
Dan aku mengakui, aku dibodohi oleh aksara yang kurangkai sendiri
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Berhenti membahas belum tentu selesai mengulas. Hanya saja saat ini Dave merasa otaknya sangat lelah. Bukan penat karena kerja rodi, tapi memikirkan satu laki-laki lagi.
Sebuah laporan kembali Dave raih. Dia membuka lembaran demi lembaran. Mengamati kolom dan tabel yang menyatu menjadi garis-garis kotak.
Kali ini dia akan membahas perihal pengeluaran kas kecil. Di atas kertas tertulis judul dengan luwes "Perjalanan Boss Sherly dan Sekretaris Pribadi"
"Daaveeee! Laporan macam apa ini?" pekik Sherly.
Dave turut mengamati. Itu adalah judul yang dibuat untuk mengenang kisah indah mereka, tapi Dave tidak tau kalau nonanya turut membaca dengan teliti.
"Maaf nona," sesal Dave.
"Kenapa minta maaf? Aku bertanya, maka jawablah dengan sejujurnya."
Dave mengumpat dalam hati. Dia merutuki kebodohan yang hakiki. Kala itu Dave memang berpikir membuat dua laporan untuk cadangan.
Perjalanan yang merupakan keberuntungan akan Dave arsipkan. Sekretaris itu berharap suatu hari nanti Sherly akan menanyai.
Karena tidak ada jawaban dari Dave, maka Sherly memututskan untuk mengambil pena dan membubuhkan tanda di sana.
Paraf kecil Sherly sematkan di bawah tulisan yang tidak semestinya. Ditambah dengan notes kecil di sampingnya.
"Harap membuat laporan dengan jelas."
Sherly menurunkan penglihatannya. Dia mengamati setiap tabel yang ada. Garis kotak pemisah dan penghubung saling bersambung.
Tidak lupa ada jeda di setiap nominalnya. Sherly mengamati, lalu meneliti. Hari, tanggal, dan jam disusun dengan rangkaian kegiatan. Berikut keterangan ada di akhir barisan.
Wanita itu menggumam. Dia seperti asing dengan berkas di tangannya. Tadi pagi kebetulan Sherly membuka laptop milik Dave.
Benda itu menyala. Folder yang ada juga hasil dari suntingan. Entah siapa pelakunya, tapi Sherly merasa seseorang bersembunyi di tengah keberhasilan.
"Dave," panggil Sherly.
Pemilik nama refleks memalingkan kepala. Dave menghadap ke arah Sherly. Lebih tepatnya menatap kedua bola mata.
"Kenapa bee?" tanya Dave ragu.
Pasalnya saat ini mereka membahas tentang kerja. Biasanya Dave sadar diri kepada siapa dirinya berhadapan. Namun kali ini dia justru memulai kelancangannya sendiri.
Sherly sedikit mendongak. Dia mengedarkan pandangan dengan menyapu seluruh wajah.
"Nggak papa," ucap Sherly.
Dave mengerutkan dahi. Apakah rasa tidak tau diri itu akan selalu tertata rapi? Sherly bukan tipe manusia yang melakukan apapun dengan sia-sia. Termasuk saat dia menyuarakan nama lawan bicara, berarti ada hal penting yang ingin ditanya.
"Apa ada kesalahan?"
"Ini beda dengan laporan tadi pagi."
Tadi pagi Dave berada di apartement Andra. Laki-laki itu mendadak sudah ada di kamar Andra. Lalu dia kembali pulang ke apartemennya. Sementara Sherly membahas tadi pagi.
"Hari ini aku cuti," ucap Dave.
"Aku tau. Maksudku, tadi pagi aku duduk di meja kerjamu. Laptopmu menyala. Aku membuka riwayat terakhir penyuntingan. Di sana menunjukkan laporan yang saat ini kupegang baru saja diedit," jelas Sherly tanpa berniat mengalihkan penglihatan.
Matanya terus mendelik ke arah berkas. Sherly yakin ada yang tidak beres. Tapi wanita itu tidak bisa memecahkannya.
"Ddrttt ddrrtt ddrrtt" ponsel milik Dave bergetar.
Laki-laki itu segera mengambil dari saku lalu melihat siapa pemanggilnya. Nama Andra tertulis jelas di sana.
"Hallo."
"Kamu dimana Dave?"
Dave melirik ke arah Sherly. Wanita itu terus mengamati. Dave mengangguk membuat Sherly mengernyitkan dahi.
"Aku di apartement Sherly."
Di seberang Andra nampak ragu. Sementara di dekat Dave, kekasihnya tengah menunggu.
"Kenapa ndra? Bisa teruskan kalimatmu?" imbuh Dave.
__ADS_1
"Tadi pagi Nona Sherly terlihat aneh. Ada kejadian janggal hingga nona memutuskan bekerja di ruanganku sepanjang hari."
Dave menatap sinis ke arah Sherly. Laki-laki itu cemburu. Tidak ada dia di kantor, tapi malah bersama Andra di ruangannya.
"Kenapa?" ucap Sherly.
Andra mendengar suara Sherly. Tentu saja saat ini Sherly tengah mengintrogasi. Andra menghela nafas lalu berniat memutus panggilannya.
"Tanyakan padanya."
"Tutt tutt tutt" Andra memutus panggilan sepihak.
Tatapan tajam tertuju kepada Sherly. Dave tidak tau apalagi yang Sherly tutupi.
"Andra ember," pikir Sherly.
Dan sebentar lagi sesi introgasi akan dimulai. Dave menyusun pertanyaan dalam benaknya. Dia benci situasi canggung seperti ini, tapi terus bersama akan membuat Dave kembali ke sifat asalnya.
Ya, Dave memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dia akan melakukan apapun hingga Sherly mengakui.
"Katamu kamu duduk di kursi kerjaku. Lalu apa yang kamu temukan?"
"Kejanggalan."
"Tentang?"
"Entah, hingga akhirnya aku memilih meneliti semua laporan di Divisi Keuangan."
"Di ruangan siapa?"
"Andra."
"Kamu bermain dengannya?"
"Pletak" Sherly menjitak kepala Dave.
"Gila! Mana mungkin aku kaya gitu. Aku masih bermoral Dave."
Dave meringis, dia mengaduh. Sherly berani menyakiti kepala kesayangannya.
"Maksudku Andra. Apa dia merayumu?"
Tanpa pikir panjang Sherly menceritakan kejadian yang dialami. Dave menjadi pendengar yang setia, sesekali laki-laki itu menimpali. Meski pada akhirnya Dave tetap tidak mengerti, tapi Sherly terus saja bercerita sendiri.
"Bukankah hanya kita yang bisa masuk ke ruangan milik CEO? Aku tidak melakukannya. Tadi pagi aku berada di kamar Andra. Kamu bisa menanyakan itu padanya. Oh ya, lagi pula pintu ruangan kamu hanya bisa dibuka lewat sidik jari. Hanya milik Sherly dan tangan kanannya."
Sherly membenarkan ucapan Dave. Justru itu yang Sherly pikirkan. Sehebat apa pembobol handal yang mampu menembus sidik jari miliknya.
"Bee, gimana ceritanya grafik kita langsung naik dalam sekejap mata? Siapa yang melakukan itu semua? Aku bahkan baru mengirim undangan kepada para pemegang saham untuk negoisasi ulang tentang provit kita. Bukankah prosedur yang semestinya harus sedemikian rupa?"
Dave berpikir jauh ke arah yang mungkin saja tidak dipikirkan Sherly. Laki-laki itu selalu memiliki imun dan daya tahan tubuh tinggi. Oleh karena itu Dave selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk atasan sekaligus kekasihnya.
Otaknya buyar. Sherly tau selama ini dia hidup sendiri. Lalu siapa yang akan merusuhi? Selama dia menjadi sekretaris, dia juga tau perusahaan miliknya berjalan normal. Lalu sekarang, saat Dave menjabat kurang lebih enam bulan kenapa datang hal yang sulit dipecahkan.
"Apa ini ulah mantan kekasihmu?" tuduh Dave.
Sherly memincing. Dia saja berusaha membantu Brian, lalu kenapa Brian harus menghancurkan Sherly.
"Satu-satunya orang yang membenciku adalah mantan kekasihmu. Brian tidak mungkin melakukan ini Dave."
Nah, Sherly mulai membela Brian. Dave memejamkan mata. Dia berpikir apakah Sherly masih menyimpan rasa untuk mantan laknatnya.
Sedetik kemudian mereka sama-sama sadar. Bola matanya membulat di waktu yang bersamaan. Dave dan Sherly saling melempar pandangan.
"Bagaimana jika," gumam Dave tertahan.
"Tidak! Bukan dia. Dia bahkan baru datang. Dari mana laki-laki itu tau semuanya?"
Bukan semua tidak bisa, tapi Sherly tidak pernah berpikir ke arah sana. Laki-laki yang telah dianggapnya kakak itu telah mempercayakan Sherly sebagai penerus perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya.
Dave mengacak rambutnya kasar. Pikirannya mulai kacau. Otaknya berputar, kelenjarnya berdenyut lancar.
"Huufttt" laki-laki itu menghembuskan nafas berat.
Dia tidak menyangka jika mencintai atasannya bisa serumit ini. Yang Dave tau, Sherly hanya memiliki kehidupan berbasis satu. Yakni satu untuk dirinya karena tidak punya siapa-siapa, lalu satu untuk hormat kepada tangan kanannya, kemudian satu untuk semua hal yang akan dilakukan dengan orang terdekatnya.
Ini di luar kendali. Dave tidak sanggup mencerna seorang diri. Dia butuh udara segar setelah beberapa detik pikirannya berpencar. Burung kecil menari di atas kepala. Hal itu menandakan pemiliknya sedang gundah gulana.
__ADS_1
"Semenjak kita berjauhan, hujan membuatku ingat bahwa kita pernah menciptakan kenangan. Tapi sayang, keadaan dengan cepat memaksa agar kita sadar bahwa tidak seharusnya kita saling bersandar."
Sherly tersenyum tipis. Wanita itu hampir menangis. Dia tersenyum, tapi tidak dengan sorot matanya. Bola mata itu mulai mengecil lalu membulat seketika. Sherly tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya berusaha agar tidak mengeluarkan air mata.
"Aku merasa asing. Bulu halusku refleks merinding. Tubuhku terasa kaku. Tulangku merasa aura negatif tidak mampu menghampiriku. Otakku bekerja cepat. Dia berusaha mencerna dengan kilat. Sayang, bukan kata nikmat yang ingin kuucap. Jujur saja kebutuhan biologis dan hal realistis tidak saling berbicara. Harusnya aki menerima, tapi entah. Aku sudah berusaha, tapi alam bawah sadarku tetap memaksa. Getaran lain tidak bisa menembus rangka cinta."
Dave mengerutkan dahi. Wanita yang akhir-akhir ini bersamanya sering membuat dirinya hampir gila. Sherly seperti wanita yang berada di dimensi berbeda. Wanita terkadang memiliki sorot mata yang tidak sama.
"Bisakah melihat kehadiranku sedetik saja? Kamu terlalu sibuk dengan duniamu," ucap Dave tanpa minat.
Laki-laki itu merutuki kebodohannya. Dia tidak tau siapa Sherly yang sesungguhnya. Lalu selama ini dia menemani siapa? Bukankah Dave telah mengklaim memiliki Sherly? Bahkan dia percaya tahu semua tentang wanita di dekatnya.
"Kita bisa saja bersama, tapi apakah semua akan berlandas cinta? Aku ragu, tapi tidak dengan hatiku. Ruang rindu itu telah memilihmu jauh sebelum hal buruk menimpamu. Aku menerima, tapi sudikah kamu mulai membuka serpihan duka? Karena saat aku memutuskan berdiri di sampingmu, aku telah bermokitmen untuk selalu membahagiakanmu."
Hening. Sherly benci menjadi lemat, tapi itulah dia pemilik sifat serakah. Sherly egois karena memiliki watak baik dan buruk dalam satu keadaan. Dia membeli semua perasaan itu tanpa sebuah harapan. Wanita itu tidak bisa lagi bicara. Dia hanya ingin diam dan menyaksikan Dave-nya.
"Dave-nya?" batin Sherly.
Selebihnya dia menarik salah satu sudut bibir membentuk senyum miring yang diartikan berbeda oleh lawan bicaranya. Dave melakukan hal yang sama. Laki-laki itu menciptakan smrik smile. Senyum licik yang tersembunyi di dalam hal yang sama sekali bukan hal picik.
Sherly berhambur memeluk Dave. Wanita itu duduk di pangkuan kekasihnya. Sherly menarik kepala Dave agar melekat pada lehernya. Tidak bukan maksud Sherly untuk menggoda, tapi wanita itu hanya ingin menikmati kenyamanan yang mungkin tidak bisa lagi didapatkan.
"Tess" bulir bening luruh tepat mengenai pipi Dave.
Dave hendak mendongak, namun Sherly dengan cepat mengelak. Wanita itu segera menghapus sisa air laknat yang berani menyentuh pipi mulus Dave.
"Cup" Sherly mendongakkan kepala Dave lalu mengecup pipi laki-laki itu.
Belum sempat Dave sadar semuanya, Sherly lekas membawa Dave ke tempatnya semula. Sherly memeluk erat kepala Dave seolah hal buruk akan terjadi pada hubungan mereka. Sherly sesenggukan, wanita itu menangis tertahan. Dave tidak tau apa yang terjadi dengan kekasihnya, tapi berada di posisi sedekat itu membuat Dave sadar jika ada yang tidak benar.
"Bee," lirih Dave.
Bukan menjawab, Sherly justru menggelengkan kepala. Dave turut menggerakkan miliknya untuk melihat keadaan wanita yang dicintainya. Tangan kaman Dave mengusap punggung Sherly. Wanita itu perlahan tersenyum. Hanya seperti itu saja membuatnya bahagia. Bagaimana dengan cinta tulus selamanya?
"Aku tidak sempurna, tapi bisakah kamu bercerita sedikit saja? Em, maksudku biarkan aku turut merasakan pedihmu. Aku tulus mencintaimu," ucap Dave.
Sherly mengusap puncak kepala Dave. Wanita itu memejamkan mata. Dia tidak mau Dave kecewa.
"Bagaimana jika aku mencintai laki-laki lain?" ucap Sherly tiba-tiba membuat Dave berhenti dari gerakannya.
Alarm dalam tubuhnya berkata hal buruk tinggal menunggu waktunya. Dave membeo menatap pemandangan di depannya. Harusnya dia bahagia karena Sherly memeluknya. Apalagi wanita itu menempatkan Dave di sisi sensitivenya.
"Ini bukan akhir. Tirta itu baru mulai mengalir. Hujan masih air, lalu kenapa ini seperti tanda hal tidak terpikir?" ucap Dave.
Sherly merasa Dave semakin cerewet. Biarlah, wanita itu juga tau apa yang Dave rasakan. Mungkin kekasihnya dilanda kegalauan.
"Seberapa besar kamu mencintaiku?"
Dave mengerutkan dahi. Arah pembicaraan Sherly tidak bisa ditoleransi. Dan apa katanya barusan? Dia bertanya seberapa besar Dave mencintainya.
"Aku tidak mencintaimu sebesar yang ada di pikiranmu," jawab Dave.
"Lalu bagaimana kamu bisa menerima hidupku?"
"Aku mencintaimu, segala kekuranganmu, suga seluruh masa lalumu. Untuk apa kamu bertanya seberapa besar aku mencintaimu? Bukankah semua cukup nyata untuk kamu mendeskripsikan secara dewasa?"
"Bagaimana jika kamu mencintai orang yang salah?"
Dave mengerutkan dahi. Laki-laki itu tidak tau kenapa Sherly membawa pertanyaan berliku. Dave diam. Dia berpikir tentang jalan terjal di ketinggian lalu bertemu dengan banyaknya kelokan. Ah semua terlalu indah dalam khayalan.
"Dave jawab aku," sungut Sherly seraya mengguncang kepala Dave.
'Jawab aku Dave. Tatap aku. Lihat dan katakan apa yang harusnya kamu bicarakan."
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa menjadi tempramental?"
Sherly menggeleng membuat Dave semakin tidak paham. Sherly tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun. Entah karena apa, akhirnya Dave juga terpaksa menarik kedua sisi bibirnya.
"Hei kamu tertawa Dave," ejek Sherly.
"Hentikan senyum konyolmu," ketus Dave.
"Ayolah Dave, ayo cepet marah. Marah aja sekalian, aku nggak tega lihay kamu sama aku. Aku bukan wanita baik Dave, percayalah," batin Sherly.
Sesulit apapun kamu menjauh, jika takdir menjadikanmu jodoh maka alam akan terus menunggu di tempat yang teduh. Dunia akan tertawa menjadi saksi kebahagiaan dua insannya. Takdir telah bicara kepada siapa kamu menjelajahi kehidupannya. Jangan bersedih, semua tidak akan mengubah sedikitpun apa yang telah tergaris.
Dave melirik Sherly, bertepatan dengan wanita itu menatap dirinya dalam diam. Pandangan mereka bertemu tanpa sengaja. Sherly segera memalingkan muka, tapi Dave telah lebih dulu mencegahnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika cintaku tidak lebih besar dari seonggok batu? Aku saja tidak tau sedalam apa aku mencintamu.
Sherly resah, wanita itu merasa harapannya punah. Langit di wajahnya mendadak mendung. Pandangannya mulai kabur. Bukan karena rabun, tapi air yang memenuhi bendungannya.