
Ketika kembali ke suatu tempat dimana banyak kenangan di sana membuatmu kembali benci, maka ingatlah jika kamu pernah saling mencintai. Meski semua kini hanya sebatas ilusi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam menunjukkan pukul 12.00 WIB. Tepat waktunya untuk makan siang. Saat ini Sherly dan Dave sudah berada di restoran yang telah dipesan oleh perusahaan yang akan melakukan metting dengan mereka.
"Dave, makan siang bener jam dua belas kan?," tanya Sherly memecah keheningan.
Atasan yang suka seenak jidat itu telah beberapa kali menggerakkan pantatnya kesana kemari. Dia merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada. Apalagi setelah rapat yang dilakukan sebelum ini. Benar-benar menguras tenaga Sherly. Apakah hanya Sherly yang tenaganya terkuras? Tentu saja tidak, Davelah orang yang tenaganya hampir habis.
Menghadapi metting yang membuat Sherly kehabisan tenaga adalah pertemuan yang membuat Dave hampir kehilangan seluruh hidupnya. Bagaimana tidak jika sang atasan mendapat musibah, tentu Dave orang pertama dan terakhir yang akan menjadi sasaran.
Lalu Dave hanya bisa memendamnya tanpa bisa melampiaskan. Jika hasrat mungkin bisa dengan jemari kekarnya, tapi untuk urusan pekerjaan lupakan. Sama sulitnya dengan mendam cinta.
"Dave," panggil Sherly.
"Hm," gumam Dave.
"Tolong jangan pikirkan apapun selain aku Dave," tukas Sherly dengan nada rendah tapi sangat dingin.
"Iya nona, maafkan saya."
Sherly melirik ke arah Dave. Mengamati laki-laki yang saat ini duduk di sampingnya. Namun Sherly tidak lagi merasa dadanya berdebar. Sorot tajam mewakili hatinya yang sedang melontarkan umpatan kejam.
"Pasti nona lagi jelekin aku kan? Sakitnya jadi aku tu cuma bisa jadi pelampiasan tanpa mendapst kepuasan," batin Dave.
"Apakah ini cinta? Tapi hanya saat tertentu saja aku merasa getaran di dekatnya," ucap Sherly datar.
"Nona, anda bicara kepada siapa?."
"Kamu Dave."
"Astaga! Apa nona baru saja mencampuradukkan perasaan dan pekerjaan?," pekik Dave kesal.
"Kalau iya kenapa? Aku atasan kamu, jadi bebas melakukan apa saja kan? Kamu mau membantah Dave? Apa kekuasaanmu melebihi kekuasaanku?."
"Eh," Dave tercekat dengan ucapan Sherly.
"Tuh kan, apa kubilang. Dia itu nggak bisa ditebak. Sebentar baik sebentar nyebelin. Nyebelin, tapi suka sih," ucap Dave dalam hati.
Angka di benda bulat yang melingkar di pergelangan Sherly telah berubah-ubah. Lima menit wanita itu menunggu, tapi client-nya tidak kunjung kesitu. Jika saja moodnya sedang dalam keadaan baik, mungkin Sherly tidak mempermasalahkan. Namun saat ini pikirannya sudah kacau. Mau tidak mau Dave harus kembali menelan pilu.
Melihat Sherly yang tiada henti menghadiahi tatapan menghakimi, Dave dengan sadar diri menghubungi clientnya. Membuka benda pipih lalu mencari kontak yang diinginkan kemudian segera menghubunginya.
"Selamat siang, saya sekretaris nona Sherly dari Silver Coorporation," Dave baru akan melanjutkan ucapannya, namun tiba-tiba panggilan yang baru saja tersambung itu terputus.
__ADS_1
Dave mngerutkan dahi, menyita perhatian Sherly.
"Kenapa?."
"Telponnya mati," ucap Dave seraya membolak-balikkan ponsel serta mengamati logo signal di pojok kanan atas.
Belum sempat Sherly membuka bibirnya untuk bicara, suara deheman laki-laki membuyarkan lamunannya. Nampak dua manusia yang nyaris sempurna berdiri di hadapan Sherly.
"Akhirnya datang juga," ucap Sherly santai.
Dave bernafas lega akhirnya Sherly bisa tersenyum kembali. Namun Dave belum yakin bagaimana nasibnya setelah ini. Acara makan siang berjalan sesuai prediksinya disusul dengan perpanjangan kontrak kerja sama. Semua berjalan lancar seperti biasa.
Bukan Sherly Angel jika wanita itu tidak mampu menaklukkan siapapun. Menurut Sherly, menghadapi para pemegang saham saja hanya dianggap seperti menghadapi puing. Apalagi hanya perpanjangan kontrak seperti ini. Menurutnya, laki-laki pemilik perusahaan akan menyerahkan apa yang dia punya hanya untuk wanita. Dan Sherly mengedepankan prinsip itu. Karena selama ini memang benar apa yang Sherly katakan.
Kini saatnya menuju agenda yang sangat dinantikan. Wanita itu mengajak Dave untuk mengikuti kemanapun dia berada. Pradana Coorporation adalah tujuan terakhir sebelum nanti senja berada di peraduan.
Tidak ada supir pribadi, jadi jangan harap mereka duduk berdua di belakang dengan mesra. Dave tetap berada di depan sebagai supir pribadi nonanya. Sedang sang atasan berada di sampingnya. Sudah dikatakan, Dave merangkap apapun pribadi yang Sherly miliki.
"Dave," panggil Sherly.
"Ya nona," jawab Dave.
"Kita ngapain ke sana?."
Dave mengerutkan dahi.
"Iya, tapi aku nggak mau nostalgia Dave."
"Maksud anda?."
Dave tidak mengerti kemana arah pembicaraan Sherly. Yang dia tau adalah hatinya tentu akan nyeri saat melihat Sherly menemui sang mantan yang namanya masih tersimpan rapi.
"Pradana Coorporation," ucap Sherly lirih.
"Iya, kenapa?," tanya Dave.
"Kenapa katamu? Aku punya kenangan banyak di sana Dave," jawab Sherly seraya mengerucutkan bibir.
Sisi manja nonanya kembali ada. Dave tidak ingin membuat Sherly semakin terluka. Sudah cukup dia melihat betapa susahnya Sherly move on dari seseorang yang telah menyakitinya.
Tangan kiri Dave terulur menggapai jemari Sherly. Membawa tangan wanita itu ke arahnya. Dave membiarkan Sherly merasakan kehangatan pipinya. Bukan lagi dada karena ada masanya nanti Sherly akan meminta.
"Percayalah, apapun yang terjadi aku masih di sini. Menanti dengan segenap hati yang akan terus mencintai."
Hening, Sherly merasa kata-kata Dave tidak semanis biasanya. Maka wanita itu memilih mendiamkan saja. Apa Sherly adalah manusia langka? Tentu saja iya. Mungkin di bumi ini hanya bisa dihitung dengan jari spesies sepertinya.
__ADS_1
"Nona, apa aku salah bicara? Kenapa anda tidak menjawab saya?."
"Berani kamu memerintah saya?."
"Eh, tidak tidak. Bukan maksud saya...," Dave belum melanjutkan kalimatnya, tapi Sherly sudah menjeda.
"Bisa berhenti bicara tanpa tujuan Dave? Kenapa aku bisa punya sekretaris beg* gini ya?."
Demi apapun, Dave sangat ingin mengumpat kasar. Atau yang lebih parahnya Dave ingin melempar Sherly saat ini juga. Namun urung saat menyadari jika hatinya nanti akan merasa sepi jika tidak ada lagi seorang Sherly.
Tidak selamanya mencintai seseorang yang juga mencintai kita itu mudah. Ada kalanya kita akan lelah dan menyerah. Bisa jadi sebelum lengah, mungkin kita akan pasrah.
Gedung pencakar langit sudah kelihatan dari jalanan. Padahal masih lima menit lagi, tapi gedung itu teramat tinggi membuat siapapun bisa memastikan jika pemiliknya adalah orang yang memiliki kekuasaan.
Senyum tipis terbit di bibir Sherly. Wanita itu menguatkan hati untuk tidak kembali, apapun yang terjadi. Dave berhenti tepat di depan lobi. Membiarkan nonanya turun lalu dia bergegas ke parkiran.
"Aku ikut kamu Dave," ucap Sher tiba-tiba membuat Dave urung membuka pintunya.
"Kenapa?."
"Pokoknya aku mau ikut kamu. Jangan bikin aku galau. Serius deh. Digantungin itu sakit Dave."
Dave hanya bisa membulatkan mata ketika laki-laki mendengar atasannya seperti ini. Bukan lagi Sherly yang dikenal dikalangan pebisnis, tapi Sherly yang akan mendadak manja jika berada di hadapan laki-laki yang special menurutnya.
"Yaudah, sini aku temenin turun aja. Biar nanti mobilnya dianter tukang parkir," ucap Dave lembut seraya membelah rambut Sherly.
Wanita itu mengangguk, seolah dia adalah anak kecil yang baru saja diberi permen oleh ibunya. Dengan puppy eyes andalannya, Sherly semakin terlihat menggoda. Dave memajukan bibirnya menyentuh bibir Sherly yang seksi.
"Cup" kecupan singkat mendarat di sana.
Tangan kanannya terulur mengacak rambut Sherly hingga wanita itu mengerucutkan bibir lagi.
"Sudah kukatakan, aku akan selalu bersamamu. Jangan ragu, aku tetap berdiri di belakangmu, tapi aku tidak yakin jika suatu saat tidak mengubah posisimu. Aku telah mempersiapkan posisi untuk seseorang agar dia berdiri di belakangku menjadi makmum dalam setiap sujudku."
"Cup" Dave mengecup kening Sherly sekilas.
Menyalurkan kenyamanan yang selalu Dave simpan. Semua kekuatan hanya diperuntukkan untuk Sherly seorang.
"Ayo turun, katanya mau ketemu mantan," sindir Dave seraya turun dari mobil.
Berjalan ke arah pintu dimana Sherly berada, Dave membuka pintu atasannya.
"Lebih penting mantan atau masa depan sih? Kalau dia mantan, tenang kamu adalah masa depan," ucap Sherly lirih.
Sial. Dave baru saja akan memberikan gombalan, tapi lebih dulu Sherly yang melakukan. Rasanya Dave ingin menghambur kepelukan. Namun otaknya masih ingat jika dia berada di keramaian.
__ADS_1
Setidaknya Sherly aman dari terkaman Dave untuk saat ini. Tidak tau dengan kabarnya nanti. Wanita itu telah membangunkan singa yang tengah tertidur.