Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Gugup


__ADS_3

Tidak semua kekhilafan membawa penyesalan karena bisa jadi


kebahagiaan berawal dari kesalahan yang tidak sengaja dilakukan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sherly Angel, wanita itu berusaha menenangkan debaran dadanya. Semakin melupakan, semakin nyata bayangan dalam ingatannya. Akhirnya wanita itu pasrah akan keadaan. Berharap semoga alam tidak lagi melakukan kekejaman. Jujursaja Sherly telah merasa dibodohi. 


"Fine, aku harus ketemu Dave. Aku nggak mau salah paham terjadi, ya walaupun emang karena kesalahanku sih," gumam Sherly.


Garis tipis terukir di bibir wanita itu pertanda dia baru saja tersenyum. Meski samar, namun tidak bisa ingkar jika sudut hatinya mulai merasa tegar.


Setelah kepergian Brian, Sherly belum pernah merasa sebahagia ini. Dan kali ini sekretaris pribadinya berhasil membuatnya tersenyum. 


Ternyata benar, tolak ukur kebahagiaan seseorang belum tentu tentang kekayaan, apalagi kekuasaan. Wanitabernama Sherly iyu tidak membutuhkan keduanya. Dia hanya ingin sebuah cinta. 


Dirasa sudah lebih baik, Sherly menatap pantulan dirinya di kaca yang terdapat pada meja riasnya. Semburat merah tampak malu-malu di kedua pipi Sherly seakan enggan pergi dari sana. Wajahnya terlihat semakin cantik. Jikasaja Brian tidak bodoh meninggalkannya, mungkin saat ini Brian tengah merenda cinta yang nyaris sempurna. 


"Aku cantik sih, tapi minus banget soal pasangan," ucap Sherly.


Niat awal melintas di benak Sherly. Segera dia membuka lemari pakaian miliknya. Mengamati tatanan kaos pendek berwarna hitam. Jangankan merk internasional, merk lokal saja Sherly tidak tau.


Dia bukan tipe wanita dengan gaya hidup mewah. Meskipun memiliki segalanya, wanita itu tetap berperilaku sederhana.


Sherly teringat jika dia memiliki kaos hitam dengan deretan huruf berwarna putih. Ukurannya juga sedikit lebih besar dari size yang seharusnya.


Segera Sherly mengambil benda itu di tumpukan kaos yang terlipat rapi. Mengamati, lalu menempelkan pada tubuhnya.


"Cocok," gumam Sherly.


Pandangannya tanpa sengaja turun ke arah bawah. Mengamati hot pants yang dipakainya. Benda berbentuk kotak dengan dua lubang itu berada di atas lutut.


Inisiatif untuk mengambilkan Dave celana kemudian muncul. Sherly mengambil bokser yang ada di lemari paling bawah. Memadukan dengan kaos pendek yang telah dibawanya.


"Nice," gumam Sherly.


Wanita itu akan membawa setelan santai ke ruang tamu. Tentu saja untuk Dave. Namun lagi-lagi niat Sherly harus diurungkan saat menyadari yang ada di depan Dave bukan Brian. Asisten pribadinya bukan mantan pacarnya.

__ADS_1


"Shit! Laki-laki brengse* itu terus saja terngiang," umpat Sherly.


Dengan kesal, Sherly kembali mendekati lemari. Mengamati tumpukkan celana. Pandangannya tertuju pada celana jeans pendek berwarna biru dongker.


Tanpa pikir panjang lagi, Sherly membawa ke ruang tamu untuk diberikan kepada Dave.


"Ngapain kebanyakan mikir, ini kan cuma dipake Dave sangat asisten pribadi bukan di pake kencan," gerutu Sherly dalam hati.


Tidak pernah diduga, bahkan mungkin wanita itu lupa apa tujuannya kembali ke apartement pada jam kerja. Wajah berbinar nya semakin terlihat saat mendapati sosok Dave duduk dengan laptop di pangkuannya.


Sesekali bersandar, mungkin laki-laki itu merasa lelah. Terlihat bulir keringat mulai meluncur di keningnya. Menambah tingkat keseksian Dave.


Tidak tega melihat kondisi sekretarisnya yang hampir mengenaskan, Sherly kemudian menuju dapur. Jus jeruk mungkin menjadi option yang tepat untuk saat ini.


Lima menit berlalu, Sherly menghampiri Dave dengan dua gelas jus jeruk di atas nampan. Sementara lengan kirinya mengapit kaos dan celana yang tadi dibawanya.


"Silahkan diminum Dave, anggap aja rumah sendiri," ucap Sherly seraya menurunkan gelas dari atas nampan.


"Em, ini dipakai ya Dave. Aku nggak enak aja udah pakai baju santai, tapi kamu masih pakai pakaian kerja," imbuhnya seraya mengulurkan apa yang tadi dibawanya.


Dave tersenyum lalu mengangguk. Menerima pemberian Sherly dengan hati yang telah bersorak riang.


"Diminum dulu Dave, baru ganti. Setelah itu kita lanjutkan pekerjaan. Aku tadi pagi terlanjur jenuh ketemu laki-laki sialan itu," ucap Sherly yang sepertinya akan memulai sesi curhat.


"Baik nona, dimana saya harus ganti pakaian?" tanya Dave berusaha agar terlihat santai padahal dadanya udah mulai pemanasan spot.


"Dave, nggak usah panggil aku nona. Udah sering kan aku bilang kalau kamu lebih tua dari aku," sungut Sherly kesal.


Entah rasa apa yang mulai singgah di hatinya. Namun Sherly kesal saat Dave memanggilnya dengan sebutan nona. Terkesan seperti seorang pelayan dan tuan putri. Padahal kan mereka berdiri di atas pijakan yang sama. Bahkan duduk pun mereka berdampingan.


"Tapi non-" Dave belum sempat meneruskan ucapannya, tapi Sherly sudah memotongnya.


"Jangan memanggilku nona. Hm, jangan pakai saya anda terlalu formal. Pakai aku kamu aja kaya biasanya. Kamu labil amat sih Dave jadi laki-laki," tukas Sherly.


Dan tanpa permisi Sherly menyodorkan gelas jus yang hampir saja diminumnya kepada Dave.


"Minumlah," ucap Sherly.

__ADS_1


"Huffttt" hembusan berat terdengar di telinga Dave.


Namun tidak membuat Dave takut. Kali ini senyum tipis terbit di bibir Dave. Bukan malu-malu seperti tadi, tapi senyum termanis miliknya yang sengaja diperlihatkan untuk Sherly.


"Aku mencintaimu nona," batin Dave.


Tetap saja Sherly pura-pura marah. Hanya karena sebuah kecupan mampu membuat dadanya masih bergemuruh hingga saat ini.


"Bagaimana jika kecupan itu berubah menjadi ciuman? Ciuman lama? Lalu atau lebih dari itu? Em, bagaimana jika jika jika dan jika semuanya terjadi padaku dan? Dave? Ah entahlah," perang Sherly dalam hati.


Gelas diletakkan setelah Dave selesai menentukan beberapa kali. Tenggorokannya tidak lagi terasa kering, tapi celananya tidak juga bertambah longgar.


"Ah sial," umpat Dave lirih.


"Nona eh maksudku sher, dimana aku harus ganti pakaian? Tidak mungkin di sini kan? Atau kamu mau membantuku untuk melepas helaian kain di tubuhku?" goda Dave disertai senyum licik khas laki-laki.


"Eh, tidak. Mana mungkin tangan cantikku mau menyentuh kulitmu," tolak Sherly ketus namun sebenarnya entahlah dia sendiri tidak bisa mendeskripsikan hatinya.


"Yakin? Bagaimana kalau berawal dari kecupan singkat seperti tadi😙?" ucap Dave yang terdengar semakin menggoda Sherly.


Perlahan laki-laki itu merapatkan tubuhnya ke tubuh Sherly. Menepis jarak yang tadi hanya beberapa jengkal saja. Aroma parfum yang digunakan Sherly menguar begitu saja. Bercampur dengan keringat yang mulai menetes di sela lehernya.


"Leher itu. Ah Dave, bisakah jaga jiwa lelakimu sedikit saja," rutuk Dave dalam hati.


Sherly gelagapan mendapat tatapan intens dari Dave. Semakin lama bukan membuat dadanya membaik malah memperburuk keadaan.


"Sher," bisik Dave.


"Hm," gumam Sherly.


Walau hanya gumaman, tapi kerongkongannya terasa kering. Bahkan gumammannya terdengar parau.


"Jangan keluarkan suara serakmu nona," bisik Dave lagi.


Sherly merasa dadanya semakin berdebar tak karuan. Bulir keringat semakin terlihat jelas. Tidak hanya di leher, tapi mulai menjalar di keningnya.


"Dave," ucap Sherly dengan nada manja. 

__ADS_1


Hanya nama Dave yang bisa Sherly suarakan. Terlebihnya wanita itu hanya mampu mengucapkan di dalam hati. Segala kegugupan, segala umpatan, serta segala pujian. Semuanya terucap dengan jelas dalam benak Sherly.


​Saat alfabetmu pergi, setidaknya bayanganmu masih di hati. Terima kasih telah memberi secuil kebahagiaan yang inti. Selebihnya aku kan berusaha sendiri. 


__ADS_2