
Terkadang kita rela tersakiti hanya untuk melihat seseorang yang dicintai memilih takdirnya sendiri. Bodoh! Ya, jelas dengan bodoh berpura-pura tegar karena pada nyatanya hati telah berpencar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Perusahaan yang sedang berkembang di negaranya sedang heboh. Silver Corporation dihebohkan dengan kehadiran laki-laki yang hanya diketahui oleh para atasan dan beberapa karyawan. Bahkan mereka melupakan satu hal. Lupa kehadiran CEO mereka yang jalan berdampingan dengan asisten pribadinya.
Kenapa asisten tidak tau diri itu tidak lagi berjalan di belakangnya? Hanya kedikan bahu yang Sherly tunjukkan sebagai jawaban. Seolah apapun yang dilakukan asistennya bukanlah hal yang patut diperdebatkan.
"Selamat pagi Nona Sherly, selamat pagi juga Tuan Dave," sapa receptionist yang berada di lobby utama.
Beruntung karyawan satu itu paham dengan kehadiran atasannya. Jika tidak, bisa saja nasib mereka akan berakhir tragis. Eh tidak, Sherly bukan atasan yang akan kejam hanya karena tidak disapa. Wanita itu hanya akan berbahaya jika ada yang berani mengusik kehidupannya ataupun kehidupan sekretaris sekaligus asistennya. Begitu juga dengan bawahan yang selalu mengikuti kemanapun atasannya melangkahkan kaki.
"Pagi juga, ada apa heboh?."
Receptionist tampak ragu dengan pertanyaan langsung dari atasannya. Mungkin jika orang lain yang bertanya, dia akan dengan santainya menyuruh apa yang ada di depan matanya.
"Sebaiknya nona melihat sendiri saja apa yang terjadi di sana. Sepertinya di situlah sumber utama tercipta," ucap Dave berusaha mengalihkan perhatian Sherly saat ekor matanya menangkap kegelisahan karyawan yang baru saja diintrogasi Sherly.
Wanita itu pergi meninggalkan karyawan yang langsung bernafas lega.
"Terima kasih Tuan Dave."
Dave tersenyum, menambah tingkat ketampanannya. Asisten tengil itu sangat menyebalkan. Bagaimana kemarin menyatakan cinta kepada nonanya. Sementara saat ini apa yang dilakukan? Dia malah dengan sengaja menebar senyum ramahnya. Tentu saja tidak ada wanita yang berani menolak pesona Dave Anggara.
"Dave, berhentilah tersenyum kepada wanita jika kamu tidak ingin melukainya," ucap Sherly saat menyadari kehadiran Dave di sampingnya.
"Maafkan kepanjangan saya nona. Saya hanya terlalu ramah kepada mereka bukan maksud untuk memberi harapan palsu untuknya," bela Dave.
Sherly mengacuhkan ocehan Dave. Laki-laki itu selalu saja bucin di manapun berada. Tanpa pernah melirik kepada siapa dia bicara.
Kerumunan tepat di depan mata. Sherly mengintip lewat celah yang tercipta. Matanya membulat saat tau siapa yang menjadi pusat perhatian di sana.
"Damn! Apa yang dilakukan dia sepagi ini? Bahkan ini di kantorku sendiri," umpat Sherly kesal.
Brian Vernando layaknya model pria dewasa yang sedang digandrungi oleh para penggemarnya.
__ADS_1
"Andai saja mereka tau siapa dia sebenarnya."
Tanpa berniat bertanya untuk apa dan kenapa, Sherly berjalan cepat menuju lift dan mencari ruangannya. Menjawab semua pertanyaan Sherly sudah menjadi kewajiban Dave. Tentu laki-laki yang akan mencari tahu semuanya.
"Nona, tunggu aku," teriak Dave saat menyadari dia sudah berada jauh dengan atasannya.
"Si tengil menyebalkan," gerutu Sherly.
Saat tiba di depan kerumunan, Dave melirik siapa yang menjadi pusatnya. Laki-laki yang pernah menyentuh nonanya berada di sana. Dave yakin jika si breng*ek itu pasti mencari atasannya.
Tiba di ruangan khusus sekretaris, Dave berhenti. Lalu dengan lancang menarik tangan Sherly.
"Siapa dia?."
"Apa dia berharga?."
"Tidak."
"Apa kedudukanku sejajar dengannya?."
"Upss keceplosan. I'm so sorry Sherly," ucap Dave penuh sesal.
"Cup! Fighting, keep spirit," dengan lancang Dave justru mencium bibir Sherly singkat.
Seseorang yang mengawasi pergerakan mereka mengumpat kesal saat melihat bucin di pagi hari.
"Apa tidak ada tempat lain hingga harus melakukannya di sini?."
Dave sadar jika mungkin pintu ruangannya sedikit terbuka. Laki-laki itu terlalu mementingkan atasannya yang mendadak berwajah keruh.
Di depan pintu, Dave melihat wanita yang gelagapan karena tatapan tajamnya. Renata, wanita selaku sekretaris Brian menatap sinis ke arah Dave. Laki-laki tampan itu tentu saja sadar kenapa lawan bicaranya bersikap demikian. Namun Dave tetap tersenyum ramah. Menampilkan garis lengkung yang akan membuat kaum adam bertekuk lutut padanya.
"Ada perlu apa hingga nona berdiri di depan pintu ruangan saya? Apa anda penguntit di sini?."
"Tidak adalah tempat lain selain di sini? Bahkan kamu tidak menutup pintu ruanganmu."
__ADS_1
"Itu terserah saya nona. Ini ruangan saya dan ini kantor atasan saya jika anda lupa," ucap Dave dingin dan penuh penekanan.
Jangan lupakan, meskipun tersenyum Dave tetap menatap tajam ke arah Renata hingga wanita itu gugup sendiri.
"Sial! Tampan tapi menyebalkan!," batin Renata.
Mungkin kehadirannya saat ini adalah kesalahan. Renata hendak pergi, tapi Dave menahan tangannya dengan tangan kiri miliknya. Hanya tangan kiri saja membuat Renata mematung. Apalagi jika tangan kanan yang digunakan, bisa saja Renata menjerit tak tahan.
Tepat saat Dave menggapai tangan Renata, saat itu juga Sherly membuka pintu ruangannya. Dia dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Dave di depan pintu kerjanya.
"Cih! Murahan sekali dia. Dasar laki-laki rendahan," cibir Sherly.
Bodohnya wanita itu telah hanyut ke dalam pesona asistennya.
"Shit."
"Brraakkk" Sherly menutup kembali pintu ruangannya dengan keras.
Suara itu terdengar jelas di telinga Dave. Refleks Dave menghempaskan tangan yang tadi berusaha digapainya. Renata mengerutkan dahi bingung dengan sikap Dave yang tiba-tiba berubah.
Sekretaris pribadi Sherly berjalan cepat menuju ruangan atasannya. Laki-laki itu yakin telah terjadi kesalahpahaman di sini.
"Ayolah Sherly, jangan bersikap bodoh seperti ini."
Aura dingin sangat terasa di ruangan milik CEO Silver Coorporation. Dave menelan ludahnya susah payah. Sorot mata tajam Sherly seakan menelanjangi laki-laki yang kini berada di ruangannya. Nyali Dave menciut kalau mendapati Sherly dalam keadaan seperti ini Sudah bisa dipastikan sebentar lagi sekretarisnya itu akan mendapat musibah.
"Waktu, berhentilah sebentar. Aku ingin mengulang adegan tadi. Bukan saat aku memegang tangan wanita itu, tapi saat aku mencium nona Sherly di depan meja kerjaku," batin Dave.
"Sudah kamu cari tau apa tujuan mereka datang ke sini?," tanya Sherly tentunya dengan nada dingin yang siap mengintimidasi.
"Belum nona, tunggu sebentar. Lima menit lagi anda akan mendapatkannya," jawab Dave gugup.
Saat ini Dave bukan berhadapan dengan Sherly untuk melakukan adegan mesra, tapi sedang bersitatap dengan amarah atasannya. Saat amarah Sherly memuncak, wanita membuat Dave bergidik ngeri.
"Dave, coba kamu dekati Sherly. Peluk dan cium dia Dave. Nyatanya kemarin dia hanyut dalam belaianmu," bisik setan jahat yang bersarang di tubuh Dave.
__ADS_1
"Sial! Di saat seperti ini masih saja pikiran mesum itu muncul," gerutu Dave.