
Yang paling kusesali bukan karena aku pernah mencintai, tapi menyayangi seseorang yang bahkan tidak menganggap kehadiranku di sini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku tidak pernah menyalahkan atas takdir yang akhirnya memisahkan. Rasa syukur pernah kuucapkan atas seseorang yang membuatku bertahan. Walaupun pada nyatanya harus berakhir dengan duka yang tidak pernah kukira," ucap Sherly lirih.
Wanita itu memejamkan mata. Dia tidak tahu kenapa harus kembali merasakan luka yang selama ini berusaha untuk dilupa. Laki-laki yang berada di sampingnya telah berhasil membuat Sherly menjadi wanita yang lemah perihal rasa.
Ingin rasanya Brian memeluk Sherly, tapi sadar siapa wanita di hadapannya saat ini. Dia masih mencintai, tapi tidak mampu memiliki. Lebih menyakitkan dari kisah seseorang tersakiti karena egonya sendiri.
Sorot mata yang masih menyimpan luka. Entah kapan bisa sembuh seutuhnya. Sang empu hanya mampu menunggu akan sesuatu yang telah tabu.
Jika waktu pasti berputar, apakah lara akan cepat pudar? Sherly merasa seratus delapan puluh hari dilalui dengan sabar. Namun belum juga menghasilkan sesuatu yang membuat hidupnya tak lagi hambar.
"Sher, berhenti menyesal karena pernah mencintaiku."
"Aku tidak menyesal karenamu, tapi karena kebodohanmu."
"Sementara seseorang yang membuatmu merasa bodoh adalah laki-laki yang dulu selalu membuat tawamu heboh."
Benar, Sherly ingat jika Brian adalah sosok yang rela melakukan apa saja demi melihat Sherly tertawa. Malu bukan menjadi alasan ketika Sherly memiliki keinginan yang harus dilakukan, sekalipun itu di keramaian. Bayang kebersamaan semakin menyakitkan ketika waktu dengan sengaja memutar memori berbulan bulan silam.
"Seribu kali kata bodoh kuakui, tetap saja tidak membuat hatimu terbuka kembali. Tapi izinkan aku di sampingmu. Setidaknya jika aku tidak bisa memilikimu, aku masih bisa menjagamu," ucap Brian pelan.
Sherly refleks membulatkan mata merasa heran dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Kalimat yang sama, tapi berasal dari dua orang berbeda. Dari sekian juta umat, kenapa harus dua manusia yang datang di saat terlambat.
Sedangkan Dave yang masih setia menjadi penguntit mendadak kaget. Banyak kalimat penuh cinta ataupun hanya sepatah kata, tapi kenapa harus Brian laki-laki yang mengucapkan hal serupa.
Rasanya Dave semakin nyeri membayangkan hidupnya seorang diri. Dia tidak boleh lengah karena seseorang yang saat ini sudah kalah.
Mungkin karena terlalu hanyut, Sherly tidak menyadari jika Brian akhirnya memeluknya. Wanita itu mengerti dengan pasti apa maksud Dave selama ini. Juga tentang Brian akhir-akhir ini. Dia bukan wanita yang tidak peka sebuah isyarat.
Wanita bar-bar mungkin julukan yang pantas untuknya karena hanyut ke dalam pelukan dua laki-laki, di waktu yang bersamaan. Dave semakin nyeri melihat atasannya dipeluk oleh laki-laki lain, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Baru sampai tahap mengagumi belum sampai ke hal intim urusan hati. Sherly membiarkan Brian memeluknya menarik pinggangnya
hingga menghapus jarak yang tersisa. Tangan kirinya terulur mengusap rambut Sherly. Sedang tangan kanannya mengusap pelan punggungnya.
Sherly tampak kembali rapuh. Tidak menampik dia masih merindukan kehangatan dari laki-laki ini. Rasa yang dulu sangat dijaga. Hati yang dulu selalu bahagia. Namun harus rela kehilangan semuanya.
"Maaf," gumam Brian.
"Ssstt, cukup Brian. Berhenti minta maaf. Kata maaf tidak mengubah semua seperti sedia kala."
"Tapi kenapa kamu membiarkan aku memelukmu jika semua tidak bisa kembali seperti semula?."
"Aku ingin menolak, tapi nyatanya tubuhku tidak bisa bergerak. Dia menerimanya meski berada di dekatmu membuatku semakin lemah. Bagaimanapun kita pernah bersama."
Brian seperti mendapat lampu hijau dari mantan kekasihnya. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya di atas kepala Sherly. Brian ingin menciumnya. Melakukan apa yang dulu menjadi kegemaran. Dia ingin mengukir kenangan indah bersama Sherlynya lagi.
"Brian, jangan berani menyentuh kulit lebih dari ini. Aku hanya memberikan waktu kepada hati untuk saling memahami jika nantinya kita sudah tidak bisa sedekat ini. Berilah ruang pada hatimu untuk kembali mencintai, tapi jangan pernah mengkhianati. Jangan biarkan kamu merasa seperti ini untuk kedua kali."
Laki-laki itu berusaha menampik keadaan. Dia tidak terima jika hatinya menderita karena mantan. Benaknya penuh dengan bayang kenangan. Brian Pradana menunjukkan sisi lemahnya di depan Sherly Angelnya yang telah menjelma menjadi CEO Angel untuk semua bawahannya.
Sherly merasa ada sesuatu menetes di atas kulitnya. Bukit bening bertengger manis di sana. Jujur Sherly juga terluka, tapi dia percaya jika cinta yang mulai tumbuh di hatinya adalah masa depannya. Bukan lagi untuk masa lalunya.
Jika saja Sherly egois, mungkin wanita itu akan menerima Dave dan juga Brian. Namun nyatanya dia berusaha memilih salah satu diantara mereka. Bukan yang paling kaya, tapi yang paling sederhana. Jika yang sederhana mampu membuat bahagia, kenapa harus dengan yang sempurna.
Kebohongan kecil bisa menciptakan kebohongan yang lain, oleh karena itu Sherly berusaha untuk memendam cinta yang masih sempurna. Wanita itu tidak ingin jatuh ke lubang yang sama.
Berkali-kali Sherly memerintah benaknya untuk terus melafalkan kalimat yang diyakini sebagai mukjizat.
"Tesss" Sherly merasa sesuatu kembali jatuh menyentuh kulit mulusnya.
Wanita itu mendongak mengamati sosok laki-laki yang tengah memeluknya. Wajah tampannya masih sama, tapi garis kehidupannya telah berbeda.
"Brian, bagaimanapun kita pernah bersama. Cinta menjadi alasan untuk mampu melewati semua. Sekarang saatnya kamu menjadi laki-laki sesungguhnya. Berhenti menancapkan duri, jika tidak ingin suatu hari duri itu menghampiri," Sherly mengusap sisa air mata yang masih basah.
__ADS_1
Ini kali pertama Sherly melihat Brian rapuh di hadapannya sendiri. Namun semua terjadi seperti yang Brian hayati. Meski tidak sesuai yang telah diprediksi.
Jemari lentik tertahan digenggaman seseorang. Sherly memejamkan mata menahan amarah yang tercipta. Dia menang mencintai, tapi tidak bodoh untuk bersama kembali.
"Bri, please. Tolong berhenti, semua sudah selesai dengan sendiri," ucap Sherly lirih.
Ya, Brian paham dengan statusnya saat ini. Dia melirik ke arah pintu siapa tahu mendapati seseorang yang bisa membantu, tapi nihil. Brian justru mendapati Dave sedang memandang ke arahnya dengan tatapan yang sama.
Terluka, hanya itu yang bisa Brian baca di sana. Perlahan laki-laki itu mengendorkan pelukannya. Dia juga melihat sorot cinta di mata yang baru saja bertabrakan dengannya.
Tersenyum, lalu menangkup wajah Sherly untuk terakhir kali. Brian tidak bisa berjanji, tapi laki-laki itu berusaha menjaga diri. Jika di samping Sherly sudah ada hati yang harus dihargai.
"Berhentilah berpikir tentang kebodohanku. Nikmatilah hidupmu, Terima seseorang yang nanti mencintaimu."
Brian berusaha mengatur nafas juga tenggorokannya. Terasa pahit saat berbicara seperti hidupnya yang mungkin saat ini rumit.
"Cup! Maaf," Brian memberanikan diri mengecup singkat bibir yang dulu selalu membuatnya berdesir.
Tanpa permisi Brian berdiri. Pergi meninggalkan seorang Sherly lagi. Seperti dulu, tapi saat ini Sherly merasa beban dalam hidupnya mulai berlalu.
Refleks, tangan kanan Sherly lancang menggapai Brian. Berbekal ketampanan, laki-laki itu mampu menetralisir kegugupan setelah lebih dulu membuat wajahnya agar terlihat bahagia.
"Ada apa hm? Kamu merindukanku baby?," ucap Brian sengaja menggoda Sherly.
Kesal, tentu saja Sherly kesal dengan laki-laki jahatnya. Namun berusaha tersenyum semammpunya.
"Terima kasih bri," ucap Sherly tulus.
Masih dengan senyum mengembang, Brian kembali dengan lancang mengacak rambut wanita yang kini sedang gegana.
"Sama-sama sher. Lupakan aku seutuhnya. Bukan karena aku memiliki siapa-siapa, tapi aku sadar dengan apa yang perlahan pasti pudar."
Senyum menjadi akhir dari awal yang tidak didramatisir. Mungkin mengikhlaskan adalah jalan menuju kebahagiaan. Jika bukan saat ini, mungkin nanti. Percayalah, semua tidak akan terjadi di luar kendali.
__ADS_1