Sherly merasa bibirnya kelolosan satu kata.
Wanita itu menatap tajam ke arah Dave seolah memperingatkan sesuatu. Bibir manyun serta kedua alis menyatu menciptakan sensasi sendiri untuk Dave.
"Hai nona cantik, kenapa menatapku seperti itu?."
"Ish, dasar asisten tidak tau diri."
"Aku?," Dave menunjuk ke arah dadanya.
Tidak lupa kerutan kecil tercipta di keningnya. Laki-laki itu seolah berpikir atas apa yang diucapkan nonanya.
"Please dont like stupid! (Tolong jangan bersikap bodoh)! Berhenti bersikap sok manis Dave. Aku jomblo! Apa kamu sengaja menguji hatiku hah? Mana ada wanita yang rela hatinya dibuat berbunga lalu nanti ditinggal begitu saja? Aku masih punya hati agar tidak disakiti Dave. Aku tidak mau mengenal cinta. Apalagi untuk laki-laki yang hanya sebagai penikmat saja."
"Loh? Kenapa dia marah? Apa aku salah?," Dave bergumam, tapi naas Sherly masih bisa mendengarnya.
"Iya kamu salah Dave. Laki-laki penebar pesona. Pemilik senyum ramah kepada semuanya. Lalu bagaimana dengan hati yang katanya akan dijaga? Untung aku belum sepenuhnya jatuh ke dalam pesona yang kau punya."
Sherly hampir saja bicara seenaknya, jika Dave tidak mencium bibirnya.
"Cup! Kamu cemburu sher?," Dave bicara dengan nada sensual berharap kali ini Sherly tergoda dengan pesonanya.
Wajah Sherly berubah merah bak buah chery yang merekah.
__ADS_1
"Sial! Masuk ke jebakan Dave," umpat Sherly.