
Pernah berjanji, tapi diingkari.
Pernah mengingkari, tapi berjanji lagi.
Stop dear.
Aku lelah dengan sikapmu yang tidak pernah mengalah
Aku benci pada diri sendiri
Karena pada akhirnya manusia seperti ini terlalu mudah dibodohi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sherly menggeser layar kunci pada ponselnya. Wanita itu membuka daftar panggilan tak terjawab. Baru ada satu kali penggilan. Sherly menunggu. Berharap sang pemilik dua be
e.et'tlas digit menghubungi lagi.
"Tik tik tik" Jarum jam berdenting dengan pelan.
Lima menit berlalu tidak ada tanda-tanda adanya panggilan baru. Sherly lelah menunggu, akhirnya wanita itu membiarkan rasa keponya berakhir.
Lirikannya tertuju ke arah ponsel. Dia mengamati jam yang terpampang di sana. Refleks wanita itu membulatkan mata. Dia terlambat, tapi untuk tidak bekerja sangat tidak mungkin. Perusahaannya sedang terancam.
Semalam Sherly sibuk menangis hingga matanya sembab. Saat ini bukannya membaik, justru bertambah sembab. Ditambah dua kantung hitam yang terlihat jelas di bawah kelopak mata.
Sherly menyambar handuk yang ada di gantungan lalu menuju kamar mandi. Wanita itu menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian menyalakan shower yang berada tepat di atas kepalannya.
Kucuran demi kucuran membuat Sherly terus memejamkan mata. Dinginnya hujan berpadu dengan dinginnya air shower. Sherly tidak mempermasalahkan. Dia terus menikmati kulitnya yang tersentuh kedinginan.
Busa halus menjadi mainan Sherly untuk saat ini. Puff mandinya dibiarkan untuk lahan kebahagiaan. Sherly menunduk. Dia tidak tahu sekarang berada di fase mana.
Dulu hidupnya menderita, lalu bahagia, sekarang entahlah. Sherly tidak tau apa yang membuatnya seperti ini. Haruskah dia bahagia? Atau mungkin Sherly menderita.
Sengaja wanita itu menyapu setiap inchi tubuhnya. Dia tidak ingin mengingat, tapi ada hal lain yang menurutnya nikmat.
"Astaga! Pikiran mesum itu muncul begitu saja," rutuk Sherly.
Segera Sherly menyelesaikan ritualnya sebelum pikiran buruk semakin berkuasa dalam benaknya. Sherly keluar dengan balutan handuk sebatas dada.
__ADS_1
Dia berjalan menuju lemari pakaian. Mencari kemeja pendek dipadukan dengan rok sedikit di atas lutut. Sherly memakai pakaiannya, lalu berjalan ke arah meja rias.
Wajah yang biasanya cantik tanpa make up kini terlihat sangat kusam. Sherly mengerang. Wanita itu mendesah samar. Baru kali ini dia terlihat buruk.
Sekarang Sherly mengambil kotak make up. Mencoel sedulit fondation lalu mengoleskan ke seluruh wajah. Terutama bawah mata dan seputar lingkar panda.
Sherly meratakan alas bedaknya dengan spon beauty blend. Selanjutnya menyapukan bedak tipis di setiap sudutnya. Wanita itu menggunakan high light di atas pipi dan ujung hidung.
Tahap selanjutnya Sherly mengoleskan pemerah pipi. Dilanjut dengan menggunakan pelentik bulu mata serta membuat garis di atas kelopak mata.
Dia mengamati hasil polesannya di depan cermin. Sangat berbeda dari biasnya. Awalnya dia hanya ingin menggunakan fondation, namun niat untuk mengubah penampilan hari ini muncul begitu saja.
Sherly tersenyum puas. Kini dia mewarnai bibirnya dengan warna nude. Tidak mencolok, tapi menambah kesan kalem untuknya.
Dirasa cukup, ia segera menuju rak sepatu. Mengambil high hells lalu memakainya. Wanita itu memakai jam tangan sambil berjalan. Tidak lupa menyambar ponsel dan kunci mobil.
Sherly keluar apartement dengan tergesa. Wanita itu memasuki lift lalu berlari kecil menuju bassement parkiran. Dia membuka pintu kemudian menancapkan kunci. Mesin mulai mengeluarkan suara.
Pengemudi melajukan mobilnya pelan. Sherly membelah padatnya ibu kota seorang diri. Tanpa sekretaris ataupun asisten pribadi di sampingnya. Biasanya Dave akan setia bersama, tapi kali ini entah. Sherly bahkan lupa belum mengecek bagaimana keadaan Dave-nya.
Jika kamu punya waktu untuk menunggu, kenapa tidak sekalian punya waktu untuk menjemput kebahagiaanmu? Takdir berkata lain saat kamu mulai berteman dengan angin. Dia bertiup mengikuti arah mata angin. Tapi tidak dengan arah cinta yang tidak terpikir sebelumnya.
Musik mellow menjadi teman perjalanan. Sherly membiarkan hatinya tenang. Nanti dia akan berhadapan dengan hal yang menurutnya menantang. Waktu tidak bisa diulang, tapi kenanangan bisa saha dikenang.
Cincin warna hitam masih terselip di jari tangan. Sherly tidak bisa berbohong. Hatinya terlanjur larut di dalam lorong. Di ruang kosong, sosok laki-laki telah hidup tanpa kata bohong.
Sherly mengambil ponsel yang di letakkan begitu saja ke dasboard. Tangan kirinya terulur menggapai benda pipih itu. Dia menggerutu, Dave tidak juga memberi kabar.
"Dave, gimana sih? Tadi pagi nggak ada kabar. Sekarang juga nggak ada kabar. Kamu mati atau hidup sih Dave."
"Awas kalau nanti ketemu. Oh ya, jangan bilang kamu bel bisa dapetin informasi yang kuminta semalem. Daavveee!!! Ngeselin banget sih," umpat Sherly kesal.
Macet sudah meraja lela. Maka tidak ada harapan untuk Sherly segera sampai ke kantornya. Matahari masih menyinari, tapi kali ini ia sudah mulai meninggi. Sherly mengusap peluh yang membanjiri dahi.
Ada ataupun tidak AC di dalam mobilnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kekasihnya. Sherly butuh Dave, tapi Dave mungkin tidak membutuhkannya. Sherly mengerjapkan mata. Dia berharap Dave tidak melakukan apa-apa.
"Tinn tinn tinnnn" bunyi klakson di belakang membuat Sherly sadar.
Lamunannya buyar seketika. Nyawanya seakan melayang saat itu juga. Dadanya berdebar. Sherly bodoh sudah membuat mereka yang tidak sabar mengumpat kasar.
__ADS_1
"Shit!"
Bisa saja karma karena menyumpahi Dave berakibat fatal untuk serapahnya saat itu juga. Mungkin Dave teramat baik hingga alam tidak mengijinkan ada orang lain yang menggunjingnya.
Sherly melajukan mobilnya dengan cepat. Dia bukan takut terlambat, tapi kupingnya tidak tahan dengan mereka yang mengumpat.
Bangunan pencakar langit sudah terlihat. Sherly bernafas lega. Setidaknya tidak ada yang memarahi kalaupun dia terlambat saat ini.
Security di depan lobby tersenyum. Dia menganggukkan kepala sebagai tanda hormat. Sherly berhenti. Security langsung menegapkan badan.
"Mampu*" batin security.
Sherly keluar dari mobil. Tubuh tingginya menyembul dari balik kemudi. Sherly berdiri. Dia tersenyum ke arah security.
"Selamat siang nona Sherly."
"Siang mas."
"Loh kok manggilnya mas?"
Sherly mengerutkan dahi.
"Apa aki salah?" gumamnya.
"Maaf nona, maksud saya kenapa anda tidak memanggil nama saja? Bahkan karyawan lain memanggil saya dengan sebutan nama."
Sherly kembali tersenyum. Wajahnya semakin cantik. Sang tuan muda security kembali terpana.
"Aish, andai anda bukan atasan saya."
"Nona tolong jangan tersenyum," lirih security.
Wajah pria tampan itu bersemu merah. Membuat Sherly diam-diam terkekeh geli.
"Kenapa wajahmu merah mas?"
"Sial!"
"Hei, berhenti bercanda. Jangan membuatku merona. Rasanya aku ingin ikut tertawa."
__ADS_1
Security ikut tertawa. Baru kali ini dia berada di dekat nonanya. Pemilik gedung pencakar langit yang ada di belakangnya.
Tahukah kamu? Aku di sini menunggu, sedangkan kamu disana entah menunggu siapa.