
Bolehkah aku mencintaimu, meski cintamu tidak untukku? Bolehkah aku menganggapmu sebagai milikku, meski sebenarnya seseorang telah memilikimu?
~Krisna Yosepha~
Rapat usai setelah satu jam berlangsung. Semua peserta sudah pergi ke ruangan masing-masing hingga menyisahkan dua laki-laki dan dua perempuan. Sherly beserta asistennya Dave, juga Brian bersama asistennya Renata.
"Dave, catat semua point penting tadi ke dalam benakmu," ucap Sherly memecah keheningan.
"Baik nona," balas Dave patuh.
"Bisakah saya meminta waktu anda sebentar nona? Ternyata rumor yang mengatakan anda pemilik perusahaan ini tidak salah," ucap Brian seraya berjalan mendekati Sherly.
Masih beberapa langkah lagi, tapi Dave segera berjalan cepat untuk mencegah Brian. Laki-laki itu berusaha menghadang jalan laki-laki yang dianggap mencurigakan.
"Maaf tuan, Nona Sherly sedang dalam keadaan kurang sehat. Dengan berat hati, saya meminta maaf kepada Anda untuk tidak menyentuh nona seperti tadi," ucap Dave lantang dan penuh wibawa.
Jika saja Dave adalah pimpinan, mungkin Sherly sudah menunjukkan kekaguman. Namunsayang, Dave hanya seorang tangan kanan membuat Sherly yang berstatus atasan terus saja mencari penyebab uring-uringan.
"Sial! Brian akan menyentuh wanita itu?" geram Renata.
Apapun yang dilakukan Brian tidak luput dari pengamatan Renata. Wanita itu sekretaris Brian, tapi terobsesi untuk membawa atasannya ke dalam kehangatan. Maklum saja Renata ingin memiliki Brian karena kekayaan. Dia tidak peduli siapa yang Brian inginkan.
"Saya atas nama Nona Sherly meminta undur diri terlebih dahulu tuan. Sudah ada security di depan pintu jika anda melakukan tindakan fi luar dugaan lagi. Mohon bersikap hormat kepada atasan kami," jelas Dave lagi.
Sherly menganggukan kepala setuju dengan ucapan Dave.
"Ayo Dave, moodku sudah terlanjur buruk. Hari ini bawa semua pekerjaan ke apartemenku," perintah Sherly kepada bawahannya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala.
"Sial! Siapa laki-laki itu sebenarnya," umpat Brian kesal.
"Ke apartement nona? Apa aku akan disuguhkan wanita dengan pakaian seksi di sana? Ah nona, jiwa mantanku meronta," batin Dave.
"Dave, aku tunggu di mobil ya," teriak Sherly karena dia lebih dulu meninggalkan Dave.
"Hm, atasan semena-mena. Kenapa nona bisa jadi CEO di sini sih? Apa laki-laki tampan nanti rupawan sudah habis hingga memilih wanita muda dan mempesona sepertimu," gumam Dave.
Masuk ke ruangan khusus milik Sherly untuk mengambil dokumen penting lalu membawanya. Tas cantik dan ponsel minimalis tergeletak di meja. Tentu saja itu milik pemilik ruang kerjanya.
__ADS_1
Dave turut membawanya serta. Dia tidak mau atasannya menyuruh kembali lagi ke ruangannya hanya untuk mengambil benda-benda itu.
"Drrttt drtt drrtt" ponsel bergetar saat Dave dengan lancang akan memasukannya ke tas.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Beruntung, aplikasi chat Sherly menggunakan tampilan pop up sehingga Dave bisa membaca isinya tanpa membuat sang empu curiga.
From : 085721xxxxxx
"Saat aku hanya mampu menatapmu dari jauh, aku yakin ada sesuatu yang mampu ku rengkuh yakni bayangmu. Sekelebat semburat rindu membuatku ingin segera memelukmu. Jangan lupakan jika aku masih mencintaimu. Love You Sherly Angel"
Wajah Dave mendadak suram setelah membaca pesan milik nonanya. Itulah karma atas kelancangannya.
"Ternyata benar, rasa penasaran tidak selamanya harus dituntasnya. Nyatanya akibat kekepoan, aku justru mendapat kekecewaan," gumam Dave dengan nada mellow seperti anjing yang baru saja kehilangan tulangnya.
Hampa. Ada ruang di hati Dave yang mendadak kosong. Laki-laki itu sungguh lebay. Kenapa Sherly tidak menggantinya dengan sekretaris yang tidak baperan. Atau setidaknya tidak bersifat bucin seperti Dave.
"Bucin boleh, baper jangan Dave," bisik malaikat baik hati di sisi kanan Dave.
Tanpa sadar langkah kakinya sudah tiba di basement kantor. Lebih tepatnya di depan pintu kemudi mobil Sherly.
"Nona maaf, telah menunggu lama," ucap Dave setelah masuk dan memakai sabuk pengaman.
"Aish, nona kenapa gombal sih," batin Dave.
Sementara pada kenyataannya Dave hanya tersenyum kikuk di bawah spion sesekali melirik nonanya yang asyik terlelap.
"Eh, nona ini ponsel dan tas nona. Tadi ketinggal di meja anda," ucap Dave saat mengukurkan benda mahal milik bossnya.
"Dave, kenapa diambil?," tanya Sherly bingung.
Karena rencananya memang wanita itu akan meninggalkan tas dan ponsel di ruangannya. Toh sudah ada CCTV yang selalu mengintai jadi tidak ada alasan meragukan keamanan.
"Tadi ketinggal di ruangan nona," jawab Dave seraya tersenyum simpul.
"Aku tidak menyuruhmu mengambil kan? Kenapa kamu mengambilnya. Hei, asal kamu tau! Aku sengaja meninggalkan ini di meja. Aku tidak mau menyentuh ponselku karena tidak ada hal penting di dalamnya. Bukankah semua pekerjaan selalu terhubung ke ponselmu kan? Dan tas ini isinya hanya uang. Untuk apa aku bawa uang jika sudah ada kamu yang selalu membawanya ke mana-mana," gerutu Sherly.
Dave semakin mengerutkan dahi. Dia kesal, tapi tidak mungkin melampiaskan di depan nonanya.
__ADS_1
"Hm, jadi ini salahku? Nona gimana sih, aku udah baik hati bawain malah dimarahin. Nasib nasib apes banget sih Dave," ejek setan jahat yang ada di tubuh Dave.
"Maaf nona," hanya kata maaf yang mampu diucapkan Dave.
"Berhentilah minta maaf Dave, kamu tau sendiri kan jika aku bukanlah wanita yang gila kata maaf," tukas Sherly.
Wanita itu tidak habis pikir dengan sekretarisnya. Entah bawahannya itu terlalu kreatif atau terlalu gabut hingga memikirkan inisiatif.
Aura dingin tidak terpancar di sana, tapi entah apa yang membuat Dave merasa bulu kuduknya merinding.
"Apa nona punya makhluk tak kasat mata yang mengawalnya? Kenapa hawa di sini jadi dingin banget," batin Dave, tanpa sadar laki-laki, itu mengedikkan bahu.
"Kenapa Dave?," tanya Sherly.
Ternyata wanita itu memperhatikan Dave sedari tadi. Membuat Dave semakin gugup mendapat tatapan dari atasannya meskipun laki-laki, itu hanya memandang lewat kaca spion di atasnya.
"Tidak papa nona," jawab Dave.
"Raut wajahmu mengatakan kamu tidak baik-baik saja. Apa kamu kedinginan? Barusan bahu kamu gerak-gerak kan?," cerca Sherly.
"Ternyata nona kepo banget. Baru tau aku, haha," kekeh Dave dalam hati.
"Dave," panggil Sherly.
Masih dengan tatapan yang mematikan untuk Dave. Laki-laki itu juga tidak tau kenapa nonanya seperti melihat hantu.
"Ya nona," balas Dave.
"Kamu lihat hantu atau lihat aku sih? Gitu banget lirikannya. Atau diam-diam suka sama aku ya?," goda Sherly.
"Hei, apa nona menggodaku? Bagaimana jika aku benar-benar tergoda? Apa nona akan tanggung jawab hm?," batin Dave.
Biasanya Dave hanya berani menjawab ucapan Sherly dalam hati. Lalu kemudian bibirnya mengucapkan hal yang lain daripada batinnya. Namun tidak untuk kali ini.
"Hei, apa nona menggodaku? Bagaimana jika aku benar-benar tergoda? Apa nona akan tanggung jawab hm?," ucap Dave menyuarakan isi hatinya.
"Eh! Bodoh! Kenapa otak sama bibir bisa kompakan gini sih? Woey Dave! Nggak sadar diri banget sih lagi berhadapan sama siapa. Dipecat baru tau rasa," tutuk Dave dalam hati.
__ADS_1
"Eh, maaf nona. Bukan maksud saya lancang," ucap Dave malu-malu.
Siapa yang kamu perjuangkan, semoga dia yang nantinya memberimu kebahagiaan.