
Saat aku ingin mengejarmu,
Jarak terlalu jauh bersamaku
Namun, satu yang selalu kutuju
Yakni mendapatkan cintamu setulus aku menyayangimu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherly tidak peduli dengan Dave yang nantinya memilih meninggalkan atau mengejar keterlambatan. Tiba di depan pintu apartementnya, wanita itu memasukkan password lalu menyembulkan tubuh seluruhnya ke ruang tamu.
Menghempaskan tubuh lelahnya di atas kursi empuk yang setia menanti sang majikan. Lelah bukan karena pekerjaan, tapi lelah karena kebahagiaan.
"Akhirnya hidup bahagia juga. Yah, meskipun nggak tau sampai kapan," Sherly bergumam seraya membenarkan posisinya.
Wanita itu menaikkan kakinya ke sofa. Sungguh pribadi tidak sopannya muncul begitu saja. Sherly lantas menggunakan pembatas sofa sebagai bantal lalu memejamkan mata.
Entah sampai di fase mana Sherly merangkai mimpi, yang jelas wanita itu sayup-sayup mendengar suara mendekatinya.
"Tapp tapp tapp" derap langkah mulai mendekat.
Dave akhirya memilih untuk menginap di apartement Sherly. Tidak ada salahnya untuk pendekatan yang lebih intim.
Seakan ada beban yang menghimpitnya, Sherly merasa ruang geraknya sedikit sesak. Namun wanita itu tetap bertahan di alam khayalan.
"Bee."
Hening.
"Sher."
Hening lagi.
"Sherly, aku mau nginep di sini. Bangun dong. Aku nggak mau tidur sendiri," Dave merengek seraya mengguncang tubuh Sherly.
Sedikit demi sedikit kesadarannya mulai bangkit. Sherly membuka mata setelah mendengar rengekan manja Dave. Mirip seperti anak kecil yang minta sesuatu kepada orang tuanya.
"Uhuy, akhirnya bangun juga putri tidurku."
Hampir saja Dave melompat girang, tapi urung saat melihat Sherly perlahan membuka mata.
"Dave," Sherly memastikan apa yang dilihatnya adalah benar.
"Hm."
__ADS_1
"Kenapa belum pulang?."
"Sherly bod*h atau gimana? Katanya tadi suruh tidur sini, sekarang malah diusir. Hei, walaupun kamu nggak terus terang, tapi aku itu adalah kalimat usiran," gerutu Dave dalam hati.
"Dave, kok diem?."
Bibir seksi Dave sedikit maju. Seakan ingin menggerutu, tapi tidak bisa untuk berlalu. Sherly suka apapun tentang bibir Dave. Semua tentangnya, termasuk apa yang saat ini dilihatnya.
Sherly bangkit dari tidurnya. Duduk di samping Dave dengan jarak beberapa jengkal saja. Wanita itu mendekati telinga Dave. Membisikkan sesuatu dengan nada khas bangun tidurnya.
"You're so hot Dave. Bibirmu membuat gejolak tersendiri di dalam ragaku."
Refleks wajah Dave memanas. Aliran darahnya terasa deras. Jantungnya seakan berpacu lebih cepat.
"Please Sherly," Dave bergumam dengan nada lirih.
"Ini baru satu jam di sini, bagaimana jika semalam? Aarrgghhkkk no! Aku tidak yakin sher," batin Dave putus asa.
"Udah nggak usah banyakan modus. Sini ikut aku. Mau tidur di kamar atau di sofa hm?."
Sherly berjalan menuju ke kamarnya. Hanya ada satu ruangan dengan ranjang king sizenya. Sementara Dave setia berdiri di belakangnya.
"Klek" Sherly membuka pintu kamarnya lalu masuk dan mendudukkan pantatnya di tepi ranjang.
"Aku cuma punya satu kamar dan satu ranjang. Dimana kamu akan menghabiskan malam yang panjang, aku tidak akan melarang."
Bukan Sherly yang tergoda, tapi Dave yang ingin segera memangsa. Senjata makan tuan untuk Dave Anggara.
Menyadari tatapan Dave yang beda dari tadi, Sherly segera menyadari kemana sorot mata Dave mengitari. Dua gunung kembar miliknya.
"Jangan berani menyentuhku."
"Upps, aku tidak berjanji nona. Bukankah anda yang membawa singa masuk ke kandangnya."
"Slowly Dave, bukankah kamu lebih tau siapa diriku. Lihat saja siapa yang akan kalah malam ini. Dan esok, jangan ragukan apa yang akan terjadi kepada kita nantinya."
Kerutan samar muncul di dahi Dave. Laki-laki itu tidak mengerti kemana arah pembicaraan Sherly saat ini. Sejenak Dave berpikir, apakah nonanya juga memiliki libido yang tinggi sepertinya. Lalu bagaimana selama ini menyalurkan jika katanya dia belum pernah merasakan sentuhan.
"Mesum," ucap Dave tanpa rasa bersalah.
Laki-laki itu berjalan santai lalu merebahkan tubuhnya di samping Sherly.
"Bruk" Dave jatuh tengkurap di ranjang empuk, sementara sang empu membulatkan mata karena terganggu.
"Sher, pinjam paha buat bantal boleh?," tanya Dave pelan takut membuat wanita di dekatnya berubah menjadi se*an yang bisa menggigitnya kapan saja.
__ADS_1
Beruntung Dave tidak melihat wajah Sherly. Karena sejak laki-laki itu ingin meminjam pahanya, Sherly merasa ada desiran aneh di dadanya..
Tangan kanan Dave terulur mencari sosok Sherly. Sial, tanpa sengaja Dave malah menyentuh daerah rawan bencana. Lalu menyusuri pinggang rampung dan menarik agar mendekat ke arahnya.
"Tapp" Dave masih dengan posisi tengkurapnya.
Laki-laki itu membalikkan badan, berada di posisi terlentang saat kepalanya menyentuh paha mulus Sherly. Keduanya saling bersitatap. Hening, hanya tiupan angin yang menjadi pengiring.
Sherly gugup. Wanita itu merasa selalu jiwanya bergejolak saat berada di jarak sangat dekat dengan Dave.
"Dave"
"Hm."
"Aku mau mandi sama ganti baju dulu. Kamu juga ya."
"Aku nggak bawa baju ganti sher."
"Ambil di lemari aja, aku punya pakaian laki-laki di sana. Oh ya, mending kamu dulu aja yang mandi biar sekalian aku cuci bajunya."
Dave mengernyit heran.
"Cuci baju?," Dave bertanya karena atasannya orang kaya, lalu untuk apa harus melakukannya.
"Iya Dave, aku tu hidup sendiri. Mana ada pembantu di sini. Aku juga jomblo nggak punya pacar apalagi suami. Jadi siapa yang mau beres-beres kalau bukan aku."
"Eh, kok jadi curhat," imbuh Sherly.
"Tu tau, kenapa nggak loundry aja non? Kan nona punya uang banyak. Lagi pula, di sini kan aku yang bawahan, jadi biar aku aja yang nyuci kamu tidur aja."
"Enak aja kamu yang nyuci. Bisa-bisa kamu nyuri."
"Nyuri apa? Gue juga masih mampu keules."
"Nyuri segitiga biru sama masker berendaku. Udah Dave, mandi sana."
Sherly segera mengusir Dave agar turun dari pahanya. Meski berat, laki-laki itu tetap berbuat. Dengan lancang berjalan menuju lemari, lalu mengambil celana bokser dan kaos pendek dari sana.
"Awet banget baju mantan diabadikan. Nggak bisa move on? Bilang boss. Jangan ginilah, jiwa cemburuku meronta," batin Dave.
Laki-laki itu mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Menanggalkan pakaiannya satu per satu, lalu berakhir dengan menikmati guyuran air hangat dari kucuran shower.
Untuk pertama kalinya, Dave mengagumi wanita seutuhnya. Bukan hanya berwibawa saat menjadi atasannya, ternyata bisa menjadi ibu rumah tangga sesungguhnya.
"Dalam diam aku mengagumimu, tapi dalam diam aku juga mendoakanmu. Semoga takdir menjadikan aku dan kamu bersatu dalam alunan kalbu."
__ADS_1
Untuk pertama kalinya juga Dave melakukan ritual malam tanpa rasah malas sedikitpun. Malah laki-laki itu sanggup melakukan lagi jika Sherly mau menemani.