
Untuk apa mencari yang sempurna jika yang sederhana mampu membuat bahagia?
Sederhana adalah harapanku, tapi jika sempurna yang menghampiriku maka takdir sedang berpihak baik padaku.
Bukan salah jika saat ini aku memiliki yang lebih dari segalanya, nyatanya kamu sendiri yang pernah menyakitinya.
Dan aku hanya memoles ulang apa yang telah kamu buang hingga nanti berubah menjadi berlian yang semakin mengeluarkan pantulan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Telapak tangan Dave menangkup pipi Sherly. Ibu jarinya mengusap sisi yang lain dengan lugasnya. Memberikan ruang agar manik mereka saling berhadapan.
Sorot tenang penuh keteduhan. Dave sungguh tulus memberikan Sherly sebuah perhatian. Bukan hanya nafsu yang akan pupus di tengah jalan. Sementara Sherly masih saja mengingkari. Walau pada akhirnya Sherly sendiri yang harus mengakui.
"Bagaimana cara untuk membuktikan sebuah cinta? Kita pernah sama-sama terluka, tapi rasa itu juga yang perlahan membuatku sadar jika tidak selamanya benih kan tumbuh dengan sempurna.
Kadang dia pupus ketika lahan berhumus.
Namun terkadang dia tetap tumbuh ketika lahan menjadi tandus," ucap Dave pelan.
"Dia yang mengabaikan akan merasa kehilangan saat kita diam dan berhenti melakukan kepedulian. Aku membiarkan dia menghirup hembusan nafasku, tapi dia juga yang kemudian beralih menyesap setiap inchi yang bukan tubuhku," gumam Sherly.
Dave setia mengamati setiap perubahan ekspresi Sherly, tapi tidak dengan Sherly. Wanita itu terus saja menatap kedua mata Dave, tapi tidak dengan benaknya. Otaknya terus memutar kembali semua memori.
"Beruntunglah karena Tuhan akhirnya memisahkan. Pertanda bahwa kalian belum tentu berjodoh saat duduk di pelaminan."
"Apa maksudmu? Bukankah setiap pernikahan adalah bukti dari sebuah keseriusan?."
"Tidak semua teori terbukti nyata. Pernikahan memang simbol keseriusan, tapi tidak ada yang tau siapa nama yang bersarang di hati pasangan. Taukah kamu jika aku bisa saja memilikimu, meski hatiku tidak ada namamu."
__ADS_1
Sherly memejamkan mata. Selalu saja Dave membuat dirinya semakin hina. Seorang atasan kalah wawasan dengan bawahannya. Bukan hanya tentang cinta, tapi juga pola pikir yang lebih dewasa.
"Lalu bagaimana dengan mereka yang hidup bahagia setelah ikrar diucapkan."
"Tentu saja mereka adalah manusia yang tulus mencintai, bukan hanya modus untuk memiliki. Cinta pasti membuatmu terjerumus ke dalam nafsu belaka, tapi nafsu belum tentu membawamu ke arah cinta."
Hingga keduanya larut dalam kenangan masing-masing. Sherly benci terus seperti ini, tapi dia juga harus siap membiarkan sosok lain singgah di hatinya. Wanita itu tidak ingin merasakan sakit untuk kedua kali. Begitu juga Dave. Laki-laki, itu terus saja memberikan penjelasan kepada atasannya.
Perihal cinta yang membuat bodoh siapa saja. Lalu dengan cinta yang mampu membuat mereka tertawa. Dave merasakan cinta yang sama dengan wanita sebelumnya. Namun Dave yakin, suatu hari nanti cinta itu akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.
Dave percaya, Sherly adalah tulang rusuknya. Maka cepat atau lambat Dave akan menjerat Sherly ke dalam malam-malamnya. Membiarkan Dave berbagi ranjang, berbagi lengan untuk bantalan, juga dada untuk sandaran.
"Sekarang bagaimana, apakah kamu mau membagi denganku? Tapi jika aku tidak layak, maka jangan lakukan. Aku punya cara sendiri untuk membuatmu berhenti menyesali lalu datang menghampiri. Aku akan selalu ada di sini. Di hatimu. Jauh di ruang kecil yang belum pernah kamu pahami," ucap Dave seraya menunjuk ke arah dada Sherly.
Tidak lagi memekik kesal. Apakah Sherly yakin dengan perasaanya? Apa wanita itu bisa percaya pada laki-laki yang tidak dikenal sebelumnya? Bagaimana dengan masa lalu itu? Dengan kekasih yang terus menjadi hantu dalam tidurnya? Sudahlah, semua tidak akan berjalan maju jika kita terus berpikir tentang dulu.
Tidak ada kata baiklah ataupun aku akan menceritakan meski sebenarnya keberatan. Sherly akan membuka kembali luka yang hanya dipersembahkan untuk Dave Anggara.
Ketika Brian mengkhianati, Sherly telah berjanji. Dia hanya akan menceritakan hidupnya kepada seseorang yang berarti di masa depan. Lalu kepada harus sekarang? Apa mungkin Sherly percaya bahwa Dave adalah jodohnya?
Dave masih mengamati wajah manis di hadapannya. Sore itu, mendung menghiasi hampir seluruh keceriaan Sherly. Menggeser kata bahagia menjadi kembali terluka
"Aku hanya wanita dari kasta bawah. Berasal dari panti asuhan dan hanya mengandalkan bea siswa pendidikan. Pihak yayasan mengatakan bahwa orang tuaku meninggal karena kecelakaan lalu aku dititipkan oleh seseorang yang menolongku waktu itu. Lima belas tahun yang lalu di sana masih mengambil air menggunakan kerekan sederhana. Tubuhku kurus, tapi tidak kerontang. Masih sedikit berisi karena mungkin saat itu aku terlalu gemuk. Semua berlangsung hingga aku mengakhiri pendidikan Sekolah Menengah Atas."
Entah mengapa Dave merasa Sherly selalu menggantung ceritanya. Laki-laki itu benci. Dia terlalu kepo dengan kehidupan Sherly. Namun tidak ada yang bisa dilakukan selain ikhlas menerima keadaan.
Hidupnya sudah rumit, tidak mungkin Dave terus mengungkit. Wanita itu pasti menutup rapat kisah kelamnya agar tidak ada yang tau seperti apa kisah pilu yang dirasakan.
Bulir bening belum menetes, tapi Dave yakin genangan itu akan merembes. Dave ikut memejamkan mata. Dia sendiri bingung dengan hidupnya. Harus bahagia atau merasa kecewa. Semua tidak jauh berbeda, hanya harta yang memisahkan mereka.
__ADS_1
"Aku melangsungkan ke jenjang lebih tinggi hanya dengan uluran tangan. Aku tidak bagaimana rencana kehidupanku, tapi ternyata Tuhan telah menyiapkan harapan baru untukku. Pemilik perusahaan menawarkan sebuah pekerjaan."
Semakin mengingat, Sherly semakin tercekat. Ingin rasanya wanita itu terus bicara meluapkan semua, tapi tenggorokannya seakan menjadi sekat.
"Huuuuuffttttttt" Sherly menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya menengadah dan memejamkan mata.
Refleks Dave menarik Sherly ke dalam pelukan.
"Cup" laki-laki itu mencium kening Sherly.
"Lupakan jika mengingat membuatmu tertekan. Maafkan aku," gumam Dave.
Bagaimana mungkin hari yang seharusnya membuat Dave bahagia berubah menjadi kaku dan dibencinya.
"Apa kita akan menonton film itu lagi?," tanya Dave memecah kecanggungan.
"Davee! Berhenti mengingatkanku tentang adegan menyebalkan itu," ucap Sherly dengan bibir cemberut.
"Menyebalkan tapi bikin ketagihan. Apaan sih sher, labil banget jadi cewek."
"Davee! Udah dong mojokin akunya. Malu tau."
"Oh kirain nggak punya malu. Habis kalau di deket ku nggak pernah jaim sih. Yang ada malah terus-terusan manja."
Sherly membulatkan bola matanya menatap tajam ke arah Dave. Seolah wanita itu akan memangsa Dave dengan lahapnya, tapi tidak dengan Dave. Dia selalu saja membalas kekesalan Sherly dengan godaan khasnya.
"Will you eat me baby?," goda Dave.
"Damn," umpat Sherly.
__ADS_1