Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Berlebihan


__ADS_3

Jika kamu mencintai seseorang karena kelebihan,


Maka cintamu akan hilang saat kamu tau apa yang menjadi kekurangannya


Tapi saat kamu mencintai seseorang karena kelemahan,


Saat dia mampu mengubah lemahnya menjadi lebihnya,


Maka cintamu akan bertambah besar setelah semua berubah karenamu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hidangan cumi saus pedas manis menjadi pengisi perut mereka. Keduanya makan dengan lahap. Sesekali saling suap saat apa yang dimasukan ke mulut bisa meluluhkan lidah.


Selesai makan, keduanya kembali ke kantor. Dave selalu menjadi saksi atas apa yang terjadi. Tentang baik dan buruknya Sherly, ataupun tentang luka dan tawa wanita itu sendiri. Dave tau, dia bukanlah laki-laki pemilik segalanya. Namun dia berusaha untuk bisa menjadi apa yang Sherly inginkan.


Mobil memasuki halaman. Dia segera menuju ke parkiran. Seperti biasa, Sherly turun di depan lobby lalu berjalan pelan sembari menunggu asistennya.


Kebiasaan wanita itu adalah selalu mengamati gedung pencakar langit yang ada di depannya. Dia selalu mendongak, menyaksikan seberapa tinggi perusahaan miliknya. Lalu kemudian wanita itu akan berharap tentang masa depannya agar tidak ada yang bisa menjatuhkan.


Tentang siapapun yang pernah singgah dalam hidupmu, berterima kasihlah karena dia pernah mengajarkanmu arti masa lalu. Mungkin jika dia tidak ada, bisa saja kamu masih berada di titik yang sama.


Sherly berjalan pelan. Dia memasuki lobby disambut dengan senyuman oleh bagian receptionist. Karyawan itu juga menundukkan kepala tanda bahwa ia menghormati atasannya.


Dave sedikit berlari. Dia hampir kehilangan jejak Sherly. Peluh mulai terlihat. Sherly terpaksa mengurungkan niat. Hampir saja wanita itu mengusap peluh kekasihnya. Namun bayangan segera ditepis oleh kenyataan bahwa dia sedang berada di perusahaan.


"Selamat siang Nona Sherly," sapa karyawan yang kebetulan melintas.


"Selamat siang juga," balas Sherly.


Banyak yang menyatakan mereka adalah pasangan. Tidak sedikit juga yang mengatakan keduanya hanya atasan dan bawahan. Dalam suatu kasus, tentu ada yang modus. Banyak fakta ditambah rekayasa. Banyak juga cerita tanpa realita.


Namun di balik itu semua ada kenyataan yang sulit dipercaya. Dave berhasil mengklaim Sherly sebagai miliknya. Begitu juga dengan atasan yang sering berada di bawahnya. Wanita yang sering disapa nona, kerap kali meronta saat Dave menindihnya.


Bodoh! Kegiatan mesum apalagi yang akan Dave bahas. Dia tidak pernah lelah membicarakan apa yang telah ia laksanakan. Apalagi perihal agenda yang menurutnya sakral.


Pintu lift terbuka. Dua manusia masuk ke sana. Lalu saat benda itu kembali terbuka, mereka keluar menjauhinya. Alarm jam tangan Dave bunyi, saat ia berada tepat di ruangan Sherly.


"Tepat waktu nona. Seratus dua puluh menit atau sama dengan dua jam."


"Kek cepet banget Dave," gumam Sherly.

__ADS_1


"Selama apapun waktu, dia akan terasa cepat saat kamu bersama orang yang tepat."


Dave memulai aksinya. Ribuan kata mutiara tersusun rapi dalam benaknya. Dia tersenyum membayangkan Sherly berada di bawahnya.


"Jangan mendekat!" pekik Sherly saat wanita itu menyadari sesuatu.


Langkahnya terhenti. Dave tidak mengerti.


"Biarkan kutepis jarak agar kita selalu bersama. Bukankah realita berkata, kita akan hidup berdua?"


Sherly memutar bola mata jengah. Dia tidak pernah lelah. Bahkan rayuan yang Dave ucapkan selalu berubah.


"Dave, ada hal yang harus kamu pahami. Cinta tidak selamanya harus begini," ucap Sherly lembut.


Kini giliran Dave yang mengerutkan dahi. Dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Sherly.


"Cinta tidak selamanya begini? Lalu seperti apa yang harus kulalui?"


"Kita boleh bicara cinta. Aku tidak pernah melarangmu mengungkapkan rasa."


"Lalu?"


"Ada kalanya kita berhenti menguras tenaga. Bukankah cinta ada karena terbiasa?"


"Apa maksudmu sayang? Aku tidak mengerti," ucap Dave polos.


Sherly menggaruk kepalanya disusul gerakan kecil di belakang telinga. Drama apa yang akan diperankan kekasihnya? Dave bukan laki-laki yang tidak menguasai keadaan. Dia akan peka dengan apapun yang ada di hadapan.


Jika diam adalah emas, maka Sherly akan menjadi penambangnya. Wanita itu memilih diam. Dia lebih tidak paham jika sang bawahan sengaja menguji kesabaran.


"Bee, apa yang kamu katakan?" tegas Dave.


Sherly menunduk mengamati ubin kotak penghias lantai. Benda itu memiliki ukuran yang simetris. Tidak seperti Sherly yang bernasib tragis.


"Wanita tidak akan melepaskan laki-laki yang ia cintai, kecuali laki-laki itu mencintai wanita lain."


"Aku pernah melepaskan karena aku lebih dulu dilepaskan. Lalu bagaimana karma bicara jika disini korban yang meninggalkan? Aku kecewa karena cinta. Aku egois mengakhirinya. Kemudian takdir membawaku kepadamu. Memoriku menyimpan setiap senyummu. Inchi kulitku menyaksikan setiap kecupanmu."


"Dave, bukan ini maksudku."


"Sekalipun aku mencintaimu, aku akan berusaha menghargaimu. Aku berusaha menjaga, bukan malah merusaknya."

__ADS_1


Dave meneruskan langkah. Dia menghampiri Sherly. Tangan kanannya menyentuh pipi.


"Ada hal yang tidak kumengerti. Kenapa aku bisa luluh senudah ini? Dave, bukan ini maksudku."


"Lalu?"


Dave mengerutkan dahi. Dia benci saat Sherly tidak memahami.


"Aku hanya ingin mengajarkanmu perbedaan kerja dan cinta."


"Apa bedanya?"


Dave bukan paham, dia justru semakin buram. Sherly juga semakin kesal. Wanita itu hanya tidak ingin Dave menggoda di jam kerja. Dia takut terbawa suasana. Tapi tidak dengan Dave. Laki-laki  itu mendadak hilang kepekaan setelah membahas tentang kemesraan. Sherly tau apa yabg Dave inginkan, tapi tunggu dulu. 


Tunggulah saat dimana nikmat telah menuju tingkat. Bukan saat sesat menjadi adat. Sherly benci ketika tidak sampai hati mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan. 


Dia hanya tidak ingin Dave tersinggung. Lupakan! Dave adalah laki-laki yang paling memahami. Selanjutnya, setelah sedikit kendala terjadi begitu saja, Dave dan Sherly kembali baik seperti sedia kala. 


Sore menjelang. Seluruh karyawan telah berpulang. Dave menghampiri Sherly. Dia mengajak wanitanya pergi. 


"Pulang ayo bee."


Sherly melirik ke arah arloji.


"Baiklah."


Sherly berdiri. Dia hendak melangkah, tapi dering telepon kantor mencuri perhatiannya. Bukan sambungan interkom, tapi langsung panggilan dari luar. Dave mengangkatnya. 


"Hallo, selamat sore. "


Belum sempat Dave meneruskan ucapannya, si penelpon telah mengucapkan apa yang menjadi keinginan. Mengesampingkan sopan santun dalam adat bicara dan SOP perusahaan. 


***


Pertemuan antara Silver Coorporation dan Gold Coorporation dilakukan. Kedua nama perusahaan itu telah terkenal di kalangan pebisnis. Terutama tentang Sherly Angel dan Brian Pradana. Maka saat semua tau bahwa Brian dan Sherly telah putus hubungan, semua orang berlomba untuk mendapat kesempatan.


Bukan hanya pengusaha muda yang mengincar Sherly, tapi juga banyak wanita muda yang menginginkan Brian. Persaingan bisnis semakin ketat. Semua karena penganut paham untuk saling menjatuhkan.


Kalangan bisnis terbagi ke dalam dua kubu. Satu memihak Sherly dan memberikan nilai positif agar seluruh client bisa bekerja sama dengannya. Smentara di satu sisi, banyak wanita sosialita yang menjatuhkan Sherly.


Mereka tentu saja penggemar Brian. Dia berada di bawah pimpinan Cellin Nata, wanita yang pernah tidur bersama Brian Pradana.

__ADS_1


Rumor retaknya hubungan mereka tersebar dengan cepat. Bahkan setelah keduanya saling menutupi, entah kenapa sekarang berita itu tersebar sendiri.


__ADS_2