Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Bagaimana jika?


__ADS_3

Bagaimana jika aku mencintaimu? Apa itu tidak terlalu cepat? Meski begitu, tentu saja waktu akan berlalu. Menuntut kepastian dari rasaku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sekuat tenaga Sherly menjaga tubuhnya dari himpitan Dave. Semakin Sherly berusaha menjauh, semakin juga Dave mendekatinya. Jujur saja Sherly bingung dengan hatinya.


"Sher," panggil Dave.


"Ya," balas Sherly.


"Saat dunia terselubung gelap gulita, akankah kamu percaya sebuah cinta?" tanya Dave tanpa ragu.


"Awalnya aku percaya, tapi setelah saat itu aku tidak punya alasan untuk mempercayainya," jawab Sherly.


"Maukah kamu berbagi denganku?" desak Dave.


Sherly membalikkan tubuhnya. Memberanikan diri menatap kedua manik mata Dave. Sorot teduh itu mengingatkan Sherly kepada Brian. Laki-laki yang dulu dipuja, tapi sekarang pergi begitu saja.


"Dave," tanpa menjawab ucapan Dave, Sherly justru memanggil nama laki-laki yang saat ini berada di hadapannya.


"Hm," gumam Dave pelan.


Untuk sepersekian detik, kedua manusia itu saling beradu pandang. Menelisik jauh ke dalam pupil mata masing-masing. Sama-sama pernah kecewa. Satu kata yang nantinya cukup untuk menyatukan keduanya.


"Bagaimana jika?" Sherly menggantungkan kalimatnya.


Bukan karena ingin menggoda Dave, tapi wanita itu tidak tau dari mana akan memulainya.


"Oh ya, bagaimana jika aku ganti baju sekarang. Sherly, tunjukkan dimana tempatnya," tukas Dave seraya bangkit dari duduknya.


"*odoh! Kenapa aku malah jadi ngarep gini sih," gerutu Sherly dalam hati.


Sherly diam. Dia sibuk dengan lamunan. Tubuhnya di sana, tapi jiwaya tidak ada. Raganya baik-baik saja, tapi otakknya sedang memutar memori kelam.


"Sher."


Hening. 

__ADS_1


"Sherlyyy!!!, teriak Dave.


Dave membuat Sherly tersentak. Wanita itu baru saja tersadar dari lamunannya.


"Apa Dave? Mau ganti ya? Yaudah masuk ke kamar aku aja nggak papa kok," ucap Sherly canggung.


Laki-laki itu menganggukkan kepala, lalu mengikuti arahan dari jari telunjuk Sherly.


"Klek" pintu kamar tertutup rapat.


Perlahan Dave melepas kemejanya, lalu memakai kaos milik Sherly yang ternyata pas di tubuhnya. Kemudian melepas celana panjangnya berganti dengan celana pendek yang diberikan Sherly.


Tidak perlu bertanya milik siapa yang saat ini pas di tubuh Dave. Tentu saja Dave berpikir semua itu milik mantan kekasih Sherly. Namun kenyataannya, entah Dave tidak berniat menanyakan hal yang nantinya akan memuluskan harapannya.


Kebetulan meja rias yang berada di kamar Sherly memiliki cermin sehingga Dave bisa mematut diri di sana. Lima detik cukup untuk Dave menilai berapa skor yang didapatkan berkat penampilannya.


"95, hampir sempurna. Kamu memang sudah tampan dari sana Dave," puji Dave pada diri sendiri.


Tangan kanan Dave terulur memutar knop pintu, lalu berjalan menghampiri Sherly di ruang tamu. Saat ini penampilan mereka lebih cocok dikatakan sebagai sepasang kekasih. Bukan lagi atasan dan bawahan.


Penampilan mereka juga mendukung untuk keduanya melakukan kencan. Lagi pula tidak ada kerja yang dilakukan di sofa apartement. Kecuali atasannya tidak memiliki ruang kerja.


"Apakah Dave bisa diandalkan? Hari ini mood ku sangat buruk. Parahnya lagi, aku sama sekali tidak tau apa penyebabnya," gumam Sherly.


Dave yang sudah ada di belakangnya pun tidak sengaja mendengar.


"Ada apa Sherly? Apa kamu meragukan kemampuanku hm?," tanya Dave seraya duduk di dekat Sherly.


Sesekali jemari Dave menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sherly membuat wanita itu tersipu. Bisakah waktu berhenti sebentar saja? Sherly ingin merasa diperhatikan seperti ini.


"Dave, aku tidak ingin bekerja hari ini," keluh Sherly.


Mungkin terbawa suasana atau memang Sherly merindukan sosok laki-laki sebagai sandarannya. Perlahan wanita itu meletakkan kepalanya di bahu Dave. Dibalas dengan usapan lembut di puncak kepalanya.


"Cup" Dave mencium rambut Sherly dengan aroma honey habbatussauda yang khas.


"Semua pekerjaan sudah aku selesaikan sher, metting juga sudah diundur besok dan lusa. Tinggal beberapa dokumen aja yang butuh tanda tanganmu," ucap Dave yang masih setia menghirup aroma rambut Sherly.

__ADS_1


Hidungnya mendadak tajam. Sepertinya indra penciuman Dave mulai kecanduan dengan aroma apapun yang berasal dari Sherly. Dave takut dia akan khilaf, tapi untuk saat ini laki-laki itu merasa nyaman.


"Serius Dave?," tanya Sherly penasaran.


"Iya nona, kapan aku membohongimu? Kecuali tentang perasaan, aku tidak bisa menjanjikan," jawab Dave semangat lalu tiba-tiba menundukkan kepala.


Mendung terlihat di wajah Dave. Apapun alasan adanya kemurungan itu, yang jelas membuat Dave terlihat sedikit jelek. Namun justru membuat Sherly terkekeh.


"Kenapa ketawa? Apanya yang lucu," gerutu Dave.


"Kamu tambah ganteng Dave," ucap Sherly polos.


Dave merasa aliran darahnya semakin cepat. Dia juga yakin jika wajahnya saat ini berwarna merah. Kenapa hanya berada di sebelah Sherly mampu membuat Dave lupa akan lukanya? Apa mungkin ini awal dari kedekatan mereka?


Alih-alih senang karena mendapat pujian, Dave justru semakin kesal dengan jawaban Sherly.


"Wanita, tolong jangan membuatku gila. Hentikan candaan mu yang sama sekali tidak lucu," dengus Dave kesal.


Bukan kesal, tapi lebih tepatnya hanya pura-pura agar mendapat perhatian Sherly.


"Hei, aku tidak menggodamu dasar pria tua," ketus Sherly.


"Apa katamu? Aku pria tua? Hei, bahkan aku hanya selisih beberapa tahun darimu," ucap Dave serata mengacak rambut Sherly karena saat ini ini Dave kesal dengan ucapan wanita di hadapannya.


"Aku tidak tua Sherly. Tatap mataku, dan katakan padaku. Dimana letak tubuhku yang membuat aku terlihat tua?" cerca Dave tanpa jeda.


Laki-laki itu seolah lupa siapa yang tadi memulai pertanyaan.


"Dave a-" Sherly belum sempat melanjutkan ucapannya, tapi Dave telah lebih dulu menatap kedua matanya dan memegang kedua bahunya.


"Aku tidak tau dengan apa yang nantinya terjadi. Untuk saat ini, aku hanya ingin menikmati. Aku sendiri tidak mengerti kenapa bersamamu hidupku tak lagi sepi," ucap Dave dengan tatapan yang masih lekat ke arah Sherly.


'Aku merasa hidupku berwarna setelah membiarkanmu masuk ke dalamnya. Aku belum membahas perihal suka ataupun cinta. Ingat, baru tahap pertama yang kubahas baru saja," imbuhnya.


Sherly diam menyelam di bulatan putih kehitaman di milik Dave. Wanita itu menyadari adanya gejolak yang semakin aneh saat berada di dekat Dave. Namun belum menyadari jika perasaan mereka sama.


Tentu saja terlalu dekat tidak baik, karena bagaimanapun lekat pasti akan berubah menjadi rekat. Lalu suatu saat akan mengalami metamorfosa hingga semua kembali seperti sedia kala. Dua manusia bisa bersama seterusnya, tapi bisa saja takdir memisahkan hingga akhirnya kita berjauhan seperti sebelumnya. 

__ADS_1


"Sher, sekali lagi aku mengingatkanmu. Aku belum membahas adanya cinta diantara kita. Jangan biarkan hatimu terisi penuh oleh bayangku karena bisa saja suatu saat aku meninggalkanmu. Aku tidak akan abadi dalam ragamu, tapi aku akan memastikan abadi dalam benakmu. Tidak ada lagi kelemahan yang kamu sembunyikan dariku. Aku mengerti semua dengan sempurna. Hingga nanti jika waktunya tiba, aku akan berkata hal yang semoga saja bisa membuatmu tertawa," sambung Dave.


Dan sakitnya mencintai adalah saat kita dikhianati. Bukan saat cinta tidak bisa terrealisasi.


__ADS_2