
Katakanlah aku wanita paling egois di dunia. Aku ingin memiliki dia seutuhnya, tapi masih menyimpan cinta untuk orang sebelum kehadirannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Langit mendadak berwarna gelap karena awan mulai bergumpalan. Mereka berjalan arak-arakan menuju tempat dimana akhirnya akan menuangkan segala tangisnya.
"Dave, ayolah bangun. Hari ini kita tidak ada lembur. Aku juga udah capek banget mau pulang," ucap Sherly seraya mengguncang tubuh Dave.
Setelah beberapa kali usapan lembut hanya membuat Dave semakin hanyut, Sherly memutuskan untuk tidak lagi bersikap manis kepada Dave. Biar saja bwahan itu sadar diri seperti apa posisinya.
Dave masih saja diam. Belum ada tanda-tanda dia akan siuman. Sherly merasa waktunya terbuang sia-sia. Wanita itu segera melaksanakan obtion terakhirnya yakni berteriak tepar di depan telinga Dave. Jika tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Sherly akan meninggalkannya.
"Tapp tapp tapp" menjauh dari ruangan Dave dan menghilang dibalik pintu.
Belum ada lima menit meninggalkan, Sherly kembali lagi ke ruangan. Kali ini tidak dengan wajah manisnya, tapi dengan kekesalan yang dirasakan.
"Daaaavvvvvveeeee," teriak Sherly.
"Ha? Ada apa nona? Kenapa nona berteriak?," pekik Dave kaget refleks kedua matanya terbuka sempurna.
Senyum miring terbit di bibir Sherly. Wanita itu puas asisten pribadinya kelabakan. Sementara kedua tangannya masih bergerak di kelopak matanya.
"Aku mau pulang Dave."
"Tapi nona."
"Ini udah sore, di luar mendung Dave."
"Dduuuuaaarrr" suara petir terdengar.
Laki-laki yang baru bangun dari tidurnya terkejut. Refleks bangkit dan memeluk tubuh Sherly. Bersamaan dengan itu seorang OB muncul di balik, pintu. Jelas saja pintunya sudah terbuka. Sherly kan sudah pergi, tapi kembali lagi.
"Ma-maaf tuan, nona," ucap OB seraya menundukkan kepala.
"Ternyata pemilik perusahaan ini dan bawahannya memang menjalin hubungan," pikirnya.
Anggukan kepala serta senyum manis Sherly tujukan kepada OB. Tidak ada karyawan lain yang boleh tau jika Sherly sering melampiaskan amarahnya pada Dave.
Sementara Dave sama sekali tidak menyadari adanya orang lain di sana. Dia sibuk memeluk nonanya hingga bisikan Sherly membuatnya sadar.
"Dave, ada OB. Kamu nggak malu peluk-peluk aku?," bisik Sherly.
"Eh."
Dave nengendorkan pelukannya dan memblaikkan tubuh. Memastikan perkataan atasannya benar atau hanya mengerjainya. Setelah kedua matanya menangkap laki-laki berseragam biru yang membawa sapu, barulah Dave percaya. Dirinya telah ceroboh memeluk Sherly.
Pasti sebentar lagi akan ada berita heboh. Laki-laki itu menatap lurus ke arah Sherly seolah mengisyaratkan "siapa yang membuka pintu? Kenapa tidak ada ketukan? Atau kamu memang sengaja membiarkanku menahan malu?."
"Ayo pulang," ucap Sherly seraya membalas tatapan Dave yang tidak memiliki pengampunan.
Melenggang pergi tanpa mempedulikan Dave lagi. Sherly malu setengah mati, tapi tentu yang lebih malu adalah asisten pribadinya.
"Permisi mas," ucap Sherly seraya menundukkan kepala saat melewati depan OB.
"Iya nona," jawab OB.
"Nona baik banget. Udah cantik, baik, murah senyum lagi," gumam OB.
Dia masih melupakan satu hal, yakni masih ada Dave di sana. Office Boy belum benar-benar sendiri.
"Apa katamu? Dia emang cantik, tapi nggak usah lirik-lirik," ucap Dave dengan sorot mata tajamnya.
"Tuan kan cuma sekretarisnya, kenapa galak banget ya? Padahal atasannya kan baik."
Kali ini Dave tergesa mengejar Sherly yang entah sudah berada dimana. Lift tertutup, besar kemungkinan Sherly baru saja memasuki. Dave menunggu dengan sabar. Dia tidak ingin peristiwa naik tangga darurat terulang lagi.
"Tiiinnngg" benda kota hitam terbuka.
Dave segera masuk ke dalamnya. Satu menit kemudian sampailah Dave di lantai dasar. Lobby utama menjadi pemandangan utama.
Bukan lobby yang sudah sepi, tapi sosok Sherly dan laki-laki yang duduk di sampingnya. Dave sigap mendekat. Dia sungguh kesal dengan laki-laki tidak tau malu yang terus menatap Sherly seolah ingin menelanjangi.
__ADS_1
"Damn! Laki-laki yang katanya pemilik perusahaan apa sekarang berubah jadi pengangguran? Nggak ada kerjaan banget. Tadi pagi ke sini, siangnya Nona Sherly menemui, sekarang kembali lagi ke sini. Dasar bastard boy," geram Dave tanpa terkendali.
Mungkin saat ini asap telah menguap melalui kepalanya. Itupun jika ada orang lain yang melihat, tapi bisa saja tidak ada yang tau karena tidak ada yang punya waktu untuk mengurus urusan Dave selain dirinya sendiri.
Merananya jadi asisten CEO yang sama sekali tidak punya bawahan lagi. Lain kali jika ada wanita yang bersedia menjadi anak buah Dave, pasti Dave akan menerimanya.
"Eh tidak, bukan wanita. Wanitanya cukup nona aja. Biarlah anak buahku kelak berjenis kelamin laki-laki, tapi bagaimana jika nona mencintainya? Ah tidak, nona hanya milikku. Bukan milik orang lain," ucap Dave bermonolog pada diri sendiri.
Tanpa sadar, omelan yang Dave lontarkan membawa tuannya tiba di hadapan Sherly dan juga Brian tentunya. Mereka terlihat membicarakan obrolan serius, tapi Dave tidak peduli. Dia tidak ingin Sherly didekati laki-laki tidak tau diri.
"Ehem" Dave berdehem dengan sorot mata yang tajam ke arah Sherly.
Wanita di hadapannya menolehkan kepala menuju sumber suara.
"Dave?," gumamnya.
"Laki-laki sialan!," umpat Brian.
"Nona ini sudah pukul 17.15 WIB. Apakah anda mengurungkan niat untuk kembali ke apartement?."
"Tentu saja tidak. Aku akan tetap ke sana. Kau urus saja laki-laki ini Dave."
Sherly bangkit, tapi Brian menariknya hingga wanita itu jatuh ke pangkuan Brian. Senyum penuh kemenangan menambah kesan sombong walaupun laki-laki itu tampan.
"Brian!," teriak Dave.
"Brian!," pekik Sherly.
Segera Sherly mendorong tubuh Dave. Dulu posisi itu selalu membuat Sherly nyaman, tapi untuk saat ini berada di dekat Brian saja membuatnya sungkan.
Tangan kanan Brian masih memegang pinggang Sherly. Merengkuh wanita yang telah menjadi mantan kekasihnya dengan mesra. Membuat laki-laki lain yang melihatnya menatap tajam ke arahnya. Sepersekian detik Sherly dan Brian saling hanyut dalam kenangan.
"Diam dalam pelukan pertanda kamu masih menginginkan. Tenang, aku masih di sini menunggumu kembali. Jika bukan di tempat umum seperti ini, bisa saja aku melakukan hal yang dulu membuatmu menger*** tertahan," batin Brian disertai seringai liciknya.
Sementara Dave sudah jengah melihat Brian yang tidak tahu diri. Apalagi melihat Sherly yang juga hanyut dalam pelukan Brian. Hatinya terluka, alarm daruratnya berkata Dave harus segera menuntaskan semuanya.
Tanpa aba-aba Dave menghempaskan tangan Brian yang memeluk Sherly. Hanya melihat berada di pinggangnya saja Dave tidak bisa, apalagi jika sampai meraba ke mana-mana.
Dengan sigap Dave menarik tubuh Sherly dengan kedua tangannya lalu menggendong atasannya dengan kedua tangan. Membawanya pergi tanpa permisi.
"Daaveee," pekik Brian karena berat badan yang baru saja ditopang nya menghilang.
"Daaaveee turunkan aku! Berani kamu menyentuh ku," teriak Sherly.
Belum sempat wanita itu melanjutkan kalimatnya, Dave sudah lebih dulu mengacaukan pikirannya.
"Apa? Kamu mau memecatku hah? Dasar wanita tidak punya sopan-santun. Kenapa juga bermesraan di sofa lobby utama? Lagian kenapa harus dengan laki-laki, menyebalkan? Asal kau tau, aku sudah memendam amarahku saat pertama kali melihatmu duduk berhadapan dengannya," ucap Dave meluapkan kekesalannya.
Sherly diam, bukan takut karena Dave yang sedang kesal. Dia merasa ada yang berbeda. Di sini Sherlylah atasannya, tapi kenapa Dave yang marah-marah kepadanya?
Layaknya orang tua yang menggendong paksa anaknya, Dave terus mempercepat jalannya. Toh yang dibawa paksa adalah atasannya, jadi mana mungkin ada karyawan lain yang berani berurusan dengan seorang Sherly.
"Apa liat-liat? Emang kamu digaji cuma buat gosip sana-sini. Pulang sana kalau nggak mau besok ku pulangkan lebih awal," ucap Dave pada beberapa karyawan yang berbisik-bisik tentang dirinya.
"Tuan Dave kalau marah galak juga ya," bisik mereka lagi.
Tiba di depan mobil, Dave segera membuka pintu dan menurunkan tubuh nonanya. Bukan maksud Dave tidak segera pergi, tapi laki-laki itu terbentur langit-langit mobil kala hendak berdiri.
"Sial," desis Sherly saat tubuh Dave menindih nya menyentuh dua benda kenyal miliknya karena belum sempat menutupi dengan tangan.
"Cup" bibir Dave berada tepat di atas bibir Sherly.
Tentu saja Dave tidak akan membiarkan kesempatan berjalan sia-sia. Sekitar lima detik Dave refleks mencium bibir atasannya tidak lupa ********** pelan.
Sementara hormon speechels yang berada di tubuh Sherly sudah pergi. Kini wanita itu sudah sadar sepenuhnya. Sherly mendorong tubuh Dave hingga melepas ciumannya dengan paksa.
"Brak" kepala Dave membentur langit-langit mobil untuk kedua kali.
"Damn," umpat Dave lalu segera keluar dari mobil sialan.
"Brakk" laki-laki itu menutup pintu mobil dengan kesal.
__ADS_1
Dave berdiri di depan mobil. Tepat ke arah Sherly memandang. Laki-laki itu menengadahkan kepala mengamati langit yang telah berwarna abu-abu tua. Beberapa kali memejamkan mata, lalu akhirnya mengacak rambutnya dengan kasar.
"Aaaarrrggghhkkkk."
Melihat Dave yang berusaha meredam amarah membuat Sherly bergidik ngeri. Baru kali ini Sherly melihat tangan kanannya marah seperti ini.
"Apa salahku? Kamu membuatku takut Dave," gumam Sherly.
Setelah merasa lebih baik, Dave membuka pintu mobil di balik kemudi dengan pelan. Menatao wanita di sampingnya, lalu mengagumkan kedua tangan seraya menundukkan kepala.
"Maafkan saya nona," ucap Dave serak.
"Kamu salah apa Dave?."
"Karena saya berani menarik nona, menggendong nona, membentak nona, bahkan mencium nona."
"Jangan bahas ciuman."
"Lalu bahas apa? Apa saya harus membahas saat anda berpelukan? Taukah anda dimana hati saya terluka melihat adegan itu terus menerus di depan mata. Jika masih mencintai kenapa tidak kembali saja daripada statusnya mantan tapi saling menyimpan perasaan."
Sherly kembali diam. Kenapa rasanya mendengar Dave bicara seperti ini lebih sakit daripada saat Brian mengancamnya? Sherly merasa bodoh jika berhadapan dengan Brian, tapi seperti memiliki kekuatan jika itu menyangkut Dave sang asistennya.
"Bisakah berhenti bersikap layaknya wanita murahan? Kamu itu berlian, bukan sampah di pinggir jalan. Kamu tidak pantas melakukan adegan vulgar di tempat terbuka. Aku memang mencintaimu, tapi tidak dengan melihatmu bersama mantanmu. Aku tidak suka sisi lain yang belum kumengerti sebelumnya. Aku paham kamu sulit melupakan, aka setidaknya biarkan hatimu merasa kekosongan baru setelah itu aku akan masuk menjadi penenang."
"Aku tidak mempermasalahkan jika kalian saling berhubungan, tapi tolong jangan mempermalukan dirimu. Kamu CEO Angel, pemilik Silver Coorporation. Tidak pantas berbuat mesum di tempat umum. Untuk terakhir kali, aku mohon hentikan kebiasaan buruk yang satu ini."
"Cup" Dave mencium bibir Sherly penuh cinta lalu ******* dengan mesra di akhir sesinya.
"Aku bisa melakukan apa yang laki-laki tadi lakukan. Mintalah padaku jika kamu menginginkannya. Dan lagi, biarkan kita melakukan di tempat yang aman. Seperti ranjang misalnya."
"Pletak" Sherly menjitak kepala Dave.
"Berhenti memberi nasehat jika akhirnya hanya menjurus ke arah maksiat," ucap Sherly dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Nyalakan mobil dan antarkan aku pulang ke apartement. Setelahnya kembali ke habitatmu jangan mengganggu hidupku," imbuhnya.
Dave menganggukan kepala lalu melakukan apa yang nonanya perintahkan. Membelah kepadatan yang telah menjadi kebiasaan. Pagi dan sore selalu menjadi beban untuk para pengguna jalan.
Seolah macet menjadi andalan sebagai alasan untuk pulang sedikit terlambat. Detik waktu berjalan lambat seolah tidak ingin semua orang meninggalkan jalan dengan cepat.
"Tik tik tik" di sela keheningan, rintikan hujan menjadi pengalun keindahan.
Suara alami yang baru saja membasahi bumi membuat Sherly mengalihkan pandangannya ke kiri. Tetes embun mulai menyatu bersama sura mobil yang terus menderu.
"Dave," panggil Sherly tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya nona," jawab Dave dengan menatap ke arah atasannya, tapi nahas justru leher jenjang yang dilihatnya.
"Hujan."
"Iya, apa saya harus mematikan AC-nya nona?."
"Tidak Dave."
"Lalu?."
"Cukup matikan api yang pernah kau hidupkan. Aku terlalu bodoh untuk kembali bersama mantan, tapi aku tidak terlalu kuat jika tidak mendekat. Aku takut suatu saat hanya menganggapmu pelampiasan. Sementara kamu hanya menganggapku pengkhianat."
"Dave, aku tidak cukup kuat untuk menjadi wanita yang sempurna. Aku belum bisa melupa karena dia laki-laki yang pernah membuatku tertawa. Hanya dia sosok yang menemani hidupku selama ini. Belum ada laki-laki lain yang bisa mengerti melebihi dia yang selalu memahami."
"Sher, kamu terlalu membanggakan dia hingga kamu sendiri lupa jika bisa bahagia tanpanya. Aku sudah pernah bilang jika aku belum membahas perasaan. Mulai saat ini aku akan mengakui apa yang kurasakan jika itu yang kamu takutkan. Bukankah kamu butuh kepastian? Untuk apa kamu terus berharap jika kamu sendiri belum siap."
"Aku nggak paham kemana arah bicaramu Dave."
Sherly memilih memejamkan mata sebagai jawaban atas kalimat Dave. Berharap saat membukan mata Sherly sudah berada di dalam apartementnya. Tentu bersama harapan baru yang entah kapan bisa ditemukan.
Dave yang sesekali melirik nonanya, kini sadar jika Sherly lelah menghadapi hatinya.
"Kamu bahkan tidak tau apa yang membuatmu seperti ini. Andai saja kamu sadar, apa yang kamu takutkan tidaklah beralasan. Sher, percayalah aku tukus mencintaimu. Meski aku belum sepenuhnya yakin tentang hatiku," batin Dave.
"Selamat sore nona, semoga tidur anda bahagia," gumam Dave seraya mengacak rambut nonanya.
__ADS_1
Sherly belum sepenuhnya memejamkan mata, tapi enggan membalas perlakuan Dave yang menurutnya kurang ajar.