Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Cinta Segitiga


__ADS_3

Jika bukan karena menyimpan perasaan, lalu apa alasan kita harus mengabadikan kenangan? Meski hanya sebuah lembaran, setidaknya mampu membuat hatiku sedikit nyaman. Aku mencintaimu, mengharap hadirmu di kemudian hari untuk kembali kepadaku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Gedung pencakar langit mengingatkan Sherly jika dia pernah menjadi saksi atas gedung yang kini berdiri kekar. Wanita itu tersenyum simpul. Semua telah berlalu, tapi kenangannya belum bisa sepenuhnya dilupa.


"Nona, mari saya antar ke ruangan Tuan Brian," ucap Dave seraya menundukkan kepala memberi hormat kepada nonanya.


"Aku lebih tau seluk beluk di sini daripada kamu Dave," cibir Sherly.


"Iya nona, saya percaya. Apalagi mengingat anda dengan dia. Semua sangat sempurna di benak anda kan?," batin Dave.


Sherly berjalan ke arah lobi, tersenyum manis ke arah receptionist. Diikuti Dave yang berjalan dengan senyum menawan. Laki-laki itu juga bisa tersenyum kepada semua perempuan. Bukan hanya nonanya yang bisa tersenyum kepada pria.


Dua sejoli menjadi pemandangan yang membuat siapapun iri. Bukan jalan berdampingan, tapi di depan dan belakang pertanda mereka memiliki hubungan yang tidak bisa disepelekan.


"Wah, ganteng banget," ucap salah seorang karyawan Pradana Coorporation yang langsung mendapat tatapan tajam dari wanita di hadapannya.


Sherly mendapati wanita yang berani menatap Davenya. Jangan harap wanita itu bisa lepas dari sorot tajam Sherly. Meskipun tersenyum, aura horor terlihat jelas di kedua bola matanya.


Apakah Dave tau jika nonanya sedang mengincsr mangsa? Tentu saja tidak. Dave sibuk menebar senyum kapada wanita yang kebetulan berpapasan. Dan tugas Sherly adalah memberi tatapan mematikan kepada wanita yang berani membalas senyuman Dave.


Seolah sorot mata Sherly mengatakan "Jangan berani tersenyum ke arah Daveku, atau kamu yang akan mendapatkan sorot tajam ke arahku."


Betapa bahagianya Dave memiliki wanita yang selalu berinisiatif untuk melindungi. Namun seakan mendapat buah simalakama kala mengingat Sherly adalah wanita yang tidak bisa diganggu gugat keputusannya. Kalaupun bisa, itu pasti melewati proses rundingan yang cukup memakan waktu.


"Ting" lift terbuka, Sherly masuk ke dalamnya diikuti Dave yang berdiri di belakangnya.


Sepuluh detik, tidak ada jari telunjuk yang memencet tombol membuat Sherly terpaksa membalikkan tubuhnya. Menatap Dave dengan tatapan yang sama horonya dengan yang diberikan oleh wanita yang berani membalas senyuman seorang Dave.


Bukan salah Dave jika dengan tersenyum banyak wanita yang kagum Salahkan saja kenapa dia berwajah tampan dan menawan. Dave sadar kemana arah Sherly menatap. Laki-laki itu balas memberikan tatapan mematikan.


Seolah Dave dan Sherly beradu argumen lewat sebuah instrumen. Benak menjadi perantara untuk mereka.


"Apa liat-liat? Kenapa nggak mencet tombol? Apa kamu pikir ruangan kotak ini bisa mengerti dan berjalan sendiri?," ucap Sherly dengan nada yang tidak bersahabat.


"Eh, kenapa aku salah terus?," kalimat polis terlontar dari bibir Dave.


"Kamu berani membela diri di hadapanku hm?."


"Damn! Mungkin kalau sekarang ada di kamar aku sudah membuatmu terkapar," umpat Dave dalam hati.


Telunjuk Dave terukur menekan deretan angka hingga benda kotak yang terbuat dari besi bergerak sendiri.


"Ting" pintu terbuka, Dave mempersilahkan Sherly keluar.

__ADS_1


"Silahkan nona," ucap Dave sopan.


"Nggak usah disuruh juga aku bakal keluar Dave."


Refleks Dave membulatkan mata karena kesal. Bibir seksi itu sudah komat-kamit merapalkan mantra. Namun mendadak berhenti saat Sherly berhenti, membalikkan tubuh dan menatap Dave dengan tatapan yang sangat tidak teduh.


"Tamatlah riwayatmu Dave," batin Dave.


Hanya senyum simpul yang bisa Dave tunjukkan untuk menetralkan perasaan. Laki-laki itu kesal setengah mati, tapi tidak ada yang bisa mengubahnya menjadi benci. Sherly tetaplah Sherly, wanita yang menurut Dave tidak mudah dimengerti.


"Berhenti bicara Dave."


"Baik nona, maafkan kelancangan saya."


Sementara Sherly, wanita itu terus merutuki dirinya. Kenapa dia terus menerus menjadikan Dave sebagai pelampiasan. Padahal dialah laki-laki yang selalu paham dengan keadaan. Berdebat dengan pikiran ternyata tidak membuat Sherly baikkan. Wanita itu akhirnya mengedikkan bahu sebagai jawaban atas keputusasaan.


Pintu ruangan Brian sudah terlihat. Mungkin sekitar lima langkah lagi. Dengan sigap Dave selalu sekretaris pribadi berjalan mendahului Sherly. Mengetuk pintu pelan, lalu menemui sekretaris Brian untuk mengutarakan maksud kedatangannya.


"Permisi Nona Renata, apakah Tuan Brian ada di dalam? Nona Sherly ingin bertemu dengannya."


"Maaf Tuan Brian sedang tidak ditempat."


Dave mengerutkan dahi. Gelagat sekretaris Brian tidak bisa dipastikan. Wanita itu seolah menyimpan kegelisahan.


"Ngapain mantan sialan itu kesini? Mau ngrebut Brian dari aku lagi? Hei Sherly, kamu nggak tau kalau Brian tu cocoknya sama aku bukan sama kamu," batin Renata.


"Kapan? Kenapa Tuan Brian tidak memberitahuku? Semua urusannya adalah urusanku."


"Silahkan anda bertanya kepada Tuan Brian."


Renata melihat jadwal Brian yang hari ini senggang. Tidak ada yang mengatakan bahwa Pradana Coorporation akan bertemu dengan Silver Coorporation.


"Pertemuan anda tidak ada di jadwal Tuan Brian."


"Nona Sherly danbTuan Brian telah membuat janji pribadi. Kita bisa apa ketika sabg atasan sama-sama memiliki keperluan."


"Dasar atasan tidak tau diri, beraninya mendatangi kantor mantan kekasihny," ucap Renata dengan nada lirih.


Dave tersenyum sinis ke arah Renata. Wanita di hadapannya bukanlah wanita yang sesungguhnya. Dia adalah iblis yang baru saja menjelma. Paras cantiknya tidak mencerminkan hatinya.


"Bahkan anda yng telah merendahkan diri di kandang sendiri."


Sedari tadi, Sherly hanya menjadi pengamat. Dia bukan tipe wanita yang akan menjadi penghambat orang lain dalam mengais rejeki. Seorang Sherly Angel tidak akan memecat karyawan hanya karena sebuah ucapan. Meskipun seorang CEO itu mendengarnya sendiri.


"Anda lupa siapa nona Sherly sesungguhnya?."

__ADS_1


Sherly tersenyum tipis, Dave selalu membawa kekuasaan atasannya kemanapun berada. Demi untuk menghindari tipe wanita yang selalu merendahkan nonanya, Dave tentu berbaik hati akan menyakiti tanpa mengotori.


"Baiklah, terserah. Tuan Brian ada di dalam. Bukan urusanku jika dia tidak menemuimu," ucap Renata pada akhirnya.


"Permisi Nona Renata," pamit Dave.


"Hm."


"Dasar bawahan yang tidak sopan. Kalau aku jadi Tuan Brian sudah ku berhentikan."


Dengan penuh percaya diri, Dave mendahului Sherly membiarkan wanita yang berstatus sebagai atasan mengikuti di belakang.


"Tok tok tok" ketukan pintu terdengar membuat Brian yang sedang dalam mode on tahap kehancuran segera tersadar.


"Masuk," teriak Brian.


Dave membuka pintu, membiarkan kepalanya masuk lebih dulu. Lalu disusul tubuhnya yang sudah nampak seluruhnya. Kemudian menampilkan sosok Sherly yang sangat dinanti.


"Sherly?," pekik Brian kaget.


"Hm," gumam Sherly.


Ternyata keterkejutan Sherly tidak seperti yang Brian bayangkan. Mungkin di sini hanya Brian saja yang berharap mendapat keberuntungan.


Brian berjalan ke arah sofa. Mendaratkan pantai cantik di sana.


"Duduk sini sher," panggil Brian seraya menepuk ruang kosong di sampingnya.


"Ehem, jangan lupakan jika di sini ada seorang bawahan," gumam Dave tertahan.


Sherly melirik ke arah Dave dan Brian bergantian. Mengamati raut wajah yang penuh aura permusuhan. Siapa di sini yang patut disalahkan? Mungkin saja Sherly, si wanita yang dengan tega membiarkan dua pria masuk ke hatinya. Atau bisa saja Brian.


Jika laki-laki itu tidak berkhianat, mungkin saat ini Sherly dan Brian tengah merengkuh sesuatu yang nikmat. Namun lupakan, memang hidup mereka bertiga tidak bisa jauh dari urusan ranjang.


"Aku benci situasi dimana kalian saling menatap penuh aura permusuhan," ucap Sherly.


"Dia mulai lebih dulu sher," ucap Brian.


"Tuan Brian yang memulainya nona," bela Dave.


Wanita itu seakan lupa tujuan utamanya. Namun dia sama sekali tidak berniat mengadu domba dengan dua laki-laki di hadapannya.


Cinta segitiga. Kamu bisa berpura-pura di belakangnya, tapi tidak dengan rasa yang sebenarnya telah ada. Ganda adalah angka dimana kamu merasa harus memilikki keduanya. Sedang egois menjadi alasan kenapa kamu harus menyembunyikan dari mereka.


Orang lain tidak bisa menjadi pedoman ketika kamu bahkan tidak bisa dengan jelas menerjemahkan. Yakinlah jika prinsip cinta adalah adanya suatu karma. Kamu mendua, suatu saat akan menjadi yang ketiga. Namun jika kamu menjadi yang ketiga, suatu saat kamu pasti merasa jadi yang kedua.

__ADS_1


Berpikir rumitlah dengan cinta karena dia tidak akan membiarkan benakmu bahagia tanpa kehadirannya. Cinta yang menurutmu sulit, terkadang adalah rasa yang membuatmu terbelit. Maka jangan pernah menganggap semua baik-baik saja. Siapkan hatimu untuk merasa terluka.


__ADS_2