Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Flash Back


__ADS_3

Yang kutakutkan bukan tentang cinta yang akan pudar,


Tapi tentang kehidupan yang dekat dengan kata buyar


Aku menuntut kehadiranmu,


Tapi sudut hati melarang ku


Aku ingin menggenggammu erat,


Tapi sudah jauh dari kata dekat


Aku berusaha melupakan


Meski akhirnya semakin menyakitkan


Aku belajar lupa,


Namun seolah dunia punya cerita


Alam membuatku terbenam dalam debaran pelukan


Mendengar berbagai rintihan dalam nadi yang terus bergetar


I'm worry time will come


Aku takut waktu akan tiba


Dan kamu kembali lepas begitu saja


Jika pada akhirnya harus merelakan,


Aku tidak pernah mempermasalahkan


Hanya saja hidup membuatku terlalu rumit


Kemudian berakhir dengan memberikan sakit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Flash back onn


Sherly mencintai Brian dengan setulus hati. Wanita itu tidak pernah meminta. Bahkan jika bisa, dia akan selalu membuat Brian merasa dicinta.


Kisah mereka berjalan dengan sangat mulus. Tidak seperti gurun yang tandus, tapi seperti tanah yang berhumus. Mereka menyadari jika benih perlahan tumbuh dan berkembang semakin subur.


Hanya saja terkadang kita tidak tau bagaimana akhir dari semestinya. Pohon akan berbuah, atau akan mati setelah semua berubah. Tidak semua laki-laki menerima saat wanita yang dicinta telah membuat adrenalin tercipta.


Brian adalah laki-laki normal yang memiliki hasrat seksual. Tahap pertama, sorot mata mengisyaratkan adanya cinta yang perlahan ada. Otak kiri memberi tugas untuk segera memiliki. Brian mematuhi. Laki-laki itu mendekati kemudian mengklaim telah memiliki. Setelah sebelumnya mereka saling mengutarakan rasa dalam hati.


Tidak ada yang curiga. Apalagi Sherly, wanita yang sangat dicinta. Brian tulus menyayangi Sherly seperti wanita itu menyayanginya. Perjalanan begitu terjal saat Brian akhirnya memilih untuk meninggalkan keluarga demi wanitanya.


Sherly Angel, wanita pemilik keberuntungan di usia muda. Bertemu dengan pemilik Silver Coorporation membuat hidupnya berubah seiring derap kakinya yang terus melangkah.


Bukan cinta jika dia tidak berusaha menjaga. Bukan juga sayang jika dia tidak selalu berjuang. Sherly melihat perjuangan Brian yang rela meninggalkan kepemilikannya hanya demi cinta.


Hal mustahil bagi seorang pria dewasa. Semacam skenario yang akan dimainkan di atas luasnya seantero. Saat dimana Sherly masih berstatus sekretaris pribadi, diam-diam wanita itu membantu Brian untuk menata hidupnya kembali.


Bersama menapaki, berdua mengarungi. Sherly memberikan sisa rupiah miliknya untuk Brian yang berusaha menyusun perusahaan kecilnya. Wanita pemilik wawasan luas, juga pemikiran yang cerdas. Sepadan dengan paras cantik, tapi tidak pernah menindas. Dia juga selalu berkutik setiap kali ada seseorang yang mengusik.


"Sayang, teruslah berjuang. Jangan menyerah, ingatlah aku saat kamu lelah. Kita bersama untuk tujuan yang sempurna," ucap Sherly memberi semangat kepada kekasihnya.


Melihat ketulusan yang Sherly berikan membuat Brian semakin tidak tahan untuk segera menghalalkan. Sherly menggenggam kedua jemari Brian lalu mengecup punggung telapak tangannya pelan.


"Cup"


"Seluruh jari ini yang akan menemanimu menuju puncakmu. Di setiap celah akan selalu ada petuah. Di setiap celah jangan pernah kau isi dengan resah. Bayangku hadir di sini. Di setiap buku jari yang berdiri."


Sherly menautkan kedua jemarinya agar menyatu dengan milik laki-laki di hadapannya. Brian merasa hidupnya bahagia semenjak kehadiran cinta pertamanya.


"Cup"


"Kita sama-sama yang pertama. Maka izinkan aku meminangmu untuk menjadi yang terakhir kalinya. Jangan mendua karena aku akan selalu ada."

__ADS_1


Tanpa terasa air mata mengalir dari pelupuk sana. Menetes pelan mengabsen setiap lekukan. Sherly merasa guratan putih telah menjelma. Dua siap menyambut hidupnya walau hanya sebatang kara.


"Jika hidup tidak seberuntung cinta, maka biarkan aku bahagia di atas pijakan yang sama."


Sherly terlena dengan ucapannya. Dia seolah lupa kepada siapa dirinya berhadapan saat ini. Kerja keras juga kegiatan yang selalu membuat otak terperas.


Hidup begitu rumit saat Sherly hidup dalam pembagian. Dua puluh empat jam sehari dia bagi menjadi tiga dimensi. Pertama untuk pendidikan, kedua untuk pekerjaan, lalu ketiga untuk masalah percintaan.


Pendapatan lebih dari cukup untuk sekedar pemenuh kebutuhan. Sherly dengan santai masih bisa menyimpan untuk kehidupan di masa depan. Jauh sebelum Brian datang, hidupnya sangat dekat dengan hal menentang.


Hingga suatu hari saat Brian sungguh menginginkan Sherly. Sherly terus bersikap manja padahal dia tidak mau disentuh seutuhnya. Brian suka menggoda begitu juga Sherly-nya.


Keduanya saling mencium, mengecap, lalu menyesap. Namun tidak pernah sampai puncak yang disebut nikmat.


"Sher, please," ucap Brian dengan suara parau.


"Maaf Brian, aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena aku hanya ingin menjaga untuk suamiku kelak"


"Apa bukan aku yang akan menjadi calonmu?"


"Aku berharap seperti itu. Biarkan beberapa tahun lagi, lalu selebihnya apa yang kumiliki juga akan kamu kuasai."


Brian mematung. Dia sangat mencintai, tapi hal lain telah membuatnya membenci. Dia benci Sherly karena tidak setuju dengan rencananya. Bagaimanapun Brian adalah kekasihnya, dia berhak atas apa yang Sherly punya.


Pukul 21.00 WIB. Lampu di apartement Brian masih menyala karena di sana ada dua manusia yang sedang dibutakan cinta. Brian memeluk Sherly. Membawa wanita itu ke dalam kejernihan yang suci.


Sherly tersenyum, wanita itu beruntung mendapatkan Brian yang tidak pernah membuatnya terluka. Cinta pertama menyuguhkan keistimewaan yang luar biasa.


Semakin belajar melupakan, semakin akhirnya kamu sulit mengikhlaskan. Brian menatap kedua manik mata Sherly bergantian.


Bibir yang selalu dicecapnya membuat Brian tidak pernah bisa untuk menutupinya. Dia tidak ingin melepaskan, tapi egois karena terlalu memaksakan. Semua terasa indah saat hanya lampu temaram yang mengiringi suara mendesah.


"Cup" Brian mencium bibir Sherly.


Hanyut dalam ketenangan hingga tanpa sadar telah sampai di batas tepian. Brian merengkuh pinggang Sherly semakin erat seolah tidak ingin ada hal lain yang membuat keduanya terpikat.


Sherly merasa tubuhnya semakin panas. Dress yang dipakainya hampir terbuka sepenuhnya. Brian mendesah kala melihat untuk kesekian kalinya.


Mereka bukan pasangan yang tidak pernah saling merangs**ng.Hanya saja untuk membobol batas pertahanan, Sherly butuh status kepastian. Bukan sekedar kekasih yang bermain di dalam kegelapan.


Seiring pagutan yang terus berubah menjadi tuntutan, Sherly mengakui tubuhnya sulit terkendali. Meski berusaha sekuat hati, Brian lebih pintar dalam permainan ini.


Keinginan laki-lakinya semakin terasa saat Brian membawa jemari Sherly menyentuh miliknya. Untuk pertama kali Sherly merasa risih.


"Cup" Sherly mengakhiri ciumannya lalu mengecup sekilas bibir kekasihnya.


"Bri, jangan," ucap Sherly lirih.


Brian mengerti. Laki-laki itu paham dengan pasti jika apa yang diinginkan belum tentu bisa dilakukan.


"Ssstttt! Maaf telah membawamu ke dalam jebakanku," bisik Brian setelah laki-laki itu menempelkan jari telunjuk ke bibir Sherly.


"Cup! Aku mencintaimu kemarin, saat ini, dan nanti," imbuhnya.


Kadang ketika kita menjaga, justru kita yang akan terluka.


Brian mendaratkan pantat seksinya di sofa. Laki-laki itu menarik Sherly hingga jatuh ke pangkuannya.


"Baby," pekik Sherly.


"Cup" Brian kembali *******, semua semakin terasa nikmat.


Brian tidak membiarkan anggota tubuh lain saling diam. Tangan kanannya mengusap punggung Sherly, melepas kaitan besi yang mengganggu pemiliknya saat ini.


Cubitan kecil Sherly layangkan agar Brian berhenti melakukan. Dia bukanlah wanita suci. Dia tahu apa itu dosa. Tapi wanita itu tidak sanggup berkuasa saat rasa untuk pertama kalinya bergemuruh di dadanya.


Gaun yang telah kembali ke bentuk semua kini mulai menyelipkan celah untuk Brian memasukinya. Jemari Brian merayap hingga menemukan gundukan besar yang sangat kenyal.


Itulah yang Brian inginkan. Dia tidak ingin melepaskan apa yang telah diserahkan. Sherly memang menyerahkan hidupnya agar Brian mampu mengoreksi setiap kesalahannya.

__ADS_1


Bukankah perjanjian awal adalah Sherly berusaha menjadi istri idaman? Tapi apa yang Brian harapkan justru membuat Sherly semakin kewalahan.


Mungkin karena pengaruh asmara, Sherly menatap iba kearah Brian yang masih saja menggerakkan tangannya di area dada.


"Brian, please," gumam Sherly.


"Cup" Brian mencium lalu menuntun Sherly agar beranjak dari sofa.


Brian terus menggiring wanitanya ke arah ranjang. Baru saat Brian hampir menurunkan mini gaunnya, Sherly sadar satu hal. Dia telah terlena. Lupa apa komitmen awalnya.


Memutus ciuman sepihak, lalu menatap Brian tajam. Tidak semua kesalahan Brian. Sherly juga ikut andil di dalamnya. Jika wanita itu menolak, semua tidak akan bergerak.


"Maaf Brian, aku nggak bisa," ucap Sherly lirih.


Hampir saja wanita itu terisak karena kebodohannya. Jika Brian berhasil meniduri, tapi tidak menikahi, siapa yang bersedia menjadi saksi. Sherly meyakini tidak akan ada laki-laki, yang tulus mencintai sekalipun tubuhnya molek dan seksi.


"Aku yang minta maaf. Tidak seharusnya mengajakmu malam ini."


"Cup" Brian mengecup bibir Sherly untuk terakhir kali karena di detik selanjutnya Brian telah membenarkan pakaian yang Sherly kenakan.


"Maaf, aku bukan laki-laki baik."


Sherly mengusap wajah polos di hadapannya. Sherly sangat mengerti Brian bukanlah laki-laki seperti yang diidolakan wanita kebanyakan. Bahkan Sherly hadir karena tidak bisa membiarkan Brian terus terkilir.


Laki-laki itu telah lama jatuh ke lembah kegelapan. Harta dan wajah tampannya membuat Brian menjadi pria tanpa canda. Bukan tanpa canda karena Brian tidak pernah serius dalam hidupnya.


Otak dalam pikirannya hanya tentang ************ wanita. Brian mengakui akan hal menjijikan itu. Sherly pun memahami. Wanita yang tulus mencinta akan menerima apapun kekurangan pasangannya. Sekalipun dia pemilik masa lalu yang kelam, Sherly akan membuat Brian ke jalan yang benar.


Seluruh fasilitas dari sang ayah di cabut. Brian tidak punya tujuan selain duduk memeluk lutut. Malam dimana Sherly menemukan Brian, laki-laki itu falam keadaan mengenaskan.


Sherly membawa laki-laki yang baru dikenalnya untuk mencari penginapan. Membantu mencari pekerjaan dengan kecerdasan, hingga berakhir dengan Brian meniggalkan keluarga karena memilih cintanya.


Sherly menyerahkan Pradana Coorporation karena itu murni kerja keras Brian. Sherly hanya membantu di waktu yang dia mampu. Semua yang Sherly lakukan tulus untuk membangun masa depan.


Namun siapa sangka, saat dimana Brian merasa Sherly mempermainkan keinginannya, Brian justru ingin kembali menjadi laki-laki liar tidak berperasaan. Takdir begitu mudah mengubah Brian kembali seperti dulu.


Saat sebelum laki-laki itu mengenal Sherly, wanita yang tulus mencintai. Dia ingin kembali, tapi di satu sisi sudah memiliki Sherly. Brian berusaha melupakan jiwa bajing** setelah mendapatkan wanita yang diinginkan.


"Brian, apapun yang terjadi kamu tidak boleh seperti dulu lagi. Ingat masih ada aku di sini yang setia menungui. Masih ada janin yang akan terbentuk suatu hari nanti."


Sherly membawa tangan kanan Brian untuk mengusap perut ratanya.


"Suatu hari nanti, di sini akan ada buah hati yang menanti. Jadi jangan biarkan nafsu kembali menguasai. Aku percaya hatimu mampu melaluinya."


Brian tertegun mendengar penuturan Sherly. Dia tidak menyangka kenapa baru sekarang dipertemukan dengan wanita yang membuatnya nyaman. Brian bisa melihat ketulusan di setiap tatapan.


Tidak pernah mengecap kata lelah untuk membuat Brian berubah. Dia sungguh berbeda. Wanita itu tidak mengincar harta.


"Bagaimana jika suatu hari nanti aku terjerumus lagi?" tanya Brian dengan tatapan penuh arti.


"Jika suatu hari nanti kamu melakukannya, aku tidak akan pernah menganggapmu ada. Kamu tau kenapa aku membuatmu berbeda. Kamu juga tau tentang apa yang membuatku bisa menerima. Benih rasa adalah jawaban dari semuanya. Aku mencintaimu Brian. Menerima kekuranganmu, serta mengubah luka menjadi tawa. Kamu adalah tujuan masa depanku, jadi sebisa mungkin aku akan berusaha untukmu, untukku, dan untuk kita."


"Di sini, di hati yang selalu merasa sepi. Aku menemukan setitik api yang perlahan mulai menyinari. Meski hanya redupan, tapi kamu mampu menciptakan kenyamanan. Gelap yang selama ini kuanggap pengap, ternyata bisa berubah menjadi pekat. Dan perlahan aku suka akan warna yang tidak bisa dipandang setiap mata. Jika petang adalah kegelapan, maka kamu adalah lilin yang mampu menghidupkan."


Brian mencerna ungkapan Sherly. Sejatinya wanita itu hanya sedang menguji dirinya sendiri. Dia belum begitu pasti akan apa yang akan terjadi, jika apa yang diucapkan Brian adalah kenyataan.


"Kamu membiarkanku pergi? Apakah cinta seperti ini?"


"Aku tidak mengerti cinta karena ini pertama kalinya. Entah mengapa aku hanya percaya jika cinta tidak akan membuatku terluka."


Brian tersenyum tulus menatap ke arah Sherly. Seulas senyum terbit di bibir Brian. Segera Sherly membawa Brian ke dalam pelukan. Wanita itu merengek manja juga memajukan bibirnya.


"Sayang, nggak usah kaya dulu ya. Aku hanya tidak mau kamu hancur sebelum kehadiranku. Katamu akulah pengubah hidupmu, tapi apa? Sekarang kamu berniat mengulangi hal yang sama," ucap Sherly lirih hampir seperti permohonan.


Brian mengangguk. Mana mungkin dia tega menyakiti wanita yang dicintai. Dia adalah fuc*boy, tentu tidak pernah merasakan cinta. Namun bersama Sherly, laki-laki itu perlahan mengubah diri.


Demi Sherly, hidupnya kembali ditata. Demi wanita yang disayang, dia rela untuk berjuang. Kekuatan cinta begitu membara membuat Brian ingin selalu memiliki wanita itu di sampingnya. Mungkin hingga ujung usia karena jika Brian bisa, laki-laki itu akan mengharap Sherly untuk selamanya.


Bukan hanya di dunia, tapi juga berharap di alam yang sesungguhnya. Brian sangat menyayangi. Dia tidak ingin menyakiti.


Namun satu hal yang membuat Brian akhirnya kembali melakukan. Tentang pelepasan yang tidak pernah ia dapatkan. Brian Pradana, laki-laki itu terbiasa hidup tanpa aturan sedangkan saat ini dia berusaha meninggalkan.


~Melupakan itu sulit, tapi bertahan pasti lebih sakit~

__ADS_1


__ADS_2