Secret Sherly Angel

Secret Sherly Angel
Mati Kutu


__ADS_3

Bersamamu, berarti menyiapkan hati untuk menerima apapum kekuranganmu.


Dan aku sudah melakukan itu jauh sebelum pengungkapan perasaanku kepadamu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Tenanglah, aku akan di sampingmu selamanya," ucap Dave.


Sherly semakin membenamkan kepala di dada Dave. Namum bukan untuk menangis. Wanita itu senang karena pada akhirnya hatinya tetap memilih Dave.


Seburuk apapun yang pernah Brian lakukan, dia tetap menjadi sosok menyakitkan. Dan Sherly tidak ingin memberikan kesempatan apapun kepada Brian. Dia hanya ingin Dave yang layak dijadikan pedoman.


"Maa bee," lirih Sherly.


"Kenapa minta maaf?"


"Karena aku tadi memegang tangannya. Maaf udah bikin kamu cemburu. Aku tau aku salah bee. Nggak seharusnya aku nyentuh dia kaya tadi," ucap Sherly.


Dave mengusap puncak kepala Sherly. Laki-laki itu memberikan kecupan kecil kepada kekasihnya. Dia menengadahkan kepala mengamati bintang kecil yang bergerak bebas di semesta.


..."Sekalipun kamu tadi menciumnya, aku akan memaafkanmu. Aku yakin malam ini adalah saat dimana kamu akan berhenti memikirkannya," gumam Dave....


"Makasih bee," ucap Sherly.


Brian merasa dadanya sesak. Dia melihat sepasang kekasih yang sangat mencintai. Ini tidak adil untuk hidupnya. Setelah hal bodoh yang telah dilakukan, kenapa baru sekarang Brian menyadari adanya perasaan yang tidak mungkin ditinggalkan.


"Sherr," teriak Brian.


Sherly hendak menengok, tapi Dave menahan. Dia tau wanitanya bukan sosok pendendam. Namun Dave takut Sherly akan kembali menatap iba sang mantan.


"Sstttt" Dave menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.


Brian menatap sadis ke arah Dave. Laki-laki yang dianggapnya saingan bukan pemikik derajat yang sepadan. Sherly memilih laki-laki yang berada di bawahnya. Bukan seperti Brian ataupun yang memiliki kekuasaan.


Siapa yang bodoh di sini? Tentu saja Brian menganggap Sherly. Namun tidak untuk Sherly. Wanitaitu merasa beruntung mendapatkan Dave yang menurutnya sangat sempurna.


Jika saja sorot mata mampu bicara, Brian pasti sudah mengiba. Dia tidak tau lagi kepada siapa harus berbagi. Dia yang memilih Sherly, dia juga yang akhirnya menyakiti.


Keluarga Pradana tidak mungkin menerima kehadiran Brian di sana. Laki-laki itu yang memilih pergi dan hidup mandiri. Dia bisa bertahan karena wanita yang menjadi panutan. Tapi sekarang tidak ada lagi sosok yang membuatnya merasa diistimewakan.


"Baiklah aku kalah," gumam Brian seraya melanfkah pergi.


Dave memberi tatapan perdamaian meski Brian terang-terangan mengibarkan bendera permusuhan. Dia tidak peduli. Seorang Brian Pradana harus mendapat apa yang diinginkan. Sekalipun harus ada seseorang yang menjadi korban keegoisan.


"Tunggu saja, aku akan mengambil apa yang menjadi milikku. Dia hanya tercipta untukku. Bukan untukmu. Dua hanya pantas bersanding denganku, tidak dengan bersamamu," ucap Brian pada diri sendiri.


Selepas Brian pergi, Sherly belum menyadari. Dia masih berpikir Brian ada jauh di belakangnya. Dave mengecup puncak kepala Sherly sekali lagi.

__ADS_1


"Orang yang pernah kamu sayang udah pergi," gumam Dave.


Sherly mendongak lalu melirik ke arah sosok tadi berdiri. Benar, di sana sudah sepi. Tidak ada mantan kekasihnya. Sherly tersenyum kecut. Kemudian mengerucutkan bibir.


"Kok nggak bilang sih bee."


"Sengaja."


"Kok sengaja?"


"Iya, aku mau tau gimana respon kamu kalau dia ada di belakangmu. Eh ternyata kamu cuma diem. Nggak ada niatan buat cium aku gitu?"


Sherly menggerutu. Laki-laki di depannya selalu berhasil membuat dia mati kutu. Dave mengecup puncak kepala Sherly lalu melepaskan pelukannya.


"Ayo bee kita pulang," ajak Dave.


Sherly menurut. Wanita itu tidak melepaskan genggaman tangannya dari Dave. Dia terus tersenyum seperti Dave yang terus menebar senyumnya.


Beberapa wanita melirik ke arah Dave. Mereka yang ada di parkiran dengam sengaja mengedip genit ke arah Dave. Sherly kesal, dia mengeratkan pegangan pada lengan Dave seolah Dave adalah berlian yang harus di jaga.


"Bee, ngapain sih narik-narik?" tanya Dave saat merasa ada tangan yang mempererat genggaman lengannya.


Sherly menatap Dave lalu melotot ke arah kekasihnya. Dia ingin menghabisi Dave malam ini.


"Kenapa kamu senyum-senyum sama mereka?" sungut Sherly.


"Hidungmu merah bee, kirain cuma pipinya aja yang bisa berubah warna ternyata semuanya," ucap Dave santai.


"Grek" Sherly menghentikan langkahnya.


"Kamu pikir aku bunglon?"


"Siapa tau kamu mimikri."


"Daaaveeee!" pekik Sherly kesal.


"Apa sayang, nggal malu diliatin banyak orang?"


"Biarin! Toh kamu juga suka dilirik mereka malah seyum diem-diem."


Sherly merajuk, wanita itu tidak terima Dave terus dilihat oleh lawan jenisnya. Sherly cemburu, jelas itu sangat mudah ditebak. Sherly berlari menuju parkiran motor. Dave paham kemapa Sherly demikian, tapi dia punya kejutan yang lebih menyenangkan.


"Tapp tapp tapp" Dave berlari mengejar Sherly.


Di depan motor Dave memutar tubuh yang sedang memunggungi. Sherly memasang tampang garang, tapi justru membuat Dave tidaj bisa berhenti kurang ajar.


"Cup" Dave menciumnbibirSherly sebelum wanita itu memulai aksi marahnya.

__ADS_1


Dengan santai Dave naik motor lalu memakai helmnya. Dia berusaha tidak peduli dengan Sherly. Lima menit berlalu barulah Dave merasa ada seseorang yang menghempaskan pantatnya kasar.


"Bruk" Sherly duduk di boncengan dengan kesal.


Dave tidak peduli. Diaterus diam menunggu Sherly berkata ayo pulang. Sherlypun demikian. Namun Dave tetap pada pendirian.


"Dave jalan," ucap Sherly pelan.


Jika menunggu semenyakitkan ini, kenapa kamu suka menunggu? Apakah kamu menunggu akhir dari penantianmu? Yakin?


Hening malam semakin mencekam. Gelap semakin pekat. Udara semakin dingin. Sherlypun demikian. Tidak ada pelukan yang ia rasakan. Dave tetap setia mengamati jalanan.


Berangkat terasa dekat, pulang terasa hengkang. Sherly merasa tersakiti dengan tingkah Dave. Entah mengapa dia merasa dunianya akannruntuh saat itu juga.


"Bee, udah sampai nih," ucap Dave pelan.


"Eh"


Sherly mengamati sekitar. Dia sudah berada di gedung pencakar langit. Di dalam sana ada apartement yang Sherly punya.


"Mau mampir dulu Dave?" tawar Sherly.


Wanita itu masih berharap Dave akan menemaninya.


"Enggak sayang, ini udah malem. Lain kali aja ya," tolak Dave halus.


"Dave, ayolah. Biasanya juga kamu nginep," rengek Sherly.


"Huufttt" Dave menghela nafas sebelum akhirnya menatap Sherly.


Tanpa melepas helm, laki-laki itu memegang kedua pundak Sherly.


"Sayang, cepat atau lambat aku akan tidur di rempatmu selamanya. Jadi buat sekarang sabar dulu ya. Aku mana mungkin bisa tahan kalau tiap malem lihat baju dan rambutmu berantakan."


Sherly tersipu. Kedua pipinya merona. Dave benar. Saat tidur Sherl selalu dalam keadaan tidak sadar.


"Hehehe, yaudah pulang sana bee udah malem," usir Sherly.


"Loh kan akhirnya malam aku yang diusir."


Dave mengacak gemas rambut Sherly lalu mememui satpam untuk mengembalikan motor miliknya.


Senyum mengambang terbit di bibirnSherly. Dave melihat itu dengan santai. Namun hatinya terasa miris.


"Bagaimana mungkin aku tega menghilangkan senyummu?" gumam Dave.


Denting waktu semakin menggebu. Diaterburu untuk menuju angka satu. Saat ini rintikan hujan mulai turun. Beruntung Dave tiba di apartement dengam sedikit basah tidak basah semuanya.

__ADS_1


"Basahnya jangan baju dong, tapi yang di bawah sana," ucap Dave dengan senyum devilnya.


__ADS_2