
Dave mulai mengerjapkan mata ketika merasa ada beban yang terus menghimpitnya. Membuka mata perlahan, lalu mendapati Sherly yang masih berada di dalam sandaran. Dave mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari jam dinding. Dia pernah melihat, tapi lupa di ruang mana benda itu beristirahat.
Lupa, kenapa Dave harus mencari jam dinding jika dia mengenakan jam tangan. Astaga Dave. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Rasanya Dave ingin segera pergi, tapi melihat Sherly nyaman bersandar di tubuhnya membuat laki-laki itu tidak tega.
Ide licik muncul di benak Dave. Laki-laki itu mengambil ponsel yang tergeletak di depannya. Mengambil, lalu membuka kuncinya. Tidak ada sandi. Seperti ciri-ciri ponsel yang Dave miliki.
Mencari fitur kamera lalu segera berpose ria. Dave mencium Sherly lalu membidikkan titik fokusnya.
"Cekrek" satu photo berhasil diabadikan.
Merasa hasilnya memuaskan, Dave kembali melakukan hal yang sama.
"Cekrek cekrek cekrek"
Dave membuka galeri untuk melihat kembali hasilnya. Namun sayang, laki-laki itu justru mendapati hal yang sama sekali tidak membuatnya senang. Ternyata ponsel yang dipake adalah milik Sherly.
"Damn," desis Dave.
Laki-laki itu mengumpat bukan karena menemukan gambar Sherly dan Brian bermesraan, tapi karena gambar seorang perempuan. Wanita cantik dengan tampilan glamour sedang tersenyum ke arah kamera. Dan Sherly memilikinya.
Dave membuka galeri yang lain. Menyelidiki gambar siapa saja yang berhasil masuk ke dalam galeri ponsel Sherly. Setau Dave wanitanya itu bukanlah kolektor photo belaka.
Dia tidak akan menyimpan gambar seseorang jika dia tidak memiliki hubungan serius dengan dirinya. Namun saat ini Dave tidak mengerti kenapa ada poto wanita yang sangat Dave kenali.
Di sana, di ponsel cantik miliknya Dave tidak menemukan gambar apa-apa lagi. Semua hanya tentang Sherly. Perihal kehidupan, keseharian, juga kebiasaan.
"Apa hubunganmu dengan dia bee? Apa dia temanmu? Kurasa wanita sebaik kamu tidak mungkin bersanding dengannya. Kalaupun dia adalah teman, aku seseorang yang pasti akan menentang," ucap Dave bermonolog.
Arah pandangan Dave tertuju kepada Sherly. Untuk kesekian kali, Dave menggendong atasannya menuju ke tempat tidur yang layak. Membawa wanitanya ke dalam kamar kemudian meletakkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
"Di kantor ataupun apartement kamu tetep aja merepotkan. Untung aku sayang kamu, kalau nggak paling udah kubiarkan terlantar di pinggir jalan," omel Dave pelan agar Sherly tidak mendengar.
Saat hendak pergi, Sherly menarik tangan Dave. Seolah wanita itu sadar jika seseorang akan meninggalkannya.
"Dave, jangan pergi," rengek Sherly.
Tatapan khas bangun tidur meminta Dave untuk tidak pergi. Jangankan hanya sekedar minta ditemani, minta apapun pasti Dave turuti.
"Enggak be, ini udah dini hari. Aku harus pulang ke apartement ku. Kemarin aku udah tidur di sini. Masa aku mau ngulang moment itu lagi," tolak Dave halus.
Padahal dalam hatinya laki-laki itu berharap Sherly akan membujuknya untuk tetap di sana. Sherly menimbang ucapan Dave. Tapi tunggu, dini hari? Bukankah lebih baik Dave tetap menemani Sherly.
"Enggak be, kamu di sini aja. Ini udah tengah malem. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."
"Aih wanita ini. Apa dulu juga seperti ini kepada mantan kekasihnya? Lalu apa benar dia masih perawan?" batin Dave.
"Aku nggak papa sayang. Kita belum sah untuk sekedar berbagi ranjang. Cukup kita berbagi kehidupan dulu, masalah tidur di ranjang aku takut nanti jadi halu."
Dave tidak tega melihat kekasihnya seperti itu. Bukan tidak menghargai wanita, tapi Dave melihat ketulusan di sana. Sorot mata Sherly mengatakan dia tidak rela Dave kenapa-napa.
Melihat Dave terus mematung, Sherly langsung menarik Dave agar segera menyusul dirinya. Seringai licik terbit di bibir Sherly. Dia merasa sudah lama tidak menggoda.
"Brukk" dengan satu hentakan Sherly berhasil membawa Dave ke atas ranjang.
Tidak seperti tujuannya. Bukan ini yang diinginkan Sherly. Dave jatuh tepat di atas tubuh Sherly. Menghimpit wanita yang baru saja membuka mata. Pandangan mereka mereka bertemu. Ingin rasanya Dave menelanjang* saat itu juga.
Hembusan nafas dari sang rival menyapu seluruh wajah keduanya. Mereka saling berbagi udara membuat Dave gugup tak terkira. Laki-laki itu memejamkan mata menikmati aroma body wash yang sempat dipakai Sherly sore tadi.
"Aroma itu. Astaga," batin Dave.
__ADS_1
"Tatapan itu, aku merindukannya. Hei, kenapa sekarang kamu menutup mata. Ya ampun Dave," batin Sherly.
Sherly terus mengamati. Dia juga merasa adanya kegugupan saat berada di jarak sedekat itu dengan Dave-nya.
"Dave," panggil Sherly.
"Hm."
"Cup" Sherly mencium bibir Dave tanpa permisi membuat laki-laki itu sontak membuka mata.
"Apa yang baru saja dilakukan? Dia menciumku hm? Uwuwu, cium yang lain juga dong sher."
Seperti biasa, Dave menarik tengkuk Sherly agar wanita itu sedikit tahu diri. Dia harus bertanggung jawab agar tidak lagi semena-mena.
Lumayan lembut Dave rasakan. Sherly selalu membuatnya ketagihan. Entah ini sudah yang ke berapa karena bahkan sebelum mereka menjalin hubungan, Dave dan Sherly sudah sering melakukan.
Kedua tangan Dave memeluk pinggang Sherly membuat posisi mereka layaknya seperti suami istri. Dave menindi* Sherly, tapi wanita itu sama sekali tidak menunjukkan adanya penolakan dini.
Sementara Sherly juga mengikuti apa Yang Dave lakukan. Memeluk punggung Dave agar laki-laki itu tetap berada di atas tubuhnya.
Keduanya memiliki tingkat fantasi yang tinggi, tapi Dave berusaha mengerti. Dia harus menjaga Sherly bukan membobolnya saat mereka belum resmi. Perlahan Dave merasa bagian tubuhnya ada yang menegang.
"Shit! Dia berada tepat di depan sarangnya. Pantas saja jiwanya terus meronta," batin Dave.
Ucapan lembut Sherly berikan. Wanita itu terkadang membelai rambut Dave dengan pelan. Bagaimana Dave bisa bertahan jika perlakuan Sherly membuat pikirannya kotornya terus bersandiwara.
Berusaha, hanya itu yang Dave bisa. Dia harus membalas ra*gsanga* Sherly agar wanitanya juga merasakan apa yang Dave rasakan. Tangan kanan Dave menyusuri setiap lekuk tubuh Sherly.
Melepaskan pinggang Sherly, lalu merayap perlahan di area rawan sentuhan. Mengusap bagian pusar lalu ke atas hingga tiba di leher jenjangnya. Dave terus membiarkan jati telunjuk bergeriliya di sana.
__ADS_1
Tidak peduli, toh Sherly yang memulai. Dave sudah hampir berada di ubun-ubun karena sentuhan Sherly. Sedangkan wanita itu belum menunjukkan apa-apa.