
Ketika bersua untuk melupa, bodoh jika kamu menikmatinya. Jika tau akhirnya berpisah kenapa harus resah? Salahkan hatimu yang tidak tau diri berharap tentang dia yang tidak pasti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bukan tentang waktu yang membuat keduanya membisu. Mereka bergelora, pantas saja jika menuntut pelepasannya. Dave turut memejamkan mata. Laki-laki itu bersusah payah menahan amarah.
Juniornya tidak bisa bekerja sama. Sherly terus menghimpitnya sedangkan Dave takut hal buruk benar terjadi. Sherly telah memimpin. Dave hanya mengikuti yang telat diajarkan pelatih.
Sherly berhenti. Wanita itu mencari pasokan energi. Tidak lupa menghirup udara untuk memperpanjang usia. Dave menatap bola mata jernih di hadapannya.
"Aku tidak mungkin merusak kebahagiaannya. Dia terlalu sempurna untuk jadi pendosa. Maaf bee, aku tidak akan mengulangi," batin Dave.
"Huuft" Sherly menghembuskan nafas berat setelah beberapa kali menarik nafas panjang.
"Tolong jangan ceroboh. Aku bodo* selalu terkecoh," batin Sherly.
Dave memeluk Sherly. Laki-laki itu tidak ingin menodai sebelum dia resmi memiliki.
"Cup"
"Mandi sana. Disuruh mandi malah terus godain."
"Daveeer!!!" teriak Sherly.
"Apa?" ucap Dave santai.
Sherly kesal. Dia selalu saja kalah dengan Dave. Laki-laki itu tetap bisa menguasai diri. Tidak seperti Sherly yang mendadak kaku di hadapannya.
"Pergi sana! Nggak usah nempel-nempel!"
Keduanya uring-uringan. Sherly tidak ingin mengalah. Itu hal biasa untuk Dave. Dia seolah lupa bagaimana cara membuatnya bahagia. Menurut Dave, kebahagiaan Sherly adalah kebahagiaannya juga.
"Oh ya bee. Dimana coklatku tadi?" tanya Dave saat menyadari Sherly tidak membawa apa-apa.
Wanita itu membuka kedua tangannya. Membiarkan Dave melihat semua telapak tangan. Dave mencari coklat, bukan garis takdir yang melekat.
"Bee aku serius," rengek Dave.
"Aku juga serius. Ini kosong kan?" ucap Sherly seraya membalikkan tangannya.
"Iya," ucap Dave seraya mengangguk.
"Terus dimana?" imbuhnya.
"Tuh di belakang kamu," jawab Sherly.
Wanita itu menggunakan dagu untuk menunjuk arah yang dimaksud. Dia melepaskan pelukan Dave lalu berdiri. Sherly tersenyum penuh arti seolah wanita itu menyiratkan kalimat "terima kasih telah menjagaku."
Sherly membawa sepatu hak tinggi miliknya menuju kamar. Tidak lupa dia juga melepas cepolan rambut ala pramugarinya. Dave selalu terpana dengan kekasihnya. Apalagi dalam mode on tegangan tinggi.
__ADS_1
"Huushhh mandi sana!" usir Dave kesal.
Semakin lama Sherly di sana, semakin lama Dave kembali dengan halusinasinya. Sherly adalah wanita pemilik hati sekaligus pemilik semua ruang dimensi. Padahal wanita itu tidak pernah tebar pesona, tapi Dave selalu terpesona.
"Bee, kamu pakai pelet apa sih kok aku bisa jatuh cinta ke kamunya dalem banget," gumam Dave.
Percuma kamu merindu, jika kamu tidak berani bertemu. Si kecil ingin menemui nonanya, tapi apalah daya jika sang penguasa tidak bisa. Tegangan tinggi tak kunjung berhenti.
Benda itu semakin keras membuat Dave merasa lemas. Dia melirik ke bawah. Pahanya masih berukuran sama. Namun ada yang berbeda di tengahnya. Ada yang menyembul di balik celana.
Tangan kanannya terulur menyentuh miliknya. Dave melotot tajam ke sana. Laki-laki itu memarahi salah satu organ tubuhnya.
"Bisa diem nggak? Kalau nggak bisa, lain kali aku bakal ninggalin kamu di rumah. Percuma ikut ke sini kalau ujungnya cuma mau kangen sama Sherly."
"Ting" laki-laki itu menyentil juniornya agar tidak berulah.
Namun sayang, dia justru merasakan miliknya ngilu tidak tertahan.
"Awww sakit," ucap Dave parau.
Dave berusaha menetralkan gestur wajahnya. Dia pura-pura tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya. Dave meringis, perutnya mendadak tragis. Rasa mual tidak lagi bisa ditepis.
Laki-laki itu merebahkam tubuhnya di atas sofa kemudian memejamkan mata mengingat setiap tragedi yang dilaluinya. Sherly selalu menjadi alasan kenapa dia menjadi butuh penetralan. Dave tertawa. Ternyata hasratnya hanya terpancing saat dengan kekasihnya.
Si kecil perlahan mulai rileks. Mungkin dia mulai sadar apa yang akan sang tuan lakukan. Dave memilih diam. Dia tidak akan memanja miliknya di bawah sana. Laki-laki itu membiarkan organ vitalnya terus meronta karena yakin akan berhenti sendiri. Seperti saat ini misalnya.
Dave merasa ada yang janggal. Dia membuka mata lalu duduk sigap di tempatnya.
Tanpa meminta izin kepada Sherly dia berlari keluar sendiri. Dave tergesa. Dia memaksimalkan kecepatannya. Langkahnya lebar dari yang biasanya dilakukan. Dave bukan takut wanitanya akan marah. Hanya saja dia tidak kuasa melihat kekasih tercinta mengenakan handuk di atas kepala.
Tidak membenci, Dave cuma tidak ingin terbiasa seperti ini. Bagaimana mungkin dia akan bertahan jika apa yang diinginkan bisa saja didapatkan. Dave tidak pernah melakukan karena dia berusaha menjaga bukan malah menghilangkan.
"Ting" lift terbuka.
Dave masuk.
"Ting" lift terbuka lagi.
Dave berlari menuju bassement apartement. Dia memelankan langkahnya. Laki-laki itu telah berkeringat. Dave cukup lelah, tapi tidak masalah. Semua akan baik-baik saja selagi Sherly tetap memilihnya.
Mobil miliknya ada di depan mata. Dave membuka pintu belakang. Dia memasukkan separuh tubuh untuk melongok ke dalam. Tidak ada satu jilid tumpukan kertas.
Pintu belum ditutup, tapi Dave lebih dulu membuka pintu depan. Dia mencari di kursi samping kemudi. Dave tersenyum. Apa yang dicari benar ada di sini.
Tanpa Dave ketahui, sosok wanita telah menyelinap dan duduk di kursi belakang. Dia bahkan tersenyum saat ada seseorang yang membidikkan kamera.
Beruntung orang itu menjepret saat Dave tersenyum. Meski senyum keduanya dalam arti yang berbeda. Bahkan salah satu di sana tidak tau apa-apa.
"Breng*ek"
__ADS_1
"Bruk" Dave menutup pintu kasar. Dia lalu melirik ke belakang. Pintunya masih terbuka. Di sana ada wanita yang tadi bersimpuh di hadapannya.
"Turun!" ucap Dave dingin.
"Nggak mau Dave."
"Bisa turun sendiri atau mau gue tarik ha? Loe udah nggak punya hak buat duduk di sini!"
Wanita itu mengiba. Dia bahkan menitikkan air mata untuk mendukung dramanya. Dave jengah melihat. Dia sudah bertekad untuk tidak lagi dekat.
"Tik tik tik" Dave mengetikkan sesuatu di ponselnya kemudian memasukkan benda itu ke saku.
Senyum licik terbit di bibir Dave. Dia tidak lagi peduli siapa yang ada di hadapannya. Laki-laki itu bukan tidak memikirkan Sherly. Namun dia juga lelah dihadapkan dengan wanita tidak tahu diri.
Dave mendaratkan pantat di ruang kosong. Laki-laki itu menatap lekat. Mengamati penampilan wanita dari ujung kaki hingga ujung kepala. Semua masih sama, tidak ada yang berbeda.
"Apa aku dulu mencintai wanita sepertimu?"
Sarkasme menjadi alasan mengapa Dave membiarkan wanita itu tetap bertahan. Di tempat tidak jauh dari sana, sosok laki-laki setia mengabdi pada kamera. Seringai licik terbit di bibir menambah kesan seksinya.
"Sherly, bentar lagi kamu bakal bebas dari dia. Laki-laki tidak punya hati. Diam-diam mengkhianati."
Hening tercipta di atas jok yang menjadi dasarnya. Dave hanya menatap tajam. Dia tidak ingin memulai pembicaraan. Semua telah berakhir dan Dave akan mengubur dalam masa lalunya.
Semua sudah bulat. Tekadnya sungguh kuat. Wanita itu tidak berani berkutat.
"Pergi atau aku akan menyeretmu dari sini," tegas Dave.
Wanita itu membalas tatapan Dave. Laki-laki yang dulu mencintai sekarang menjadi benci. Wanita itu menyesal, tapi tidak tau dengan cara apa membuat cinta Dave terpental.
"Tapp tapp tapp" suara langkah besar mulai terdengar.
Wanita itu gusar, tapi juga tidak bisa menghindar. Dia ingin menunjukkan kepada semua kalau Dave adalah miliknya. Wanita itu mendekat. Bibirnya berusaha menggapai bibir Dave. Namun laki-laki itu lebih cepat.
Dave lebih dulu melepas sandal lalu menghadapkan ke arah wanita di sampingnya.
"Cup" beruntung bagi alas kaki karena dicium wanita cantik bak bidadari.
"Jangan berani menyentuhku! Apalagi dengan bibir kotormu!" bentak Dave.
Wanita itu menganga. Dia tidak yakin Dave telah berubah kepadanya.
"Apa maksudmu Dave?"
"Pergi!"
Dave berangsur minggir. Tangan kanannya menyeret sosok di dekatnya. Tepat saat itu Sherly berdiri di sisi kiri.
Wanita itu meronta. Dave membulatkan mata. Sherly meringis menyaksikan adegan di depannya. Dave keluar dari mobil lalu beridi. Matanya tidak sengaja bersitatap dengan Sherly.
__ADS_1
"Oh Lord! Please jangan pergi! Aku capek dari tadi salah paham terus," batin Dave.