Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Dave Gila


__ADS_3

Cinta, mampukah kamu bertahan saat orang yang kamu cinta memberimu banyak beban?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dave menggeleng pelan. Meski lemah, tapi Dave tetap bekerja keras. Dia hanya punya Sherly. Dave rela melakukan apa saja asal wanitanya bahagia. Dan saat ini laki-laki itu tengah berjuang untuk cintanya.


"Kamu harus kuar Dave! Jangan nyerah! Ingat masih ada Sherly yang belum berhasil kamu buahi. Percayalah, suati hari nanti dia akan menemanimu sampai mati. Dia wanita yang tulus mencintai," batin Dave.


"Awas ndra," ucap Dave seraya mengalihkan tangan Andra yang berada di pundaknya.


Andra melotot seketika.


"Apa yang terjadu padanya?" batin Andra.


Tanpa memperdulikan Andra, Dave berjalan ke arah dapur. Mengambil serok dan sapu untuk membersihkan pecahan gelas.


"Sorry ndra, gelasnya jadi pecah gara-gara aku," gumam Dave.


"Ha? Kamu malah dengan santai mikirin gelas? Nggak salah Dave?"


Dave menggeleng. Dia masih sibuk mengambil serpihan kaca yang berukuran kecil. Dave seolah melihat serpihan masa lalunya di sana. Cellin tega mengkhianati hingga kisah mereka berakhir seperti ini.


Satu bayangan terlintas di benak Dave. Wanita jal**g itu muncul begitu saja. Dia berani menunjukkan diri. Terhitung berapa puluh jam dari sekarang.


"Kalau loe yang jadi penyebab semua ini, gue bakal nerbangin loe jauh dari hidup gue," geram Dave.


Bukan masalah yang rumit bagi Cellin Nata untuk melakukan apa saja. Dia adalah wanita manja pemuja harta dan pria. Membayangkan apa yang pernah dilakukan sang mantan membuat Dave menggeleng pelan.


"Aku bodoh bisa jatuh cinta sama dia," gumamnya.


"Woey Dave! Ada berapa serpihan?"


"***** ndra. Aku nggak ngitung kali."


"Terus kenapa lama? Kaya lomba lari sama siput aja," cibir Andra.


Dave kesal. Dia menyerok serpihan dengan asal. Persetan kalau nanti Andra kena pecahannya. Dave segera melangkah menuju tempat sampah. Membuang puingan itu dengan asal.

__ADS_1


Bibir seksi yang Dave miliki mengerucut. Dari tadi anggota tubuhnya tidak bisa bekerja sama. Dave melotot ke arah Andra. Refleks laki-laki itu juga ikut membulatkan mata.


"Apa?" tanya Andra.


"Kamu yang apa?" tanya Dave bingung.


"Ngapain melotot gitu ke aku? Tuh mata mau lari dari tempatnya?" imbuh Dave.


Andra mengerutkan dahi. Dia saja tidak tau apa salahnya, tapi kenapa Dave justru menyudutkannya. Tangan kanan Andra terulur menyentuh dahi Dave. Punggung telapak tangan Andra mulai merasakan kehangatan.


"Astaga Dave! Kamu panas. Jangan bilang kalau kamu gila," pekik Andra.


"Pletak" Dave menjitak kepala Andra.


Laki-laki itu mengaduh, tapi Dave sama sekali tidak mengeluh. Dia terus mengucapkan kalimat yang tidak bisa dinalar oleh Andra.


"Woey Dave berhenti! Kesambet setan apa sih?"


"Aku frustasi ndra. Di saat begini dia malah nggak ada. Aku udah hubungi beberapa kali tapi tetep nihil."


Ternyata yang membuat Dave gila adalah atasannya. Andra tau fase Dave seperti apa. MakaAndra memilih meninggalkan Andra.


Kulkas adalah tujuan utama. Andra mengambil panci, mengambil es batu lalu meletakkan di sana. Kemudian mengambil air dari wastafel. Jadilah air tawar yang dingin. Andra berjalan mengendao ke arah Dave. Mencipratkan sedikit demi sedikit ke arah laki-laki didepannya.


"Air hujan?" gumam Dave.


Laki-laki itu mengerutkan dahi. Atap Andra tidak mungkin bocor. Maka Dave berjalan ke arah balkon untuk memastikan hujan yang menimpanya.


"Ceklek" Andra segera mengunci pintu yang menghubungkan kamar dan balkonnya.


Dave meronta. Laki-laki itu menyumpahi Andra, namun Andra tidak memperdulikannya. Dia segera membenahi sofa miliknya yang telah disulap menjadi meja kerja dadakan.


Banyak kertas berserakan. Andra maklum akan hal itu. Dia yakin Dave pasti bisa mengatasi. Hanya saja saat ini laki-laki itu butuh waktu untuk istirahat.


"Sorry Dave, suruh siapa jadi gila. Lagian kalau nggak dikunciin diluar mungkin kamu nggak, bakal istirahat. Aku salut sama usahamu Dave. Nona Sherly orang yang beruntung," gumam Andra.


Pagi menjelang. Andra mulai membuka mata. Tidak lupa dia melihat keadaan Dave yang berada di luar rumah. Laki-laki itu menggeleng melihat keadaan teman baiknya.

__ADS_1


Tanpa selimut dan tanpa bantal. Dave tidur meringkuk seperti menahan dingin. Andra iba melihatnya. Dia segera mengangkat Dave dan membawanya ke kamar.


"Bruk" Andra menghempaskan Dave begitu saja lalu mengusap keringat yang membanjiri dahinya.


"Sial! Berat juga ternyata. Kalau kamu wanita mungkin sekalian ku belai-belai. Cih! Nyatanya kamu laki-laki yang jadi bucin akhir-akhir ini," gumam Andra.


Cuaca pagi sangat mendukung untuk kembali menidurkan diri, tapi tidak untuk Andra. Di luar, rintikan hujan mulai terdengar. Dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Dave.


"Baik-baik di sini. Sekali-kali nempatin apartementku. Nggak cuma dateng pas lagi butuh doang."


Andra bersiap untuk berangkat kerja. Tidak lupa menyiapkan sarapan untuknya dan juga Dave. Meski tanpa semangat, Andra tetap berusaha terlihat kuat. Dia siap untuk menghadapi CEO Angelnya langsung untuk membahas guncangan perusahaan mereka.


Pukul 08.00 WIB, Andra tiba di ruangannya. Dia melirik sekilas ke ruangan Sherly sebelum akhirnya bernafas lega. Sherly tidak ada di ruangannya begitu juga sekretaris pribadinya.


"Apa mereka janjian? Kebetulan banget nggak ada si boss. Besar kemungkinan hari ini aku terbebas dari amukan. Entah dengan besok pagi."


Di dalam kamarnya, setelah Sherly selesai menghubungi seseorang ia tidur dengan nyenyak. Wanita itu tidak mendengar suara adzan subuh berkumandang. Sorot mentari yang menembus jendela dianggap angin lalu olehnya. Sherly sungguh menikmati tidurnya.


Pukul 08.30 WIB, sayup-sayup ia mendengar guyuran air hujan. Wanita itu membuka mata. Pandangannya lurus ke arah gorden yang semalam lupa tidak ditutup. Bibirnya mengerucut. Dia merindukan Dave.


"Kalau tau hujannya sekarang, harusnya Dave nginepnya semalem bukan kemarin. Nggak enak banget masa bangun tidur keburu kerja. Coba kalau buka mata terus enak-enakan," gumam Sherly.


Sisi liar wanita itu mulai bergerilya. Otaknya mulai traveling kemana-mana. Mendadak dahi wanita itu berkerut. Dia ingat sesuatu. Semalam menghubungi Dave, tapi tidak ada tanggapan.


Tangan kanannya geragapan menggapai ponsel yang ia sendiri lupa meletakannya. Sherly mengusap selimut miliknya, tapi tidak ada. Wanita itu bangkit dan berjalan dengan kesal.


"Nasib jadi pikun ya kaya gini. Cuma naruh ponsel aja lupa dimana."


"Ddrrrtt dddrrtt ddrrttt" benda pilih itu bergetar.


Sherly menajamkan pendengarannya. Dia melangkah menuju sumber suara. Benda pipih itu berkedip. Di sana ada satu panggilan masuk dengan nomor yang sama.


Dini hari tadi Sherly yang menghubungi, sekarang dia yang menghubungi Sherly. Wanita itu mengambil benda dari tempatnya.


"Peett" layar tiba-tiba padam pertanda si penelepon telah lelah menunggu.


Dan saat kamu mencintai, siapkan hati untuk siap terbengkalai. Tidak semua cinta membuatmu bahagia, namun ada juga rasa yang membuat hidupmu semakin sempurna.

__ADS_1


__ADS_2