Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Demi Apapun


__ADS_3

Dave melupakan satu hal. Dia merasa ada yang janggal, tapi bukan keadaan. Merasa ada yang kurang, tapi bukan perhitungan.


"Sher."


"Hm."


"Ada yang hilang, tapi bukan bayang."


"Ada yang masih mengenang, meski berusaha untuk hengkang."


"Belajarlah mencintai agar kamu tau indahnya dicintai."


"Aku pernah mencita," Sherly belum melanjutkan ucapannya tapi Dave sudah menjeda.


"Tapi disakiti. Sher, please aku benci mendengar kalimat tadi."


Dave menggenggam jemari Sherly, menautkan keduanya agar menyatu dengan milik Dave Anggara. Tidak peduli dimana saat ini berada. Sherly sendiri bahkan lupa bagaimana caranya mereka berada di dalam kamarnya.


"Dave," panggil Sherly.


"Hm."


Dave menatap tajam ke arah bola mata Sherly. Tatapan itu, Dave memandang Sherly dengan kekosongan. Sherly merinding sekaligus tidak bergeming.


Dave berjalan maju, sementara Sherly melangkah mundur. Pandangan mereka masih terkunci. Dave telah pergi bersama pikiran liarnya. Sedang Sherly masih berusaha untuk mempertahankan diri.


"Ternyata pesona Dave lebih kuat dari Brian. Aku tidak, bisa berkutik di hadapannya," gumam Sherly.


"Ssstttt" jari telunjuk Dave menyentuh bibir Sherly.


Di detik berikutnya, ibu jari menyusul mengusap sesuatu yang seksi di hadapannya.


"Jangan menyebut nama lain di hadapanku. Jangan lagi menyimpan nama asing di hatimu. Biarkan aku mengisi kekosonganmu," bisik Sherly.


Senyum tulus tercipta saat Dave mengakhiri kalimatnya. Sherly tidak meronta seperti saat Brian hampir memaksanya. Oh tidak, Sherly hampir lupa jika dia tidak lagi memiliki kewajiban untuk mengingat Brian.


Dave menenggelamkan kepalanya di tengkuk Sherly. Setiap hembusan nafas membuat Sherly terus merasakan gelisah. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya seakan tercekat.


Sherly memejamkan mata menikmati sapuan angin yang Dave punya. Rasa nyaman mendadak menguasai keadaan. Jemari yang masih bertautan itu tidak pernah bergeser sedikitpun, tapi saat ini Sherly berusaha melepaskan diri.


Mengalungkan kedua tangannya di atas tubuh Dave. Tepat di lehernya hingga Dave terpaksa mendongakkan kepala.


Mereka begitu dekat tanpa ada jarak yang mengikat. Dave merasa setiap hembusan Sherly penuh dengan kegugupan.


"Apa aku juga seperti itu?," batin Dave.


Jika melihat dengan jarak dekat membuat jantung Dave terus berdetak, kenapa Dave melakukannya? Dasar laki-laki bod**.


"Dave, kumohon menjauhlah. Setiap helaan nafasmu membuatku ingin selalu di dekapanmu. Jika aku mencintaimu, bagaimana dengan cinta yang kau punya? Aku bahkan bodoh karena tidak pernah bertanya tentangnya," batin Sherly.


Dave memajukan lagi kepalanya membuat keduanya benar-benar hanya tersisa kulit saja sebagai jarak.


Bibir laki-laki itu hendak maju, tapi Sherly memanggilnya.


"Dave."


"Hm," gumam Dave tanpa berniat menjauh.


"Cup" kecupan singkat mendarat di bibir Sherly.


Sherly menarik jari telunjuknya lalu menempelkan di bibir Dave setelah lebih dulu menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya.


"Bagaimana dengan cintamu? Apa kamu menyimpan perasaan untuk seseorang? Bagaimana dengan kehidupanmu? Apakah hidupmu sungguh sangat istimewa? Lalu kenapa pada akhirnya kamu menjatuhkan pilihan hanya kepadaku saja? Bukan kepada mereka para wanita yang lebih segalanya dariku. Bagaimana dengan kesabaranmu? Apa semua cukup untuk menghadapi sikap kekanak-kanakkanku?," cerca Sherly.


Dave tersenyum. Hatinya bahagia. Akhirnya Sherly mulai peduli dengan hidupnya. Satu hal yang tidak pernah Dave bayangan. Demi apapun, Dave bahagia atasannya sudi berbagi kehidupan dengannya.


Tangan kiri Dave terulur maju menyentuh dinding tepat di atas bahu Sherly. Lalu tangan kanannya menyentuh pipi wanita itu.


"Demi apapun, kamu terlalu sempurna untukku. Tapi bolehkah aku mengubah hidupku agar layak bersanding denganmu?," ucap Dave pelan.


Tatapan Sherly meredup. Dia membiarkan Dave berkutat dengan hipotesisnya. Karena gugup, Sherly memilih menunduk. Ingin rasanya menghindari Dave untuk saat ini, tapi tidak dengan kenyataannya.


"Tatap aku Sherly. Bagaimana kita bisa bersama jika setiap kali kamu memalingkan muka. Aku serius dengan ucapanku sayang."


Sherly memantapkan hati. Menguatkan jantungnya yang terus memompo aliran darah lebih cepat. Untuk kedua kali, Sherly akan kembali mencintai. Wanita itu memejamkan mata mencari keputusan terbaiknya.


Ya, bagaimanapun hanya Dave yang Sherly punya. Tidak ada sosok lain yang setia kepadanya selain tangan kanannya. Tunggu, Dave setia karena cinta atau karena pengabdiannya?

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan hm? Bukankah sudah kukatakan, jangan berpikiran tentangku yang berlebihan. Jangan pernah mengingat sesuatu yang tidak bisa membuatmu bahagia. Kamu terlalu takut untuk melupakan karena kamu masih sayang dengan kenangannya."


Sherly menatap Dave seolah tatapan itu adalah sebuah siratan.


"Aku tidak akan pernah mengatakan jika aku bukanlah laki-laki seperti dia. Aku pernah jatuh cinta. Pernah juga kecewa. Jadi aku memilih untuk tetap menjaga siapapun yang telah membuatku bahagia."


"Jika nanti seseorang kembali dan dia mengatakan hal yang belum pernah kukatakan, apa kamu akan mempercayainya?"


"Aku percaya apapun yang akan kamu katakan."


"Sekalipun kebohongan yang kuucapkan?," tanya Sherly memastikan.


Dave mengangguk.


"Aku menghargai setiap ucapanmu, jadi jangan pernah menyalahgunakan kepercayaanku. Meski bibirku tidak bisa berkata saat kamu berdusta, tapi hatiku bisa merasa. Kepekaan hati lebih sensitif daripada sebuah lidah yang mengecap rasa pahit."


"Jika seseorang mengatakan dia adalah tunanganku, apa kamu percaya?"


"Aku tidak mempercayai siapapun selain kamu," Dave menjeda ucapannya.


Menghembuskan nafas berat, lalu kembali menatap Sherly lekat.


"Aku tidak menuntut kamu agar bicara yang sejujurnya, tapi sebagai pasangan aku wajib untuk percaya. Jika kamu mengatakan suatu kebohongan, maka kebohongan yang lain juga akan ada. Aku tau jika hatimu tidak akan sanggup untuk kembali terluka. Maka dengan sangat yakin aku percaya jika kamu tidak pernah bersikap palsu di depan seseorang yang tulus mencintaimu."


"Would you be my lover?," bisik Dave dengan suara serak basahnya membuat Sherly sedikit tergoda.


"Kalimatmu terkesan berlebihan Dave."


"Jangan out of topic Sherly," ucap Dave menegaskan.


"Big no sher! Dia serius dengan ucapannya. Lalu siapkan jawabanmu secepatnya," batin Sherly.


"Cinta tau apa yang harus dilakukan. Berharap dihargai, pasti siap untuk menghargai. Oh please sher. Ini pelajaran yang menjadi keseharianmu."


"Kenapa kamu begitu pandai menebak arah bicara ku?"


"Tentu karena aku sudah mengenal jauh tentangmu. Mengetahui setiap inchi luar dalammu melebihi kamu. Sang pemilik tubuh yang tidak bisa menyembuhkan luka menganganya."


"Daaveee," pekik Sherly.


Dave semakin berani menatap Sherly. Sorot mata yang biasanya teduh kini berubah keruh. Dave memberikan tatapan tajam seolah laki-laki itu menerkam.


Sherly menelan ludahnya sudah payah. Apa Dave akan berubah liar? Dimana Dave yang selama ini dikenal? Sherly mencengkeram ujung kaos yang Dave kenakan seraya menggigit bibir bawahnya.


"Oh shit! Aku berusaha menjaga agar milikku di bawah sana tidak meronta, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru membangunkannya honey," batin Dave.


Dave memejamkan mata dengan kedua tangan terulur memeluk kekasihnya. Sherly telah resmi menjadi miliknya sejak beberapa detik lalu Dave mengutarakan perasaannya. Tanpa ataupun dengan jawaban yang Sherly katakan, Dave tetap menganggap Sherly akan menerimanya.


"Cup" Dave mencium puncak kepala Sherly lalu mengacak anak rambut di hadapannya.


Membuat Sherly cemberut adalah kebiasaan baru. Dave suka semua yang Sherly punya. Sebelum Dave kehilangan akal sehatnya, laki-laki itu segera menggandeng Sherly dan berjalan meninggalkan ruangan terkutuk.


Pernah tidur di atas ranjang yang sama membuat jiwa lelaki Dave meronta. Namun untuk membuka yang belum menjadi miliknya bukanlah keinginan Dave Anggara.


Meskipun dia hanya seorang bawahan, tapi jangan lupakan. Dia juga memiliki hak untuk bahagia. Sama seperti atasannya yang miris perihal cinta.


Keduanya keluar kamar dengan wajah yang sama-sama merona. Pikiran kotor sudah tidak bisa tersimpan rapi. Sekelebat adegan dewasa bermain indah di benak mereka.


"Bruk" Dave berhenti berjalan membuat Sherly menabrak punggung Dave tanpa sengaja.


Laki-laki itu membalikkan tubuhnya. Tersenyum manis ke arah Sherly lalu memeluk wanita itu dengan penuh cinta.


"Sekarang bisakah kamu memberiku kesempatan untuk terus bertahan? Aku ingin selalu di sini. Tidur di atap yang sama juga berbagi ranjang disetiap malamnya."


"Daaveee! Hentikan otak mesummu itu," pekik Sherly.


"Hei nona, bisakah anda sedikit menghargai saya sebagai pasangan? Aku tu cuma mau denger suara kamu mendesah bukan terus menbuatku bersalah," cibir Dave.


Sherly mengerucutkan bibir. Baru saja laki-laki di hadapannya membuatnya bahagia, tapi sekarang apa? Dia sudah menjelma menjadi tangan kanannya yang menyebalkan.


"Percuma punya pacar kalau akhirnya cuma bikin aku harus punya stok sabar. Mending jomblo aja kalau gitu. Ternyata sendiri lebih membuatku mengerti daripada berdua tapi membuatku sengsara," gerutu Sherly tanpa sudi memandang ke arah kiri.


Setelah tadi Dave memeluknya, laki-laki itu lalu menghempaskan Sherly ke atas sofa. Membiarkan wanita itu duduk dengan terpaksa, tapi bukan Dave jika tidak bisa membuat Sherly tertawa.


Mencium bibir lalu menghirup leher Sherly. Untuk wanita mana saja tentu akan merasa bahagia jika diperlakukan sedemikian rupa. Meski setelahnya Sherly tetap saja mendengus kesal karena Dave-nya.


Tidak ingin mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, Dave memilih membawa VCD kesayangannya. Di dalamnya, Dave bisa melihat dengan jelas setiap adegan pelukan dan saling membutuhkan.

__ADS_1


"Ah, andai saja," gumam Dave.


"Woey Dave!" teriak Sherly seraya menggoyangkan tubuh Dave membuat sang empu refleks melotot ke wanitanya.


"Huuftttt" Dave menghembuskan nafas kasar.


"Ternyata Sherly semenyebalkan ini. Ya ampun, kenapa dia masih saja menutupi perasaannya," batin Dave.


Tanpa memperdulikan Sherly, Dave berjalan menuju TV dan DVD. Menghidupkan benda kotak besar lalu beralih ke benda kecil di bawahnya. Memasukkan piringan kecil kemudian menekan tombol putar.


Pertama Sherly ikut menikmati. Menyandarkan tubuhnya ke arah Dave untuk sekedar menikmati situasi. Begitu juga Dave, dia turut menyandarkan kepalanya di atas kepala Sherly.


Setengah jam berlalu. Dave masih setia dengan film yang dilihatnya. Namun tidak dengan Sherly. Tanpa Dave sadari wanita itu telah terlelap sejak tadi.


"Sayang."


Hening.


"Baby."


Masih hening.


Dave melirik ke arah Sherly mendapati wanita cantiknya memejamkan mata.


"Tidurlah dengan tenang bee. Aku akan selalu menjagamu," gumam Dave.


Dengan penuh perasaan Dave membenarkan posisi Sherly. Menaikkan kaki Sherly ke atas sofa, lalu membaringkan kepalanya, di paha Dave.


"Damn," umpat Dave pelan saat kepala Sherly menyentuk batang kerasnya.


"Dasar junior nggak tau diri. Baru juga nggak sengaja disentuh udah mau melenguh," imbuhnya.


Mulai hari ini Dave harus terbiasa berbagi. Dia tidak lagi sendiri, tapi sudah bersama wanita yang akan terus mengikuti. Rasanya berada di sana tidak melakukan apa-apa membuat sisi jahil Dave berbicara.


"Dave coba kamu abadikan wajah jeleknya saat terlelap laku lihatlah ekspresinya saat terbangun nanti."


"Tidak Dave! Jangan! Lebih baik kamu menciumnya saja. Lagi pula kamu bebas melakukan apapun. Wanita itu tidak akan terbangun."


"Dave bawa wanita itu ke kamarnya lalu lakukan apa yang sedang kamu bayangkan."


"Tidak! Jangan!"


"Aaarrgghhkkk! Kamu itu tidur bee, tapi kenapa bikin dedek emesku yang lagi tidur jadi bangun," ucap Dave pasrah.


Pada akhirnya Dave memilih tetap di sana. Menemani Sherly tidak harus dengan meniduri. Dave bukanlah laki-laki polos, tapi dia juga tidak pernah membiarkan tubuhnya terekspos.


Mengamati Sherly yang menggunakan pahanya sebagai bantalan membuat Dave tiada henti tersenyum penuh kelicikan. Adegan dewasa yang pernah dilihat bergeriliya di benaknya. Dave ingin rasanya melakukan ketika Sherly berada dalam mode off kesadaran. Tapi tidak, Dave bukanlah pecundang yang bermain curang.


"Ngapain pas dia tidur sih? Kan pas dia sadar juga dia mau," gumam Dave.


Setengah jam berlalu Dave menunggu Sherly yang masih berada di alam mimpi. Perlahan kelopak mata Dave terasa berat. Beberapa menit kemudian sudah tidak ada lagi penerang dunia. Dave terbang ke alam khayalan menemui sang pujaan.


Mereka mengukir kenangan indah di sana. Tidak ada seorangpun yang berani mengusik kebahagiaannya. Senyum Sherly tulus tanpa ada apapun yang disebut modus.


Suatu kebetulan Dave dan Sherly mimpi di tempat yang hampir bersamaan. Bahkan mereka juga sama-sama berada di atas ranjangnya. Taburan bunga mawar terlihat indah sebagai toppingnya.


Dave semakin mendekatkan diri saat Sherly terus memeluknya tanpa jeda. Sesekali wanita itu mengusap lembut punggung kekasihnya.


"Bisakah kamu tetap bersamamu sekalioun nanti dunia mempermainkan ku?"


"Tentu, kamu adalah hidupku dan aku akan selalu ada di sampingmu."


"Cup" Sherly mencium bibir Dave yang sedari tadi tengah mengamati.


Pelukan erat Sherly lakukan agar tidak terjatuh dari kedua lutut yang mendadak lemas. Dave tidak tahan, tapi tidak rela jika diabaikan.


Kecupan kecupan kecil membuat tubuh Sherly menggigil. Wanita itu yang memulai, tapi wanita itu juga yang tidak sanggup untuk melerai. Dave terlanjur menikmati apalagi mulai paham dengan situasi.


Jika Sherly telah nengawali, pertanda wanita itu sedang memendam keinginannya. Dia berusaha tidak mengoyak pertahanannya, tapi justru merobohkan benteng tebal yang Dave punya.


Jemari lentiknya berjalan turun ke arah leher. Mengusap lembut leher Dave lalu memiliki setiap anak rambut yang berantakan.


"Cup" Dave melepas ciumannya, lalu mengecup leher jenjang wanitanya.


Laki-laki itu suka bermain di sana. Area yang membuat tubuhnya bisa menegang sepenuhnya.


"Sher, i want," gumam Dave.

__ADS_1


__ADS_2