
Ternyata aku salah mencerna
Kupikir cinta adalah segalanya
Ternyata fakta sesungguhnya adalah kecewa ada karena terlalu mencinta
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherly memikirkan sesuatu. Dia ingat semalam mengunci Bernad di apartemennya. Lalu suara siapa yang baru saja didengarnya.
Dave berlari menuju ruang pribadi Sherly. Laki-laki yang berusia lebih tua darinya terbaring sempurna di sana. Malah sosok itu tersenyum miris saat Dave melihatnya.
Bukan Dave Anggara jika dia takut kepada pria. Namun yang dia ragukan apakah nanti Sherly mengizinkan. Sepertinya dia dan Sherly memiliki hubungan lebih.
Sherly menerobos masuk ke tempat kesayangannya. Matanya membulat saat tau siapa yang jadi penunggu.
"Kamu?" ucap Sherly ragu.
"Ya baby?"
Brian berjalan lancang. Dia hendak mengayunkan tangan kanan, tapi Sherly segera mencegah.
"Jangan berani kamu menyentuhnya," ucap Sherly memperingatkan.
"Kamu mengenlanya? Siapa lagi dia? Hah ternyata si cantikku ini sekarang berani bermain liar. Gue nggak nyangka sher," ucap Brian.
Sherly ingin menjelaskan. Jika Brian telah mengubah gaya bicara, maka ada hal serius yang akan dia katakan.
"Em aku," ucap Sherly.
Dave mendekap kekasihnya. Di sana hanya dia yang boleh menyentuh Sherly. Dia tidak peduli bagaimana reaksi Sherly. Dave hanya takut Sherly pergi.
"Cup" Dave mencium bibir Sherly kemudian mendekap lagi
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, kumohon tetaplah di sini. Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi aku akan berusaha menjauhkanmu dari kekecewaan," ucap Dave.
Sherly merona. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang dengan berani menciumnya di depan orang lain. Bahkan di depan kedua rivalnya.
Brian ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi dia sadar saat ini berada di kediaman Sherly. Kantor itu pernah menjadi saksi. Terlebih ruangan yang saat ini ditempati sosok asing menurut Brian. Sherly tidak tau harus bagaimana menghadapi tiga pria di waktu yang sama.
Sherly tidak akan bertanya kalimat bodoh seperti apa keinginan mereka. Wanita itu tau yang diinginkan hanya satu yakni hidup bersanding bersama dirinya. Sherly menghembuskan nafas berat. Dia harus kuat. Sherly percaya Dave bisa mengatasi semua.
Kedipan mata Sherly menyiratkan makna asing untuk Dave. Sherly hanya mengerjap, tapi Dave mencerna dengan arti berharap. Tidak ada hal yang sulit untuk Dave. Sherly adalah segalanya maka laki-laki itu akan berusaha sekuat tenaga. Dave tidak ingin dua rivalnya kembali menyentuh Sherly apalagi di depan mata.
Cinta membuat siapapun yang lemah menjadi kuat. Itulah prinsip yang Dave tanamkan. Dia tidak ingin kehilangan, maka dia juga harus mempertahankan. Mereka bertiga adalah saingan meski saat ini Dave menyandang predikat pemenang. Dave menatap Brian dengan tajam seolah memberi jawaban bahwa apa yang dia lakukan adalah kesalahan.
"Jangan pernah mengusik siapa saya yabg telah mempunyai pemilik."
Dave menatap Brian dengan kesungguhan. Dia harus bisa merebut hati Sherly sepenuhnya. Dave yakin, meskipun sedikit tapi Sherly masih mencintai.
"Kamu merebutnya dariku Tuan Dave yang terhormat," ucap Brian santai.
Bernad sudah tau siapa yang akan jadi pemenang diantara mereka bertiga. Maka laki-laki itu memilih diam dan menikmati semuanya. Bukan dia tidak ingin berusaha, namun sekarang belum waktunya.
"Dave lepas," bisik Sherly.
Dave menggeleng. Jika dia melepas, sama saja dia mengikhlaskan Sherly berpindah ke lain hati. Dave tipe laki-laki menjaga. Apa yang dipunya akan dia jaga.
Sebelum semua terlambat, Dave akan memastikan Sherly benar-benar terpikat. Manusia dewasa sedang berpikir dengan masing-masing otaknya. Tidak lupa Dave yang harus ekstra keras memikirkan semuanya.
Brian mendekat. Dave refleks mencegah. Tangan laki-laki itu maju untuk memberi jarak. Bernad tersenyum licik. Dia masih setia dengan posisinya.
"Tunjukkan usahamu wahai laki-laki pembenci masa lalu," ucap Bernad santai.
Brian mendengar kalimat ejekan. Laki-laki itu tentu menyindir dirinya. Brian menatap ke arah Bernad. Dia mengamati dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bola matanya mengisyaratkan kebencian seolah mengatakan "siapa kamu beraninya meremehkanku."
Sherly mendengar sesuatu. Debaran dada Dave sangat merdu. Sherly tersenyum malu. Dia justru menyembunyikan wajahnya di leher Dave.
__ADS_1
Brian tersenyum sinis. Hidupnya seperti dipermainkan. Dia berpikir Sherly pasti diberikan sesuatu hingga dia berani bermesraan di depan orang lain.
"Sher! Jangan lakukan!" teriak Brian.
Dave mengusap punggung Sherly. Laki-laki itu memeluk kekasihnya dengan lembut. Sherly membalas pelukannya. Mungkin apa yang mereka lakukan menuju ke satu tujuan. Sherly hanya menginginkan Dave. Bukan Bernad ataupun Brian.
"Sherly sangat menyayangi. Bukankah seperti ini cukup kuat untuk menjadi bukti? Dia mencintaiku, begitu juga denganku," ucap Dave.
Brian menggertakkan giginya. Dia tidak pernah dihina. Lalu kenapa sekarang dia merasa ada yang meremehkannya? Ingatannya berputar ke masa lalu. Saat dimana dia dan Sherly melakukan adegan itu. Keduanya berpelukan di ranjang yang kini menjadi kenangan.
"Dave, biarkan aku terus memelukmu karena ternyata titik nyamanku berada di dalam dekapanmu," lirih Sherly.
Dave tersenyum lebar. Kini titik kemenangan tergambar jelas. Lalu siapa laki-laki yang akan berani menyentuh Sherly? Cinta menjadi alasan kenapa Dave mempertahankan. Dia juga mencintai, bukankah itu adalah alasan yang cukup mudah dipahami.
Dave menyadari satu hal. Dia belum sepenuhnya tau tentang Bernad. Laki-laki itu melirik ke arah Brian, mantan kekasih Sherly. Kemudian beralih ke arah Bernad. Mereka bertiga saling bertatapan dengan Sherly menjadi objek penglihatan.
"Kalian, apakah kalian saling mengenal? Bukankah Brian pernah menjalin hubungan dengan Sherly? Tapi kenapa Brian terlihat sangat membenci anda tuan?" tanya Dave kepada Bernad.
Brian menyipitkan matanya. Laki-laki itu bahkan tidak tau siapa sosok yang dengan lancang berada di ranjang kebanggaan.
"Kalau Dave nggak tau, terus siapa dia? Aku dulu juga nggak pernah ketemu dia," batin Brian.
"Tuan Brian, bagaimana dengan pertanyaan Tuan Dave yabg terhormat?" ucap Bernad lirih tapi penuh penekanan.
Brian diam. Dia mengingat semua kisahnya dengan Sherly. Mengamati setiap sosok yang mendekati Sherly. Bisa dikatakan ingatan Bernad tajam.
"Kenapa kalian berpisah? Bukankah dulu kalian saling mendesah?" tanya Bernad.
Dave mengepalkan tangannya. Kenapa harus ada laki-laki yang mengingatkan tentang masa lalu Sherly. Jangan tanyakan apa yang Dave pikirkan. Dia mengucapkan seribu kutukan untuk laki-laki yang berani mengucapkan hal sangsi.
"Sher, kenapa kalian berdua memutuskan hubungan?" tanya Bernad kepada Sherly.
Sherly merona. Wajahnya memerah. Wanita itu refleks mengingat desahan saat bersama Brian. Dave menyadari ada yang hangat maka laki-laki itu mengamati wajah krkasihnya.
__ADS_1
"Merona? Hei, jangan bilang kamu mengingat masa indah bersamanya? Oh astaga, kau anggap aku ini apa hm?"