Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Dulu kamu adalah alasan mengapa aku kembali


Saat ini kamu adalah alasan mengapa aku memilih pergi


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sherly duduk di sofa ruang tamu. Dave masih berjarak beberapa meter. Wanita itu merebahkan tubuhnya. Mwmbiarkan kaki jenjangnya terekspos sempurna.


Dave membulatkan mata. Bukan karena melihat tulang betis kekasihnya, tapi mengingat wanita itu seenaknya memenuhi sofa.


Pura-pura tidak peduli, Dave berjalan melewati Sherly. Namun wanita itu lebih dulu melakukan aksi. Kaki kanannya sengaja diturunkan lalu dengan sengaja pula digerakkan ke atas membuat Dave yang tidak melihat ke bawah menjadi terjungkal.


"Sheerrrrrlllyyyyy!!!!" pekik Dave.


"Fyiuh fyiuh fyiuh" Sherly menghembuskan nafas santai.


Wanita itu pura-pura tidur. Dia tidak bergerak sama sekali. Jangankan bergerak, sekedar bernafas saja dia melakukan dengan pelan.


Dave tidak kehabisan akal. Dia lebih licik dari kekasihnya.


"Sherly tidak mungkin tidur. Dia bahkan baru rebahan tiga puluh detik yang lalu," batin Dave.


Kekeh pada pendiriannya. Dave kini duduk di samping Sherly. Laki-laki itu menggeser sedikit tubuh wanitanya, lalu menempelkan pantat tepat di dekat pinggul Sherly.


Hanya itu ruang yang tersisa. Dave berusaha menahan beban Sherly. Sedikit saja Sherly bergeser maka Dave akan lengser. Tangan kanan Dave terulur menyentuh kaki jenjang Sherly. Dia membiarkan jari telunjuk meraba bulu halus yang ada.


"What the hell Dave!" umpat Sherly dalam hati.


Mulus, tapi ada bulu halus. Dave baru kali ini mengamati betis Sherly dengan jelas. Laki-laki itu menyusuri ke arah mana bulu halus berkelana.


Menuju sepatu hak tinggi lalu melepas sendiri. Dave membiarkan sepuluh jari Sherly terkena tiupan angin sepoi. Sherly merinding. Wanita itu mulai tidak yakin.


Benaknya dipenuhi pikiran liar. Dia membayangkan adegan terlarang. Sherly berdosa telah membohongi Dave. Maka ini adalah konsekuensi yang harus dihadapi.


Ibu jarinya, Dave sengaja menyentuh dengan jari telunjuk. Laki-laki itu menunggu reaksi Sherly. Jika sang empu tidak berkutik, maka Dave akan menggelitik.


"Bee," panggil Dave lirih.


Wanita itu masih memejamkan mata. Dia berusaha agar Dave berhenti menggodanya.


"Sher."


Hening.


Jari telunjuk Dave merangkak menuju telapak kaki. Wanita itu mulai merasa geli, tapi berusaha tidak peduli. Dave membiarkan lima jarinya bermain di bawah kaki Sherly.


"Kalau kamu tidur, nggak mungkin kamu bangun," sindir Dave.

__ADS_1


"Ngrokk ngrokk ngrokk" Sherly mengeluarkan dengkuran.


"Mana ada wanita cantik ngorok kaya gini. Ini mah akal-akalan aja. Aku udah pernah tidur sama kamu semalem, tapi nggak kaya gini suaranya."


Dave membuat pola lingkar di bawah sana. Apa yang dilakukan Dave justru membuat Sherly berpikir liar.


"Gerakan itu, astaga Dave. Hentikan please, ku mohon," rengek Sherly dalam hati.


Tangan kiri Dave terulur menuju kaki yang satu lagi. Laki-laki itu melepas sepatu hak yang masih melekat. Seringai licik muncul di benak Dave. Dia melakukan hal yang sama.


Dave telah berkuasa walau, hanya di depan kakinya. Laki-laki itu membuat pola lingkar di sana. Sama seperti apa yang dilakukan sebelumnya.


Sherly mulai merasa ada yang berbeda. Semakin lama wanita itu merasa tidak lagi biasa. Dave serius dengan permainannya. Sherly berusaha agar tidak tertawa, tapi Dave mempercepat gelitiknya.


"Kok kakinya gerak sendiri ya? Apa pemiliknya udah bangun dari tidurnya?" ucap Dave bermonolog.


Dengan kesal, Sherly membuka mata dan duduk menghadap ke arah Dave. Bola matanya membulat. Dia kesal, tapi tidak dengan Dave.


"Rambut acak-acakan, matanya bulat. Jangan bilang kalau dia kerasukan," gumam Dave.


"Daaavvveeee," pekik Sherly.


"Damn! Senjata makan tuan," imbuhnya.


Bibir milik Dave mulai melengkung. Meski samar, Sherly tetap bisa melihat. Wanita itu merona. Semburat merah muncul di kedua pipinya.


"Berhenti tersenyum Dave," ucap Sherly.


Wanita itu menunduk. Dia tidak mau sisi liarnya terus berkecamuk. Fantasinya terlalu tinggi. Sherly sendiri tidak yakin dengan nanti.


"Apa aku menggodamu?" tanya Dave pura-pura polos.


Sherly merengut. Wanita itu mengerucutkan bibir. Dave selalu berhasil menggodanya. Sementara dia bahkan belum tentu berhasil membuat pertahanan Dave runtuh.


"Jangan bersikap bodoh. Aku tidak suka kamu ceroboh."


Dave menaikkan alisnya. Laki-laki itu mengamati wajah kekasihnya. Dia belum mandi, tapi rasanya Dave ingin menelanjan*i.


Tangan kanannya menyentuh kepala Sherly. Kemudian berangsur mengusap anak rambut di sana. Laki-laki itu membenarkan tatanan yang sempat berantakan.


"Mandi sana. Kamu bau," lirih Dave.


"Cup" Sherly mencium bibir Dave membuat beberapa detik berjalan lambat untuk keduanya.


Lewat sorot mata Dave melihat adanya cinta. Dia sempurna. Wanita itu bahkan lebih tinggi derajatnya. Namun sayang, dia hanya menjadi kekasih laki-laki sederhana.


"Apakah kamu menyesal?" tanya Dave.

__ADS_1


"Tentang?"


"Kita."


Sherly mengamati iris yang sama dengan miliknya. Wanita itu mencari celah di dalam sana. Tidak ada dusta, apa mungkin terselip harapan untuk bahagia?


"Aku tidak pernah menyesal memilihmu," jawab Sherly.


"Lalu bagaimana dengan mereka?"


"Semua punya hak untuk mencintai, tapi jangan salahkan aku jika mereka mendekati. Mungkin aku terlalu baik hingga mereka tertarik."


Setiap centhi meter yang terbentang membuat Dave terus berperang. Laki-laki itu mulai merasa garang. Miliknya di bawah sana sudah meronta.


Hembusan nafas saling terperas. Aliran darah mulai terpecah. Dave merasa ibu jarinya keram. Laki-laki itu bahkan saling mengaitkan dengan jemari di dekatnya.


Sherly meringis. Perubahan Dave sangat drastis. Tangan laki-laki itu mulai menyentuh pipinya. Sherly menunduk seketika.


"Jika nanti aku pergi, siapa yang akan menjadi pengganti?" ucap Dave tiba-tiba.


"Tolong jangan. Aku tidak mau kembali dikecewakan," pinta Sherly.


"Cup" Dave mengecup leher Sherly.


Wanita itu berusaha sekuat tenaga. Dia menjaga agar hasratnya tidak timbul saat itu juga. Waktu masih panjang, bahkan dua belum sampai di penghujung cintanya. Semua baru mulai, jelas itu belum selesai.


Persimpangan di ujung jalan masih berteman dengan kenangan. Dia abadi dalam gelapnya malam. Bahkan menyapu indah pekatnya tikam.


"Bintang masih bersinar. Seperti cintamu yang tidak pernah pudar. Jujur saja seseorang pernah bodoh karena cinta, tapi bukan berarti hidupnya sia-sia. Jika waktu membuatku tau, maka detik adalah penghargaan untukmu. Parasmu singgah di setiap lembah. Sedang senyummu membuat hatiku lemah."


"Tolong berhenti. Aku tidak bisa bertahan jika yang kamu ucapkan adalah kebohongan."


"Kebohongan adalah ketika aku membencimu. Tapi kenyataan adalah saat aku memilikimu."


Dave menyentuh bibir Sherly dengan ibu jari. Wanita itu memejamkan mata. Dave selalu bisa membuat pertahanannya runtuh tanpa diminta.


Jarak tidak lagi tercipta seperti sebelumnya. Dave belum memangkas semua. Namun setidaknya mampu untuk mengurainya.


Cinta berkuasa di atas segalanya, tapi ingatlah bahwa nafsu lebih kuat daripada tekat. Dia akan muncul begitu saja. Tanpa dipinta, tanpa ada yang meminta.


"Bolehkah aku meminta untuk yang pertama?" bisik Dave tepat di depan indra pendengaran Sherly.


Wanita itu memalingkan kepala hingga keduanya berhadapan. Bibir tidak lagi bicara, tapi sorot mata mulai menyiapkan aksinya.


"Cup" Sherly melu*at bibir Dave lalu memeluk lehernya.


Dave menarik tubuh Sherly lalu menghimpitnya.

__ADS_1


Jangan lupakan, dekat belum tentu lekat. Tapi jauh sudah pasti membuat jenuh. Pria adalah makhluk seribu kosa kata. Dia bisa saja membuatmu terpana, lalu dengan mudahnya membuatmu kecewa.


__ADS_2