Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Ciwi Ciwi


__ADS_3

Jika yang terbaik untuk kita belum tentu bersama,


Maka aku berharap semoga alam menyatukan untuk selamanya


Bukan aku tidak berdoa di sepertiga malam


Hanya saja waktu membuatku paham


Jika apa yang belum disatukan bisa saja dipisahkan


Lalu aku mencari tau dimana titik lemahku


Aku berdiam diri menikmati alunan takdirku


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bangunan tinggi kembali menjadi saksi. Kemarin, hal janggal banyak terjadi. Namun Sherly belum mengerti siapa yang ada di ruangannya tempo hari. Wanita itu melalui lobby. Tentu saja bersama sekretaris pribadi sekaligus asisten pribadinya. Catat juga, dia adalah kekasih pribadi atasannya.


Suasana kantor telah ramai seperti biasa. Beberapa karyawan memenuhi jalan menuju dimana ruangan mereka berada.


,,


"Selamat pagi Nona Sherly, selamat pagi Tuan Dave," sapa mereka serempak.


Sherly tersenyum. Kecantikannya menjadi berlipat. Dave melakukan hal yang sama. Laki-laki itu menebar senyum manis kepada ciwi-ciwi di sana. Biarlah, untuk pagi itu Dave akan membuat Sherly cemburu.


Lewat sudut mata Sherly menajamkan penglihatan. Dave membuatnya kesal, tapi dia harus berpura-pura tegar. Sherly harus terbiasa menghadapi Dave yang seperti itu.


Langkah anggun Sherly menyiratkan bahwa sang empu lemah gemulai. Ya, Sherly memang terlihat lembut. Dia bahkan bisa menjadi ringut saat ada yang berani menyentuh hidupkan.


Seluruh permainan lawan akan dia balaskan. Namun tentu saja apa yang dilakukan sudah lebih dulu Dave laksanakan. Sherly bukan pendendam, tapi Davelah yang menuruni watak kejam kepada siapapun yang telah berani mengganggu ketenangan Sherly.


"Sherly tungguuuu!" teriak suara bariton dari kejauhan.


Dave menghentikan langkahnya seperti sang nona. Sherly membalikkan tubuhnya. Sosok familiar berjalan tergesa ke arahnya. Sherly memutar mata jengah.


"Drama apa lagi yang akan dia mainkan," sindir Dave.


"Diam bodoh! Ini bukan tentang drama, tapi tentang cinta."


Dave mengamati penampilan Sherly. Wanita itu mengenakan rok span tanpa belahan. Ukurannya pas di tubuh Sherly. Meski di atas lutut, tapi tidak mengekspos bagian intimnya.


Merasa diperhatikan, Sherly melirik ke arah Dave. Dia benci menjadi objek fokus di tempat umum. Tapi terlambat, predikat itu akan dia dapatkan sebentar lagi.

__ADS_1


"Ehem!" dehem Sherly.


Dave menunduk hormat. Dia merutuki kebodohannya telah mengamati Sherly. Kenapa harus di tempat umum, jika di alam trrtutup saja dia akan tunduk.


"Haha, jaga mata dan jaga hati bossque."


"Maaf Tuan Brian Pradana yang terhormat, sepertinya anda tidak punya janji dengan Nona Sherly untuk hari ini," ucap Dave mengingatkan.


Brian tersenyum meremehkan. Dia merasa masih memiliki hak sepenuhnya.


"Apa saat saya ingin berjumpa dengan jodoh harus melapor kepada anda?"


Sherly mengerutkan dahi. Dia tidak terima dengan kalimat Brian. Dia harus melihat bagaimana reaksi Dave.


"Anda tidak perlu berpikir keras untuk menjawabnya karena jawaban ada pada hatinya bukan pada kalimat anda," imbuh Brian.


"Jangan meninggikan apa yang kamu harapkan. Bisa saja saat semua tidak sesuai keinginan, kamu akan jatuh terlalu dalam," sindir Dave.


"Aku telah lama bersama, sedangkan anda hanya sementara. Lihat, betapa Sherly masih sangat mencintai."


Dave melirik Sherly. Wanita itu membalas lirikannya. Dia mendengar bisik-bisik karyawan. Maka wanita itu berusaha untuk tetap diam. Sungguh dia ingin melihat akhir dari perkelahian laki-laki dewasa di hadapannya.


Dave ingat. Bukankah Brian telah menyerahkan Sherly tempo hari. Laki-laki itu tersenyum kemudian berucap pelan. Tatapannya bersarang tepat di bola mata lawan.


"Mampus!" batin Brian.


Brian tau kemana arah pembicaraan. Dia pernah menyerahkan Sherly kepada asistennya. Tapi lupakan. Rasa ada bukan untuk dipaksa. Jangan salahkan Brian jika dia tidak bisa melupakan. Sherly terlalu sayang jika hanya dikenang.


"Aku berusaha melupakan, tapi ternyata aku semakin menginginkan. Aku tidak bisa melepaskan apa yang sesungguhnya kuharapkan," ucap Brian.


Dave jengah. Dia lelah jika harus menghadapi laki-laki tipe seperti ini.


"You know brother? Kamu berhadapan dengan siapa? Bisakah kamu melepas Nona Sherly? Dia terlihat malas dengan kehadiranmu."


Brian hendak menggapai jemari Sherly. Namun Dave segera menepisnya. Sherly membulatkan mata. Hampir saja terjadi kontak dengan mantan menyebalkan.


"Mohon maaf Tuan Brian, bisakah anda bersikap lebih sopan kepada Nona Sherly?"


"Mohon maaf Tuan Dave Anggara yang terhormat, bisakah anda tidak mencampuri urusan saya dan nona anda? Saya dan Nona Sherly tidak ada hubungannya dengan anda.


" Saya selaku asisten pribadi nona merasa keberatan. Anda seharusnya membuat janji temu dulu mengingat jadwal Nona Sherly selalu padat."


"Brother, ini masalah hati jangan dicampur-adukkan dengan pekerjaan."

__ADS_1


"Bukankah anda yang lebih dulu datang ke sini? Ini kantor tuan. Jika anda lupa, saya dengan senang hati akan mengingatkan."


Brian merasa diremehkan. Wajahnya terasa panas. Menghadapi Dave selalu membuatnya kesal. Sementara Sherly yang sedari tadi mengamati mereka kini mulai membuka bibirnya.


"Harap bersikap yang semestinya tuan. Kalian sudah lebih dari dewasa untuk menghadapi masalah ini," tegas Sherly.


Setelahnya wanita itu berangsur pergi. Dave refleks menyusulnya begitu juga Brian. Sherly mengutuk mereka dalam hati. Itu baru dua. Jangan lupakan masih ada satu lagi yang tentu lebih berbahaya.


"Nona tungguu!" teriak Dave.


Sherly berusaha tuli. Mereka tidak bisa membedakan pekerjaan dan percintaan. Selalu saja ada yang datang dan membahas tentang kenangan. Sherly susah payah melupakan, tapi Brian selalu hadir dan mengingatkan.


"Dasar laki-laki. Mungkin pergi dari kalian bisa membuat hidupku sedikit tenang," ucap Sherly bermonolog.


"Ting!" pintu lift terbuka.


Sherly segera masuk, tapi kalah cepat dengan dua laki-laki yang mengejarnya. Dia hendak keluar, tapi pintu lift telah tertutup lagi. Kesal! Itulah yang Sherly rasakan. Wanita itu lupa dosa apa yabg pernah dilakukan hingga sekarang dia merasa hidupnya tidak tenang.


"Wes, angel," batin Sherly.


"Sher, kasih aku kesempatan," rengek Brian.


"Jangan nona. Bisa saja dia mengulang kesalahan yang sama."


Brian melirik ke arah Dave. Laki-laki tengil itu adalah musuh bebuyutannya. Dia tidak terima jika kasta tidak mampu mengalahkan semua. Brian berasal dari keluarga kaya. Sementara Dave? "Bisa saja dia hanya pungutan dari jelata," batin Brian.


"Ting!" kotak besi itu terbuka.


Sherly segera keluar dari sana. Dia sungguh menyesal pagi itu. Semuanya sirna sudah karena perdebatan duniawi. Sherly mempercepat langkahnya. Ruangan khusus CEO menjadi tujuan utama. Sherly brnci, sangat benci.


Brian dan Dave masih saling bersahutan. Mereka bicara dengan kalimat saling mengancam. Brian mengucapkan, sedang Dave membalas dengan tantangan. Ah betapa sialnya kamu nona manis.


"Bisakah kalian diam saja di luar? Tolong jangan ikuti aku!" teriak Sherly.


Wanita itu membuka pintu dengan sensor jari. Tapi sebelum menutup, Brian lebih dulu menyusup ke dalam.


"Briannnnn!"


"Aoa sayang," jawab Brian santai.


"Ehem!" deheman bariton terdebgr dengan jelas.


Sherly berhenti. Dia menajamkan pendengarannya. Itu bukan suara Dave dan Brian.

__ADS_1


__ADS_2